Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MENUNGGU DENGAN SABAR


__ADS_3

πŸ’Œ Setidaknya Lihat Aku Suamiku πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Sejak perdebatan kecil itu. Selena tidak bicara apa-apa lagi. Dia kembali hanya memilih diam. Siapa pun tahu Selena masih sangat terpukul karena kepergian ayahnya.


Zionathan membersihkan kekacauan yang dibuat istrinya itu. Setelah semuanya bersih dan rapi. Ia duduk di sofa menemani istrinya, sampai Selena benar-benar tertidur. Zionathan berulang kali memijit pelipisnya. Kepalanya rasa-rasa mau pecah. Apa karena kurang tidur, Zionathan juga tidak tahu.


Pikirannya benar-benar berkecamuk. Zionathan kembali teringat perkataan ayahnya. Ada seseorang yang sengaja menghubungi ayah mertuanya sebelum beliau sakit.


Zionathan sangat yakin sekali bahwa yang melakukannya itu adalah Chesa. Zionathan tertunduk dalam, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih.


Ia kemudian menarik napas panjang. Zionathan menatap istrinya lagi. Meski hatinya benar-benar sakit. Tapi Zionathan tidak perduli. Yang sangat dikhawatirkannya saat ini adalah Selena. Dua minggu waktu terasa berat untuknya. Selena bertahan dalam kebisuan. Ia sangat sulit ditebak. Perasaannya saat ini campur aduk. Ia kembali larut dalam pikirannya. Ia mendesah dan menghembuskan napasnya lewat mulut yang terbuka.


"Tidak apa-apa sayang, aku mengerti hatimu sakit. Aku akan bersabar menunggu sampai hatimu kembali membaik."


SATU JAM KEMUDIAN.


Zionathan bangun dari duduknya. Ia berjalan untuk menyalakan lampu meja yang ada di atas nakas, membiarkan kamar itu remang-remang. Agar istrinya tertidur nyenyak. Tak lupa Zionathan mengatur suhu ruangan agar Selena tidak kedinginan. Kemudian ia menatap istrinya itu. Posisi tidurnya miring dan tangan kanannya menelusup ke bawah bantal. Matanya masih terlihat sembab membuat Zionathan merasa bersalah. Ia terus mengedip menatap wajah Istrinya itu. Sungguh terlihat lucu.


Zionathan tersenyum lagi sambil duduk di sisi ranjang. Ia kemudian merapikan selimut Selena agar menutupi seluruh tubuhnya dengan baik.


"Maafkan aku sayang." Ucapnya pelan dan lembut.


Zionathan lalu mengangkat tangannya membelai kepala Selena dengan lembut. Menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya agar Zionathan bisa melihat wajahnya istrinya itu.


"Jangan biarkan aku menunggu lama. Sungguh aku tidak sanggup seperti ini sayang." Ucapnya dengan napas berat. Rasanya sangat sesak.


Zionathan tersenyum samar, sambil sesekali menarik napas dengan wajah tenang. Ia kemudian mendekatkan wajahnya untuk mencium istrinya itu. Setelah itu ia menarik wajahnya dan bangun dari duduknya. Zionathan pun melangkah keluar dari kamar Selena.


Perlahan-lahan Selena membuka matanya. Ia mendengar semuanya. Hatinya sesak, bibirnya bergetar menahan tangisannya. Selena bahkan tidak menahan suaminya agar tetap di sampingnya. Harga dirinya terlalu besar melakukan itu. Air matanya terjatuh dari sudut matanya. Selena tidak bisa membendung sakit hatinya lagi. Ia hanya bisa menangis dalam diam.


CEKLEK!


Zionathan menutup pintu itu dengan sangat hati-hati. Saat mendengar suara pintu dibuka. Samuel pun keluar dari kamarnya.


"Kak?"


"Ah, iya, Samuel." Zionathan tersenyum dan melangkah mendekat.


"Bagaimana kak, apa kak Selena mau makan?" Tanya Samuel. Ia seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi di kamar itu.


Zionathan menggeleng. "Sepertinya dia memang tidak mau bicara denganku."


Samuel mengembuskan napas panjang. "Dia memang keras kepala. Aku harap kakak bersabar menghadapinya."


"Tentu saja. Selena sebenarnya wanita lemah, dan tanggung jawabku adalah melindunginya."


Samuel tersenyum hangat saat mendengar itu. "Kakak mau pergi?" Tanyanya kemudian saat melihat Zionathan memakai jasnya kembali.


