Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MENGGANGGU PIKIRAN


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Di kediaman Lucius.


Zionathan memarkir mobilnya dengan baik di halaman luas di rumah utama Lucius. Ia melepas sabuk pengamannya. Zionathan memandang istrinya ke samping yang terus menunduk dan tidak bersemangat itu.


"Sayang dari tadi aku melihatmu murung dan tak bersemangat. Apa kau sakit?" Tanya Zionathan sebelum mereka turun dari mobil.


Selena menggeleng lemah. "Aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing saja, mungkin karena kurang tidur."


"Kalau begitu kita pulang saja."


Selena langsung mengangkat wajahnya. "Heuh pulang?"


"Hmm, kita pulang. Aku yakin Ayah dan ibu akan mengerti bila kita menjelaskannya."


"Ini natal pertamaku bersama keluarga Lucius. Aku tidak mau." Protes Selena.


"Tapi aku tidak mau melihatmu seperti ini. Kamu kurang sehat, lebih baik kita istirahat di rumah saja." Zionathan menyentuh kening Selena.


Selena dengan cepat menangkap tangan Zionathan, lalu mengecup jari tangan suaminya dengan lembut. "Aku tidak apa-apa. Sekarang kita turun!"


"Tapi sayang?"


"Ayo, turun!" Selena tersenyum dan sudah lebih dulu membuka pintu mobil dan tidak lupa membawa buah tangan yang dibelinya tadi.


Zionathan pun keluar dengan postur tubuh yang tegap dan penuh karisma. Ia mengitari mobil dan melangkah mendekat ke arah Selena. Bukannya melangkah lebih dulu, malah Zionathan mengusap kepala Selena dengan lembut.


"Heuh?"


Selena mendongak dan....


CUP!


Zionathan menarik tengkuk Selena dan mencium lama dibagian kening istrinya.


"Biar pusingnya hilang." Zionathan membelai lembut pipi Selena.


Selena tersenyum sambil menjepit bibirnya karena malu. Soalnya di depan pintu seorang pelayan sudah berdiri menunggu kedatangan mereka.


Tanpa memandang Selena, Zionathan menelusupkan tangannya ke samping meraih tangan istrinya itu. Menggenggam tangan Selena dengan erat. Mereka pun melangkah bersama.


"Tidak tepat rasanya aku menanyakan sekarang. Aku tidak mau merusak momen bahagia ini. Aku akan memilih waktu yang tepat untuk bertanya langsung kepada Zionathan."


Sepanjang mereka melangkah, mata Selena disuguhkan dengan dekorasi pohon cemara yang dihias begitu indah di taman rumah. Ada Boneka salju yang berdiri di samping patung rusa yang menarik Santa Claus.


Di setiap dinding teras ada banyak hiasan lain seperti sepatu, kereta salju, kaus kaki besar, lilin, gantungan kepingan salju dan terakhir gantungan pintu berbentuk bundar dan dililit daun pinus yang dihiasi dengan pita dan bunga.


Selena tersenyum saat pelayan menyambut mereka di depan pintu.


"Selamat siang tuan dan nona," Sapa seorang pria berdiri tegap di depan pintu. Ia membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


"Selamat Siang David." Balas Zionathan dengan senyuman ramah.


Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Selena selalu tidak bosan melihat kemewahan desain rumah yang memakai lantai parket, plester yang rumit, dan perapian batu bata yang canggih. Selena sampai tak bisa berkata apa-apa karena desaign rumah ini benar-benar unik. Ia begitu takjub dengan kemewahan rumah ini. Selain itu, rumah ini juga memiliki semua hiasan yang unik-unik.


Terdapat banyak pelayan di sana. Zionathan dan Selena saling melempar senyum.


"Selamat siang tuan! Tuan dan nyonya sudah menunggu anda." Kata pelayan dengan sopan, ia maju beberapa langkah maju mengambil buah tangan yang dibawa Selena.


"Selena," Sapa Alberto saat melihat Selena dan Zionathan masuk ke ruang tamu.


"Ayah...?" Selena tersenyum, menundukkan kepalanya lebih dulu, lalu menyalami ayah mertuanya itu.


"Merry Christmas, ayah." Ucap Selena kemudian memeluk Alberto dengan singkat, lalu melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut kepada lelaki paruh baya itu.

__ADS_1


"Merry Christmas, Selena." Alberto membalas senyuman itu. Kemudian Ia berpelukan dengan Zionathan dan mengucapkan kalimat yang sama.


"Dimana Ibu?"


