Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
66. Kerinduan


__ADS_3

Alea yang baru tiba di perusahaan putrinya, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Claire saat pintu lift terbuka. Claire yang di geret oleh dua orang polisi itu keluar dari pintu lift langsung di tampar oleh Alea dengan keras.


Plakkk...


"Dasar wanita sampah...! Jangan coba-coba menyentuh putriku atau kau akan berakhir di kuburan. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu karena kau hanya tahu mencari popularitas dengan mengumpulkan jutaan dollar untuk memuaskan ambisimu demi kesenangan dengan menyandang profesimu sebagai dokter kandungan.


Jika kamu tahu sakitnya melahirkan mungkin kau akan tahu artinya seorang anak yang lebih berharga dari semua harta yang kamu miliki," sarkas Alea.


"Kau hanya wanita yang tidak tahu malu merebut perhatian Mark dengan sakitnya anak kembarmu itu," balas Claire namun polisi menyeretnya keluar dari perusahaan itu.


Ketika sampai di luar, Claire di sambut oleh wartawan dan massa yang melempar wajahnya dengan apa saja sehingga ia harus dilindungi oleh tameng nya polisi dari serangan massa.


"Dasar dokter gadungan...! tampangmu kelihatan lembut tapi kau tidak lebih dari monster yang menakutkan. Kau menyelamatkan banyak nyawa bayi tapi kau ingin membunuh anak orang lain demi sebuah balas dendam," umpat salah satu massa pada Claire yang tertunduk malu.


Claire buru-buru masuk ke dalam mobil polisi. Mobil polisi melaju dengan cepat meninggalkan perusahaan Azira. Wartawan kembali menunggu kehadiran Azira namun diberitakan oleh petugas satpam agar mereka membubarkan diri karena Azira saat ini sudah dibawa pulang oleh kedua orangtuanya karena trauma.


Saat Mark menggendong Azira yang lemah tak berdaya untuk dibawa ke helikopter, Alea berpapasan dengannya dan langsung syok melihat putrinya begitu pucat.


"Ada apa dengan Azira?" tanya Alea panik.


"Dia pingsan. Jantungnya kembali bermasalah," ucap Mark jujur.


"Kenapa bisa begitu? Bukankah tiga tahun ini dia baik-baik saja?" cicit Alea tidak percaya.


"Penderita jantung tidak boleh kelelahan. Tidak boleh tersentuh dengan tendangan ataupun pukulan tepat di bagian dada karena itu sangat fatal," jelas Mark.


"Ya Allah. Apakah Azira akan menjalani operasi lagi?" tanya Alea sambil mencium tangan putrinya saat mereka sudah berada dalam lift.


"Belum bisa dipastikan sebelum dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Tenanglah...! Kita harus ke rumah sakit dengan helikopter. Jangan cemas seperti itu. Lakukan seperti biasanya Alea! Keyakinanmu pada Allah akan menguatkan Azira, aku dan Abrar," pinta Mark merasa sangat sesak melihat Alea yang sangat terpukul.

__ADS_1


"Hmm!" Alea mengangguk pasrah walaupun saat ini hatinya sangat hancur.


Helikopter mulai mengudara yang langsung di kemudikan oleh Barack. Dengan secepat kilat, helikopter itu sudah mendarat lagi di rumah sakit milik Mark.


Dokter dan suster sudah siap dengan brangkar untuk menyambut Azira. selang inkubasi mulai di pasang dan beberapa alat medis lainnya menempel di tubuh Azira untuk menunjang kehidupannya.


Di ruang IGD, Mark menggunakan alat kejut jantung untuk merangsang jantung Azira agar kembali berdetak. Rasanya saat ini Alea ingin pingsan karena tidak ada reaksi dari Azira sama sekali.


"Ya Allah. Tolong putriku...! Ambil saja nyawaku untuk gantinya," batin Alea berusaha kuat.


Mark terus menerus berusaha walaupun diagram jantung yang tertera dilayar sudah makin melemah bahkan sangat tipis untuk menunjukkan tanda-tanda kehidupan Azira yang akan berakhir.


"Baby....! Apakah kamu ingin menyerah? Mana putriku yang pemberani, hah?" desak Mark berusaha memotivasi Azira yang sedang menantikan ajalnya.


Selama ini, Mark sudah berusaha mendapatkan jantung baru untuk Azira namun tidak cocok dengan Azira. Jadi, jantung itu selalu diberikan pada pasien lain yang lebih cocok.


"Siapkan kamar operasi....!" titah Mark pada tim dokternya.


"Aku lebih tahu daripada kalian. Lakukan perintahku...!" bentak Mark pada bawahannya yang terlihat sudah pesimis.


