
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Selena dan Ferdinand berjalan membawa seikat bunga Lily putih. Bunga dilambangkan sebagai lambang kesucian dan kemurnian.
Mereka berjalan kaki memasuki tempat pemakaman. Tak butuh lama, Selena dan Ferdinand tiba di tempat peristirahatan ayah Selena. Mereka memandang pusara yang bertuliskan nama ayahnya itu. Selena dan Ferdinand berjongkok meletakkan bunga Lily yang di bawanya tadi.
Ferdinand mengirimkan doa. Berdoa agar uncle Berto yang sudah meninggal tidak berada diantara mereka yang ada di api penyucian melainkan menuju surga. Setelah memberikan doa, Selena menaburkan bunga ke makam ayahnya. Ferdinand dan Selena kembali menatap pusara itu. Selena berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya. Ia ingin menjadi wanita kuat di depan ayahnya itu.
"Uncle maafkan aku terlambat mengetahui kepergianmu." ucap Ferdinand begitu pelan, namun Selena bisa mendengarnya.
"Banyak kenangan bersamamu yang sulit aku lupakan uncle. Salah satu kenangan itu, saat kita bakar jagung di ulang tahun Selena yang kedua puluh satu." Ferdinan tersenyum diujung kalimatnya. Kenangan itu begitu jelas dan membuatnya tersenyum.
"Jagung yang kita bakar itu gosong dan uncle membuat game dan memaksa peserta yang kalah menghabiskannya sebagai hukuman." Ferdinand terkekeh. Namun sepersekian detik wajahnya berubah sendu. Ia menarik napasnya yang terasa berat.
Sementara Selena terus menunduk dan memejamkan matanya. Tatapannya lemah dan beberapa tetesan air matanya sudah terjatuh di pipinya.
Ferdinand melanjutkan kalimatnya lagi. "Walau kita tidak bisa mengulang momen itu. Tapi kenangan itu akan selalu aku ingat uncle. Terima uncle, terima kasih atas segala perhatian yang Uncle berikan selama ini. Berbahagialah di sana uncle. Kami sangat menyayangimu." Ferdinand menunduk sedih.
Kemudian Ia bangkit dan memberi penghormatan terakhir. Selena ikut bangun dari duduknya, ia menyeka sisa-sisa air mata yang masih menetes di pipinya.
Setelah itu, Ferdinand dan Selena melangkah meninggalkan makam Berto. Wajah Selena masih terlihat sedih. Pada saat ayahnya meninggal, dunia seakan runtuh, ia tidak bisa merasakan kehangatan dari seorang ayah lagi.
Sekarang yang bisa ia lakukan hanya membuka kenangan bersama ayahnya. Untuk mengukir kembali peristiwa yang menyenangkan bersama orang yang dicintainya. Selena hanya bisa melihat dari foto dan video saja. Mungkin dengan cara itu ia bisa mengobati kerinduannya.
Selena tersenyum, kini ia semakin kuat. Dia sadar, menangisi ayahnya toh tidak akan membuat ayahnya bisa kembali lagi.
Mereka sama-sama masuk. Selena duduk di samping Ferdinand. Karena tidak ada pergerakan Selena untuk memasang sabuk pengaman. Ferdinand mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Selena, lalu memasangkan sabuk pengaman untuk Selena.
KLIK!
"Heuh?" Selena terkejut.
"Kau banyak melamun dan tidak memasang sabuk pengaman, kita tidak bisa berjalan sebelum kau menggunakan itu." Ferdinand menunjuk dengan dagu ke arah sabuk pengaman yang dikenakan Selena.
"Ahhhh...." Selena tersenyum lagi. "Terima kasih Ferdinand."
"Sekarang kita sudah bisa jalan?"
"Hmm. Kita jalan." Selena mengangguk.
Ferdinand tersenyum. Ia kembali menatap ke depan menyadarkan punggung ke sandaran kursi. Ia memutar kunci di dalam kontak dan menghidupkan mesin mobilnya. Ferdinand menginjak pedal gas untuk menjalankan mobilnya dan meninggalkan tempat pemakaman.
Sepanjang jalan Selena hanya terdiam melihat keluar jendela dengan tatapan sayu sambil menopang dagu. Tatapannya kosong.
"Selena?" Panggil Ferdinand.
Selena bergeming. Ia larut akan pemikirannya.
"Selena?" Panggil Ferdinand untuk ke dua kali.
"Heuh?" Selena menatap ke arah Ferdinand. Merespon panggilannya.
