
Abrar dan Azira mengetuk pintu kamar itu lembut lalu membukanya perlahan. Tampaklah sang bunda yang lagi tampak fokus membaca buku diatas pembaringan. Keduanya mendekat sambil menyikut dan saling mendorong siapa yang harus duluan bicara.
"Bunda."
"Hmm!"
"Abrar minta maaf..!"
"Azira juga bunda..!"
"Maaf sudah merahasiakan langkah kami untuk menjatuhkan perusahaan ayah dengan membeli sahamnya memakai uang bunda untuk pendidikan kami saat usia kami lima tahun," ucap Abrar.
"Apakah kalian sudah puas sekarang?" tanya Alea dengan tetap menatap bukunya.
"Puas sih tidak bunda. Tapi, kami hanya ingin mendapatkan pengakuan ayah. Menginginkan ia meminta maaf kepada kami dihadapan dunia kalau kami adalah anak kandungnya yang telah ia sia-siakan," ucap Abrar dengan bibir bergetar karena menahan tangisnya.
Alea menahan rasa harunya mendengar ucapan Abrar yang menggetarkan kalbunya.
"Ya Allah. Apa yang telah aku lakukan pada anakku? dari lahir saja tanpa ada sentuhan ayah yang menggendong mereka, mengadzani bahkan membantuku untuk menggantikan popok mereka di tengah malam saat aku kelelahan mengurus bayi kembar ku yang hanya dibantu bibi Sari.
Jika hari ini mereka memberi pelajaran berharga untuk sang ayah, kenapa aku malah menuduh mereka dengan.....-" Alea tak mampu berkata-kata lagi hingga kedua tangannya terbuka untuk memeluk buah hatinya yang tercinta.
"Sini...! Peluk Bunda...!" pinta Alea.
Keduanya menghamburkan tubuh mereka ke dalam pelukan sang bunda dengan tangisan yang langsung pecah berurai airmata.
"Bunda...! hiks....hiks....!"
"Bunda. Kami terlahir hebat karena doa bunda yang mampu menembus pencakar langit. Tangisanmu yang penuh dengan penderitaan saat itu menggetarkan arsy Allah hingga Allah menganugerahi kehebatan pada kami untuk menghibur bunda. Kami tidak ada artinya tanpa doa bunda," ucap Azira sambil terisak dalam pelukan Alea.
"Iya sayang. Maafkan bunda. Mulai sekarang, bunda mendukung apapun keputusan kalian asalkan itu tidak bertentangan dengan hukum Allah," pinta Alea dan si kembar mengangguk.
Alea menguraikan pelukannya lalu menatap wajah buah hatinya itu seraya menghapus air mata keduanya.
"Kita akan ke Indonesia dua hari lagi. Persiapkan apa yang akan kalian bawa nanti. Kita akan menghadapi ayah kalian," ucap Alea menghibur si kembar yang langsung mengecup pipinya.
__ADS_1
"Terimakasih bunda. Kami janji tidak akan mengecewakan bunda," ucap Abrar dengan penuh semangat.
"Baiklah. Sekarang sudah malam. Kembalilah ke kamar kalian...!"
"Hmm!"
Si kembar beranjak keluar dengan perasaan lega. Keduanya saling melakukan tos lalu terkekeh bersama.
Beberapa menit kemudian Mark sudah kembali ke kamarnya usai menidurkan anak kandungnya dari Alea.
Ia naik ke tempat tidur dan menggoda wanitanya yang tersenyum menatapnya. Tanpa banyak bicara, Mark lebih suka menyalurkan rasa cintanya dengan sentuhan. Keduanya saling berciuman hingga tangan kekar itu menarik tali kimono tidur Alea terbebas dari balutan tubuh jenjang itu.
Alea mengimbangi ciuman suaminya dengan tangannya yang tidak dibiarkan menganggur. Pusaka kokoh milik Mark dibawah sana menjadi incarannya. Sedetik kemudian Mark merasakan getaran nikmat kala Alea begitu lihai memanjakan miliknya yang sudah membengkak.
"Sayang. Ssssttt...! sentuh dia dengan lidahmu...!" pinta Mark yang sudah tergeletak tak berdaya menanti service istrinya yang membuatnya menagih.
Alea memberikan yang terbaik apa yang dia bisa lakukan untuk memuaskan hasrat suaminya. Antara rasa cinta yang begitu besar pada Mark dan rasa terimakasihnya yang tulus pada pria hebat itu. Mungkin bagi Alea tidak ada lagi tempat yang membuatnya bahagia yaitu hanya Mark dan anak-anaknya.
