Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
60. Peringatan Untuk Claire


__ADS_3

Setelah merasa aman dari teror Mark yang tidak lagi menghantui hidupnya, kini Claire melakukan aktifitasnya seperti biasa. Walaupun begitu, ia juga mengerahkan orang-orang terbaik pilihannya untuk menjaga dirinya dari serangan anak buahnya Mark yang mungkin saja menyerangnya tiba-tiba.


Jika Mark belum bisa memberi pelajaran pada Claire untuk membuat wanita itu jera, tidak dengan si kembar Abrar dan Azira yang ingin membalaskan perbuatan Claire pada ibu mereka dengan membuat perusahaan wanita itu jatuh dalam sekejap.


Sama halnya yang mereka lakukan pada ayah kandungnya Rama. Keduanya cekikikan sendiri saat menjatuhkan perusahaan Claire hingga sahamnya ikut meluncur deras membuat Azira langsung membeli saham itu sebanyak mungkin.


"Wanita ini ingin bermain secara halus untuk membunuh ibu kita, maka dia harus menerima konsekuensinya untuk mengurangi kadar keangkuhannya," ucap Azira begitu saham dari perusahaan Claire itu sudah berpindah ke perusahaannya.


"Iya Azira, ini baru peringatan awal untuk Claire. Baru perusahaannya yang kita jatuhkan setelah itu rumah sakit miliknya yang akan kita ambil alih," ucap Abrar ikut menikmati kehancuran rival Bundanya mereka.


"Ternyata bermain penuh tipu muslihat itu sangat menyenangkan dengan wanita serakah dan jahat seperti Claire," timpal Azira.


"Kak, kita main sama adik kembar yuk..!" ajak Azira begitu urusan mereka selesai.


"Ayo...! Kita bergabung dengan adik kembar, bunda dan daddy. Tapi, kamu tidak boleh keceplosan lagi pada bunda dan Daddy tetang misi kita yang barusan," ucap Abrar.


"Insya Allah kak. Ada saat yang tepat untuk kita buka mulut pada kedua orangtua kita. Tapi, bagaimana dengan urusan perusahaan ayah kandung kita?" tanya Azira yang belum tahu lagi perkembangannya.


"Dua tahun lagi perusahaan induk yang di kelola tuan Rama akan kita ambil. Aku sedang mencari nama samaran untuk mengambil alih perusahaan tuan Rama menjadi atas namaku. Lagi pula, harga saham ini belum begitu signifikan untuk bersinergi dengan perusahaan benefit lainnya. Paling kita tunggu tiga tahun lagi untuk melihat harga saham itu melejit hingga keuntungan yang kita dapat akan meningkat 3 sampai 4 kali lipat," ucap Abrar.


"Itu berarti sekitar puluhan triliun akan kita raih keuntungannya jika kita menunggu sampai tiga tahun lagi saham itu akan naik?" tanya Azira.


"Iya benar. Kita sesuaikan dengan kebutuhan permintaan pasar dengan begitu kita bisa mencapai target yang kita inginkan. Kita harus melihat apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia tiga tahun yang akan datang dengan teknologi yang setara dengan kualitas sumber daya manusia di Indonesia yang akan kita rekrut untuk bekerja di perusahaan kita," ucap Abrar.


"Berarti kita juga melakukan perombakan karyawan yang bisa kita didik sendiri kinerja mereka untuk mencapai prosentase keuntungan perusahaan?" tanya Azira.

__ADS_1


"Tepat sekali adikku sayang. Kadang kita harus menjadi raja tega untuk mendidik seseorang dengan pemikiran maju dan memiliki loyalitas tinggi. Dengan begitu negara akan maju dan bisa bersaing dengan negara lainnya seperti negara yang kita menetap saat ini," timpal Abrar.


"Ok kakak...!" keduanya terkekeh saling bergandengan tangan untuk menemui kedua orangtua mereka.


Alea sedang menyusui baby Michail. Sementara baby Mikaila sedang anteng dalam pelukan si daddy.


"Kalian sedang apa?" tanya Alea sambil membaringkan baby Michail di boks bayi.


"Sedang baca buku trus main game," ujar Abrar.


"Apa rencana kalian untuk ke depannya?" tanya Alea.


"Pingin jadi pengusaha seperti Daddy Mark," jawab Abrar.


"Pingin jadi dokter seperti Daddy Mark," ucap Azira.


