
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
MALAM HARI DI KEDIAMAN GWYNETH.
Selena mengeluarkan semua blouse, kemeja, blazer dan rok yang ada di dalam lemari. Ia ingin memilih pakaian terbaiknya untuk di pakai di hari pertamanya bekerja. Tapi menurutnya semua terasa jelek. Selena tampak bingung, memilih salah satu di antaranya.
"Ini jelek, ini kurang bagus, ini norak, ini terlalu...AAAAHHHHHH." Selena melempar semua pakaiannya ke atas tempat tidur, lalu mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia mondar-mandir di dalam kamarnya dengan posisi berkacak pinggang.
"Apa aku harus beli blazer baru?" Ucap Selena menggigit kukunya.
Lama ia berdiam diri di sana. Selena kembali berdiri di depan lemari dan mengeluarkan pakaian yang tersisa.
"Apa ini saja, atau yang ini?" Selena mengangkat kemejanya satu per satu. Ia melihat secara bergantian dan mencocokkannya di depan cermin. "Ah... tidak cantik." Ia kembali membuang napas dengan kasar.
Selena mengusap wajahnya dengan kasar. Menyapu rambutnya ke atas. Wajahnya meringis, seperti mau menangis. Waktunya habis hanya untuk membongkar ini.
TOK...TOK... TOK...
Samuel mengintip di balik pintu.
"Cie...cie...yang sudah diterima kerja, sepertinya sibuk nie...." Samuel melangkah masuk ke dalam kamar Selena.
Selena hanya menatap sekilas ke arah Samuel, lalu kembali menatap isi lemarinya.
"Ada yang bisa di bantu nona cantik?" tanya Samuel lagi.
Selena mengembuskan napas dengan pipi menggembung. "Aku bingung mau pakai baju apa."
"Heuh? bingung? Kenapa harus bingung, bukankah semua itu layak dipakai?"
"Cih .."Selena berdecak malas, "Aku tahu semua itu layak dipakai. Tapi aku bingung, yang mana pakaian terbaik yang harus kukenakan besok. Aku harus tampil sebaik mungkin."
"Kakak seperti mau pergi ke acara pernikahan saja."
"Eistss...Penampilan nomor satu Samuel, wajar dong aku harus tampil menarik."
"Alasan." Samuel tersenyum kecut.
"Hei... alasan apa? itu kenyataan Samuel." Ucap Selena tidak terima.
"Aku yakin kau melakukan itu karena pak direkturnya kan?"
"Astaga, siapa bilang?"
"Aku dengar, pemimpin perusahaan itu masih muda, tampan dan belum menikah."
Bola mata Selena membulat sempurna. Lelaki yang melakukan wawancara kepadanya sudah Lelaki paruh baya dan pasti sudah menikah. "Astaga kau terlalu banyak nonton drama. Minggir!"
"Memang itu benar kan?"
"Sudah ah, kau terlalu banyak bicara. Jika tidak mau membantu, lebih baik kamu keluar."
Samuel langsung melangkah melewati Selena, lalu mengambil baju blouse dan rok yang menurutnya bagus. "Ini ambil!" Samuel memberikan pilihannya ke tangan Selena. "Besok pakai itu saja!"
"Ha? Kau memilihnya untukku?" Selena menatap Samuel tak percaya, jika menyangkut urusan wanita, Samuel tidak pernah mau ikut campur.
"Hmm, kurang baik apa adikmu ini." kata Samuel tersenyum bangga sambil menaikkan ke dua alisnya.
"Apa menurutmu ini bagus?" Tanya Selena menatap pakaiannya secara bergantian.
"Itu cocok untukmu. Kau akan terlihat seperti sekretaris profesional." Samuel menunjuk ke arah pakaian yang dipilihnya tadi.
"Serius?" tanya Selena lagi.
"Hmm." Samuel menjawab dengan bergumam.
__ADS_1
"Terima kasih ya," ucap Selena mencocokkan ke badannya.
Samuel tidak menjawab, ia mulai tampak gelisah di sana. "Kak," Panggil Samuel dengan suara terendahnya.
"Hmmm, ada apa?"
"Bisa minta tolong gak?" Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mata Selena memicing menatap curiga ke arah Samuel. Jika sudah ada kata minta tolong keluar dari mulut adiknya itu. Bertanda ia menginginkan sesuatu. "Minta tolong apa?"
"Aku mau pakai mobil kak." ucap Samuel to the point.
Dahi Selena mengerut. Tatapannya sungguh tajam dan menghunus. "Kau mau kemana malam-malam begini?"
Samuel memiringkan sedikit kepalanya. "Ketemu kawan-kawan kak."
