Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
SEMUA DILUAR DUGAAN


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Selena mengetikkan password yang berupa angka-angka untuk membuka pintu apartemen mewah itu. Kunci yang berbasis digital yang menggunakan password sebagai akses masuknya. Apartemen ini menggunakan lampu otomatis pada ruangan depannya. Lampu akan menyala saat ada orang disekitarnya dan mati begitu orang tersebut pergi.


Selena melepaskan sepatu Keith yang dikenakannya. Menggantinya dengan sendal tipis berbahan lembut. Ia masuk dengan kepala menunduk sambil melepas napas panjang dan melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah lunglai. Tas sling bag-nya ia lempar dengan asal di atas nakas. Selena tidak tahu apa yang akan ia lakukan sekarang.


"Huffft...." Selena membuang napasnya lagi sambil memandang ke arah luar.


Ia duduk di sofa yang ada di kamar dan sofa inilah yang akan menemani waktu istirahatnya nanti. Ia memijat punggungnya yang terasa pegal. Memutarnya berulang-ulang agar otot-ototnya tidak tegang lagi. Selena mengambil handphone dari dalam tasnya untuk melakukan panggilan pada ibunya.


Tut...tut...tut...


Panggilan tersambung, terdengar suara bahagia menyambutnya.


"Hallo, Selena sayang,"


"Ibu, maaf. Aku tidak pernah menghubungi ibu selama di London." Awal kata yang ia ucapkan dengan nada penyesalan. Bibirnya mengerucut ke depan.


"Tidak perlu minta maaf sayang, ibu tahu kamu sibuk mengurus suamimu yang sakit. Bagaimana kabar Nathan?" tanya Joanna tersenyum lembut di ujung telepon.


"Dia sudah sehat bu." Kata Selena sambil mengeluarkan d*sahan seperti tersenyum. "Ibu tidak menanyakan kabarku?" Goda Selena.


Joanna tertawa kecil. "Kalau kabarmu, ibu tak perlu meragukannya sayang. Kamu pasti sehat. Ibu yakin itu."


"Hahahaha." Selena tertawa renyah. "Ibu bisa saja. Apa kabar? Ayah sehat? Bagaimana dengan Samuel, apa dia masih telat bangun?"


"Semuanya baik. Ibu dan ayah sehat. Adikmu jauh lebih mandiri setelah kakaknya menikah."


Selena terkekeh. "Syukurlah bu, berarti ada perubahan."


"Hmm. Beritahu kepada Zionathan, agar tetap menjaga kesehatan juga. Kesehatan itu penting sayang dan jangan terlalu lelah bekerja. Kau juga harus merawat dirimu dan istirahat yang cukup agar kau cepat hamil." Joanna memberi nasehat.


Selena lagi-lagi tersenyum saat mendengar itu. "Iya, bu. Selena akan jaga kesehatan."


"Bagus sampaikan salam kepada menantu ibu yang tampan. Jika ada waktu, ajaklah Zionathan ke rumah. Ibu akan membuatkan makanan kesukaan kalian."


"Iya. Bu. Jika ada waktu, kami pasti berkunjung." Selena tersenyum sendu di sana.


"Baiklah. Mungkin kamu butuh istirahat sayang, penerbangan kalian cukup panjang dan pasti kamu lelah."


"Hmm. Aku juga belum mandi bu."


"Pantas saja baunya tercium sampai kesini. Sudah mandi dulu." Joanna mengeluarkan suara tersenyum.


Hati Selena kembali menghangat saat mendengar suara ibunya. "Baiklah. Sampaikan salam buat ayah dan Samuel ya bu."


"Iya, sayang. Bye..."

__ADS_1


"Bye."


TIT.


Telepon terputus.


Selena kembali menarik napas dalam-dalam. Ia seperti mendapat kekuatan saat mendengar suara ibunya.


Tak ingin berlama-lama, Selena pun langsung menuju kamar mandi. Ia memilih untuk berendam di dalam bathtub dengan busa-busa yang memenuhi tubuhnya sembari menenangkan dirinya di dalam sana.


Tak lama setelahnya, ia membasuh lelah tubuhnya dengan air hangat. Bulir-bulir air shower mengguyur kepala Selena hingga mengalir deras ke kaki. Ia sengaja membesarkan volume air yang keluar. Hingga perlu membuka mulut agar dapat menarik oksigen untuk bernapas. Selena mengusap sabun ke wajah dan seluruh tubuhnya sambil memejamkan mata. Tak ingin berlama-lama. Ia pun membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Tubuhnya jauh lebih segar.


