
Pagi itu, didampingi kedua orangtuanya, si kembar mendatangi perusahaan yang merupakan bekas perusahaan milik Claire yang kini menjadi milik Azira.
Wartawan yang belum mengetahui sosok CEO perusahaan baru itu tampak menunggu dengan sabar. Kamera dan mikrofon siap ditangan mereka. Banyak memo yang sudah mereka siapkan untuk bahan wawancara dengan pemilik baru perusahaan itu.
Ketika mobil milik Mark berhenti tepat di depan lobi perusahaan, wartawan sedikit termangu melihat sosok pengusaha hebat itu turun dari mobilnya bersama kelurga tercinta.
Sedetik kemudian, wartawan tersenyum dan mulai membidikkan kamera mereka ke arah Mark yang masih berdiri disamping mobilnya dengan menggandeng tangan Abrar.
Mark membiarkan wartawan puas mengambil foto mereka selama 3 menit. Kemudian mereka melangkah menuju meja panjang yang sudah disiapkan oleh pihak perusahaan di depan lobi untuk mereka melakukan konferensi pers.
Semuanya duduk di kursi yang sudah disiapkan. Hanya anehnya justru Azira dan Abrar yang duduk di tengah di mana semua mikrofon milik wartawan mengarah kepada si kembar.
"Tuan Mark...! Apakah benar kalau tuan Mark sendiri yang merebut perusahaan mantan kekasih tuan Mark yaitu nona Claire?" tanya sang wartawan.
"Apakah kalian tidak ingin mendengarkan CEO baru perusahaan ini bicara?" tanya Mark untuk memperingatkan para awak media itu.
Semuanya tampak tenang dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Mark membisikkan ke kuping putrinya Azira untuk segera berbicara. Bagi wartawan Azira bukan lagi sosok baru untuk mereka karena mereka sudah sering bersentuhan dengan gadis cantik itu.
"Bicaralah sayang! Mereka sedang menunggumu," titah Mark pada Azira yang langsung mengangguk.
"Baik Daddy."
Azira sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan mikrofon wartawan dan mulai berbicara. Para wartawan mulai bingung dan saling menatap satu sama lain dengan satu pertanyaan di kepala mereka kini.
"Apakah benar sang komposer Azira adalah CEO baru perusahaan itu?"
"Bukankah dia hanya seorang komponis berbakat yang saat ini sedang digeluti gadis kecil itu? Kenapa malah sekarang jadi CEO? Bisa apa dia?" ucap sang wartawan meremehkan kemampuan Azira.
"Apakah kalian bisa diam dulu sebentar untuk mendengarkan nona Azira bicara?" omel rekan sesama mereka dari wartawan lainnya.
Keduanya saling menyikut sambil meletakkan telunjuk di bibirnya agar di suruh tenang. Azira mengucapkan salam pembuka dan memberikan pengumuman di kalangan awak media yang hadir di perusahaannya itu.
__ADS_1
"Perkenalkan saya adalah pemilik baru perusahaan ini sekaligus CEO perusahaan ini. Pasti kalian sudah mengenal siapa saya, bukan?Jadi, saya tidak perlu lagi memperkenalkan nama saya pada kalian.
Perusahaan ini akan berganti nama dengan Alea company. Nama yang sama menjadi brand baru di produk kosmetik kami dengan motto baru yaitu
"Body language is the true beauty of a woman," ucap Azira
"Apakah ada filosofi dari motto baru produk kosmetik anda, nona Azira?" tanya sang wartawan.
"Dengan bahasa tubuh dimulai dari wajah tanpa ekspresi atau datar hingga memiliki senyum menawan tidak bisa mencerminkan kepribadian orang itu.
Jika terlihat baik ramah pada setiap orang namun hatinya menyimpan banyak racun akan ketahuan juga bagaimana dia berucap melalui bahasa tubuhnya. Tanpa make-up pun wanita sudah terlihat cantik. Tapi, jika memiliki perangai buruk, maka nilai kecantikan yang dimilikinya akan berkurang," jelas Azira lebih detail.
"Apakah nona Azira yakin bakalan mampu menyaingi beberapa perusahaan lain dengan produk yang sama?" tanya sang wartawan.
"Kami akan mengupayakan dengan beberapa gebrakan baru yang menyesuaikan kebutuhan pasar dengan memperkenalkan produk kosmetik kami yang lebih terjamin pemakaian di kulit dari usia remaja hingga usia dewasa.
