
"Terimakasih daddy, bunda. Tapi, kami tetap butuh konsultasi dengan Daddy dan bunda selain dukungan dan doa," ucap Abrar.
"Oh tentu. Itu harus, sayang. Sehebat apapun kalian, buat bunda dan daddy kalian adalah anak-anak kami yang sangat manis dan perlu dilindungi," ucap Alea.
"Walaupun sebentar lagi kalian akan memiliki adik kembar, percayalah cinta dan perhatian kami pada kalian berdua tetap menjadi nomor satu. Ok..!" ujar Mark penuh makna.
"Daddy memang yang terhebat dan juga bunda," puji Azira.
"Wah. Masakan Bunda sangat lezat hari ini," puji Abrar yang sudah menyelesaikan makanannya.
"Alhamdulillah. Kalian menyukainya. Nah, sekarang kita sholat dhuhur berjamaah. Daddy yang jadi imamnya. Sekarang ganti baju dan kita langsung ke mushola. Jangan lupa panggil bibi Sari!" pinta Alea pada putrinya Azira.
"Ok. Bunda!"
Dalam beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di mushola yang terletak di depan mansion milik Mark yang sengaja dibangun Mark untuk kelurganya dan juga teman-teman Alea yang muslim jika berkunjung ke rumah mereka.
Usai menunaikan sholat dhuhur berjamaah, kini Abrar dan Azira sedang ngobrol berdua tentang perusahaan milik mereka yang saat ini mereka rencanakan untuk mengambil alih perusahaan milik ayah kandung mereka sendiri yang berada di jakarta, yaitu perusahaannya Rama.
Keduanya memang ingin menjatuhkan ayah mereka secara perlahan hingga saham Rama sudah mereka borong dan perusahaannya sampai dinyatakan bangkrut. Itulah yang sedang di rencanakan oleh si kembar.
"Abrar. Bagaimana nasib ayah kita jika perusahaan induk miliknya kita yang duduki?" tanya Azira.
"Kita akan menyingkirkannya terlebih dahulu. Kita ambil mansion miliknya dan semua aset tidak bergerak yang masih dimilikinya saat ini yang akan menjadi milik kita. Di saat itu kita akan memintanya bekerja di perusahaan kita sebagai karyawan biasa," ucap Abrar.
"Apakah kita tidak dianggap keterlaluan dan durhaka kepada ayah kita sendiri?" tanya Syakira sedih.
__ADS_1
"Apakah dia mengeluarkan satu sen saja uangnya saat kita menjalani operasi di Amerika? Ataukah dia menyatakan akan menggantikan semua biaya persalinan dan operasi kita jika dia kekeh ingin merebut kita dari bunda?" Abrar balik bertanya pada saudara kembarnya itu.
"Tapi, aku lama-lama tidak tega pada ayah, Abrar. Dia sudah tidak mendapatkan kita dan sekarang kita merampas perusahaannya dengan membeli sahamnya," keluh Azira.
"Kalau mau balas dendam, jangan setengah hati. Pikirkan tentang perjuangan bunda saat membuat kita sembuh! Dengan begitu kamu tidak akan merasa kasihan padanya. Kita hanya menunggu 4 tahun lagi saham itu akan meningkat pesat beberapa kali lipat di luar prediksi awal," ucap Abrar.
"Baiklah. Aku tidak akan menghalangi niat kamu untuk menjatuhkan ayah. Mungkin dengan cara itu dia akan datang bersimpuh padamu untuk meminta maaf," ucap Azira seakan sedang menyadarkan Abangnya agar tidak melanjutkan niat abangnya itu yang mau menghancurkan ayah mereka.
Azira kembali ke kamarnya sendiri karena ingin fokus dengan penelitiannya. Sebenarnya dia ingin punya lab sendiri untuk melakukan penelitian dengan melakukan uji coba hasil temuannya berupa formula baru sebagai obat untuk penderita jantung.
Rupanya, Azira mengambil dua jurusan sekaligus. Yaitu kedokteran dan farmasi teknologi dan sains. Azira harus melewati serangkaian praktikum untuk bisa menghasilkan obat atau mengembangkan obat yang sudah ada melalui teknologi canggih tersebut.