"Astaga, jadi kau sengaja memilih pakaian ini, karena ada maunya ya,"
Samuel mengibas-ngibaskan ke dua tangannya dengan cepat. "Siapa bilang, aku memang tulus memilih pakaian itu untukmu dan aku yakin pak direktur tempatmu bekerja akan terpesona denganmu."
"Direktur bagaimana, apa kau pikir aku menyukai lelaki tua yang bahkan usianya seumuran dengan ayah." Selena menyentil kepala Samuel.
"Auwww ... sakit kak," keluh Samuel memegang bagian kepalanya yang sakit.
"Rasain!" Ucap Selena kesal. "Jangan katakan lagi soal pak direktur itu, tamat riwayatmu." Ancam Selena.
"Tapi aku bisa kan pakai mobil kak, please! sekali ini saja, hmmm."
Selena masih menatap Samuel penuh penghakiman. "Jangan berusaha membujukku, aku tidak akan mau."
Samuel hanya membuka mulutnya, namun tidak ada satu katapun yang keluar. Ia hanya bergerak kikuk lalu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Bisa ya kak?" ucapnya lagi.
"Aku bilang, TIDAK!" ucap Selena pelan, penuh penekanan di setiap kata. "Dan kau tidak lihat ini sudah jam berapa?" Selena mengetuk jamnya di tangannya berulang kali.
"Aku bisa bantu kakak merapikan ini semua. Lihat semuanya berantakan." Samuel dengan cepat memasukkan pakaian Selena ke dalam lemari hanger.
Selena menjepit bibirnya saat melihat Samuel dengan cekatan memasukkan kembali pakaiannya dengan rapi. Selena tidak bisa menolak, jika melihat Samuel seperti ini. Ia pun tersenyum dan bersama membereskan semua pakaiannya yang berantakan di atas tempat tidur.
⭐⭐⭐⭐⭐
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui sela-sela jendela kamar Selena. Pagi-pagi sekali Selena sudah siap dengan penampilan terbaiknya. Ia menyisir rambutnya dengan rapi. Menjepit setengah rambutnya bagian atas kebelakang dengan jepitan mengkilap warna gold. Terlihat manis dan juga elegan. Selena berpenampilan rapi, segar dan cantik.
Senyuman kecil tersungging di bibirnya. Blouse berwarna peach lengkap dengan ikatan berbentuk pita di kerah baju. Bawahannya menggunakan rok model pencil skirt warna abu-abu. Pakaian yang di pilih Samuel ternyata benar-benar pas untuk suasana hatinya yang sekarang.
Selena menggunakan parfum beraroma bunga yang memberi kesan segar dan juga elegan. Ia menyemprotkannya ke beberapa titik tertentu. Sesaat ia memiringkan wajahnya untuk menatap dirinya di depan cermin. Ia terus mencoba senyuman dan wajah terbaiknya di depan cermin. Selena lalu menghembuskan napasnya lewat mulut. Jantungnya masih saja terpukul kencang. Ia meremas tangannya yang terasa dingin. Ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekertaris. Pengalaman baru dan semoga semuanya berjalan dengan baik.
Satu dsahan napas keluar dari mulutnya, Selena kembali menyisir rambutnya dengan rapi. Ia tersenyum kembali.
"SEMANGAT!" ucapnya dengan kepalan tangan di atas.
Selena menegakkan punggungnya, lalu keluar dari kamarnya.
"Sudah mau pergi nak," Joanna bangun dari duduknya yang diikuti Berto juga.
Selena tersenyum sambil mengangguk. "Iya bu. Doakan Selena ya bu." ucap Selena.
Joanna mengusap lengan Selena dengan lembut. "Pasti sayang."
"Kau pakai mobil saja." kata Berto menyerahkan kunci ke tangan Selena.
"Ayah tidak menggunakannya?" Selena menerima kunci itu.
"Ayah bisa naik taksi. Yang penting kamu jangan sampai terlambat. Ini hari pertama kau bekerja di perusahaan besar sayang."
Selena tersenyum lagi. "Baik ayah. Kalau begitu Selena berangkat dulu." Ucap Selena melangkah meninggalkan ruang tamu yang diikuti oleh Berto dan Joanna.
"Hati-hati ya sayang." Joanna mengingatkan kembali. Selena mengangguk lalu menekan klakson.
Selena membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak butuh waktu lama, Selena akhirnya tiba perusahaan Lucius. Selena mengatur singkat rambutnya. Merapikan lipatan blus, tangannya terangkat untuk mengencangkan pita blouse yang menggantung di area leher bajunya. Ia melakukan ritual yang biasa ia lakukan dengan cara menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya bersamaan. Cara ampuh untuk menenangkan hatinya. Lalu Selena keluar dari mobilnya.