"Nanti saja bunda kami pikirkan lagi. Bukankah usia kami masih terlalu muda untuk memikirkan terjun ke dunia pemerintahan dan juga politik? Lagi pula berdebat dengan orang dewasa itu sangat memusingkan apalagi orang dewasa yang otaknya hanya setengah tiang tapi sok pintar," ucap Azira.


"Ok deh. Tapi, kalian dilahirkan ke dunia ini punya tanggung jawab untuk umat manusia. Apa yang kalian bisa kontribusikan untuk bangsa Indonesia lakukan dengan cara kalian harus masuk ke dunia pemerintahan. Banyak pengusaha sukses yang masih mau mengabdi untuk negaranya," ucap Alea.


"Insya Allah bunda. Nanti kalau usia kami sudah cukup untuk diterima menjadi ASN," sahut Abrar.


Alea tersenyum mendengar jawaban cerdas si kembar yang sangat kritis. Mark yang sedang nonton berita bisnis di kamarnya meminta Abrar untuk mengeraskan suara televisi.


Tidak lama terdengar berita tentang perusahaan milik Claire jatuh. Mark mengernyitkan keningnya karena beberapa Minggu yang lalu perusahaan itu sedang dilirik oleh banyak investor yang ingin bergabung dengan perusahaan Claire. Alea melirik wajah suaminya yang terlihat heran. Sementara si kembar saling melirik sambil mengulum senyum mereka penuh kepuasan.

__ADS_1


"Kenapa perusahaan wanita itu bisa jatuh bangkrut dalam sekejap?" tanya Mark lirih.


"Mungkin saja dia melakukan kecurangan hingga karyawannya banyak mengkhianatinya. Kalau orang jahat itu pasti dihukum dengan cara yang lebih sadis," desis Alea.


"Perang belum di mulai tapi dia sudah kalah duluan. Itu yang aku inginkan," timpal Mark menarik sudut bibirnya.


Sementara di rumah sakit milik Claire, gadis ini harus meremas dadanya karena tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan perusahaannya. Ia yang selama ini terlalu sibuk di perusahaan tidak mengontrol lagi jalannya perusahaan. Hanya mendengar angka-angka dengan nominal besar yang membuatnya puas.


"Astaga..! Ini tidak mungkin. Padahal perusahaanku sedang berada dipuncak kesuksesan. Apa yang terjadi dengan CEO Leonardo? Apa yang dia lakukan hingga perusahaanku tiba-tiba kolaps?" maki Claire merutuki kinerja CEO perusahaan miliknya itu.


Ia menghubungi CEO perusahaannya itu tidak diangkat juga teleponnya. Kesabaran Claire sudah setipis tisu. Wajah itu yang tidak pernah memperlihatkan raut menakutkan kini sudah berubah seperti nenek sihir yang siap melayangkan tongkatnya untuk menyihir orang menjadi apa saja yang diinginkannya.


Langkahnya yang terlihat terburu-buru menuju lobi rumah sakit setelah menghubungi sopir pribadinya untuk menjemputnya.


"Kita ke perusahaan sekarang!" titah Claire.


"Tapi nona, banyak wartawan yang saat ini sedang berkerumun di depan lobi perusahaan sedang menunggu anda. Apakah nona sudah siap memberikan klarifikasi tentang perusahaan milik nona?" tanya Harry.


"Akan aku hadapi. Seorang Claire tidak boleh gagal dalam hal apapun," pekik Claire melampiaskan amarahnya pada sang sopir yang hanya mengangguk pasrah.


"Ba...baik nona."


Mobil mewah itu meluncur ke perusahaan Claire. Wanita ini memantau harga sahamnya yang terus merosot.


Tiba di perusahaan, kilat kamera dari para awak media mengarah ke wajah Claire yang baru turun dari mobilnya. Tanpa ada perasaan, para wartawan itu sudah menodong Claire dengan berbagai macam pertanyaan.

__ADS_1


"Nona Claire apakah ada masalah dengan investor nakal yang saat ini sedang menawarkan diri untuk bergabung dengan perusahaan anda yang membuat perusahaan anda bangkrut?" cecar wartawan membuat emosi Claire membeludak.


"Kalian senang sekali menciptakan opini tanpa konfirmasi. Kalau mau jadi peramal undur diri saja sebagai wartawan," sarkas Claire membuat para wartawan terdiam karena ucapan Claire seakan mematikan urat berani mereka saat itu.


__ADS_2