"Ada di dapur, ia masih mempersiapkan makanan untuk kalian. Kita langsung ke dapur saja."


"Baik ayah."


Selena berjalan lebih dulu dan membiarkan dua pria dewasa itu melangkah beriringan.


"Ibu, tidak usah repot-repot." Kata Selena berdiri tidak jauh dari Ibu mertuanya itu.


"Hei...sayang.... gak repot kok. Mari sini!" Davina menghentikan aktivitas memasaknya, ia tersenyum melangkah mendekat ke arah Selena.


"Merry Christmas ibu," sapa Selena dengan sopan dan memeluk hangat tubuh Davina.


"Merry Christmas juga sayang." Balas Davina mengusap punggung Selena dengan lembut. Kemudian Davina melepaskan pelukannya.


"Ibu, kau melupakanku." Tiba-tiba muncul Zionathan di sana.


"Hai sayang, Merry Christmas juga untukmu." Davina memeluk Zionathan juga. Zionathan pun membalasnya dengan ucapan yang sama.


"Sekarang kita langsung makan ya." Kata Davina membawa tangan menantunya ke kursi. "Kamu duduk saja, ada pelayan yang akan menyiapkan semua."


"Ibu juga duduk di sini."


"Tunggu sebentar ada yang harus ibu periksa." Kata Davina melangkah menuju kompor yang ditinggalkannya tadi.


Pelayan sudah mengambil alih. "Siapkan sesuai urutannya ya," perintah Davina kepada beberapa pelayan yang berdiri di sana.


"Baik nyonya." mereka mengangguk dengan sopan.


Pelayan segera menggeser kursi dan mempersilakan tuannya untuk duduk. Alberto duduk di kepala meja. Menujukkan ia sebagai kepala keluarga di sana. Sementara David anak buah yang paling setia mendampingi Alberto berdiri tepat di belakang tuannya dengan jarak satu meter.


Masakan khas yang biasa di siapkan hanya perayaan Natal saja sudah tersaji di atas meja makan, para koki mengatur makanan itu sesuai urutannya. Makanan berkelas para kalangan atas tentunya.


Pelayan sedikit membungkuk memberi hormat. "Makanannya sudah siap tuan, selamat menikmati." ucap kepala pelayan dengan sopan.


Lalu mundur beberapa langkah ke belakang. Mereka tidak langsung meninggalkan meja. Pelayan tetap stand bye di sana. Berdiri di belakang mereka dan siap menunggu instruksi jika di minta.


"Hmmm...pasti bu, makanan seenak ini harus dihabiskan. Apalagi ini menu hanya ada di hari natal seperti ini, kan?" kata Selena antusias.


"Ah...tidak juga, kita bisa membuatnya kapan saja. Kapan-kapan kita bisa buatkan menu ini lagi." Sahut Davina menimpali.


"Terima kasih sudah menyiapkan makanan ini dengan penuh cinta bu." Bisik Selena.


"Sama-sama sayang."


Mereka menikmati makanan sambil berbincang-bincang di sana.


"Belum ada kabar sayang?" tanya Davina setengah berbisik kepada Selena yang tepat duduk di sampingnya.


Selena tersenyum mengerti maksud ibu mertuanya. "Doakan saja bu. Semoga Tuhan memberikan secepatnya." jawab Selena berbisik kepada ibu mertuanya.


Dahi Zionathan mengerut saat melihat dua orang wanita yang dicintainya sedang berbisik-bisik sambil melihat ke arahnya. Tentu saja Zionathan merasa besar kepala. Karena dia tahu mereka sedang membicarakannya.


Selena tersenyum saat suaminya meminta penjelasan dengan gestur mengerutkan wajahnya. Selena menggelengkan kepalanya dan meminta Zionathan agar fokus ke makanannya saja.


"Aku dengar kamu berhasil lagi memenangkan tender di luar dari pekerjaanmu"


Zionathan memalingkan wajahnya melihat ke arah Alberto. Ia langsung menghentikan aktifitas makannya.


"Benar ayah. Walau awalnya kami banyak mengalami kesulitan."


"Kesulitan seperti apa?" tanya Alberto.


"Banyak kekurangan-kekurangan untuk memenuhi persyaratan dalam dokumen pengajuan tender. Kita tetap berupaya agar jasa pemerintah saat ini dilakukan secara benar dan transparan sesuai ketentuan dan peraturan yang ditetapkan. Dan akhirnya membuahkan hasil sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati." jelas Zionathan mengambil gelas yang berisi air putih lalu meneguknya secara perlahan.


