
π Setidaknya Lihat Aku Suamiku π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Tiga puluh menit sebelumnya.
Di dalam lift Selena merapikan baju dan rambutnya lalu naik ke atas menuju kamar suaminya. Selama di dalam lift Selena merenungi perjalanan hidupnya. Banyak hal yang telah dilaluinya.
Aaahhhhh... ia menghembuskan napasnya lewat mulut. Semua yang terjadi pada hidupnya adalah bagian dari rencana Tuhan. Selena tidak bisa meramalkan masa depan, sekali pun dalam satu detik ke depan. Dia bisa saja berencana untuk menghabiskan waktu seperti apa. Namun Ia tidak bisa menjamin pasti bisa melakukan hal tersebut. Berapa lama ia akan hidup di dunia ini? Maka dari itu ia akan menikmati kehidupan yang dimilikinya sekarang.
Awalnya, Selena merasa putus asa, terlalu takut mungkin kata itu yang tepat menggambarkan perasaannya saat itu. Kalau boleh jujur, sebenarnya Selena bukanlah tipe orang yang gampang pesimis, namun pikiran yang gak karuan, ditambah pikiran negatif membuat dirinya menjadi tidak tenang dan semakin kacau. Sekarang Selena tidak perlu takut lagi. Bahagia adalah segalanya dan tujuan hidupnya adalah untuk mencari kebahagiaan itu.
Selena menarik napas dalam-dalam. Ia bernapas gugup, wajahnya memerah ketika membayangkan penyaluran rindu nanti. Ia yakin mereka sama-sama merindukan. Begitu juga dengan Selena, rindunya begitu membuncah sampai memenuhi rongga dadanya. Apalagi selama dua minggu Selena mengabaikan suaminya, rasa bersalah semakin membuatnya ingin segera memeluk suaminya itu.
TING
Pintu lift terbuka. Selena menegakkan badannya, mengangkat wajahnya untuk tersenyum. Hanya ada satu cara menuju kebahagiaan dan itu adalah berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kekuatan kehendak kita. Bahagia itu sederhana, sesederhana jika saat tersenyum dan bersyukur dengan apa yang sudah ia punya saat ini. Terkadang kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal kecil dalam hidup.
Selena keluar dari lift. Ia berjalan elegan. Kecepatan berjalannya pas. Posisi tubuh yang seimbang dan mata yang memandang lurus ke depan. Langkah kakinya seiring dengan bunyi detakan jantungnya yang ikut memukul cepat. Ujung-ujung tangannya tiba-tiba terasa dingin. Rasanya mendebarkan, perasannya saat ini seperti pertama kali memasuki altar gereja. Melihat Zionathan berdiri menunggu di depan. Walau ia tahu, saat itu suaminya belum menerimanya. Namun rasanya benar-benar berbeda. Apa karena Zionathan cinta pertamanya, Selena juga tidak tahu.
Selena menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya lewat mulut untuk menghilangkan rasa gugupnya. Meski demikian debaran di dada bukannya bertambah pelan. Namun, bertambah kencang saat semakin mendekat ke kamar Zionathan. Selena melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Suaminya pasti masih rapat. Ia bisa menunggunya di kamar saja, tanpa harus menghubungi Zionathan.
Selena melangkah membuka kamar ekslusif itu, suasana yang baru menyambutnya. Tempat ini memang di design untuk keperluan bisnis sehingga di dalamnya sangat luas. Lengkap dengan sofa dan meja meeting. Dan area pribadi seperti tempat tidur dan kamar mandi yang tak kalah luasnya. Pemandangan kota ini turut menyambut Selena saat membuka tabir penutup dinding kaca seakan tidak ada jendela.
Desir ombak terdengar merdu dari kamar hotel. Suara dari gulungan ombaknya menenangkan hatinya yang diselimuti kebahagiaan. Pantai ini memiliki tempat khusus seperti dermaga kecil yang menghadap langsung ke laut. Selain itu, tempat ini juga memiliki halaman dengan hamparan rumput hijau yang menghadap ke bibir pantai. Kamar hotel langsung berhadapan dengan pantai yang indah. Pemandangan luar langsung terlihat jelas. Selena tidak pernah sebahagia dan segugup ini. Ia tersenyum. Lagi-lagi ia mengucapkan hal yang sama di sepanjang jalan tadi.
"Zio...., sayang..., maafkan aku. Aku sangat merindukanmu."