"Hmm. Untuk sementara aku akan kembali ke apartemen dulu. Selena masih butuh waktu untuk memulihkan hatinya. Aku tidak ingin membuat Selena semakin marah jika melihatku."


Samuel mengembuskan napas singkat. "Apa dia masih menyalahkan kakak soal kematian ayah?"


Zionathan melangkah menuju ruang tamu. "Hmm. Sepertinya begitu. Itu wajar dan aku bisa memakluminya."

__ADS_1


Samuel tersenyum sambil manggut-manggut. Selama ini Ia salah menilai kakak iparnya itu. Ternyata hatinya jauh lebih baik dan dia benar-benar menyayangi Selena.


"Kakak tidak makan dulu?" Tanya Samuel lagi.


"Terima kasih Samuel. Aku harus kembali. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Nanti sampaikan kepada ibu, untuk beberapa hari ini aku tidak bisa datang. Lusa aku harus mengikuti rapat ke luar kota dan itu tidak bisa diwakilkan."


Samuel mengangguk. "Baik kak. Nanti aku sampaikan ke ibu."


"Hmm." Zionathan tersenyum sambil menepuk lengan Samuel dengan lembut. "Tolong jaga Selena untukku." pinta Zionathan dengan wajah memohon.


"Beres kak, perintah dilaksanakan!" ucap Samuel dengan tegas seperti seorang prajurit yang siap menjalankan misi penting.


Zionathan terkekeh. "Aku mengandalkanmu." ucapnya lagi.


Samuel menganggukkan kepalanya, Ia melihat punggung Zionathan yang berlalu pergi dari ruangan itu. Zionathan langsung membawa mobilnya meninggalkan kediaman Gwyneth.


Di perjalanan Zionathan segera melakukan panggilan kepada Alex.


TUT TUT TUT


PANGGILAN TERHUBUNG.


Alex yang baru saja tertidur, tersentak dan reflek terbangun saat mendengar ada panggilan masuk. Padahal sebelumnya, Alex tak bisa tidur setelah mendapat panggilan dari tuan Alberto. Sebelum panggilan itu mati, Ia dengan cepat menerima panggilan itu.


"Selamat malam pak, ada yang bisa saya bantu?" Sahut Alex dengan sopan di ujung telepon.


Zionathan menarik napasnya. "Cari tahu keberadaan Chesa. Dalam waktu hitungan jam, kau harus menemukannya. Terserah kau mau menggunakan anak buah Lucius atau siapapun itu. Besok kau atur jadwalku. Aku harus bertemu dengannya. Kau mengerti?" Perintah Zionathan dengan tegas.


"Heuh?" Alex nampak bingung. Ia terdiam beberapa saat. "Bukankah Chesa, wanita yang pernah ditemui pak Zio. Kenapa beliau ingin bertemu dengan wanita itu lagi?"


"Alex? apa kau mendengarkanku?"


"Jangan sampai Selena tahu masalah ini. Aku tidak akan memberi ampunan kepada orang yang melakukan kesalahan yang sama. Dia harus diberi pelajaran."


GLEK!


Alex menelan salivanya berulang kali. Ia tersenyum getir saat mendengar itu. Dia tahu seperti apa Zionathan. Apalagi berani menyakiti orang-orang yang dicintainya. Tiada kata maaf untuknya.


"Baik pak. Saya mengerti." ucapnya dengan tegas. "Ada lagi tambahan pak?"


"Hmm???" Zionathan nampak berpikir. "Bawakan makanan enak untukku. Nanti titip saja di security yang berjaga di depan apartemen."


"Heuh? Bapak belum makan?" Tanya Alex sambil melihat jam yang ada di dinding kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Hmm." Zionathan menjawab malas.


"Baik pak, saya langsung pesan makanan sesuai selera anda."


"Jangan lupa yang rendah lemak,"


"Baik pak."


"Terima kasih, Alex."


"Sama-sama pak."


TIT!


Panggilan langsung dimatikan Zionathan. Ia kembali fokus ke jalanan.


Dalam perjalanan, Zionathan larut dalam pikirannya. Ia memikirkannya semuanya, memikirkan istrinya yang masih begitu marah, memikirkan Chesa yang katanya sahabat dekat Selena. Tapi ia berani menyakiti istrinya. Setelah apa yang dilakukannya? Aku rasa hidupnya tidak akan tenang. Dia benar-benar manusia tidak punya hati. Zionathan menggelengkan kepalanya dan terus bernapas melalui mulut yang terbuka. Zionathan menyetir sambil memijit tengkuknya. Ia bersin beberapa kali.