"Dari tadi kau diam. Kau bukan seperti Selena yang aku kenal. Apa kau masih sedih atas kepergian uncle?"
Selena menoleh ke arah Ferdinand. "Apa terlihat seperti itu?"
__ADS_1
"Hmm. Kau harus bisa mengikhlaskan kepergian uncle. Uncle sudah bahagia, Selena."
Selena menarik napasnya. "Aku masih butuh waktu Ferdi. Tapi aku akan mencoba mengikhlaskannya."
"Dan bagaimana kabar Zionathan? Aku dengar kalian sempat liburan ke Paris sebelum uncle meninggal." kata Ferdinand dengan wajah was-was.
Selena melepas senyum. Senyumnya terlihat seperti dipaksakan. "Kabar Zionathan baik. Kami sempat liburan ke sana dan langsung pulang saat kami mendengar kabar ayah sedang sakit."
Ferdinand menganggukkan kepalanya kembali fokus menatap jalanan. Mereka kembali diam menikmati suasana perjalanan yang tenang.
"Kapan kamu kembali ke Jepang?" Tanya Selena tidak ingin larut dalam kebisuan.
Ferdinand memandang sekilas ke samping. "Hmm? Kemungkinan minggu depan."
"Ibu mengajakmu makan di rumah. Dua hari sebelum kamu berangkat kabari ya,"
"Boleh. Dengan senang hati." sahut Ferdinand antusias. Ia tersenyum sumringah.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi. Ban mobil terus berputar, mereka melaju menyusuri jalan. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka tiba rumah Selena. Ferdinand menghentikan mobilnya tepat di depan pagar kokoh itu. Selena sudah melepaskan sabuk pengamannya dan mereka turun bersamaan.
"Kamu tidak mampir dulu?" tanya Selena berdiri di depan pagarnya.
"Aku langsung pulang saja Selena. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Kata Ferdinand mengeluarkan oleh-oleh yang dibawanya dari Jepang.
"Oke, tidak apa-apa. Sekarang kamu masuklah!" kata Selena lagi mengulurkan tangannya ke arah mobil Ferdinand.
"Tidak, aku ingin mengantarkanmu sampai ke depan pintu."
"Hmm. Boleh. Sekarang kita masuk,"
Mereka melangkah pelan menuju halaman luas itu. Semua keheningan yang tiba-tiba itu, membuat Ferdinand dan Selena menarik napas dalam secara bersama-sama.
Mereka tiba di depan pintu utama kediaman Gwyneth. Ferdinand tersenyum. "Sampaikan salamku kepada Zionathan."
"Oke.. Dan ambil ini!" Ferdinand mengulurkan tangannya memberikan oleh-oleh kepada Selena.
"Astaga gak usah repot-repot Ferdi."
"Tidak sama sekali." Kata Ferdinand memasukkan tangannya ke kantong celananya. "Sekarang masuklah!"
"Terima kasih ya oleh-olehnya." Selena mengangkat oleh-oleh yang sudah ada di tangannya.
"Sama-sama." Jawab Ferdinand memandang Selena dengan tatapan sayu.
Selena tersenyum dan segera membalikkan badannya untuk masuk. Ferdinand pun langsung meninggalkan rumah Selena.
Begitu pintu tertutup. Selena langsung bersandar ke daun pintu. Ia memegang dadanya dan mendongak ke atas sambil menutup rapat matanya. Pikirannya berkecamuk dengan segala gejolak. Selena menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dari mulut.
"Ada apa ini? kenapa wajah Zionathan selalu terlintas di pikiranku?"
"Huffft!.." Ia kembali menenangkan hatinya.
"Semua akan baik-baik saja." Ucapnya kembali mengembuskan napasnya.
Joanna yang keluar dari kamar dan hendak ke dapur, ia mengernyitkan keningnya saat melihat Selena diam menyandarkan punggungnya di pintu. Joanna berjalan dan menghampiri putrinya itu.
"Sudah pulang nak?"
Selena perlahan-lahan membuka matanya dan melihat ke arah ibunya. "Hmm, sudah bu."Jawabnya tersenyum.
"Kenapa cepat sekali? Dimana Ferdinand? kau tidak mengajaknya masuk?" Tanya Joanna menghujani Selena dengan pertanyaan.
"Ferdinand ada urusan bu. Aku tidak bisa menahannya." Kata Selena melangkah membawanya oleh-oleh itu ke dapur "Ferdinand memberikan ini, bu."
