Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
67. Kedatangan Nyonya Stevani


__ADS_3

Azira sudah berada di kamar inapnya yang sama saat dia masih kecil dulu. Memang kamar itu sengaja disiapkan khusus untuk kelurganya Mark. Jadi tidak kuatir jika pasien yang dirawat di RS itu akan membeludak.


Memang rumah sakit Mark sangat terkenal di negara itu. Bukan hanya gedung rumah sakit yang dirancang indah dan mewah bak hotel, tapi juga dilengkapi dengan fasilitas peralatan medis super canggih ditunjang dengan tenaga SDM dokter dan suster yang sangat kompeten di bidangnya masing-masing.


Mark sengaja merancang rumah sakitnya sebagus mungkin dengan pelayanan tenaga medisnya yang tidak membedakan kalangan masyarakat dari segi tingkat sosial.


Apa lagi Mark memberikan keringanan pembayaran bagi masyarakat yang kurang mampu asalkan memenuhi persyaratan yang tidak merekayasa data pribadi kalau mereka adalah kelurga yang tidak mampu.


Jika ada pasien yang berani menipunya, mereka akan di kirim ke penjara oleh Mark yang sangat tegas menerapkan sistem di rumah sakit miliknya.


Saat ini, Azira hanya menggunakan selang oksigen biasa. Tidak lagi menggunakan selang inkubasi karena dirinya sudah sadar. Walaupun wajahnya masih terlihat pucat, namun ia sudah bisa berinteraksi dengan keluarganya maupun tenaga medis saat ini.


"Apakah kamu sudah merasa lebih baik, baby?" tanya Alea sambil menyuapi bubur ayam buatan bibi Sari pada Azira.


"Sudah bunda. Bahkan Azira tidak sabar lagi untuk bekerja," ucap Azira.


"Sebaiknya kamu rehat dulu sampai Daddy memastikan kesehatanmu dulu agar kamu boleh diijinkan bekerja lagi atau tidak," pinta Alea menyuapi satu sendok bubur yang tersisa di mangkok itu pada Azira.


"Kalau begitu aku ingin bekerja di kamarku agar aku tidak bosan. Lagi pula perusahaanku sebentar lagi akan meluncurkan produk kosmetik perdana kami. Dan semua itu atas hasil racikan ku sendiri, bunda," ucap Azira setengah memelas.


"Iya sayang. Bunda mengerti. Tapi sehat juga penting. Bagaimana kamu memimpin perusahaan sebesar itu dalam kondisi sakit, hmm?" tanya Alea.


"Benar juga. Tapi dua hari lagi aku boleh bekerja lagi ya bunda?" desak Azira.


"Daddy Mark yang akan memutuskan semuanya, ok!" tegas Alea membuat bibir Azira manyun.


Tok...tok...


Alea dan Azira mengira yang mengetuk pintu itu adalah suster atau dokter. Keduanya terlihat cuek. Namun ketukan itu kembali terdengar membuat Azira meminta ibunya untuk membuka pintu kamar inapnya.

__ADS_1


"Buka saja bunda...! Siapa tahu itu teman kerja bunda atau staf perusahaanku," tebak Azira.


"Baik. Sebentar sayang!"


Alea membuka pintu kamarnya dan ternyata adalah ibu mertuanya, nyonya Stevani.


"Mommy...?!" sentak Alea gugup seraya menyalami nyonya Stevani yang mau menerima cipika-cipiki menantunya.


"Apa kabar mommy! Silahkan masuk...!" ucap Alea santun seraya membukakan pintu itu lebih lebar.


"Aku ingin melihat keadaan cucuku Azira," ucap nyonya Stevani membuat Alea termangu.


Deggg...


"Apakah ibu mertuaku kerasukan jin? Atau salah minum obat?" batin Alea nampak waspada.


Pengalaman pahit yang pernah dialami oleh Alea membuat dirinya menjadi sangat protektif terhadap siapapun yang mencoba mendekati dirinya dan anak-anaknya, apalagi status mertua yang notabene tidak menerimanya dari awal pernikahan dirinya dan Mark membuat Alea tidak terima kebaikan orang lain begitu saja.


"Ba...baik Oma," ucap Azira tergugu.


"Syukurlah. Kamu sudah sehat, sayang. Tadi Oma ke rumah kalian dan kata pelayan, kamu dirawat sayang, jadi Oma langsung ke sini. Maafkan atas sikap Oma kepada kalian. Oma sangat bangga padamu, selain jenius, cantik dan kamu sangat berani menghadapi wanita jala*Ng itu," umpat nyonya Stevani pada Claire membuat Azira tersenyum sinis.


