
Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat saat ini. Si kembar yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahun mereka yang ke 15 tahun. 15 tahun adalah waktunya peralihan dari usia anak memasuki usia remaja di mana usia 15 tahun bagi umat Islam adalah di mulainya pencatatan amal baik dan buruk yang dilakukan oleh malaikat Raqib Atid.
Ulang tahun Azira dan Abrar diadakan di New York city karena Azira menginginkan konsep ulangtahunnya bernuansa istana putri salju karena saat ini sedang memasuki musim salju.
Azira mengundang ayahnya di ulang tahunnya ini. Sudah lima tahun keduanya memang belum pernah bertemu lagi. Walaupun begitu komunikasi keduanya tetap berjalan lancar.
Azira menghubungi ayahnya di kantornya karena ia lebih leluasa bicara apa saja dengan ayahnya di kantornya.
"Ayah. Apakah ayah akan datang ke Amerika untuk merayakan ulang tahun aku yang ke 15 tahun?" tanya Azira melalui video call yang sudah di alihkan ke layar televisi agar gambar mereka lebih terlihat jelas.
"Insya Allah sayang. Ayah akan usahakan untuk menghadiri ulang tahunmu," ujar Rama.
"Tapi, ulang tahunnya akan berlangsung satu pekan lagi. Aku harap ayah datang tidak di hari H-nya," harap Azira.
"Tentu saja. Ayah akan datang 2 hari sebelum ulang tahun kamu," ucap Rama.
"Tinggal saja di hotel milik Azira, ayah. Jangan booking hotel lagi," ucap Azira yang saat ini bisnisnya sudah merambah ke hotel.
"Iya sayang. Ayah juga ingin menghabiskan waktu bersama kamu," ucap Rama untuk menghibur putrinya yang terlihat sangat bahagia menanti kedatangannya.
"Baiklah. Aku akan menunggu kedatangan ayah lima hari lagi. Tolong jangan kecewakan Azira, ayah!" pinta Azira penuh harap membuat ayahnya hanya mengangguk sendu.
"Hmm!"
"Bye ayah!" kecupan jarak jauh yang dilakukan keduanya sebelum telepon mereka diakhiri oleh keduanya masing-masing.
Rama menyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidurnya sambil menghela nafas panjang. Bukan ia tidak ingin menghadiri ulang tahunnya Azira, masalahnya putranya Abrar masih enggan memaafkannya walaupun ia tidak menyerah untuk melakukan pendekatan dengan putranya itu namun tetap saja sia-sia.
"Apakah Azira sengaja menyatukan kami di perayaan ulangtahun mereka nanti?" batin Rama terlihat serba salah karena ia tidak ingin mengacaukan momen istimewa anak kembarnya yang kini sudah berusia remaja.
Rama akhirnya melakukan konsultasi dengan Alea sebagai ibu dari anak kembarnya yang mungkin saja punya solusi agar ia bisa mendapatkan hati putranya yang sangat keras kepala itu.
Alea yang saat ini sedang mengerjakan tugasnya di kantornya dikejutkan panggilan telepon dari mantan suaminya.
"Tumben menghubungi aku. Biasanya langsung bicara dengan Azira," lirih Alea namun menerima juga penggilan telepon dari Rama.
__ADS_1
"Ada apa...?" tanya Alea datar.
"Maaf menganggu pekerjaanmu. Apakah aku boleh meminta waktumu, sebentar!"
"Ok. Sampaikan saja..! Apakah ada yang bisa aku bantu?" tanya Alea sambil menatap laptopnya.
"Ini mengenai ulang tahun anak kembar kita," ucap Rama gugup.
"Lalu...?"
"Azira sangat berharap kedatanganku. Tapi, putraku Abrar belum bisa menerima kehadiranku dan aku juga sangat takut jika kehadiranku merusak mood putraku Abrar," keluh Rama.
"Apakah hanya itu keberanianmu untuk mendapatkan cinta putramu setelah apa yang kamu lakukan pada mereka?" ketus Alea makin membuat hati Rama menciut.
"Apakah menurutmu aku harus tetap hadir?" tanya Rama cemas.
"Berjuanglah sendiri untuk mendapatkan cinta putramu seperti aku memperjuangkan mereka agar tetap lahir di bumi ini hingga mengobati mereka menjadi anak normal seperti keinginan bodohmu dulu," sarkas Alea makin menantang Rama yang hanya bisa meneguk salivanya dengan susah payah.
Glekkk....
"Ya Allah. Tolong aku untuk mendapatkan cinta putraku, wahai Sang pembolak-balik hati hambaMu untuk putraku Abrar," lirih Rama.
...----------------...
