
Sebenarnya, Alea sudah memasukkan laporannya ke kantor polisi sebelum menghadiri persidangan. Dan saat ini polisi sudah siap menangkap nyonya Tini menunggu persidangan usai.
Nyonya Tini yang diam-diam ingin kabur dari ruang sidang untuk menghindari polisi. Namun, sayang niatnya itu harus berakhir saat polisi sudah siap di depan pintu dengan borgol ditangan mereka.
"Selamat siang nyonya Suhartini Gondo kusuma...! Ini ada surat penangkapan untuk anda. Silakan ikut kami ke kantor polisi...! Anda bisa didampingi pengacara saat pemeriksaan di kantor polisi," ucap polisi itu tanpa jeda membuat nyonya Tini merasa dadanya tiba-tiba sesak karena syok.
"Apa ini...? Kenapa tiba-tiba menangkap saya? Rama.... Rama... Rama..! tolong mama, sayang...!" teriak nyonya Tini menangis histeris seperti lolongan anjing.
Pintu pengadilan dibuka. Nampaklah keluarga Mark yang baru keluar dari ruang sidang sambil ditodong oleh wartawan dengan mikrofon dan rentetan pertanyaan yang beragam hingga menghentikan langkah kaki kelurga itu.
Alea tidak mengindahkan pertanyaan wartawan. Justru ia lebih tertarik melihat mantan mertuanya di seret oleh dua orang polisi dan siap di masukkan ke dalam mobil.
Melihat Alea yang sedang menatapnya, nyonya Tini berusaha untuk memohon kepada Alea yang hanya menatap nanar wajahnya yang terlihat ketakutan.
"Alea...sayang. Mama mohon padamu, tolong cabut laporan kamu pada polisi agar mama bisa dibebaskan. Mama mengaku mama salah. Mama khilaf. Mama mohon tolong maafkan mama. Mama sudah cukup tua untuk menghabiskan hidup mama di penjara, sayang..!" pinta nyonya Tini mengiba pada Alea yang hanya bisa mengukir senyum puasnya.
"Minta maaf...? Apakah nyonya sebelumnya pernah memikirkan ini bakalan terjadi nggak? saat nyonya dengan tega melakukan kejahatan padaku. Kalau sekali itu dikatakan khilaf. Tapi berulang kali itu adalah sengaja dan itu sudah termasuk tindakan kriminal, nyonya.
Silahkan menikmati lantai dingin dan udara pengap dari bau toilet umum di dalam penjara yang bercampur jadi satu dengan para kriminal lainnya termasuk pembunuh," ucap Alea rileks.
"Aku selama ini sudah diam dan ingin hidup tenang bersama anak kembarku dan suamiku, malah nyonya sendiri yang mengusik aku. Mengundang wartawan dan menyampaikan statement yang menyudutkan aku. Jadi, nyonya memang ingin diberi pelajaran.
Terimalah apa yang saat ini sudah kamu mulai dan aku dengan senang hati melayani umpan yang kau tebar," lanjut Alea membuat nyonya Tini menahan murkanya dengan tetap memasang wajah sendu.
"Tidak...tidak... tidak...! Katakan kepadaku. Berapa yang kamu inginkan agar mama bisa menebus kesalahan mama padamu, sayang?" tanya nyonya Tini yang ingin menyelesaikan apapun dengan uang.
"Berikan saja uangmu itu pada pengacara hebat yang bisa membolak-balikkan fakta saat persidangan atau mencari oknum hakim yang bisa anda suap. Kenapa malah menyogok aku?" tanya Alea sinis.
__ADS_1
"Maaf nyonya...! Sepertinya, istriku tidak akan kekurangan apapun masalah materi karena aku bisa memberikan segalanya bahkan bisa membeli apapun yang anda miliki termasuk harga diri anda yang saat ini tidak berharga lagi seperti saham yang jatuh di pasar bisnis," sarkas Mark sengit.
Rama yang mendengar perkataan Mark yang menghina ibunya membuat dirinya mengepalkan kedua tangannya menahan geram. Namun, rasa sakit hatinya pada ibunya membuat ia mengabaikan penghinaan Mark itu dan memilih meninggalkan tempat itu secepatnya.
Wajah nyonya Tini tampak sendu melihat putranya sendiri mengabaikannya membuat hatinya makin nyeri.