Namun saat hendak mengambil handuk piyama. Selena tiba-tiba berteriak karena dibuat terkejut saat Zionathan tiba-tiba masuk dalam keadaan telanjang dada.


Zionathan juga ikut shock saat melihat pemandangan yang sama sekali tidak pernah dilihatnya. Tubuh Selena polos tanpa busana.


Selena reflek menutup bagian dadanya dan dengan cepat menyilangkan kakinya. "Apa yang kau lakukan, cepat berbalik!" teriak Selena dengan mata melotot.


"Kau benar-benar lelaki gila," Teriak Selena tak menyurut lengkingannya memenuhi seisi kamar mandi. Ia berusaha meraih handuk piyama untuk menutupi tubuhnya dan dengan cepat membalikkan badannya agar Zionathan tidak melihat tubuhnya.


Zionathan masih bergeming, Ia seperti lelaki bodoh. Bukannya meninggalkan kamar mandi. Matanya mendadak melumpuh saat melihat ke arah dada Selena. Ukurannya tidak besar dan tidak kecil juga. Benar-benar pas di tangan jika dipegang. Tenggorakan Zionathan rasanya semakin gersang dan tercekik. Tubuhnya berdesir hangat saat pikiran terkutuk tak henti membayangkan benda menonjol itu.


"Kamu masih di sini?" Selena melemparkan tatapan tajamnya dan ingin menelan Zionathan. "Astaga...aku benar-benar bisa mati cepat." Ia mendengkus, lalu melangkah meninggalkan Zionathan.


"Aisssss....Nasibku benar-benar sial. Kenapa juga aku lupa mengunci pintunya." Selena merutuki kebodohannya. "Sepertinya aku harus pindah kamar mandi."


Selena berjalan mendekati lemari.Tak ingin lama-lama ia langsung mengenakan pakaiannya dan langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Sementara Zionathan tak melakukan pergerakan di dalam kamar mandi. Saat melihat tubuh polos Selena, Zio kecilnya tidak bisa diajak kompromi. Dia bangun dan susah diajak tidur lagi.


Semenjak kejadian ia mencium paksa istrinya itu, ada perasaan yang menggelitik hatinya. Debaran-debaran itu semakin sulit di diamkan. Terpukul seperti genderang yang membuat keributan di dalam rongga dadanya. Dan bahkan melumpuhkan benteng pertahanannya yang selama ini dijaganya.


Zionathan mencoba berpijak pada tingkat kesadaran nyata. Bagaimana ia bisa tidak berkonsentrasi seperti ini. Namun pikiran kotor itu datang lagi. Zionathan mengambil pasokan oksigen sebanyak-banyaknya dan kemudian mengembuskannya.


"Huuufttt...."


"Ada apa denganku, kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini? Apakah aku sakit?" Zionathan terus berbicara sambil menatap dirinya di pantulan cermin. Wajahnya terasa panas saat membayangkan gundukan kembar yang benar-benar menggoda itu.


Lagi, ia berusaha menepis, menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan pikirannya. Ia menarik napasnya dalam-dalam, seperti melakukan meditasi agar membuang pikiran kotornya. Tak ingin berlama-lama, Zionathan pun membersihkan tubuhnya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Sementara dari arah dapur.


Selena menarik napas dalam-dalam sambil menatap sayuran segar dan daging yang ada di depannya.


"Aku tidak tahu makanan kesukaannya? Aku masak apa ya?" Selena mengetuk dagunya membuat gestur berpikir.


"Terserah, dia mau makan apa tidak, yang jelas aku masak dari semua bahan-bahan yang ada." Selena akhirnya memutuskan membuat menu makanan yang biasa di masaknya di rumah.


Dengan sigap, selena membuka laci tempat ditaruhnya celemek bersih berwarna hitam polos. Ia memakai celemek tersebut dan menarik talinya ke belakang dan mencoba mengikatnya.


Kitchen set yang nampak mewah dengan desain marmer yang hitam yang elegan memenuhi ruangan dapur itu. Peralatan masak telah tersedia lengkap di dalam lemari dan sebagian menggantung juga. Siapapun akan nyaman melakukan aktivitas masak jika dapurnya semewah ini.


Selena tak ingin berlama-lama, ia pun memulai aktifitas masaknya. Bunyi sayuran tumis terdengar bergemericik dari dapur apartemen mewah itu. Tumisan terakhir dan ia mengecilkan apinya. Selena kembali ke wastafel untuk mencuci buah. Setelah selesai mencuci buah. Selena segera menata meja. Kebiasaan yang sering dilakukannya di rumah. Selena tersenyum, ia merindukan makan bersama dengan keluarganya itu.

