
π Setidaknya Lihat Aku Suamiku π
Β
π HAPPY READING π
.
.
TOK TOK TOK!
Zionathan mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali.
"Hmm, masuk!" Ucap dokter dari dalam ruangannya.
Zionathan menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk.
Lelaki berpakaian jas putih itu pun memperbaiki posisi duduknya dan mengulurkan tangannya untuk mempersilakan Zionathan duduk. "Silakan duduk, tuan!"
"Terima kasih dokter."
Zionathan pun duduk berhadapan dengan dokter itu.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
Dokter Mark tersenyum. "Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bekas luka istri anda termaksud katagori luka kontraktur. Bekas luka itu akan menyebabkan kulit menjadi kencang, atau berkontraksi. Sakitnya akan sering kali muncul akibat luka itu dan bisa mempengaruhi otot dan saraf di bawah kulit. Tapi tidak masalah, kita akan memberikan obat antibiotik, agar nyeri sakitnya berkurang."
Zionathan bernapas lega, ia kemudian memberikan pertanyaan lagi. "Bagaimana dengan trauma psikologisnya dok? saya khawatir itu akan mempengaruhi kesehatan mentalnya."
Dokter Mark menghela napas panjang, "Benar. Pasien yang mengalami kejadian seperti ini, biasanya akan mengalami post-traumatic stress disorder, gangguan pasca peristiwa traumatik."
Zionathan memejamkan matanya saat mendengar itu. Tangannya mengepal kuat sampai buku-buku tangannya memutih.
Dokter itu tersenyum lagi saat melihat perubahan wajah Zionathan. "Tapi yang saya lihat istri anda kuat tuan. Keluarga bisa membantu untuk melupakan kejadian itu. Karena memulihkan trauma pada korban penculikan bukanlah hal yang mudah dan sebentar. Namun sebagai orang terdekat, kita bisa melakukan hal-hal ini untuk membantu pemulihan kondisi psikologis istri anda. Dengan dukungan dari keluarga, saya yakin beliau dapat merasa aman dan nyaman, sehingga perlahan bisa mengembalikan rasa kepercayaan dirinya dan kembali menjalani hidup seperti biasa. Itu saja saya rasa cukup. Dan...." Dokter Mark menangguhkan kalimatnya. Ia melipat ke dua tangannya di atas meja, menatap Zionathan dengan serius.
Sesaat mereka terdiam, begitu juga dengan Zionathan. Ia hanya menatap nanar ke arah dokter paruh bayah itu dan menunggu sampai dokter Mark melanjutkan kalimatnya.
Dokter Mark menarik napas panjang sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Kemudian melanjutkan ucapannya. "Tadi kami melakukan tes darah untuk memastikan kembali apakah dugaan saya benar atau tidak. Kita akan menunggu hasilnya beberapa jam lagi."
Zionathan menarik napas dengan mata mengedip pelan. Jantung berdebar tak beraturan. "Maksudnya bagaimana dok?"
"Saya melihat sepertinya istri anda mendapatkan suntikan berbahaya. Tapi saya masih kurang yakin, kita hanya bisa memastikan lewat hasil cek darahnya nanti."
DEG!
Kata-kata itu begitu cepat menyelusup ke dalam hatinya. Ia mencengkram tangannya begitu erat. Zionathan tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala, menarik napasnya yang terasa sesak. Kemudian Zionathan mengangkat wajahnya.
"Saya rasa cukup untuk hari ini. Semoga penjelasan saya bisa membantu keluarga."
Zionathan bangun dari duduknya. Ia tersenyum seraya mengulurkan tangannya. "Baik dok. Terima kasih atas penjelasannya."
Dokter Mark keluar dari mejanya dan tersenyum hangat menyambut tangan Zionathan. "Sama-sama tuan."
"Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya. Saya mohon dok." Kata Zionathan dengan wajah memelas sendu.
Dokter Mark tersenyum lagi saat melihat perubahan wajah Zionathan. "Saya mengerti perasaan anda tuan. Kita hanya bisa berdoa semoga hasilnya baik-baik saja." Ia mengeratkan jabatan tangannya.
__ADS_1
"Saya juga berharap seperti itu dok."
"Dan sejauh ini saya lihat kandungannya baik-baik juga. Saya berharap beliau jangan sampai stres, itu akan menganggu janinnya."
DEG!
Zionathan menahan napasnya, saat mendengar kalimat itu, Ia masih terdiam dengan mata membulat. "Maksudnya bagaimana dok?"
