
Keluarga Mark beraktivitas seperti biasa. Alea kembali ke tugasnya sebagai duta besar RI di Amerika. Sementara Mark masih wara-wiri antara perusahaan dan rumah sakit. Sebenarnya, Mark lebih sibuk di perusahaan ketimbang di rumah sakit.
Jika ada tindakan urgensi pasien yang membutuhkan dirinya, ia baru ke rumah sakit. Lagi pula ia hanya menangani pasien anak-anak daripada orang dewasa karena dia tidak ingin berhadapan dengan pasien dewasa yang sulit diatur karena kesabarannya tidak sebesar dokter lainnya.
Sementara si kembar yang saat ini sudah duduk di bangku kuliahan harus bertemu dengan orang-orang dewasa dengan melihat adegan mereka yang tidak sepantasnya mereka lihat seperti ciuman.
Walaupun si kembar tidak asing lagi dengan ciuman orang dewasa karena sering melihat spontan kedua orangtua mereka berciuman. Maklumlah Mereka berada di dunia barat yang bebas melakukan adegan mesra itu. Mereka selalu mengalihkan tatapan mereka karena tidak ingin mata mereka yang masih suci ternodai oleh ciuman orang dewasa.
Kadang juga teman-teman mereka yang berusia sekitar 18dan 19 tahun ini selalu gemas jika dicuekin oleh Abrar saat mereka ingin menanyakan sesuatu pada putranya Alea ini. Tentu saja berhubungan dengan mata kuliah yang sulit mereka pahami jika di jelaskan oleh dosen killer.
"Apakah kamu marah jika kami berciuman?" tanya Sean pada Abrar yang sibuk mengerjakan tugasnya.
"Jika kalian mau melakukannya jangan di depanku. Itupun kalau kalian masih mau belajar denganku," ucap Abrar pada pasangan kekasih di depannya ini.
"Ok. Kami tidak akan melakukannya lagi. Kami minta maaf," ucap Nicole.
"Sekarang, apa yang ingin kalian tanyakan?" Abrar mulai berbaik hati pada pasangan ini.
"Masih dengan mata kuliah yang sama yaitu fisika Quantum," ucap Sean.
Abrar mengajarkan kedua sahabatnya ini karena hanya Sean dan Nicole yang lebih peduli kepadanya daripada yang lain. Hal ini membuat yang lain sangat iri dengan Sean dan juga Nicole.
"Abrar. Apakah kamu tidak sadar kalau kamu dimanfaatkan oleh dua orang ini. Mereka pura-pura peduli padamu karena ada maunya doang bukan benar-benar menyukaimu.
Lihat saja! Setelah mereka mengerti dan paham apa yang kamu ajari pada mereka, kamu akan ditinggalkan sama mereka," ucap Levi memprovokasi Abrar.
__ADS_1
"Aku tidak peduli. Aku datang ke sini bukan mencari teman apalagi sahabat karena perbedaan usia antara kalian dan aku. Aku hanya mencari ilmu, belajar sebanyak mungkin yang ingin aku ketahui dan setelah itu aku akan mendapatkan ijasah. Hanya itu tujuanku berada di sini," ketus Abrar membuat Sean dan Nicole mengulum senyum mereka atas balasan Abrar pada Levi.
"Dasar bocah aneh...! Dibilangin tidak mau dengar. Apa kau ingin aku melemparmu lewat jendela ini, hah?!" ancam Levi serius.
"Coba saja kalau kamu berani menyentuhku!" ancam Abrar yang tidak takut sama sekali pada Levi.
"Abrar. Apakah ada masalah?" tanya Azira yang sudah muncul dari balik pintu kelas kakaknya.
Azira yang sangat menguasai ilmu bela diri ini sudah mendengar ancaman Levi pada kakaknya dari kelas sebelah berkat pendengarannya yang sangat tajam. Azira memang mengambil jurusan berbeda dengan kakaknya karena dia lebih menekuni dunia kedokteran seperti Daddy Mark.
"Ternyata kalian kompak juga. Sepertinya kalian bukan hanya jenius karena yang aku lihat kalian juga memiliki keunggulan yang lain," tebak Levi.
"Iya, mematahkan gigimu. Mau mencobanya!" ancam Azira maju selangkah demi selangkah membuat dirinya menjadi pusat perhatian teman kelasnya Abrar.