Selena mengatur kopernya ke sudut kamar setelah mengambil pakaian yang diperlukan. Tak lupa Selena mengisi baterai handphonenya yang sudah menujukkan tanda merah.
Setelah mengecas handphonenya, ia menatap dirinya di pantulan cermin, matanya masih terlihat sembab, pipinya terlihat terlihat tirus. Selena bernapas gugup berulang-ulang. Wajahnya kembali memerah membayangkan penyaluran rindu nanti. Lupakan harga diri dan hati yang tersakiti. Ia hanya ingin hubungan mereka kembali hangat. Ini adalah kesempatannya dan tidak mungkin ia menyia-nyiakannya.
Tak ingin membuang waktunya Selena pun masuk ke dalam kamar mandi. Sesuai kelasnya di kamar mandi tersedia berbagai produk dan perawatan tubuh dan wewangian ala spa. Ia mandi dan berendam. Tiga jam perjalanan membuatnya kelelahan. Selena ingin membiarkan aroma wangi zaitun yang menggoda meresap ke dalam pori-pori tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Selena mengenakan handuk kimono. Namun tiba-tiba ia mendengar suara pintu terbuka. Mata Selena terbelalak. Jantungnya berdegup kencang.
"Astaga... Zionathan sudah pulang, apa yang harus aku lakukan?" Selena nampak gugup dan mondar-mandir di kamar mandi. Wajahnya mengerut ingin menangis.
Selena melepas napas frustasi, ia pun memutuskan keluar dari sana. Saat tangannya ingin membuka kenop pintu, dahi Selena mengerut, badannya seketika terasa kaku, tak bisa bergerak. Ia diam mematung saat melihat seorang wanita masuk ke kamar suaminya. Selena shock dan menutup pintu itu kembali. Wajahnya benar-benar menegang. Bisa dikatakan Selena seperti sulit bernapas.
"Kenapa Zionathan mengundang wanita itu ke kamarnya? Apakah ini urusan kantor?" Selena bergumam sendiri.
"Aku seperti mengenalnya? tapi dimana aku pernah melihat wanita itu iya?" Selena memegang dadanya. Debaran jantungnya terpompa kencang seperti genderang, terpukul begitu kuat di dalam rongga dadanya.
__ADS_1
Tiba-tiba wajah Selena berubah. "Bukankah dia????"
Selena semakin sulit bernapas saat mengetahui wanita itu mirip dengan Olivia. Rasa ingin tahunya membuat Selena membuka pintu dan ingin melihat langsung seperti apa wanita yang mirip dengan Olivia itu. Wanita yang pernah hadir dalam hidup Zionathan.
Deg!
Selena menutup mulutnya dengan tangan saat melihat wanita itu begitu berani memeluk suaminya.
"Dasar wanita bermuka dia, berani-beraninya dia memeluk suamiku!" Selena menggeram di sana. Dia ingin keluar dan memaki wanita itu, namun apa yang terjadi. Ia melihat langsung Zionathan menepis tangan wanita itu dengan kasar. Selena terkejut dengan mulut terbuka. Ia memilih tetap bersembunyi di kamar mandi.
Selena begitu terharu saat mendengar setiap kalimat yang diucapkan suaminya itu.
"Aku sudah menikah dan aku mencintai istriku. Soal Olivia, dia adalah masa laluku. Dia pernah hadir mengisi hatiku. Dia meninggal lima tahun yang lalu. Kalian memang mirip dan sangat mirip. Tapi walau wajah kalian mirip, tapi bukan berarti aku harus memilikimu."
Selena menangis di sana. Ia tak bisa berkata apa-apa saat Zionathan membuatnya sadar dan semakin merutuki kebodohannya telah mengabaikan suaminya yang sangat mencintainya. Selena terduduk di sana seperti orang bodoh. Wanita itu sudah keluar dari sana, namun Selena tak juga keluar dari kamar mandi.
βββββ
SEMENTARA ITU.
Jantung Zionathan berdetak kuat. Senyumnya langsung hilang dari wajah tampannya. Dahinya mengernyit.
"Apa maksudmu Samuel? Selena ke sini?" tanya Zionathan lagi.
"Iya kak. Apa dia belum sampai? dia berangkat tiga jam yang lalu. Aku jadi benar-benar khawatir, apa dia sungguh tidak bersamamu kak?"
"Kakak ipar, apa kakak mendengarku?" Kejar Samuel.
Zionathan tak menjawab, ia langsung mematikan teleponnya. Ia langsung keluar dari kamar hotel dan melakukan panggilan kepada Alex.