"Ramaaaa....! Tolong mama, nak..!" jerit nyonya Tini namun tubuhnya sudah di dorong paksa oleh petugas polisi untuk segera masuk ke dalam mobil tersebut.
Alea yang melihat Rama yang cuek dengan ibu kandungnya merasa sangat prihatin." Bagaimana orang lain mau menolong ibumu? Kamu sendiri saja tidak peduli nasib ibumu," batin Alea lalu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan awak media yang sangat kecewa karena sikap Alea yang tidak peduli pada mereka.
"Nyonya Alea! Tolong beri kami sedikit saja pernyataan anda mengenai kasus nyonya Tini yang telah membuat anda ...-"
"Jalan Barack!" titah Alea pada asisten pribadinya Mark mengabaikan pertanyaan wartawan.
"Bunda. Kenapa Bunda tidak ingin menjawab pertanyaan wartawan?" tanya Azira.
"Aduh...! Punya bunda orang pintar bisa aja jawabnya. Tapi, bunda. Apakah bunda tidak kasihan sama nenek?" tanya Azira.
"Dia yang tidak pernah kasihan pada dirinya sendiri sayang. Jadi, bunda bisa apa..?" angkuh Alea penuh kepuasan.
"Siapa yang menabur, maka dia akan menuai-nya. Bukankah begitu, bunda?" timpal Abrar.
"Iya sayang. Jangan pernah berbuat jahat pada orang lain walaupun sebesar biji Zara. Karena Allah akan membalasnya jika orang itu teraniaya. Karena doa orang teraniaya walaupun seumur hidupnya tidak pernah melakukan kebaikan maupun ibadah, jika hatinya disakiti oleh orang lain, maka Allah akan mengabulkan doanya. Jadi hati-hati dengan perbuatan kalian terutama lisan," nasehat Alea bijak.
"Tapi, kalau orang itu jahat kepada kita, tidak apakan kita menghinanya balik? Seperti nenek Tini," tanya Abrar.
"Iya sayang. Tidak apa sejauh itu tidak mengarah pada kekerasan. Bagaimanapun juga dia adalah ibu kandungnya ayah kalian.
__ADS_1
Tanpa dia, ayah kalian tidak akan ada dan tanpa ayah kalian, kalian berdua tidak akan ada di sini bersama bunda,"nasehat Alea agar anaknya tidak melampaui batas memperlakukan ayah kandungnya anak kembarnya.
"Baiklah Bunda. Kami akan lebih berhati-hati dalam berucap maupun bersikap," ujar Abrar sedih.
"Sudahlah sayang...! Semuanya sudah berlalu. Sekarang kita masih terus bersatu. Semoga Allah merahmati kelurga kita," ucap tuan Mark mengganti topik obrolan kelurga intinya.
"Daddy. Aku ingin menikmati kuliner Indonesia dan keliling kota Jakarta. Apakah boleh?" tanya Azira.
"Sayang. Semua orang sudah mengenali kalian berdua sebagai anak-anak jenius. Ke manapun kalian pergi, pasti mereka akan menganggu kalian dan itu sangat rentan dengan kejahatan.
Jadi, untuk saat ini, daddy tidak mengijinkan kalian ke manapun. Kita akan segera kembali ke Amerika," ucap Mark membuat wajah si kembar langsung sendu.
"Yah, daddy nggak asyik. Masa hidup kami akan terus terkurung karena jadi orang terkenal," protes Azira.
"Karena itulah resikonya sayang menjadi orang terkenal," ucap Mark memberikan pengertian kepada anak sambungnya.
"Daddy juga orang terkenal. Tapi, daddy bisa ke mana saja tanpa di ganggu," protes Azira.
"Daddy terkenal bukan sebagai artis. Dan juga yang mengenal daddy hanya di kalangan tertentu. Itulah sebabnya daddy tidak dikenal oleh bunda saat kami baru pertama kali bertemu," ledek Mark pada Alea.
"Kenapa juga harus mencaritahu tentang kamu, pria bunglon dengan tampang jutek seperti itu," sarkas Alea.
"Tapi, kamu sukakan?" ledek Mark membuat wajah Alea bersemu merah.
Si kembar hanya mendengus jengah sambil menepuk jidat mereka.
"Gaya pacaran orangtuaku lebih heboh daripada ABG," keluh Azira membuat semuanya terkekeh..
__ADS_1