Alea tertegun menatap Mark yang terlalu percaya diri untuk melakukan tindakan operasi. Sebagai seorang ibu, hatinya tidak cukup kuat melihat putrinya harus berurusan lagi dengan pisau bedah. Tapi, sebagai istrinya Mark, dia harus mendukung kepada keputusan suaminya jika itu memang terbaik untuk Azira.


"Baby. Jangan tinggalkan bunda....! Kita sudah sejauh ini melangkah. Apakah kamu ingin mematahkan keyakinan bunda pada ayah kandungmu yang telah membuang kalian?" bisik Alea pada kuping putrinya.


Tidak lama Abrar datang karena dijemput Barack. Saat Azira sudah berada di meja operasi, Abrar minta ijin pada mark. Alea keluar dari kamar operasi..


"Daddy. Ijinkan aku bicara sebentar dengan saudara kembarku....! Jika medis tidak bisa menyelamatkan Azira, insya Allah aku bisa melakukannya untuk bagian hidupku yang ada di dalam tubuh Azira. Kami adalah satu kesatuan yang utuh," pinta Abrar membuat Mark serba salah.


"Apakah kamu yakin Abrar? lihatlah pergerakan diagram jantung Azira makin melemah. Mulutnya sudah dipasang selang inkubasi," ucap Mark.

__ADS_1


"Aku tahu Daddy. Saat ini medis tidak bisa lagi kita andalkan," ucap Abrar.


"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" tanya Mark lirih.


"Doa yang menjadi tumpuan sebagai kekuatan orang beriman. Mintalah pada Sang pemilik kehidupan...!" pukas Abrar penuh keyakinan pada Robb-nya.


"Baiklah. Lakukan yang terbaik untuk saudara kembarmu...! ajak dia pulang nak...! atau kita akan kehilangan dia," serak Mark mundur beberapa langkah memberikan Abrar mendekati Azira yang bernafas saja sudah terlalu sulit untuknya.


"Azira. Kita selalu bersama sampai saat ini. Berbagi apa saja hingga aku tidak berpikir untuk mencari teman lain karena kamu saja sudah cukup mewakili seorang sahabat untuk bisa ku berbagi. Kita sudah melewati banyak hal bahkan kematian seakan sudah menjadi sahabat kita yang selalu membayangi kita setiap saat.


Jika kamu peduli denganku terutama bunda dan Daddy, tolong, kembalilah pada kami. Kami tidak sanggup hidup tanpamu adikku. Jika kamu pergi, bagaimana denganku, hmm!" desis Abrar dengan suara parau.


Abrar mulai melantunkan ayat suci Al-Quran yaitu surah Al- fajar. Surah yang memiliki kekuatan untuk di permudahkan hamba beriman melalui proses ajalnya. Tiba di bacaan ayat ke 27 hingga terakhir ke 30, Abrar menangis sesenggukan. Di mana ayat yang ke 28 yang artinya,


"Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas) Puas dengan pahala yang Allah berikan kepadamu."


Abrar mengulangi tiga ayat terakhir itu berulang-ulang kali hingga suaranya tenggelam bersama dengan tangisnya. Ia mengenang kenangan yang sangat banyak dengan saudara kembarnya ini. Air matanya jatuh dipunggung tangan Azira yang seketika memberi respon pada Abrar yang masih yakin Azira akan kembali kepada mereka.


Jemari Abrar digenggam sama Azira membuat Abrar mengangkat wajahnya yang tadi hanya bisa tertunduk menahan kesedihannya.


"Azira..! Kamu kembali...?" tanya Abrar dengan menyunggingkan senyum bahagianya. Mark mendekati putranya begitu melihat reaksi diagram jantung Azira mulai naik kembali dan bergerak secara normal.


"Masya Allah. Alhamdulillah ya Robb. Terimakasih Engkau telah mengembalikan kehidupan putriku," ucap Mark begitu bahagia.


"Daddy. Azira, daddy!" serak Abrar haru.


"Iya sayang. Dia kembali lagi pada kita. Biar Daddy memeriksanya dulu," ucap Mark seraya menempelkan stetoskop di dada Azira sambil tersenyum.


"Kita bisa pindahkan Azira ke ruang rawat," ucap Mark membuat Abrar langsung memeluk ayah sambungnya ini. Alea ikut memeluk keduanya dan menangis bersama.

__ADS_1


Alea masuk ikut bergabung dengan Abrar dan suaminya saat melihat putrinya selamat dari maut.


"Baby ...!" Alea mencium wajah putrinya bertubi-tubi sambil menangis haru.


__ADS_2