"Apa jangan-jangan Selena melihat wanita itu memelukku?"
PANGGILAN TERSAMBUNG.
"Bagaimana kau tidak bisa tahu bahwa istriku datang ke sini, ALEX?" ucap Zionathan tanpa basa-basi saat panggilannya di jawab oleh asistennya itu.
"Heuh? nona Selena ada di sini pak?" Alex terkejut dan balik bertanya.
"Kau begitu ceroboh." umpat Zionathan memaki Alex. Rahangnya mengencang menahan amarah.
"Maaf pak, saya tadi keluar mencari makan."
"Sekarang cari istriku sekarang juga, kau harus menemukannya." titah Zionathan langsung mematikan handphonenya dengan sepihak.
Zionathan mencoba menghubungi istrinya.
"NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN. COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI."
"Shiiittt!" Zionathan semakin frustasi. Ia berlari di koridor hotel untuk turun ke lantai satu.
__ADS_1
"SELENA!!!!" Teriak Zionathan seperti orang bodoh. Semua mata teralih ke arah Zionathan. Ia tidak perduli dan terus mencari Selena.
"Maaf tuan, anda tidak bisa membuat keributan di hotel ini." ucap seorang pelayan menghampiri Zionathan.
"Ah..maaf, apa anda melihat seorang wanita berlari lewat sini?" tanya Zionathan
"Maaf Tuan, saya tidak melihatnya." Jawabnya dengan sopan.
"Ah, terima kasih." Ucap Zionathan membiarkan pelayan hotel itu pergi.
"Kemana dia? sayang jangan seperti ini, jika kau melihat wanita itu memelukku, itu tidak seperti yang kau lihat." Zionathan nampak frustasi dan langsung berlari ke arah meja resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya petugas resepsionis saat melihat Zionathan berlari ke arah mereka.
Zionathan masih mengatur napasnya yang memburu begitu cepat karena kecepatan berlarinya. "Apa ada seorang wanita datang ke sini mencariku atau minta kunci serep?"
"Maksud anda nyonya Selena?"
Zionathan mengangguk cepat. "Iya betul."
"Sekitar tiga puluh menit yang lalu, beliau meminta kunci serep dengan alasan ingin memberi kejutan ulang tahun untuk suaminya."
DEG!
Tiba-tiba jantung Zionathan berpacu cepat, darahnya berdesir dan oksigen seolah harus menerobos berbagai rintangan agar bisa mencapai paru-parunya. Ia langsung menarik napas sambil memejamkan matanya. Dugaannya benar, Selena pasti melihatnya.
"Apa beliau buat kekacauan pak?"
Zionathan tak menjawab, ia langsung meninggalkan meja resepsionis dan langsung berlari ke luar untuk mencari istrinya itu.
"SELENA!" Teriak Zionathan.
Ia tidak menemukannya di depan hotel. Zionathan sudah mencarinya di bagian parkir juga. Namun hasilnya masih sama. Selena tidak ada. Ia tidak tahu harus mencari kemana lagi. Zionathan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia takut terjadi sesuatu kepada Istrinya itu. Pikirannya berkelana.
"Kenapa juga kamu datang ke sini dan tidak mengabariku sayang?" ucapnya pelan sambil menundukkan kepalanya.
Zionathan kembali menarik napasnya dalam-dalam. Berbagai emosi itu serasa menyelimutinya. Dominan rasa sedih dan hampa. Ia tahu Selenanya pasti sangat kecewa dan marah.
Zionathan duduk di kursi panjang yang ada di taman hotel. Ia menghela napas lagi, seolah-olah dengan begitu, ia bisa mengalirkan sebagian rasa sesak di dadanya ke udara bebas, membaginya dengan dunia. Namun dengan setiap helaan napas, sesak yang ia rasakan justru makin menjadi. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia segera menelan ludah, meski mulutnya terasa kering. Ia tidak ingin menangis di tempat umum seperti ini. Apa yang akan orang katakan, jika mereka melihat seorang lelaki dewasa menangis tanpa sebab yang jelas di pinggir jalan seperti ini. Zionathan akhirnya memilih pasrah. Ia lebih baik menunggu. Zionathan menguatkan hatinya, ia memilih kembali ke kamar hotel.
BERSAMBUNG.....
^_^
Hai...hai.. Selamat tahun baru untuk kita semua. Jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih banyak πβΊοΈ
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1