"Heuh?" Dokter Mark menatap bingung. "Apa anda tidak tahu istri anda sedang mengandung?"
Perlahan-lahan mulut dan mata Zionathan terbuka lebar. Ia sangat shock saat mendengar itu. "Istri saya hamil dok?"
"Ya, istri anda hamil. Usia kandungannya saat ini tujuh minggu." Jawab Dokter Mark menahan senyumnya saat melihat ekspresi terkejut Zionathan.
"Su-sungguh dok? Istri saya hamil? dan saya..." Zionathan menangguhkan kalimatnya. Ia menatap serius ke arah Dokter Mark.
Dokter Mark tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Zionathan semakin menahan napasnya. Ia semakin menelan salivanya dengan mata berkaca-kaca. Ia masih tak percaya.
Dokter Mark ikut tersenyum menahan haru saat melihat respon tegang dari Zionathan.
Zionathan hampir menangis dibuatnya, rasanya seperti tidak bisa bernapas karena sangat bahagia. Mulutnya terbuka tapi dia tidak bisa berkata apa-apa. Matanya sudah mengkristal dengan air bening yang siap terjatuh di pipinya. Napasnya keluar terbata-bata.
"Apa aku bermimpi dok," Mata Zionathan menatap lurus ke arah dokter Mark.
"Tidak tuan, anda tidak bermimpi. Tadi saya sudah periksa sendiri."
Zionathan menarik napasnya lagi. Raut wajahnya benar-benar berubah. Begitu melembut dan sangat haru. Matanya nanar memandang lelaki berjas putih itu.
"Jadi, aa-aku...." Suara Zionathan bergetar, " Aku akan menjadi ayah, dok?" Zionathan tersenyum, namun wajahnya mengerut menahan tangis.
"Bisakah saya memeluk anda dok?" Wajah Zionathan mengerut menahan haru.
Dokter Mark melepaskan tawanya. "Tentu saja tuan, anda bisa melakukannya."
Zionathan langsung melangkah dan ingin memeluk dokter Mark. Ia tidak bisa menggambarkan kebahagiannya saat ini. Ia hanya ingin melepaskan emosi bahagianya. Rasa sedihnya hilang begitu saja.
Dokter Mark menggapai dan memeluk Zionathan, ia menepuk-nepuk punggung Zionathan. "Saya pikir anda sudah tahu kehamilan istri anda. Selamat untuk anda tuan."
Zionathan mengangguk-angguk dan melepaskan pelukannya. "Terima kasih Dokter."
"Sama-sama tuan."
Zionathan tersenyum lagi. "Kalau begitu, saya permisi dok." Ia pamit undur diri.
Dokter yang berpakaian jas putih itu tersenyum "Baiklah. Selalu berikan semangat untuk istri anda, agar beliau bisa melupakan kejadian yang membuatnya trauma." kata dokter mengingatkan Zionathan.
"Pasti Dokter. Saya pasti melakukanya." jawab Zionathan singkat.
Dokter Mark menganggukkan kepalanya. Membiarkan Zionathan meninggalkan ruangannya.
Zionathan menutup pintu Pintu hermetic bermotif itu. Pintu yang didesain dengan menggunakan bahan khusus agar bisa kedap udara dan meminimalis kontaminasi dari udara luar.
Ia mempercepat langkahnya saat berada di koridor rumah sakit. Menaiki lift dan naik ke lantai atas. Ia begitu bahagia saat ini. Kebahagiaan ini benar-benar sempurna.
Mereka yang awalnya harus melalui proses perjuangan, yang awalnya tidak ada cinta, selalu berselimut kesedihan dan lara, diiringi derai air mata, kesulitan, bahkan harus bergelut dengan rintangan, hambatan. Kini hidup mereka lebih berwarna, Zionathan dan Selena di atas awan karena dirundung oleh sederet kebahagian yang tidak bisa dilukiskan oleh siapa pun.
__ADS_1
βββββ
Zionathan menuju ruang rawat VVIP. Ruangan itu hanya ada satu kamar di gedung lantai paling atas. Istrinya mendapatkan kelas super mewah di rumah sakit ini. Lift yang menghantarkannya tiba sampai ke gedung atas. Benar saja, hanya ada satu kamar di sana. Biasanya yang menggunakan ini hanya orang-orang penting saja. Tempat ini memang tenang dan sepi. Pengunjung juga terbatas. Seperti bukan kamar rumah sakit saja. Tempat ini cocoknya seperti kamar hotel berbintang lima.
TOK TOK TOK.