Pergumulan panas itu makin memanas kala keduanya sudah saling mengaduk pinggul disertai erangan dan lenguhan yang makin meningkatkan gairah percintaan mereka.
Sesuai janjinya Alea,, kini kelurga itu kembali ke Jakarta Indonesia bersama dengan bibi Sari. Abrar yang sudah menyiapkan fasilitas untuk keluarganya di Jakarta sana di mana apartemen mewah yang menjadi pilihannya saat ini dan beberapa mobil mewah sebagai mobilitasnya dan tentu saja dia juga membutuhkan dua orang pelayan dan asisten pribadi yang akan melayani kebutuhannya selama tinggal di Indonesia.
"Daddy. Aku sudah meminta asisten pribadiku untuk menjemput kita ke bandara dan langsung pulang ke apartemen begitu tiba di Jakarta.
Nanti bunda tolong bantu aku untuk melengkapi beberapa perabotan rumah tangga yang masih kurang di apartemenku nanti!" ucap pria tampan yang berusia 9 tahun lebih ini.
"Masya Allah. Bagaimana bisa kamu menyiapkan semua itu sendiri sayang?" tanya Alea.
"Aku punya banyak koneksi yang membantuku untuk memenuhi apa yang aku butuhkan, bunda. Tinggal melihat barang-barang di beberapa toko online dan memesannya lalu mereka mengirim ke apartemenku yang langsung di awasi oleh asistenku. Nanti aku akan kenalkan dia pada daddy dan bunda," ucap Abrar.
"Abang aku memang yang terbaik," puji Mikaila sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Sayang. Apa jadinya karyawan perusahaan Rama itu jika melihat bos baru mereka adalah anak kandung Rama sendiri yang baru berusia 10 tahun yang akan memimpin sendiri perusahaannya?" tanya Mark.
"Tentu saja kisah Abrar ini akan menjadi santapan para netizen yang siap untuk menyerang putraku. Entah itu komentar positif atau negatif," ucap Alea.
__ADS_1
"Abrar."
"Iya daddy."
"Selain perusahaan ayah kalian yang kalian ambil, apakah masih ada lagi yang kalian ambil?" selidik Mark.
"Aku benar-benar membuat ayah dan kakek juga nenek aku yang sudah bebas dari penjara itu tinggal di jalanan. Dengan begitu keangkuhan mereka dulu yang menuhankan uang kini uang yang telah menghinakan mereka," balas Abrar.
"Jadi, apakah kamu tahu di mana ayah dan orangtuanya tinggal sekarang?" tanya Alea.
"Katanya di kontrakan kecil di dalam gang sempit. Karena ayah tidak punya apapun lagi," ucap Abrar.
"Ya Allah. Kenapa bisa jadi seperti ini?" sesal Alea yang tidak menyangka Abrar memperlakukan ayah dan kedua kakek dan neneknya menderita.
"Jika dulu bunda masih bisa menyewa apartemen murah untuk bertahan hidup bersama bibi Sari saat mengandung kami tapi tidak dengan ayah yang harus menerima karmanya," timpal Azira.
"Tapi, kehidupan kita yang sesudahnya sangat bahagia, bukan?" tanya Alea.
"Itu karena Allah membalas kebaikan bunda dengan mengirim daddy Mark sebagai malaikat penolong kita, bunda," ucap Abrar membuat Mark tersentuh.
"Itu tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang Daddy dapatkan kebahagiaan dari kalian bertiga," balas Mark.
"Tunggu dulu....! Sebenarnya kakak Azira dan Abang Abrar mempunyai ayah lain dan bukan Daddy?" tanya Mikaila dan Mikail ikut mengangguk.
"Iya sayang. Kita ini saudara tiri," ucap Azira memberitahu adik kembarnya yang selama ini belum tahu kalau mereka hanya satu ibu beda ayah.
"Astaghfirullah. Aku pikir kakak dan Abang anak kandung daddy," kesal Mikail.
"Wajah kami tidak memiliki kesamaan dengan daddy Mark. Harusnya kalian sudah mengerti kalau dari segi fisik kita sudah berbeda," ucap Abrar.
"Tapi dari segi sikap dan kejeniusan sepertinya kita sama, abang," ucap Mikaila.
"Tentu saja sama karena kalian memiliki bunda yang super hebat. Bunda siapa....?" tanya Mark dengan suara kencang penuh semangat.
"Bunda Aleaaaa....yeeeee...!" pekik keempatnya membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Pramugari yang melihat kelurga kocak itu hanya tersenyum. Mereka mendorong kereta makanan untuk menyiapkan hidangan makan malam untuk keluarga itu.