Awal pagi memulai aktifitas dengan status sebagai pekerja. Tentu pagi yang baik untuknya. Selena berdiri di depan gedung. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Masih tampak sepi. Kemudian Selena membuka tangannya lebar-lebar. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dari mulut.
"Ehmmm pagi yang sejuk. Begitu indah, sepi, dan damai."
__ADS_1
Ia mendongak ke atas sambil mengembangkan bibirnya untuk tersenyum. "Aku pasti bisa melaluinya dan bertanggung jawab atas pekerjaan ku dan bisa meraih mimpi dan menjadi lebih sukses lagi." ucapnya pelan sambil menatap ke arah interior gedung yang menjulang tinggi itu.
Selena terdiam sesaat. Ia kembali menarik napas pelan. Lalu melipat tangannya di depan dada dan menutup matanya . "Aku bersyukur buat hari ini. Betapa senangnya hatiku mengetahui bahwa hari ini aku diberikan nafas kehidupan, untuk menghirup udara segar dan mengagumi alam ciptaan-Mu. Terima kasih atas kebahagiaan ini Tuhan."
Perlahan-lahan selena membuka matanya dan tersenyum menatap awan yang terlihat putih dan halus seperti kapas.
Selena kemudian berjalan memasuki perkantoran dengan langkah tegap ciri khasnya. Ia langsung bertemu Pak Alex seperti pesan Ibu HRD kemarin.
Bunyi sepatu heels tujuh senti milik Selena bergema di sepanjang koridor yang di lewatinya. Seakan menambah tempo irama detak jantungnya. Entah mengapa ia begitu nervous sejak keluar dari rumah.
Tuk...tuk...tuk...
Tuk...tuk...
Tuk...
Selena memelankan langkah kakinya saat berada di ruangan ekslusif direktur perusahaan Lucius itu. Ia melihat seorang pria sudah berdiri di sana.
"Selamat pagi pak," Sapa Selena dengan sopan.
"Selamat pagi, anda benar Selena Gwyneth?" Tanya Alex memastikan kembali.
"Ya betul. Saya adalah sekertaris yang terpilih di wawancara kemarin." jawab Selena dengan elegan.
"Senang bertemu dengan anda." Alex pun mengulurkan tangannya. "Saya Alex Rey, asisten direktur yang bekerja di sini." ucapnya lagi.
"Senang bertemu dengan anda juga pak, mohon bimbingannya." Kata Selena mempererat jabatan tangannya.
"Baiklah, di sini saya akan menjelaskan sesuatu sebelum anda menjalankan tugas sebagai sekertaris."
Selena mengangguk dengan senyum manis yang terus merekah.
"Biasanya pak direktur tiba di kantor, pukul delapan. Jika badannya kurang sehat beliau akan terlambat satu jam. Tidak lebih dan tidak kurang." Kata Alex berbicara di sana.
Selena lagi-lagi hanya mengangguk dan sebagai pendengar yang baik di sana.
"Sebelum pak direktur datang, ruangannya harus sudah steril."
Selena mengerutkan keningnya, "Maksudnya steril bagaimana pak?" Tanya Selena, maklumlah ia baru pertama kali bekerja sebagai sekretaris.
"Semua harus bersih. Sepuluh menit sebelum beliau datang, anda harus sudah meninggalkan ruangannya."
"Peraturan aneh, apa dia pikir aku pembawa virus?" Ucap Selena dalam hati.
"Anda dilarang mencampuri urusan pak direktur jika itu menyangkut masalah pribadi.'
"Ya, gak lah. Buat apa? Apa kamu pikir saya pelakor?"
"Dan dilarang bertanya sampai dua kali. Pak direktur tidak mau sekertarisnya lambat berpikir dan tidak harus diperintah."
"Astaga, bagaimana mungkin IPK bisa nilai A semua, jika aku memang anak lambat?"
"Nanti saya akan memberikan tugas pertama untuk anda. Sisa peraturan lain. Mungkin tambahannya bisa anda dengarkan langsung dari pak direktur."
"Baik pak,"
Alex menatap jam di pergelangan tangannya. "Setengah jam lagi pak direktur akan tiba. Anda bisa membersihkan ruangannya dulu."
"Baik pak,"
"Ingat sekertaris Selena, dilarang menyentuh barang pribadi pak direktur."
GLEK!
Selena menelan salivanya begitu susah. Ia pun menjawab dengan anggukan saja. Setelah pak Alex pergi. Selena menenangkan diri dengan tarikan napas singkat, lalu masuk ke dalam ruangan pak direktur untuk membersihkan ruangan itu.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^