__ADS_1
"Apa itu?" Joanna mengikuti Selena.
"Oleh-oleh dari jepang." jawab Selena meletakkannya di atas meja.
"Bagaimana nak Zionathan, kau sudah menghubunginya? dua hari yang lalu ia pulang dan hanya minta izin dari Samuel. Ibu juga menghubunginya tapi tidak pernah aktif. Apa kau tidak mengkhawatirkan suamimu?"
Selena menatap sayu dan melangkah meninggalkan dapur. "Zionathan bisa menjaga dirinya bu."
"Menjaga diri bagaimana? Apa seperti itu jawaban dari seorang istri? kau tidak merasa bersalah sedikit pun? Kau tidak sadar, sudah dua minggu kau meninggalkan rumah. Saat suamimu pulang kau tak mempedulikannya sama sekali dan memilih tidur bersama ibu. Apa maksudmu?" Joanna mulai tampak kesal.
Langkah Selena tiba-tiba berhenti. Ia terdiam dengan posisi memunggungi ibunya.
"Apa kau masih menyalahkan Zionathan atas kematian ayahmu? Kau tidak tahu kematian ayahmu adalah kehendak yang di atas. Berapa kali ibu harus menjelaskannya."
Bibir Selena gemetar menahan tangisannya. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Kecuali Zionathan menutupi kematian ayahmu. Mungkin kau bisa menyalahkannya. Saat kau tahu ayah sakit. Apa yang dilakukan suamimu? Dia berusaha agar hari itu juga kalian kembali ke sini. Kamu tidak menunggu sampai besok atau lusa, kan? Jadi sekarang apa yang membuatmu marah?"
DEG!
Jantung Selena berdegup kencang mendengar kalimat itu. Ia memejamkan matanya dan menarik napasnya dalam-dalam.
"Kau seperti anak kecil. Ibu tidak terima kau perlakukan Zionathan seperti ini. Sekarang ibu tidak mau tahu, besok kau harus kembali ke rumah dan minta maaf kepada suamimu."
Setelah mengucapkan itu, Joanna meninggalkan Selena yang masih bergeming di tempatnya. Ia hanya terus menatap punggung ibunya yang terus berjalan masuk ke dalam kamar.
Selena kembali menarik napasnya yang terbata-bata. Hidungnya mulai perih, dadanya sesak. Hingga ia tidak dapat bernapas dengan baik. Selena menutup mulutnya dengan ke dua tangannya. Ia menunduk dengan tatapan kosong.
"Ya Tuhan, kenapa hati ini masih sulit menerima? Kenapa masih begitu sakit?"
Selena larut dalam kesedihan yang mendalam. Rangsangan untuk mengeluarkan air mata tak bisa ditolaknya. Air mata yang dari tadi di tahannya tumpah begitu saja.
Selena menutup pintu kamarnya dan mengunci diri di sana. Ia masih bersandar di daun pintu dan melangkah pelan ke kursi sofa dan duduk di sana. Satu-satunya yang membuatnya tak tenteram ialah jiwanya sendiri, sesungguhnya hatinya kesepian dan merindukan ketenangan batin, Selena haus akan hal itu.
⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah Selesai membasuh wajahnya, Selena mengambil handphone ayahnya yang dimintanya tadi pagi dari Samuel. Ia ingin melihat foto-foto ayahnya di sana. Selena membuka galeri dan melihat foto ketika bersama ayahnya. Selena tersenyum kecil, namun matanya berair. Rangsangan air mata tidak bisa ditolaknya. Ia memperbesar gambar dirinya dengan ayahnya. Kemudian Selena membuka video. Tidak ada Video, saat ingin menekan keluar, tiba-tiba Selena menekan sesuatu dan masuk ke audio suara dan mendengar suara yang tidak asing baginya.
"Heuh? Chesa?" Mata Selena terbelalak.
Kerutan dahinya tak juga pudar. "Kenapa suara Chesa sampai terekam di handphone ayah?" ucapnya lagi. Selena memilih mendengar percakapan itu.
Dan tiba-tiba jantung Selena terpukul kencang.
DEG
DEG
DEG
Selena diam membeku di tempatnya. Napasnya ikut tertahan di dada. Selena semakin sulit bernapas. Ia masih mencerna kata-kata itu kembali. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Selena masih tidak percaya dengan apa di dengarnya. Selena hanya bisa membuka mulutnya tanpa bersuara.
"Chesaaaaa......"
BERSAMBUNG.....
^_^
Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih 😊☺️
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1