
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Zionathan dan Selena di sambut hujan salju ketika pesawat Boeing xx berhasil melakukan pendaratan dengan mulus di Bandar Udara Charles de Gaulle paris. Kota paris yang dikenal dengan sebutan The City of Love dan City of Lights karena keindahannya, apalagi di malam hari.
Sesuai rencana Zionathan Ia tak memberitahu Selena mengenai ayahnya yang masuk rumah sakit. Walau awalnya Selena curiga, ayah dan ibunya tidak datang ke bandara. Namun kecurigaan Selena bisa dialihkan Alberto dan Davina.
Zionathan menggunakan coat mantel berukuran panjang dengan bahan tebal dan padat untuk membuat tubuhnya hangat dan nyaman. Selena juga memakai pakaian yang sama, hanya bahannya tidak setebal Coat yang dikenakan Zionathan.
Selena tersenyum mendongak ke atas, sesaat ia memejamkan matanya untuk menghirup udara di kota penuh cinta ini. Ia merapikan baju dan merapatkan coat hitam ke tengah dada. Akhirnya ia bisa datang ke negara sejuta keindahan ini.
"Kau menggunakan dasar tipis sayang, apa kau tidak kedinginan?" Kata Zionathan menghentikan langkahnya. Ia menghadap Selena dan ingin membuka Coat mantel berukuran panjang miliknya. Dengan cepat Selena menghentikannya.
"Jangan dibuka sayang, aku tidak apa-apa, aku sengaja membiarkan tubuhku menerima udara dingin apalagi ini musim salju." Kata Selena tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Nanti kamu sakit, Selena."
"Aku bisa menjaga tubuhku. Tenang saja."
Zionathan kembali menarik koper dan berjalan beriringan dengan istrinya itu.
"Jangan lupa minum vitamin Selama di sini. Jika tubuh kita tidak kuat, kau bisa sakit. Apalagi saat cuaca seperti ini. Cuaca di paris dan negara kita berbeda." Ucap Zionathan begitu lembut. Suara baritonnya menyejukkan hati.
"Hmm. Tentu saja. Lagian aku memang sengaja menggunakan pakaian ini." Selena tersenyum menggandeng tangan suaminya. Ia merebahkan kepalanya di lengan suaminya dan tersenyum bahagia.
Lagi-lagi Zionathan menghentikan langkahnya, mengernyitkan bingung. "Sengaja?" ucapnya lagi. "Cuaca dingin seperti ini tidak pernah membawa kita merasa nyaman sayang. Bahkan jika musim dingin tiba, setiap saat pemerintah daerah mengingatkan agar kita tetap jaga kesehatan dan tetap menggunakan pakaian di musim salju." Kata Zionathan memberi nasehat.
Sepersekian detik tiba-tiba terbersit pikiran nakal, Alis Zionathan menukik ke atas. Ia tersenyum untuk menggoda istrinya itu.
"Apa kau ingin mengodaku, hmm? "
"Ehh.." Selena mengerjap. "Maksudmu?" tanya Selena bingung.
"Kau menginginkan tubuhku untuk menghangatkanmu, kan?" kata Zionathan menatap istrinya dengan senyum nakal.
Reflek Selena mencubit lengan suaminya. "Pikiranmu selalu yang aneh-aneh." Selena mengerucutkan bibirnya.
"Hahahaha..." Zionathan tertawa renyah, memeluk erat tubuh istrinya dari samping. Selena pun ikut tertawa. Ia memeluk erat pinggang suaminya. Walau hatinya tidak berada di sini. Ia berusaha ceria agar tidak mengecewakan suaminya itu.
Zionathan dan Selena terus berjalan santai dan mengedarkan pandangannya. Udara dingin semakin terasa menembus kulit mereka. Salju turun begitu cantik. Sedikit demi sedikit namun membuat jalanan dipenuhi oleh salju. Beruntung penerbangan mereka berjalan mulus.
"Sayang, kita tidak menggunakan pemandu wisata. Apa kita tidak tersesat?" tanya Selena.
"Tenang saja. Kita punya GPS, kita punya nomer telfon darurat, dan kita bisa menghubungi polisi kapanpun. Kita tidak akan tersesat."
“Iya-iya. Aku tahu, terserah kamu saja. Aku bisa mengandalkan suamiku yang pintar ini."
Zionathan mencium puncak kepala istrinya dengan sayang. "Kamu sudah lapar?"
"Hmm."
"Kita makan dulu,"
Selena mengangguk antusias. Ia tersenyum hangat sambil memeluk tangan Zionathan dengan posesif.
