Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
80. Tempat Kerja Baru


__ADS_3

Pesawat jet pribadi milik Mark, tiba di New York pukul 8 malam. Mark menggendong Mikaila dan Barack menggendong Mikail turun dari pesawat bersama Alea yang menggandeng tangan putrinya Azira.


Putri cantik Mark ini masih belum move on karena pikirannya masih dipenuhi oleh wajah tampan ayahnya yang membuatnya terus merindu dan merindu.


Keluarga itu menaiki mobil yang sudah menjemput mereka di bandara oleh Barack sendiri. Wajah Azira yang tampak murung dengan tatapan matanya tertuju pada ponselnya di mana dirinya yang asyik menonton rekaman video kebersamaan dirinya dan sang ayah.


Baru kali ini ia merasakan kerinduan pada seseorang dan orang pertama yang ia rindukan adalah ayah kandungnya sendiri.


"Apakah kamu masih merindukan ayahmu, sayang?" tanya Alea hati-hati.


"Iya bunda. Tapi, Azira sudah mendapatkan cinta ayah. Bunda tenang saja..! Azira tidak minta sama bunda ingin tinggal sama ayah. Azira tetap disini bersama bunda, Daddy Mark dan adik-adik," ucap Azira terdengar berat hati karena tahu kalau bundanya tidak akan mengijinkan dirinya untuk tinggal bersama ayahnya di Indonesia.


"Alhamdulillah. Terimakasih sayang. Kamu tetap memilih untuk tinggal bersama bunda," Alea memeluk putrinya.


Azira menahan beban kesedihannya karena merasa bundanya begitu egois. Entah karena dendam atau sayang, hingga bundanya hanya mengijinkan dirinya boleh menginap semalam saja di kediaman ayah kandungnya. Itupun karena tempat tinggal ayahnya sudah layak dihuni yaitu apartemen.


Kalau dia tidak memikirkan untuk membeli apartemen itu untuk ayahnya, dia tidak akan bisa berduaan dengan ayahnya untuk melepaskan kerinduan mereka untuk terakhir kalinya.


"Apakah kamu akan langsung bekerja besok pagi, Azira?" tanya Alea.


"Iya bunda. Kalau berada di rumah, pikiranku pasti tertuju pada ayah," sahut Azira apa adanya.


"Baiklah. Tidak apa sayang...!" Alea menarik nafas berat melihat putrinya hanya memikirkan mantan suaminya itu dan kurang bersemangat bicara dengannya.


"Bunda. Bunda punya daddy Mark dan adik kembar yang membuat bunda tidak kekurangan apapun karena bunda pasti sangat bahagia setiap saat. Tapi, bagaimana dengan ayahku..? dia sendirian di sana dengan kakek nenek ku yang sudah sepuh. Belum tentu kak Abrar mau menerimanya.


Dan itu yang membuatku sedih," batin Azira seraya memejamkan matanya karena bulir bening itu kembali memenuhi kelopak mata indahnya.


Di Jakarta, pagi itu, untuk pertama kalinya Rama mendatangi tempat usaha barunya, di mana dirinya akan memulai bisnisnya sebagai penjual mobil berkualitas standar untuk masyarakat golongan menengah hingga mobil mewah untuk golongan sekelas konglomerat.


Karena di showroom mobilnya menyediakan juga mobil buatan Eropa keluaran baru yang menjadi daya tarik para konglomerat yang selalu menyesuaikan gaya hidup mereka. Para staff yang ada di showroom mobil itu menyambut kedatangan Rama sebagai bos baru mereka karena mulai hari ini mereka baru meresmikan pembukaan showroom mobil baru untuk para konsumen yang akan mengunjungi tempat mereka nanti.


"Selamat datang tuan Rama...! Kenalkan saya asisten pribadi anda yang akan melayani kebutuhan anda untuk mengelola showroom mobil ini," ujar Tomy.


"Apakah putriku yang merekomendasikan kamu untuk bekerja denganku?" tanya Rama sambil berjalan menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


"Bukan tuan. Tapi, putra anda Abrar," ucap asisten Tomy membuat Rama menghentikan langkahnya dan menengok ke arah Tomy yang berjalan di belakangnya.


"Apaaa....? Putraku sendiri yang memilihmu untuk menjadi asisten pribadiku?" sentak Rama tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari pengakuan Tomy.


"Iya tuan. Bukan hanya saya saja, bahkan semua karyawan yang akan membantu tuan itu, semuanya atas rekomendasi tuan Abrar yang menyeleksi sendiri staf untuk bekerja di sini," jawab Tomy.


"Baik. Kalau begitu aku harus menemui putraku karena aku sudah mendapatkan surprise darinya," ucap Rama terlihat bahagia walaupun ia tahu kalau putranya belum tentu akan menerima kedatangannya di bekas perusahaannya itu.


"Tapi tuan. Anda harus ke ruang kerja anda dulu karena desain interior ruang kerja anda adalah pilihan putri anda sendiri," ucap Tomy.


