
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Hidup memang selalu datang dengan skenario yang tak pernah diketahui manusia. Tuhan telah merancangnya. Tak ada yang tahu mengapa bisa begini, atau mengapa jadi begitu. Hanya Tuhan yang tahu.
Keluarga Gwyneth dan keluarga Lucius, ikut merasakan kebahagiaan Zionathan dan Selena. Mereka sampai membatalkan rencana hanya untuk menyaksikan acara live yang ditayangkan di stasiun televisi swasta. Melihat dan mendengar pengakuan dari Zionathan, Alberto menitikkan air matanya. Ia terharu bercampur bahagia. Mereka tidak menyangka Zionathan akan membuka hatinya secepat ini. Rasa syukur yang tak terhingga. Itu kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan semua keluarga. Semua ini berkat menantu hebatnya. Alberto kini bernapas lega. Beban yang terasa berat di pundaknya terlepas begitu saja.
⭐⭐⭐⭐⭐
Sementara di sisi lain Ferdinand meremas remote yang ada di tangannya. Matanya yang bercahaya kini nampak penuh luka. Kenyataan ini terlalu menyakitkan. Walau sudah mencoba untuk menerima kenyataan. Tapi rasa sakit ini begitu terasa di hatinya. Ia memang butuh waktu untuk melupakan Selena.
Ferdinand menunduk dengan tatapan kosong. Ia larut dalam kesedihan yang mendalam. Kenapa begitu sakit? Matanya berkaca-kaca. Sesak yang menghimpit dadanya benar-benar tak bisa ia tutupi. Ferdinand kembali menarik napasnya dengan mulut terbuka, menahan sesak yang teramat sangat. Ia tak bisa meredam segala pedih di dalam dada. Hatinya seperti dicengkeram kuat. Benar-benar terasa hampa, sepi, dan kelam.
"Kenapa aku begitu sulit melepaskanmu Selena?"
Ferdinand tersenyum miris. Ia mencengkram kepalanya dengan erat. Perasaannya kembali. Ferdinand mencoba menstabilkan napas yang semakin naik turun tak beraturan. Hal yang paling menyakitkan baginya. Saat Ia meminta bertemu dengan dengan mereka untuk terakhir kali. Mencoba memperbaiki hubungan persahabatan yang sempat rusak. Lagi-lagi Zionathan menolaknya.
Ferdinand mendongak ke atas sambil memejamkan matanya. Ia pun menarik napas dalam-dalam. Menahan sesak yang teramat sangat. Ini adalah jalan yang terbaik. Menetap di negara Jepang adalah satu-satunya cara agar bisa melupakan Selena. Ferdinand menguatkan hatinya dan kembali berucap.
"Selena, berbahagialah...itu doa terbaik dariku. Semoga cinta kalian berdua tumbuh semakin kuat dalam membangun kehidupan baru bersama-bersama." Ferdinand diam sesaat, meredam segala perih di hati. Lalu ia kembali melanjutkan kalimatnya.
"Dan selamat tinggal Selena, aku tidak akan kembali lagi. Alasanku kembali hanyalah kau. Aku tidak ada harapan untuk bertahan di sini." Ia menarik napas dalam-dalam. Ferdinand tersenyum hampa.
Tok tok tok !!
Suara ketukan pintu terdengar dari arah luar kamarnya. Ia tahu siapa yang datang. Ferdinand mematikan televisi dan berjalan menuju kursi sofa yang ada di kamarnya. Ia sama sekali tak menghiraukan suara ketukan itu.
Arthur membuka kenop pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar tuannya. Nampak bosnya masih menggunakan kemeja yang dikenakannya kemarin. Penampilannya benar-benar berantakan dan kusut.
"Selamat pagi tuan," sapa Arthur menunduk hormat.
Ferdinand tidak menjawabnya. Ia hanya menunjukkan wajah datar dan dingin. Seolah-olah tidak ada Arthur di sana.
"Dua jam lagi keberangkatan anda tuan." ucap Arthur sedikit takut.
Heeeehhh... Ferdinand membuang napas sambil menutup matanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua siku tangannya bertumpu ke pahanya. Ferdinand mencengkram kepalanya sambil menunduk.
"Semuanya sudah saya siapkan dengan baik, tuan." ucap Arthur lagi seperti memberitahu.
Hening. Ferdinand tidak menjawab. Tak juga berekspresi apa-apa. Hanya diam dan tak kunjung memandang Arthur sama sekali.
Arthur menarik napas singkat, ia memandang tuannya yang lagi galau. Ia tahu semua apa yang terjadi pada Ferdinand. Semuanya tidak jauh dari masalah cinta. Jika menyangkut masalah perusahaan, Ferdinand tidak pernah ambil pusing hal itu. Arthur pun melangkah dan mendekat ke arah Ferdinand. "Apakah saya membatalkan keberangkatan anda saja tuan?"