Zionathan mengetuk pintu lebih dulu, lalu tangannya memegang kenop pintu
CEKLEK!
Ia mendorong daun pintu itu dengan perlahan. Zionathan melihat orang tuanya masih ada di kamar itu. Zionathan tersenyum dan melangkah masuk. Saat ia masuk, suhu ruangannya benar-benar menyejukkan. Aroma dari wangi kas tidak seperti bau rumah sakit pada umumnya. Benar-benar membuat nyaman dan betah berada di ruangan ini. Zionathan pun maju perlahan dan mendekati ranjang rumah sakit itu.
"Nak Zio, kamu sudah kembali?" Ucap Joanna dengan lembut.
Zionathan tersenyum. Ia merespon sapaan dari Ibu mertuanya. "Sudah bu."
"Apa kata dokter sayang?" Timpal Davina bangun dari duduknya.
"Keadaan Selena sejauh ini baik-baik saja bu. Kita menunggu hasil pemeriksaan besok."
"Syukurlah, ibu ikut bahagia sayang."
Zionathan menarik napas singkat. Ia tidak langsung membagikan kabar gembira yang baru di dapatnya dari Dokter Mark. Zionathan menunggu sampai hasil tes darah istrinya keluar.
Zionathan mengambil kursi kecil dan duduk di sebelah Selena. Zionathan bisa melihat jelas wajah istrinya itu. Ia terlelap dengan selang oksigen masih bertengger di hidung mungilnya. Matanya berkedip cepat. Selena sudah menggunakan baju pasien. Keadaannya sudah bersih. Ada beberapa luka gores kecil di wajahnya yang mulus itu.
Hati Zionathan bergetar, rasanya ingin memberikannya kecupan singkat di keningnya. Berterima kasih atas perjuangan yang telah dilewatinya itu. Tapi Ia urung melakukannya. Zionathan menahan diri dan hanya berucap syukur dalam hati.
"Apa Selena belum sadar bu?" Tanya Zionathan dengan suara parau. Tatapannya tidak mau lepas dari istrinya itu.
"Hmmm, sepertinya ia masih nyaman seperti ini nak. Tapi tidak apa-apa, ibu tidak masalah jika Selena masih ingin memilih istirahat. Walau dia tidak tahu, semua keluarga hampir gila karena ketakutan dan menangis terus saat mengetahui dia diculik temannya sendiri." wajah Joanna mengerucut sedih. Ia menyapu rambut Selena ke atas dan merapikan selimutnya kembali agar tubuh putrinya hangat.
Zionathan tersenyum sendu. Benar kata ibu mertuanya itu, semua orang berhasil dibuat cemas karena penculikan ini.
"Sebenarnya Dokter sengaja memberikannya obat penenang, agar Selena tidak merasakan rasa sakit." kata Alberto mendekat ke arah ranjang rumah sakit.
"Itu bagus, Setidaknya obat penenang bisa membuatnya melupakan kejadian itu." Kata Davina tersenyum melihat ke arah suaminya.
"Bagaimana dengan suhu badannya bu?" Zionathan mengarahkan tangannya di kening Selena. "Panasnya sudah turun." Kata Zionathan lagi.
"Iya, suhu badannya sudah mulai normal lagi."
Zionathan mengangguk lagi, matanya tidak mau lepas memandang istrinya.
Davina dan Joanna berbagi cerita bagaimana Zionathan dan Selena masa kecil dulu. Zionathan tersenyum saat ibu mertuanya menceritakan bagaimana Selena begitu sedih saat Nathan kecil pindah. Kenangan itu membuat Zionathan semakin mencintai istrinya. Apa pun itu jika menyangkut istrinya, Zionathan seperti dimabuk cinta.
Hingga akhirnya cerita itu selesai, Selena tak juga bangun dari tidurnya. Joanna dan Davina memilih duduk di sofa bersama Alberto. Mereka sedang berbincang-bincang.
Sementara Zionathan duduk di samping istrinya. Ia menemani dengan setia. Zionathan tersenyum lembut sambil mengecup puncak kepala istrinya. Menatapnya dengan penuh cinta. Lalu ia menarik selimutnya naik ke atas dan mengusap rambut Selena dengan lembut. Tak cukup sampai disitu, ia mengambil tangan Selena dan menciumnya lagi. Lalu meletakkan telapak tangan itu ke pipinya. Matanya berkaca-kaca. Zionathan masih tetap bersabar menunggu sampai istrinya sadar dan tersenyum lembut kepadanya.
BERSAMBUNG
^_^
Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih πβΊοΈ
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^