
Kemenangan yang diraih oleh Abrar menjadi buah bibir dunia. Kejeniusan seorang bocah usia 5 tahun mengalahkan beberapa tim lomba olimpiade IPA dengan gelar yang tidak kaleng-kaleng.
Rupanya berita ini sampai juga ke telinganya Nyonya Tini yang menonton ulang acara tersebut karena ketidaktahuannya akan lomba bergengsi itu.
"Dia benar-benar cucuku. Keturunanku yang tidak bisa terbantahkan karena kejeniusannya juga pasti diwarisi oleh ku juga. Siapa tahu begitu," ucap nyonya Tini menikmati acara tersebut karena ia juga jago bahasa inggris karena berasal dari keturunan Sultan.
Rasa percaya diri nyonya Tini makin tinggi saat melihat kemenangan yang diraih oleh cucunya Abrar dengan skor nilai paling tinggi bahkan sangat jomplang dengan peserta lomba lainnya yang berusia sekitar 30-40 dengan gelar doktor.
"Wah cucuku...! Ingin rasanya aku yang mendampingimu saat itu untuk menerima piala itu," lirih nyonya Tini tertawa cekikikan sendiri.
Namun sedetik kemudian, wajahnya berubah masam saat melihat Mark yang berdiri mendampingi Abrar untuk menerima penghargaan.
"Cih ...! Siapa pula lelaki itu yang mengaku-ngaku ayah dari cucuku. Apa dia lagi ingin numpang tenar?" kesal nyonya Tini yang tidak rela kedudukan ayah dari putranya digeser oleh seorang Mark seakan sedang mencari sensasi ditengah popularitas cucu kembarnya.
"Aku harus mengundang wartawan untuk melakukan konferensi pers. Dengan begitu, aku akan mengumumkan secara resmi kalau putraku Rama adalah ayah kandungnya Azira dan Abrar bukan pri berengsek itu," kesal nyonya Tini dengan niat terselubung.
Tanpa mengkonfirmasi kepada Rama, si nenek mabuk ini sudah menghubungi beberapa media televisi maupun media cetak untuk melakukan konferensi pers.
Terang saja para pemburu berita itu sangat tergiur mendengar cerita mahal yang akan mereka dapatkan dari si kembar yang saat ini sedang viral di dunia maya.
Sementara di perusahaan Mark tidak henti-hentinya mendapatkan pujian dari beberapa relasi perusahaannya atas kesuksesannya telah membimbing si kembar menjadi anak-anak jenius.
"Ceritanya tidak seperti itu. Aku tidak melakukan apapun untuk anak kembarku karena itu terlahir dari bakat alami mereka sendiri yang sudah terlihat sejak mereka bisa belajar bicara," jujur Mark apa adanya.
"Tapi, memiliki anak-anak sejenius si kembar membuatmu ikut tersanjung. Bukankah begitu tuan Mark?" puji teman bisnisnya itu.
"Itu sudah mengalir secara natural. Sebagai orangtua mereka, aku harus lebih bijak menempatkan mereka dalam situasi yang membuat mereka nyaman selama tidak ada tekanan dari pihak manapun untuk kepentingan pribadi maupun suatu kelompok tertentu. Itu yang sedang saya hindari," ucap tuan Mark.
"Anda tetap seperti itu. Teliti dan sangat tegas pada siapapun. Aku salut padamu tuan Mark," puji tuan Goris tapi tidak membuat Mark besar kepala.
Mark melirik pintu ruang kerjanya dibuka oleh seseorang. Tidak lama kemudian, kepala itu nongol yang tidak lain adalah wanitanya yang tersenyum malu padanya. Mark mengakhiri pembicaraannya dengan relasi bisnisnya dan beralih menyambut Alea yang baru pulang dari luar negeri.
Alea berlari menghampiri suaminya lalu melompat dalam pelukan Mark yang langsung menggendongnya ringan.
__ADS_1
"Kenapa tidak mengabariku kalau kamu sudah pulang, sayang?" tanya Mark sambil berjalan menuju sofa dan memangku Alea seperti anak kecil.
"Aku sedang ingin menangkap basah suamiku dengan wanita lain," canda Alea.
"Apakah kamu mengharapkannya, baby?" goda Mark membuat cubitan Alea mendarat di pinggangnya.
"Coba saja kalau berani!" Alea mengerucutkan bibirnya membuat Mark langsung memagutnya lembut.
"Hmm.. Mark!" gumam Alea dalam hisapan Mark.