Ferdinand mengangkat wajahnya, menatap ke arah Arthur yang tidak jauh darinya. "Tidak, kita tetap berangkat."
Arthur mengembuskan napas singkat, mengangguk dan tersenyum di sana.
Wajah Ferdinand tiba-tiba berubah. Arthur dapat melihat ekspresi kesedihan itu. Ia diam di tempatnya.
"Aku harus pergi untuk melupakan wanita aku yang aku cintai. Sekarang aku harus melepaskannya. Demi kebahagiaannya dan persahabatan juga. Aku tidak ingin Zionathan semakin membenciku."
Arthur masih terdiam di sana. Selama ini ia terlihat kuat. Tapi nyatanya tidak! Arthur bisa melihat betapa rapuh dia. Ferdinand tidak pernah segalau ini mengenai cinta. Ini alasannya kenapa ia terburu-buru meninggalkan tempat ini dan tidak menunggu perayaan natal bersama keluarga lagi.
"Dan Zionathan? bukankah dia sahabat tuan Ferdinand? Apa yang tidak kuketahui di sini? Apakah aku terlalu sibuk dan mengabaikan tuan Ferdinand?"
Arthur larut dalam pikirannya sambil menunduk. Rahangnya mengencang, ikut merasakan kesedihan itu, ia hanya bisa menarik napasnya lewat mulut yang terbuka.
⭐⭐⭐⭐⭐
Felicia sedang berada di restoran siap saji. Ia sedang menunggu pesanannya.
__ADS_1
"Ada tambahan?" Tanya pelayan menyiapkan pesanan Felicia.
"Cukup. Itu saja." Felicia asyik dengan handphonenya.
Pelayan itu tersenyum dan menyerahkan baki yang berisi pizza dan minuman yang di pesannya.
"Ini pesanannya nona."
"Oh, iya. Terima kasih." Felicia menyimpan handphonenya ke dalam tas dan membawa baki itu kembali ke mejanya.
Namun saat melangkah, Felicia mengernyit saat pengunjung fokus menatap ke arah TV sambil berbisik-bisik di sana. Ia pun penasaran. Siaran apa sih yang mereka tonton sampai ekspresi wajah mereka serius sekali dan mata mereka bahkan tak lepas dari TV.
Felicia pun menatap ke arah TV 32 inch yang ditempel di dinding restoran. Matanya terbelalak saat melihat Zionathan ada di sana.
"Zionathan? Kenapa kamu ada di TV?" Felicia tersenyum, tak bisa ditutupi bahwa ia begitu menganggumi Zionathan.
Tapi ada yang berbeda, Zionathan sedang duduk bersama seorang wanita. Ia bahkan terlihat bahagia di sana.
Deg!
"Bukankah itu sekretarisnya?" Felicia semakin tak percaya saat Zionathan mengecup kening wanita yang ada di sampingnya.
Yang membuat Felicia ingin pingsan saat Zionathan mengatakan wanita yang di sampingnya adalah pendamping hidupnya. Itu artinya Selena adalah istrinya.
"Apa aku tidak salah dengar? sejak kapan Zionathan menikah?" napasnya memburu dan semakin tidak stabil. Karena keterkejutannya, Felicia sampai menjatuhkan baki yang ada di tangannya.
PRANGGGGGG!
Reflek pengunjung terkejut dan berbalik menatap ke arah Felicia.
Felicia pun shock, ia mundur beberapa langkah dan berlari keluar dari pintu restoran.
Sementara di arah yang berlawanan seorang wanita juga berjalan tergesa-gesa sambil mencari handphonenya. Ia nampak menghubungi seseorang. Hingga...
BRUKKK!
"Aaahhhhh..." Gadis yang bertabrakan dengan Felicia pun terjatuh. Gadis itu tampak kesakitan.
Felicia menyadari kesalahannya. "Maaf. Aku tidak sengaja,"
"Kamu gak punya mata ya?" Bentak gadis itu berdiri dan ingin memaki wanita yang menabraknya.
Sepersekian detik, mata Felicia terbelalak dan ia begitu terkejut saat melihat siapa sosok wanita yang ada di depannya. Badan Felicia seketika terasa kaku, tak bisa bergerak. Ia diam mematung dan masih shock. Debaran jantungnya terpompa kencang seperti genderang, terpukul begitu kuat di dalam rongga dadanya.
Gadis itu menatap tajam ke arah Felicia. Ia meringis saat merasakan di bagian bokongnya terasa sakit. "Dari penampilanmu saja, kau terlihat wanita bar-bar. Kau tidak lihat jalan ya?"
GLEK!