"Kau memang seperti ayahmu sayang. Pekerjaanmu tidak diragukan lagi. Kau pekerja keras dan bisa diandalkan." kata Davina memegang tangan Zionathan.


Zionathan hanya tersenyum. Ia memang hebat. Selena juga tak bisa memungkiri itu. Bagi Zionathan sudah hal yang terlalu biasa jika ia memenangkan tender seperti ini. Ya, jujur saja ia bangga dengan dirinya sendiri. Bukan hanya karena ia sudah berhasil mengembangkan perusahaan Lucius, tapi juga bangga karena sudah membangun anak perusahaan di beberapa daerah dan bisa membuka lowongan pekerjaan bagi yang membutuhkan.


"Baguslah, Ayah bisa mengandalkanmu." Kata Alberto menikmati makanannya dengan tenang.

__ADS_1


Zionathan sesekali mengambil makanan dan memberikannya kepada Selena. "Makan yang banyak sayang." Ia sedikit mencondongkan badannya.


Selena hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu suka?" tanya Davina saat melihat menantunya makan banyak hari ini. Sampai-sampai bagian Zionathan pun diberikan untuk istri tercintanya itu.


"Hmm. Makanannya enak sekali bu."


"Habiskan semua,"


"Hahahaha. Ibu bisa saja." Selena tertawa di sana.


"Gak apa-apa sayang." timpal Davina lagi.


Kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Zionathan tersenyum haru saat melihat ekspresi Selena yang terlihat begitu bahagia. Membuatnya semakin mencintai istrinya itu.


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah kembali dari kediaman Lucius, Selena dan Zionathan langsung ke kediaman Gwyneth. Selena memilih istirahat di dalam kamarnya. Ia membiarkan Zionathan berbincang-bincang dengan ayahnya.


SATU JAM TELAH BERLALU.


Zionathan berjalan mengendap untuk pergi ke sisi kasur yang kosong di sebelah Selena. Ia tidak mau pergerakannya justru mengganggu tidur Selena. Dengan berhati-hati ia naik ke atas kasur dan memiringkan tubuhnya menghadap Selena.


"Sayang."


"Hmm?" Zionathan mengangkat alisnya. Selena belum tidur? padahal ia sudah sangat berhati-hati agar istrinya tidak terbangun.


"Peluk aku," pinta Selena dengan mata yang masih terpejam.


Zionathan tersenyum lembut dan mendekat ke arah Selena. Ia mengulurkan tangannya untuk memeluk Selena. Zionathan lalu mengusap punggung istrinya itu. Selena semakin merapatkan kepalanya ke bawah dagu suaminya.


"Aku pikir kau sudah tidur sayang."


Selena membuka matanya secara perlahan. "Aku tidak bisa tidur jika ada yang mengganggu pikiranku." Selena berbicara setengah bergumam.


Zionathan berkedip pelan. "Kamu memikirkan apa sampai tidak bisa tidur."


"Hmmm...." Selena hanya mengembuskan napasnya.


"Oh iya? saat di gereja tadi, kau minta izin pergi sebentar. Kau ingin bertemu siapa? Aku lihat kau berlari ke arah kanan."


Selena tersenyum. Lalu mendongak melihat ke arah Zionathan. "Aku bertemu pacarku."


Zionathan terkekeh. "Selenaaaa."


Selena tersenyum dan melihat ke arah Zionathan. Wajah senyumnya berubah menjadi senyuman tipis yang serius. "Kau tidak bertanya apa yang mengganggu pikiranku sayang?"


Zionathan mengecup puncak kepala istrinya dengan geram. "Sekarang aku ingin tahu apa yang mengganggu pikiranmu?"


Selena menurunkan pandangannya. Ia menarik dan mengembuskan napas panjangnya. Wajahnya nampak sendu. Ia ingin memilih kalimat yang tepat untuk diucapkannya kepada Zionathan.


"Apakah yang dikatakan Chesa itu benar atau tidak?"


"Chesa? Siapa Chesa?"


"Kau tidak mengenal Chesa, dia sahabatku?"


"Tidak. Aku tidak mengenalnya."


"Bukankah kau memerintahkan anak buahmu untuk menyekapnya?"


Zionathan mengerutkan kening. "Menyekap? aku tidak pernah memerintahkan anak buahku untuk menyekap seseorang apalagi itu seorang wanita."


Zionathan langsung mengerjap, dia langsung tahu orang yang dimaksud Selena. Zionathan mengembuskan napas panjang sebelum berbicara.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2