"Bukankah Tante Claire adalah wanita idaman Oma? Bukankah Oma memaksa daddy Mark untuk menjadikan Tante Claire istri ke dua? Kenapa sekarang Oma berubah mengatainya jala*g?" sarkas Azira.


"Maafkan Oma, sayang. Oma sudah dibutakan dengan pringai nya yang low profile," ucap nyonya Stevani.


"Apa Oma? low profile...? Apakah karena bundaku bukan berasal dari keluarga hebat? Bagaimana bundaku bisa memamerkan kemewahan sementara beliau hanya seorang gadis yatim piatu," timpal Azira membela harga diri ibunya.


"Iya sayang. Oma akui Oma salah. Oma berpikir wanita yang berkelas seperti Claire tidak akan merendahkan harga dirinya demi seorang pria apalagi menyerang kamu yang bukan lawannya yang sepadan," sesal nyonya Stevani.

__ADS_1


"Apakah karena Tante Claire anak orang kaya yang selalu mengenakan barang-barang branded? Apakah begitu cara Oma menilai manusia berkelas?" cecar Azira mulai emosi lagi.


"Sayang. Kamu baru mendingan. Jangan mulai lagi memacu jantungmu, nak!" pinta Alea lembut.


"Tidak apa bunda. Aku sudah lebih baik. Aku ingin mengajari pada Oma bagaimana menilai manusia berkelas itu sesungguhnya," ucap Azira yang ingin menasehati nenek tirinya itu.


"Oma. Asal Oma tahu, kalau orang berkelas itu adalah orang yang mampu menguasai martabatnya sebagai seorang manusia yang bernilai. Dan itu berawal dari perilaku dan mindset yang berkelas.


Di mana pikiran akan melahirkan kata-kata dan kata-kata akan melahirkan tindakan dan tindakan akan menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan itulah yang akan membentuk karakter dan karakter itu yang menentukan takdir kita," jelas Azira membuat wajah nyonya Stevani terhenyak.


Nyonya Stevani sampai terhuyung ke belakang sambil menutup mulutnya yang terbuka.


"Astaga. Aku tidak menyangka kehebatan cucu tiriku ini yang mempu melahirkan kata-kata luar biasa. Mark, kamu tidak salah memperistrikan Alea, nak.


Pantas saja kamu sangat mencintai si kembar karena kamu sangat mengetahui kualitas mereka yang merupakan anak-anak ajaib," puji nyonya Stevani yang merasa sangat malu pada Alea.


Alea menghampiri ibu mertuanya dan meminta maaf atas sikap putrinya.


"Mommy. Aku minta maaf atas nama putriku, Azira. Dia tidak tahu apa yang dia ucapkan. Emosinya masih belum stabil. Hatinya masih belum tertata. Pikirannya masih belum matang saat bicara dengan orang dewasa. Aku janji akan mengajarinya sopan santun," ucap Alea tidak enak hati.


"Tidak Alea. Azira tidak salah. Azira hanya mengatakan apa yang terlintas dipikirannya yang mengkritisi penilaianku yang salah pada Claire.


Hari ini, mommy belajar tentang satu hal bagaimana menilai manusia yang berkelas tanpa melihat status sosialnya. Kamu berhasil mendidik anak-anakmu. Mommy telah salah menilai mu, nak," ucap nyonya Stevani terdengar tulus.


Alea memeluk ibu mertuanya. Keduanya menangis bersama. Azira masih mengendalikan emosinya agar kembali stabil. Kedatangan Nyonya Stevani mampu melancarkan kembali aliran darahnya yang sempat tersendat. Wajahnya nampak memerah dan tidak terlihat pucat lagi seperti sebelumnya.


Mark dan Abrar yang baru masuk ke kamar itu nampak tercengang melihat adegan haru itu. Keduanya saling bertatapan kemudian tersenyum.


"Apakah seperti itu sifat wanita, Daddy?" tanya Abrar setengah berbisik pada Mark.

__ADS_1


"Begitulah wanita. Mereka mudah sekali marah dan gampang terenyuh atas segala sesuatu karena Allah memberikan mereka hati yang sangat lembut untuk mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Jadi, jangan coba-coba menyakiti hati wanita yang kamu cintai. Dan itu mulai dari ibumu," nasehat Mark bijak.


__ADS_2