Levi menyeringai karena dia merasa sedang berhadapan dengan bocah ingusan yang tidak akan membuatnya terluka karena ilmu bela dirinya di atas rata-rata dari Abrar dan Azira. Itu yang dipikirkan oleh Levi.
"Apakah ada aturan negara yang mencantumkan sesuai perkataan bodoh mu itu? Lantas apa masalahmu dengan kami?" tantang Abrar.
"Masalahku adalah melemparmu ke jendela sana," ucap Levi seraya mengangkat kerah baju Abrar hingga tubuh kecilnya melayang ke udara sejajar dengan wajah Levi.
Melihat perlakuan Levi pada saudara kembarnya membuat Azira tidak tinggal diam begitu saja. Ia berlari beberapa langkah lalu melompat ke atas dengan melayangkan tendangan ke pipi Levi hingga tubuh Abrar jatuh bersamaan dengan tubuh Levi yang terpental cukup jauh dibelakang kelas tersebut.
Para mahasiswa yang ada di kelas Abrar terhenyak melihat bagaimana kekuatan Azira dengan tubuhnya sekecil itu bisa menendang tubuh Levi hingga terpental jauh dengan sudut bibir berdarah.
Ia kembali jatuh berdiri dengan posisi kuda-kuda disertai dua tangan terkepal siap menghadang lagi Levi yang spontan berdiri walaupun bokongnya terasa sangat sakit.
__ADS_1
"Kau ingin bermain-main denganku bocah? Bersiaplah, aku bisa membuat kalian mati di tanganku!" ancam Levi yang merupakan putra dari wakil presiden ini.
Saat dia hendak menyerang Azira, Abrar lebih dulu melompat kedepannya dengan melakukan salto di udara lalu menendang tubuh Levi tepat di dada kekar pria itu hingga terpental lagi ke dinding samping bangku yang mereka duduk.
"Hanya segitu kemampuanmu?" ledek Abrar dengan tangan bersedekap.
"Dasar bocah sialan...!" umpat Levi yang merasa punggungnya mau patah.
Ia menyadari kalau bocah kembar itu tidak bisa diremehkan kemampuan bela diri mereka. Setiap temannya Abrar yang menyaksikan aksinya di kembar, memilih diam dan tidak mau berurusan dengan si kembar lagi.
"Ini juga pelajaran buat kalian semuanya yang meremehkan usia dan tubuhku yang masih kecil...!" sergah Abrar lalu meninggalkan kelas karena jadwal kuliah hari itu sedang tidak ada kelas karena dosen sedang ada urusan.
Alhasil mereka hanya disuruh mengerjakan tugas lalu mengumpulkan tugas itu ke ketua kelas. Sean dan Nicole mengikuti Abrar dan Azira yang mau pulang. Mereka yang sedari tadi sangat takjub dengan dua bocah ini begitu penasaran.
"Sejak kapan kalian bisa menguasai ilmu bela diri?" tanya Nicole.
"Tidak tahu. Sebaiknya kalian bisa tanyakan kepada kedua orangtuaku kalau memang kalian sangat penasaran," ucap Abrar yang malas menjelaskan kepada Nicole dan Sean.
"Kalian benar-benar si kembar ajaib. Bukan hanya jenius, kalian bisa melindungi diri kalian sendiri dan tidak butuh pengawal," ucap Nicole.
"Kalau kami bukan anak ajaib, tidak mungkin kami berada di kampus ini. Lagian, pengawal kami hanya satu dan tak terlihat oleh mata namun bisa dirasakan keberadaannya melalui hati kami," ucap Abrar terasa ambigu di kuping Sean dan Nicole.
"Siapa pengawal kalian itu, hmm?" tanya Sean penasaran.
"Dia adalah sebaik-baiknya pengawal yang mengusai bumi dan langit ini. Dia tidak pernah tidur dan maha teliti atas segala sesuatu. Dia adalah Tuhan kami, Allah SWT. Jika ada yang berusaha berlaku tidak adil pada sesamanya karena melihat orang lain itu lemah dan bodoh serta miskin, ketahuilah Tuhan akan membalas perbuatan orang itu.
__ADS_1
Tidak percaya dengan perkataanku? Kami sudah membuktikannya hari ini di depan kalian semua, bukan? Jika kami tidak diberikan kekuatan oleh Allah, apakah masuk akal kami bisa menendang Levi hingga membuat tubuhnya sakit," ujar Azira membuat Nicole dan Sean hanya bisa melongo.
"Hah ..?"