__ADS_1


Sementara Zionathan sudah keluar menggunakan kaos polos berwarna biru dan mengenakan celana putih dengan bahan high twist berkualitas. Nampak santai dan terlihat segar. Saat melihat Selena sibuk di dapur, tanpa sadar Zionathan tersenyum.


Selena masih tampak sibuk, ia kembali ke wajan untuk mengaduk sayur yang masaknya harus setengah matang. Hingga ia tidak menyadari kedatangan Zio. Selena kaget, saat melihat Zionathan sudah duduk santai sambil menopang dagu di atas meja kitchen set.


"Butuh bantuan?" tawar Zio.


Selena tidak menjawab, ia memilih mengabaikan Zionathan. Lagi-lagi Zionathan tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya. Debaran-debaran aneh ini datang lagi. Tatapannya tak lepas dari pergerakan Selena.


Selena bisa merasakan kalau dirinya sedang diperhatikan. Rasanya kurang nyaman. Apalagi yang memperhatikannya adalah lelaki tak punya hati. "Kenapa juga dia menatapku seperti itu?" Batin Selena mengomel sambil membengkokkan bibirnya.


Tidak ingin berlama-lama diperhatikan. Selena menyajikan semua masakannya. Warna yang kontras berbagai bahan kini tersaji di atas meja. Mengeluarkan asap mengepul dengan wangi dari bawang dan daging yang lezat, cukup menggugah selera untuk ukuran makanan sehat.


"Hmmm, sepertinya enak," Tanpa sadar Zionathan memuji masakan Selena dalam hati.


Zionathan mencondongkan tubuh dan sikunya ke atas meja. Tangannya mengunci, dagunya diletakkan di atas punggung tangannya. Ia melihat ke arah Selena dan tanpa sadar tersenyum lagi.


Dengan wajah datar dan kaku. Ia menyajikannya di atas meja. Selena juga sudah memotong buah yang sudah dibersihkannya menjadi kecil-kecil, agar Zio mudah memakannya. Setelah semua tersaji. Selena melangkah meninggalkan Zionathan.


Dahinya mengernyit saat melihat kepergian Selena "Kau tidak makan?" Cegat Zio menghentikan langkah Selena.


Selena membalikkan badannya. "Aku tidak makan. Kau bisa menghabiskannya." ucap Selena dengan wajah datar. Ia kembali melangkah.


"Apa kamu pikir aku juga lapar? dan kamu pikir aku mau menikmati makanan seperti ini?" ucap Zio begitu dingin tanpa melepaskan tatapannya. Sorot matanya benar-benar menampakkan kemarahan.


Selena berhenti sambil meremas tangannya. Rahangnya mengencang kuat. "Aku masih berbaik hati menyiapkan makanan itu, jadi jangan banyak protes." Tukas Selena.


"Jika aku tidak mau, kau mau apa?" bentak Zio.


Emosi Selena tersulut, belum lagi lukanya sembuh, lelaki ini kembali menggoreskannya. Bahkan parahnya, ia menabur jeruk nipis ke dalam lukanya lagi. Selena melangkah cepat dan kembali ke meja makan.


"Jika anda tidak mau, anda tinggal membuangnya." Ucap Selena mengambil semua piring yang ada di atas meja dan membuang makanan itu ke dalam wastafel.


Lengkungan wajahnya begitu tajam. Cara membuangnya saja begitu elegan. Ia menurunkan pandangannya ke arah wastafel. Dan setelah itu, Selena menggeram sampai giginya saling bergesekan.


PRANG....


PRANG...


Bunyi piring yang dibuang asal ke dalam wastafel terdengar begitu nyaring. Zionathan bergeming melihat tindakan Selena. Ia menggeser kursinya ke belakang dan berdiri tanpa melepaskan tatapan terkejutnya.


Mata Selena mengedip pelan, sayu, lalu menajam. Senyum-senyum kecil terlihat di ekspresi wajahnya.


"Aku sudah melaksanakan kewajibanku sesuai kontrak yang anda tulis. Jadi jangan salahkan aku atas semua ini." Selena tetap tenang dengan tatapan sedingin es. Membekukan Zionathan yang terdiam kaku di sana.


Tak ingin berlama-lama di sana, Selena langsung meninggalkan dapur. Zionathan bergeming seperti orang bodoh. Ia menatap punggung Selena yang hilang dibalik tembok dapur. Awalnya dia hanya menggertak Selena, agar mau makan bersamanya. Tapi ternyata semua diluar dugaan.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2