"Kau yang memancing aku barusan, sayang." Tangan Mark tidak sabaran untuk melepaskan kancing blazer Alea agar mendapatkan buah kenyal dari dada sekang Alea yang sudah menjadi candunya.
"Sayang. Apakah tidak bisa menunggu nanti malam?" tolak lembut Alea.
"Apakah kamu tidak takut dosa menolak keinginan suamimu?!" ancam Mark dengan senjata ampuhnya yang baru saja ia baca jika seorang istri menolak keinginan suami untuk bercinta maka akan dilaknat malaikat sampai pagi.
"Sejak kapan kamu mengetahui hukum-hukum itu?" tanya Alea.
Dalam sekejap keduanya sudah memadu kasih untuk melepaskan kerinduan setelah tiga hari tidak bersua.
...----------------...
Di ruang keluarga, Alea memeluk putranya Abrar dan memberikan ucapan selamat pada sang putra.
"Sayang. Bunda sangat bangga melihatmu tampil sempurna di lomba itu mengalahkan saingan beratmu!" puji Alea sambil mengecup kedua pipi Abrar.
"Bunda. Apakah aku boleh kuliah Minggu depan?" ijin Abrar membuat ibunya hanya bisa menarik nafas panjang.
"Tapi, kamu tidak memiliki teman-teman seusiamu sayang. Kamu akan kehilangan momen masa kanak-kanakmu," ucap Alea.
"Bunda. Banyak orang hebat terutama para sahabat rasulullah dan juga Rasulullah sendiri menghabiskan masa kecil mereka dengan hal-hal bermanfaat.
Menggembala kambing, berdagang, menuntut ilmu dengan membedah hadist dan Al-Qur'an hingga seumur hidup mereka hanya memikirkan waktunya di dunia ini bermanfaat untuk orang lain," ucap Abrar begitu kritis memaknai waktu.
__ADS_1
"Masya Allah. Anak bunda sudah cerdas dalam berpikir. Baiklah. Bunda dukung untuk tujuan muliamu," puji Alea.
"Siapa dulu dong Daddy nya?!" puji Mark pada dirinya sendiri.
"Siapa dulu saudara kembarnya?!" timpal Azira membuat semuanya terkekeh.
Dreeeetttt...
Bunyi ponsel Alea menghentikan tawa canda kelurga itu. Mark meraih ponsel istrinya dan melihat nama si penelpon yang merupakan teman kerja Alea.
Alea menerima panggilan itu dan menyapa si penelpon dengan ucapan salam.
"Alea. Coba kamu nonton channel TV lokal Indonesia!" titah Aluna.
"Emang ada apa?" tanya Alea masih dengan gaya santainya.
"Kamu akan mengetahuinya sendiri. Cepatlah. Ini menyangkut masa lalumu," ucap Aluna.
Alea menggantikan Chanel film kartun dengan berita yang disebutkan oleh Aluna barusan. Sesaat kemudian, wajah Alea tersentak mendengar ucapan mantan mertuanya yang menangis Bombay di hadapannya wartawan.
"Aku tahu, aku seorang ibu mertuanya Alea yang sangat payah karena tidak bisa mencegah menantuku itu pergi meninggalkan aku dan putraku dalam keadaan hamil si kembar.
Ia dengan teganya bekerja sama dengan dokter yang menangani kehamilannya saat itu yang menyatakan anak yang dikandungnya itu cacat.
Dengan begitu ia bisa menguasai si kembar seorang diri dan menjadikan keduanya sebagai sumber keuangannya. Dia tega mengeksploitasi cucu kembarku itu...hiks ...hiks...!" tangis nyonya Tini didramatisir untuk mengundang empati publik.
"Astaghfirullah halaziiim. Fitnah keji apa lagi yang dilayangkan nenek sihir itu," gumam Alea menahan geram namun tetap menyimak omong kosong yang disampaikan nyonya Tini pada awak media.
"Tindakan apa yang ingin nyonya Tini lakukan pada mantan menantu anda, nyonya?" tanya salah satu wartawan infotainment.
"Tentunya saya akan menempuh jalur hukum untuk putra saya yang sekarang sedang menderita karena tidak diperbolehkan Alea bertemu dengan si kembar," ucap nyonya Tini lalu menangis tersedu-sedu.
Alea mengepalkan kedua tangannya sambil terus beristighfar untuk mengusir setan yang sedang membakar amarahnya kini.
__ADS_1