"Baiklah. Ayo kita ke sana!" ucap Rama terlihat begitu semangat.


Rama masuk ke ruang kerjanya itu saat Tomy membukakan pintu bercat kayu mahoni itu. Di dalam sana sudah tergantung foto Azira yang sedang dicium oleh ikan lumba-lumba dan dirinya. Rama tersenyum melihat foto lucu dan menggemaskan itu saat pertama kali mereka berkunjung ke Duvan Ancol.


"Bisa kamu tinggalkan aku sendiri di sini?" pinta Rama yang ingin mengenang lagi putrinya.


"Baik tuan."


Tomy menutup pintu itu. Rama segera menghubungi putrinya setelah menyesuaikan waktu Amerika dan Indonesia.


Azira yang baru saja menyelesaikan sholat isya segera meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Begitu melihat wajah ayahnya yang sedang melakukan video call dengannya, membuat dirinya sumringah. Tanpa membuka mukenanya, Azira menerima panggilan itu.


"Assalamualaikum ayah..!" sapa Azira dengan senyum terbaiknya.


"Masya Allah. Cantik sekali putri ayah..!" puji Rama setelah membalas salam putrinya.


"Apakah ayah baru masuk kantor hari ini?" tanya Azira.


"Iya sayang. Dua hari kemarin, ayah masih sedih karena ditinggal bidadari kesayangan ayah," imbuh Rama menahan air matanya yang akan kembali tumpah.


"Ayah harus bekerja keras untuk mengembalikan uang Azira. Jangan sedih terus!" canda Azira yang tidak ingin melihat ayahnya terus menerus memikirkan dirinya.


"Pastinya, sayang karena utang itu harus dibayar," canda Rama.


"Apakah ayah suka dengan pilihanku tentang desain interior ruang kerja ayah?" tanya Azira.

__ADS_1


"Apapun pilihan bidadari kesayangan ayah, pasti ayah suka," sahut Rama.


"Termasuk pilihan kak Abrar?" tanya Azira hati-hati.


"Iya sayang," lirih Rama antara bahagia dan cemas.


"Maukah ayah menemui kak Abrar?" tanya Azira.


"Akan ayah usahakan," jawab Rama meyakinkan putrinya.


"Ayah akan bahagia jika sudah mendapatkan cintanya kak Abrar. Setidaknya dia yang akan menggantikan posisi Azira saat ini untuk menghibur ayah.


Jadi ayah harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan cinta kak Abrar jika ayah tidak ingin kesepian!" dukung Azira untuk membesarkan hati ayahnya agar tidak menyerah jika saudara kembarnya itu masih sulit untuk ditaklukkan hatinya.


"Iya sayang. Insya Allah, pagi ini ayah mau menemuinya setelah melihat tempat kerja baru ayah. Terimakasih atas kemurahan hatimu putriku. Insya Allah besok ayah akan menghubungi kamu lagi dan sekarang kamu harus istirahat agar bisa bangun pagi esok hari untuk bekerja," ucap Rama.


"Iya ayah. Selamat beraktivitas dan jangan lupa baca doa nabi Musa ketika menemui Fir'aun saat bertemu dengan kak Abrar. Karena hati abangku bak Fir'aun saat ini," canda Azira lalu melambaikan tangannya pada sang ayah disertai salam dan kecupan manis untuk sang ayah.


"Selamat malam dan mimpi indah bidadari ayah tersayang. Muaahh....!"


Keduanya mengakhiri obrolan mereka. Kini Rama melakukan kunjungan ke tempat showroom mobil untuk melihat setiap unit mobil dengan merk berbeda. Rama tersenyum bahagia karena anak kembarnya itu begitu hebat dalam dunia bisnis.


"Rupanya mereka lebih hebat jika berurusan dengan dunia bisnis. Alhamdulillah ya Allah, Engkau memberikan anugerah terindah dalam hidupku melalui putra putriku yang sangat luar biasa...!" syukur Rama tanpa henti.


"Tuan. Apakah anda jadi menemui putra anda?" tanya Tomy mengingatkan lagi niat awal bosnya.


"Biar aku sendiri yang menemuinya. Tolong urus showroom ini...! Sepertinya itu pelanggan pertama kita," ucap Rama melihat beberapa mobil tamu yang baru datang ke tempatnya.


"Sepertinya begitu tuan. Alhamdulillah. Semoga mereka berniat membeli mobil kita," ujar Tomy antusias.


"Layani mereka dengan baik dan harus sabar jika mereka akan menyusahkan kalian nanti. Orang jualan harus kudu sabar menghadapi pelanggan barunya," ucap Rama seraya menepuk bahu kekar Tomy yang mengangguk patuh.


"Hati-hati Tuan!"


Rama mengendarai mobilnya sendiri menuju perusahaannya Abrar dengan penuh harapan agar putranya mau menerima kedatangannya.

__ADS_1


"Ya Allah. Mudahkan lisanku saat bicara dengan putraku. Lembutkan hatinya agar dia tahu aku sangat mencintainya," batin Rama penuh harap.


__ADS_2