Jadi, intinya kami akan memperkenalkan lagi produk baru kami ini lebih fokus kepada kesehatan kulit mulus tanpa ribet dengan perawatan dari klinik dokter kecantikan. Waktu yang akan menilai hasil yang dipakai oleh konsumen," jelas Azira.
"Bukankah usianya masih relatif muda? Mengapa perkataannya kedengarannya sangat dalam melebihi pemikiran orang dewasa?" celetuk wartawan.
"Apa yang anak itu makan? Aku kira Abangnya saja yang hebat. Ternyata Azira sama hebatnya dengan Abrar."
"Aku rasa sudah cukup kalian mengorek informasi dariku. Jangan terlalu memaksaku untuk memuaskan keinginan tahun kalian demi menjual berita.
Ok, permisi..! Kami mau mengadakan rapat dengan para dewan direksi. Mohon pengertiannya...! Terimakasih atas perhatiannya," ucap Azira segera beranjak dari tempat itu diikuti keluarganya.
Wartawan tidak lagi mengajukan pertanyaan apapun kepada Azira maupun keluarganya karena mereka tahu gadis kecil itu tidak begitu senang dengan meladeni banyak pertanyaan dari wartawan.
Di dalam perusahaan, tepatnya di ruang kerjanya, Azira sangat senang dengan nuansa baru di ruang kerjanya yang bernuansa coklat kayu dan beberapa pot bunga hidup di setiap sudut ruangannya.
Alea dan Mark merasa takjub dengan selera Azira yang sudah mengatur segalanya sesempurna mungkin dengan desain interior ruang kerjanya agar tetap terlihat nuansa istana putri kerajaan sesuai dengan usianya saat ini.
__ADS_1
"Pemikirannya saja yang dewasa, tapi tidak dengan kebutuhannya yang masih anak-anak di mata kita, sayang," ucap Alea pada Mark.
"Mereka hanya anak kecil yang disulap menjadi orang dewasa. Tidak apa, sayang. Justru mereka tidak keluar dari fitrah mereka sebagai anak-anak yang masih membutuhkan kedua orangtuanya," jawab Mark.
"Apakah tidak jadi meeting pagi ini, nona Azira?" tanya Barack yang menjadi asisten sementara Azira yang ditunjuk oleh Mark sampai Azira menemukan sendiri asisten barunya.
"Apakah mereka sudah berkumpul semua uncle Barack?" tanya Azira.
"Sudah. Hanya tinggal menunggu nona Azira dan Abrar saja," ucap Barack.
"Baik. Ayo bunda, daddy..! Kita ke ruang meeting sekarang. Azira juga belum begitu paham dengan letak setiap ruangan penting dalam gedung ini," ucap Azira.
"Baik sayang."
Semuanya ke ruang meeting. Di dalam sana, sudah ada 10 orang dewan direksi yang ditunjuk langsung oleh Abrar dan Azira untuk mengawasi dan mengembangkan perusahaan yang akan dijalankan oleh mereka nanti.
Agar tidak terjadi salah paham lagi, Mark, Alea dan Abrar tidak ikut masuk ke dalam ruang meeting sampai Azira memperkenalkan dirinya sendiri kepada dewan direksi perusahaannya.
Ketika pintu ruang meeting itu dibuka oleh Barack, Azira masuk berjalan menuju tempat duduk utama untuk dirinya. Wajah-wajah dewan direksi itu sempat termangu antara heran dan bangga melihat Azira yang sangat terkenal itu datang ke perusahaan itu lalu menyapa mereka dengan penuh wibawa.
"Hallo ...! Selamat pagi semuanya...!" sapa Azira yang langsung dijawab oleh karyawannya yang memiliki jabatan ke 3 setelah para memegang saham.
"Kenalkan nama saya Azira. Saya adalah pemilik baru perusahaan ini dan sekaligus menjadi CEO perusahaan ini. Mohon kerjasamanya selama kita menjalankan perusahaan ini.
Walaupun usia saya di mata kalian masih kecil, tapi kemampuan saya melebihi kapasitas kalian. Semoga kalian tidak merendahkan keberadaan saya disini sebagai bos baru kalian.
Jika kalian berusaha mengkhianati saya, maka saya tidak akan segan memecat kalian dan langsung saya kirim ke penjara," tegas Azira memberikan kesan pertama pada dewan direksi internal perusahaan miliknya ini.
"Siap nona..!" jawab mereka kompak.
"Bagus."
__ADS_1