Azira mengadakan pestanya di hotel karena teman-temannya yang rata-rata karyawannya sendiri yang sudah berusia dewasa. Hanya beberapa orang saja yang masih berusia remaja dengannya namun tetap saja dia yang paling muda diantara mereka begitu pula dengan Abrar.
Azira sedang menantikan kedatangan ayahnya yang berjanji dua hari sebelum ulang tahunnya dia sudah datang. Dan di hari yang sama Abrar juga berangkat ke New York dengan menggunakan pesawat komersial.
Menumpang di first class, Abrar dan ayahnya yang tidak sengaja berada di pesawat yang sama hanya tempat duduk mereka saja yang berbeda karena Rama duduk di kelas bisnis. Tentu saja perlakuan pelayanan oleh pramugari mereka juga berbeda.
Azira begitu gembira mengetahui Abang dan ayahnya datang bersamaan dengan pesawat yang sama.
"Baguslah kalian datang bersama dengan begitu aku bisa menyambut kalian berdua di bandara," ucap Azira meminta sang sopir yang membawa mobilnya mengantarnya menuju bandara.
Azira menunggu di ruang kedatangan penumpang sambil melirik jam tangannya. Berulangkali Azira menarik nafas karena tidak sabaran lagi untuk bertemu dengan kedua pangeran tampan dalam hidupnya.
__ADS_1
Karena penumpang first class, otomatis Abrar keluar lebih dulu melalui pintu tersendiri dari pada penumpang kelas bisnis dan ekonomi. Begitu melihat Abrar, Azira segera menghampiri saudara kembarnya itu.
"Kak Abrar...!" panggil Azira sambil melambaikan tangannya.
Abrar begitu gembira sudah bertemu lagi dengan saudaranya itu.
"Alhamdulillah. Akhirnya kakak pulang juga ke sini," ucap Azira memeluk kakaknya.
"Di mana mobilmu..?" tanya Abrar yang ingin mengangkat koper dan beberapa kardus lain sebagai oleh-oleh untuk keluarganya.
"Tunggu sebentar kak!" pinta Azira sambil cilingak-cilinguk menunggu kedatangan ayahnya yang belum muncul juga.
"Apakah kamu sedang menunggu ayah kesayanganmu itu?" ketus Abrar namun tidak membuat Azira sakit hati.
"Bagaimanapun juga dia tetap ayah kita kak. Biar Allah saja yang menghukum ayah atas perbuatannya kepada kita, tapi bukan kita yang membalas dendam padanya," nasehat Azira.
"Bantu dan sayangi dia secukupnya. Jangan terlalu berlebihan seperti orang Jakarta bilang lebay," sindir Abrar.
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti kalau seandainya ayah kita berpulang lebih dulu dari dunia ini, lantas apa yang kita dapatkan dengan dendam kepadanya selain menyesali waktu yang tak akan pernah kembali berulang," tutur Azira.
"Terserah...! Aku lebih suka melihatnya mati," sadis Abrar membuat Azira memekik.
"Kakakk....! benar ya..! Kalau nanti ada apa-apa dengan ayah, jangan pernah menunjukkan rasa pedulimu padanya," kesal Azira.
Azira meminta Abrar untuk membawa kopernya di tempat parkir di mana sopir pribadi sedang menunggu di mobil karena Abrar enggan bertemu dengan ayah mereka. Tidak lama kemudian, Rama muncul dan langsung memanggil putrinya yang berdiri membelakangi dirinya.
"Sayang...!" sapa Rama dan Azira langsung berbalik memeluk ayahnya..
"Ayah...!" pekik Azira begitu bahagia melihat lagi ayahnya. Rama yang sempat melihat putranya yang ikut menatapnya berusaha melepaskan pelukannya pada putrinya Azira karena ingin memeluk putranya juga. Namun sayang, Abrar tersenyum remeh menatap ayahnya dengan perasaan jijik
Namun semenit kemudian saat ia hendak berbalik untuk menyeberang jalan menuju ke tempat parkir, tiba-tiba mobil yang datang dari arah kanan dengan kecepatan tinggi membuat Rama segera berlari untuk menyelamatkan putranya.
"Abrarrrrt......! Awaaaaaasss.....!" teriak Rama mendorong tubuh Abrar ke depan hingga putranya itu jatuh tersungkur ke timbunan salju sementara tubuh Rama sendiri langsung tertabrak oleh mobil itu hingga terpental jauh.
"Ayahhhhhh...!" pekik Azira berlari cepat menghampiri ayahnya. Namun tidak dengan Abrar yang hanya bisa termangu melihat tubuh ayahnya yang sudah dikerumuni banyak orang dengan wajah tegang lagi pucat.
__ADS_1