Karena penerbangan luar negeri. Mereka harus melalui proses pemeriksaan imigrasi. Setelah memberikan pasport dan dari form imigrasi yang di isinya dari pesawat tadi. Zionathan dan Selena langsung keluar dari pintu kedatangan dan mendorong kopernya. Mereka menggunakan taksi. Tidak ada mobil mewah dan supir di sana. Mereka hanya ingin menikmati perjalanan layaknya pasangan normal.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐
Zionathan dan selena menikmati makan malam yang sedikit lebih awal di restaurant yang berada di deretan bawah bangunan hotel besar yang akan menjadi tempat mereka menginap selama di Paris ini.
Tidak ada yang spesial dari makanan yang mereka pesan. Sepiring spaghety di hadapan Zionathan dan fetuchini di depan Selena. Kenapa makanan ini tidak terlalu spesial? Karena di negaranya pun dengan mudah mendapatkannya. Selena menyandarkan punggungnya menyudahi makanannya. Ia bahkan hanya menyentuh sedikit saja.
“Sayang, Kau sudah reservasi hotel?” Selena bertanya pada suaminya yang sedang sibuk menggulung spaghety di piringnya.
"Sudah. Habis makan ini kita langsung ke hotel." Dahi Zionathan tiba-tiba mengernyit saat melihat Selena tidak menghabiskan makanannya. "Kamu tidak suka?"
"Aku tidak napsu makan." Wajah Selena memelas sendu.
"Apa mau diganti menu yang lain saja?"
"Tidak sayang. Kamu makanlah!" ucap Selena menolak.
Tapi melihat Zionathan menyuapkan gulungan besar spaghety, ditambah dengan saus tomatnya yang banyak, Selena jadi ingin merasakannya juga.
“Ssayang…” Panggil Selena.
“Em?”
Zionathan hanya merespon dengan bergumam karena mulutnya masih penuh dan kedua tangannya sudah sibuk menggulung spaghety selanjutnya.
“Masukan ke dalam mulutku” Ujar Selena tiba-tiba.
Zionathan mengangkat kepalanya yang tadi masih menunduk menikmati makanannya. Kedua matanya memperhatikan Selena yang sedang mengarahkan pandangan pada sepiring besar spaghety di depan Zionathan.
“Kamu mau?”
“Hmm. Aku mau coba.” Ujar Selena.
“Aaaa… buka mulutmu,”
Dengan telaten, Zionathan menyodorkan garpunya ke depan istrinya itu, dan menggunakan tangan kirinya untuk menyangga di bawah dagu Selena.
Selena mengunyah gulungan besar spaghety di dalam mulutnya kemudian tersenyum saat Zionathan menggerakan jari-jarinya di sekitar mulutku untuk menyeka saus yang tersisa di ujung bibir Selena.
“Terima kasih sayang. Ini sudah cukup.” Ucap Selena sembari mengangkat kedua jempolnya.
Zionathan pun menyelesaikan makanannya. Setelah Selesai makan, Zionathan dan Selena langsung ke Ritz Hotel Paris. Mereka masuk ke dalam gedung yang dari luar memang sudah terlihat sangat klasik. Zionathan dan Selena berjalan melewati lobby yang sangat luas, tidak ada eskalator dan hanya jajaran anak tangga luar biasa beralaskan karpet yang menghubungkan tiap lantai. Dan gedung ini memang tidak terlalu tinggi. Hanya empat lantai saja, tapi isinya benar-benar wah.
“Ini adalah kamar kita. Aku memilih kamar ini dan berharap kau menyukainya sayang."
Selena mengangguk saat Zionathan membuka kenop pintu berwarna emas tersebut. Kamar ini lebih mirip sebagai ruangan penyimpan harta karun dari pada ranjang tidur. Benar-benar mewah. Pantas saja Ritz Hotel ini sangat terkenal mendunia.
Zionathan menutup pintu dan berjalan di belakang istrinya dan memeluk Selena dari belakang.
Zionathan mendekat dan memeluknya dari belakang. "Kamu menyukainya?" Tanya Zionathan tersenyum lembut sambil mengeratkan pelukannya.
Selena hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia menyandarkan pelipisnya pada pipi Zionathan.
"Aku akan membawamu jalan-jalan ke Kanada. Jaraknya hanya enam jam dari kota Paris." Kata Zionathan mencium aroma tubuh istrinya.
"Benarkah?"
"Hmm. Apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu sayang."
Selena tersenyum, Ia memejamkan matanya menikmati pelukan itu.