Felicia menelan salivanya begitu susah. Ia masih diam di sana. Otaknya masih belum bisa menyimpulkan apakah ini mimpi atau nyata.
"Olivia? benarkah ini Olivia?"
"Bukankah Olivia sudah meninggal?"
"Aku ada saat acara pemakaman berlangsung."
"Olivia sudah mati dan tidak mungkin hidup lagi."
"Hei, kamu dengar tidak, kenapa kamu hanya diam saja saat orang sedang bicara denganmu. Dasar wanita tidak sopan." Mata gadis itu mata menyorot tajam. Tatapannya bahkan penuh penghakiman, alisnya menukik tajam. Persis pemeran antagonis yang sering tayang di siaran TV swasta.
Heeeehhh... Felicia membuang napas. Saat itu juga, Ia bisa bernapas dengan baik, meski debaran jantungnya masih saja berdetak kencang. Perasaannya benar-benar campur aduk. Felicia menatap ke arah wanita itu. Memastikan kembali dengan mata kepalanya sendiri.
"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa ia ucapkan saat ini. "Dan kita sama-sama salah."
"Enak saja kamu, jelas-jelas kau berlari ke arahku. Sekarang aku mau minta ganti rugi."
"Baiklah. Kita selesaikan baik-baik. Aku akan ganti rugi, berapa yang kamu inginkan?"
__ADS_1
"Terserah yang mana kamu sanggupnya!" Ucap gadis itu dengan bersemangat.
"Benar dia bukan Olivia. Yang aku tahu Olivia ramah dan tidak mata duitan seperti wanita yang ada di depannya ini. Sialan!"
"Mana, bukannya kamu ingin ganti rugi?" Tangannya mengulur ke arah Felicia. "Aku tidak punya waktu lagi."
Felicia mengembuskan napasnya dengan pipi menggembung. Bola matanya memutar. "Baiklah." Ia pun mengeluarkan beberapa lembar uang di dalam dompetnya. "Ini cukup?"
"Ini hanya sejuta? kurang."
"Astaga, ini namanya pemerasan." Felicia nampak begitu kesal.
"Pemerasan? uang sejuta sekarang gak ada artinya. Jika kau tidak mau, aku akan melaporkanmu kepada polisi."
Huffft.... Felicia kembali menarik napas dan mengembuskannya sekaligus. tanpa pikir panjang ia pun mengeluarkan uang dan memberikannya kepada gadis itu.
"Sekali lagi, jika anda tidak mau rugi. Gunakan mata untuk melihat ke depan. Aku harap kejadian ini tidak terulang lagi. Kau mengerti? Kalau begitu saya permisi." ucapnya menatap tak suka.
Namun beberapa detik kemudian. Sebelum wanita itu melangkah, Felicia mencengkram tangannya.
"Sebenarnya siapa kau?" Felicia menekan perkataannya. Ia menatap tajam ke arah gadis itu.
"A-apa maksudmu?"
"Apa kau saudara kembar Olivia?" Tanya Felicia penasaran.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, sekarang minggir?"
"Tunggu!" Felicia tidak mau melepaskan wanita itu, sebelum teka-teki ini terjawab.
"Apa lagi?"
"Benar kau bukan saudara kembar Olivia? tidak mungkin ada wanita begitu mirip di dunia ini, kecuali kalian benar-benar kembar."
"Saudara kembar, aku tidak mengerti. Lepaskan tanganmu dari tanganku." Gadis itu sudah nampak kesal.
"Apa kau mengenal Zionathan?"
"Astaga, siapa lagi Zionathan?
"Ini penting untukku."
Gadis itu mulai jengah. "Kamu benar-benar gila ya. Sehebat apa sih mereka? Aku tidak mengenal Olivia atau pun Zionathan. Sekarang kamu puas?"
"Jadi siapa kamu?"
"Apa aku harus menjelaskan ayahku siapa dan ibuku siapa. Aku dilahirkan dimana dan dibesarkan dimana, begitu?"
"Kalau bisa, kenapa tidak."
"Oh my God. Kau benar-benar sudah gila." Napas wanita naik turun saat melihat tingkah wanita stres di depannya. "Anda salah orang, seharusnya kau diperiksa ke rumah sakit jiwa. Jangan membuat orang di sekelilingmu tidak nyaman dengan tingkat bodohmu itu." Wanita itu pun melangkah berlalu dari hadapan Felicia.
Felicia tak bergeming. Ia seperti orang bodoh di sana. Ia menatap punggung gadis itu yang keluar dari restoran siap saji.
"Astaga mirip sekali. Siapa sebenarnya dia?" Felicia menyapu rambutnya ke atas.
"Bagaimana jika Zionathan melihat wanita itu, aku yakin dia akan terkejut."
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^