Untuk membangun laboratorium dalam tujuannya, Azira butuh tanah yang cukup luas dan dia ingin tanah cukup luas itu bisa ia tanami beberapa jenis ramuan obat yang menjadi cikal bakal dalam menemukan formula obat baru khusus penderita sakit jantung.
...----------------...
"Tante. Apakah aku tidak bisa memiliki putra Tante? Bukankah Tante sendiri yang menjodohkan aku dengan Mark. Kenapa Tante membiarkan Mark menikahi perempuan kampungan itu yang suaminya sendiri membuangnya?" ucap Claire mengadu pada nyonya Stevani yang hanya bisa mendengar ocehan Claire.
"Dia sebentar lagi akan memiliki anak dengan wanita itu, Claire. Kamu bisa mencari pria lain yang baik dari Mark," bujuk nyonya Stevani.
"Aku bisa mengandung anaknya Mark Tante. Aku bisa memberikan Tante cucu. Tolong lakukan sesuatu untuk membuat mereka bercerai!" pinta Claire.
"Tanpa kamu minta, Tante sudah melakukannya. Tapi, Mark sangat mencintai wanita itu. Sebentar lagi mereka akan memiliki bayi kembar. Dan Tante tidak tega untuk memisahkan mereka Claire," ucap nyonya Stevani memberi pengertian pada Claire.
"Aku siap memelihara anaknya Mark dari wanita itu jika Mark berhasil menceraikan Alea, Tante!" kekeh Claire membuat nyonya Stevani berpikir keras atas saran bagus dari Claire.
__ADS_1
"Tante tidak janji, sayang tapi Tante akan usahakan agar Mark meninggalkan Alea dan menikahimu," ujar nyonya Stevani membuat Claire terharu penuh kemenangan.
"Uhhh Tante...aku yakin Tante akan memilihku walaupun Mark saat ini sudah memiliki wanita itu," ujar Claire memeluk nyonya Stevani sambil menempelkan wajah nyonya Stevani ke pipinya.
"Tapi, ada yang perlu kamu ketahui, Mark sudah memeluk keyakinan yang sama dengan istrinya. Sementara agama yang dianut mereka, tidak akan menikah dengan orang yang tidak sepaham dengan keyakinan mereka kecuali orang-orang tertentu yang nekat ingin bersama dengan kawin campur," ucap nyonya Stevani mengingatkan Claire.
"Aku yakin, Mark tidak sungguh-sungguh menjalani keyakinannya itu. Cepat atau lambat dia akan meninggalkannya," ucap Claire penuh keyakinan.
"Entahlah."
Nyonya Stevani seakan sedang berperang dengan batinnya sendiri. Entah mengapa dia merasa Claire sedang memanfaatkannya demi satu tujuan. Apa lagi saat ini, Alea sedang hamil tua dan tidak boleh mengalami setress.
Sementara suaminya tuan Charles belum mengetahui kalau Mark pernah membawa kelurga kecilnya ke Austin.
"Apakah perbuatanku ini dianggap biadab karena memisahkan putraku dengan wanita itu?" batin nyonya Stevani menatap nanar wajah Claire.
"Tante. Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Aku mohon lakukan secepatnya agar kami bisa menikah tanpa menunggu mereka harus bercerai. Jika tidak, aku akan bunuh diri!" ancam Claire membuat nyonya Stevani tersentak.
"Claire...! Jangan nekat seperti itu..! Kamu tahu sendiri kalau putraku sangat keras kepala jika di intimidasi olehku. Yang ada bukan kamu bisa menikah dengannya, justru dia akan membuat kamu tidak bisa berjalan atau bisa saja mati.
Kamu tahu bagaimana dunia mafia, bukan? Penyelesaian mereka hanya dengan kematian," ucap nyonya Stevani mengingatkan Claire yang sempat termangu.
"Itu tidak akan terjadi, kalau kita bermain apik Tante. Asalkan Tante mendukungku, aku akan melakukan sisanya. Bukankah aku juga putri seorang mafia?" balas Stevani menyeringai licik.
"Tapi, jangan coba-coba menyentuh putraku dengan kekerasan, Claire! Aku hanya punya dia," ucap nyonya Stevani yang tahu Claire tidak main-main dengan ucapannya.
__ADS_1
"Aku bukan hanya membunuh putramu, tapi aku juga akan melenyapkan bayi kembar yang ada di perut menantu sialan mu itu..!" batin Claire penuh rencana licik.