"Tetaplah bahagia seperti ini Selena. Berjanjilah kepadaku. "
Selena membalikkan badannya dan mengalungkan tangannya dileher Zionathan. Tatapan mereka kembali bertemu.
__ADS_1
"Tentu saja, tujuan hidupku hanya kamu. Asal kuncinya saling percaya, jujur dan terbuka. Rumah tangga bahagia itu menjalin komunikasi yang baik. Tidak ada kebohongan. Masalah apapun itu kita harus bicarakan sama-sama. Meski kita berdebat. Aku ingin kita terbuka."
DEG!
Kata-kata itu seperti tamparan untuknya. Zionathan menelan salivanya berulang kali karena gugup.
"Kamu tahu kan, rumah tangga itu diibaratkan seperti pekerjaan konstruksi, membangun sebuah jembatan. Ada tiang-tiang yang dibutuhkan untuk memperkokohnya menjadi keluarga yang tangguh. Jika tiangnya tak kuat atau dicabut, tentu jembatan keluarga itu terancam roboh. Aku percaya kita bisa hidup saling mengisi untuk menuju keluarga yang bahagia." ucap Selena tersenyum sambil memajukan wajahnya untuk mengecup singkat bibir Zionathan.
Zionathan tersenyum, ia menganggukkan kepalanya dan menarik Selena dalam pelukan hangatnya. Mereka hanya diam dan terus menikmati pelukan hangat itu.
⭐⭐⭐⭐⭐
Pagi hari yang Indah. Karena cuaca dingin membuat mereka bertahan di dalam selimut. Walau penghangat ruangan dinyalakan pas di kamar itu. Tapi tetap saja membuat mereka belum mau beranjak dari kasur empuk itu.
Dddrrrttt dddrrrttt
Bunyi handphone Zionathan bergetar dari atas nakas. Ia terbelalak saat melihat ternyata panggilan itu dari adik iparnya. Zionathan menurunkan pandangannya melihat ke arah Selena. Sepertinya ia masih tertidur. Tak ingin istrinya terbangun, Zionathan dengan perlahan mengangkat tangan Selena. Sangat berhati-hati meski wajahnya mengerucut saat Selena bergumam dan membalikkan badannya.
Zionathan menurunkan kedua kakinya. Dengan perjuangan yang sungguh mendebarkan agar Selena tidak menyadari. Zionathan akhirnya berhasil turun dari kasur. Ia pun bernapas lega.
Zionathan terburu-buru berlari ke arah balkon hotel. Ia berbisik, takut Selena terbangun karena suaranya.
"Iya Samuel." Sapa Zionathan setengah berbisik.
Terdengar isak tangis dari Samuel. Seketika dahi Zionathan mengerut dan perasannya menjadi tidak enak.
"Samuel, kenapa kau menangis?" Alis Zionathan melengkung.
"Ayah kak, ayah dilarikan ke ruang ICU. Dia sempat sadar dan mencari Selena. Tiba-tiba ayah kejang dan tidak sadarkan diri." Kata Samuel terisak.
DEG
Jantung Zionathan terpukul kencang. Telinganya seakan berdengung dan ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dadanya seketika sesak. Bahkan sulit untuk bernapas. Ia teringat akan ayahnya. Zionathan memejamkan matanya. Mencengkeram besi stainless yang terasa dingin itu.
"Tenang Samuel, ayah akan baik-baik saja. Kita sama-sama berdoa, tugasmu tetap memberikan kekuatan kepada ibu."
"Tapi aku takut kak..." Samuel kembali terisak diujung telepon.
"Nanti kami akan cari solusinya. Atau mau pulang sekarang juga tidak apa-apa."
"Tapi kata ibu...."
"Jangan pikirkan kata ibu...." Zionathan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia terdiam dengan perasaan kalut. Zionathan sangat frustasi. Apalagi saat Selena mengatakan harus jujur dan terbuka. Membuat dadanya semakin sesak. "Kami akan pulang hari ini." ucap Zionathan akhirnya.
"Baiklah kak..."
"Apa maksudmu sayang?" Selena sudah berdiri tidak jauh dari Zionathan.
Zionathan sangat terkejut sampai menjatuhkan handphone yang ada di tangannya. Wajahnya menegang. Posisi Zionathan masih memunggungi istrinya itu.
"Apa yang kau bicarakan dengan Samuel? jawab aku sayang," pinta Selena.
Zionathan menarik napasnya dalam-dalam. Ia berusaha bersikap tenang dan berbalik memandang ke arah Selena yang sudah berdiri dihadapannya.
"Sayang....."
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^