__ADS_1


"Hikss...Kepalaku sakit sekali." Zionathan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.


Gumpalan awan yang bersusun-susun diiringi sinaran kilat ataupun petir yang memecah kesunyian dengan sisa-sisa hujan yang masih setia menemani Zionathan dalam perjalanannya. Cuaca hari ini mewakili benar-benar perasaannya yang bersedih.


Ban mobil terus berputar, Zionathan terus memacu mobilnya melaju menyusuri jalan. Beberapa menit kemudian, akhirnya Zionathan tiba di apartemen Diamond.


Zionathan memarkir mobilnya tepat di depan gedung itu. Ia melangkah memasuki area apartemennya sambil menundukkan kepalanya.


"Selamat malam tuan!" Sapa seorang security menyapa Zionathan yang sedang tertunduk lesu.


Zionathan mengangkat wajahnya dan tersenyum hangat. "Selamat malam juga pak." Sapa Zionathan balik.


"Tadi pak Alex mampir dan menitipkan ini." lelaki paru baya itu memberikan sebuah bungkusan kepada Zionathan.


"Oh. Iya...." Zionathan mendekat.


"Ini tuan." Ia menyerahkan kepada Zionathan.


Ada dua kotak makanan di sana. Mungkin Alex mengira, Selena sudah kembali ke apartemen. "Terima kasih pak."


"Tadi pak Alex berpesan, makanan ini harus anda habiskan pak." Kata lelaki paruh baya itu menyampaikan pesan dari Alex.


Zionathan tersenyum simpul. Ia kemudian mengeluarkan satu kotak makanan dan memberikannya kepada pak security. "Ambil ini. Bapak juga harus menghabiskannya."


"Heuh? untuk saya pak?"


Zionathan tersenyum sambil mengangguk.


"Ahhhhh....terima kasih pak, anda jadi repot-repot."


"Tidak kok, biar anda lebih bersemangat lagi."


Lelaki itu tersenyum sumringah. "Apa anda sendiri pak?" tanyanya kepada Zionathan. Beberapa hari ini, ia memang melihat Zionathan selalu datang sendiri.


Zionathan mengerti maksud lelaki paruh baya itu. Bibirnya langsung mengulas senyum. "Hmm." Zionathan menjawabnya dengan gumaman saja. Kemudian ia mengangkat kotak makanan yang yang ada di tangannya. "Sepertinya makanan ini sudah tidak sabar untuk dinikmati."


Lelaki itu langsung tertawa awkward. "Ahhhh....baik pak. Semoga malam anda menyenangkan pak."


"Terima kasih. Selamat malam pak." Kata Zionathan sedikit membungkukkan badannya.


Zionathan kembali berjalan melangkah memasuki lobby apartemen dan langsung menuju lift. Tak beberapa lama pintu lift terbuka. Zionathan berjalan hingga tiba di depan apartemennya.


TININIT!


Bunyi dari pintu berbunyi ketika Zionathan membuka dengan mengetikkan password yang berupa angka untuk membuka pintu kunci digital apartemennya.


Zionathan membuka kenop pintu dan mendorong daun pintu agar terbuka sempurna. Zionathan membuka sepatu dan menyimpannya di tempat biasa. Lampu menyala otomatis saat ada orang disekitarnya dan mati begitu Zionathan pergi.


Ia menatap sejenak ruang besarnya. Menyadari bahwa dirinya sendiri. Rasanya benar-benar sepi. Zionathan menarik napas untuk menenangkan perasaan getir di hatinya. Rasanya benar-benar menyesakkan untuk sekarang. Demi Selena, Zionathan akan tetap menunggu. Tidak perduli betapa rindunya dia.


Zionathan membuka jasnya dan melemparnya dengan asal. Hari ini ia begitu lelah, ingin mengistirahatkan tubuhnya, setidaknya bisa mengurangi sakit kepalanya. Zionathan melepas napas panjang dan melangkah menuju dapur dan meletakkan kotak makanan yang diterimanya dari security. Zionathan berjalan mengambil minuman dari lemari pendingin. Ia kembali menuju sofa. Zionathan menyandarkan punggungnya kesandaran kursi sofa. Ia meletakkan tangannya ke dahinya dan memejamkan matanya. Hari yang begitu melelahkan. Ia menarik napas panjang dan menghembuskan napasnya kembali. Tak beberapa lama Zionathan pun tertidur di sana.


BERSAMBUNG.....


^_^


Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih 😊☺️


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2