Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
53. Niat Jahat


__ADS_3

Memasuki usia kandungannya yang ke sembilan bulan, Alea sudah menetap di rumah sakit milik suaminya itu. Karena harus menjalani operasi sesar, tidak perlu harus menunggu kontraksi.


Mark yang melakukan bedah sesar sendiri pada istrinya, membuat Alea merasa sangat nyaman dan tidak perlu takut akan pasca operasi nanti yang membuatnya kesulitan beraktivitas.


"Apakah nanti semuanya sesuai dengan yang kamu janjikan?" tanya Alea.


"Janji apa?" tanya Mark menyuapi Alea.


"Pasca operasi tidak akan sakit," sahut Alea.


"Insya Allah. Asalkan kamu ikuti aturan dokter," balas Mark.


"Baiklah. Tapi, kalau tidak sesuai janji kamu tahu sendiri akibatnya," ancam Alea.


"Jangan meragukan profesiku pasien cerewet!" omel Mark mengecup bibir Alea agak lama.


"Cih ..! Kamu-kan hanya melakukan operasi padaku, tapi yang merasakan hasil pasca operasinya itu, aku," protes Alea masih dengan topik yang sama.


"Berarti kamu mau melahirkan secara normal?" tanya Mark.


"Apakah boleh?" binar Alea.


"Tidak boleh. Bagian sempit itu milikku. Aku ingin kamu tetap menjalani operasi sesar," tegas Mark membuat Alea kembali sendu.


"Kenapa tanya aku kalau jawabnya tetap tidak boleh," gerutu Alea.


"Nanti malam si kembar akan menginap di rumah sakit. Aku tidak mau meninggalkan mereka berdua di rumah. Aku masih trauma meninggalkan mereka bersama bibi Sari walaupun ada banyak pelayan," ucap Mark cemas.


"Benarkah mereka bisa menemani kita di sini?" tanya Alea yang memiliki perasaan yang sama dengan suaminya.


"Benar sayang. Aku juga tidak ingin kamu gelisah memikirkan mereka. Dengan adanya mereka di sini, kita bisa tenang menantikan kelahiran adik bayi kembar mereka," ujar Mark.


"Terimakasih Mark. Kau selalu memikirkan perasaanku tentang keselamatan anak-anakku. Kamu melakukan lebih dari ayah kandung mereka," balas Alea.


"Jangan sebutkan orang ketiga dalam obrolan kita! Dan ingat...! Si kembar adalah anak-anakku dan tidak ada kata status tiri diantara kami, kamu paham sayang?" ingat Mark penuh penekanan pada kalimatnya.


"Hmm..!"


"Baiklah. Kalau begitu, kamu tidur dulu dan aku akan menghubungi Barack untuk menjemput si kembar," ucap Mark mengecup bibir Alea sesaat.

__ADS_1


"Ok."


Mark meninggalkan kamar inap istrinya dan kembali ke ruang kerjanya tidak jauh dari kamar yang ditempati Alea.


Sebenarnya ada yang Mark sembunyikan dari Alea tentang kondisi janin kembar mereka yang bermasalah. Plasenta bayi nampak lengket pada di dinding rahim yang akan menyebabkan pendarahan hebat pada Alea jika dilakukan proses persalinan normal.


Jika diberitahukan kepada Alea, wanita ini memiliki tensi darah yang cukup tinggi dan itu akan membahayakan nyawa Alea dan bayi kembar mereka.


Dua-duanya pasti tidak akan tertolong. Itulah sebabnya, Mark menawarkan operasi sesar pada Alea tanpa menjelaskan permasalahan sebenarnya karena jadwal operasinya tinggal dua hari lagi.


Sementara itu, Claire menghubungi orang kepercayaannya di rumah sakit Mark untuk mengawasi pasangan berbahagia itu.


"Ada kabar lainnya yang bisa kamu berikan padaku?" tanya Claire pada orang suruhannya itu.


"Sebenarnya, ada masalah serius yang harus anda tahu nona Claire tentang nyonya Alea."


"Apakah sangat menarik?" tanya Claire lagi.


Sang mata-mata itu menjelaskan tentang kehamilan Alea yang bermasalah pada Claire membuat Claire menarik nafas lega.


"Informasimu sangat berharga untukku. Aku akan membayarmu dua kali lipat. Terimakasih. Terus awasi keduanya dan laporkan detailnya padaku tentang apapun yang menyangkut wanita itu," ucap Claire.


Claire mengakhiri pembicaraannya. Ia menuangkan wine di gelas tangkai sambil menatap gedung-gedung tinggi yang ada di hadapannya dari ruang kerjanya.


"Selangkah lagi, kita akan bersatu Mark. Jika Alea meninggal bersama dengan bayi kembar kalian, maka si kembar anak sambungmu itu akan aku kembalikan pada ayah kandung mereka.


Bukankah ayahnya tuan Rama itu menginginkan anak kembarnya kembali dalam pelukannya?" gumam Claire bermonolog sambil menarik sudut bibirnya diikuti menaikkan satu alisnya. Ia meresapi minimum wine yang baru di teguknya.


Sementara itu Barack yang sudah menjemput si kembar dari kediaman Mark untuk di antar ke rumah sakit sesuai pesan Mark. Si kembar juga sudah mengetahui keinginan ayah sambung mereka dan itu suatu hal yang membuat si kembar makin mencintai ayah sambungnya mereka itu.


"Uncle Barack!" panggil Azira.


"Hmm...!"


"Daddy Mark tidak ada duanya di dunia ini. Jika ada perlombaan Daddy tiri terbaik di dunia, Daddy Mark adalah juaranya. Semoga Daddy Mark selalu sehat!" puji Azira setinggi langit pada ayah tirinya itu.


"Daddy kalian baik pada semua orang. Tapi tegas pada orang yang berusaha mengkhianatinya. Jadi, uncle harap kalian jangan sampai menyakiti hati Daddy Mark. Walaupun wajahnya terlihat galak tapi hatinya sangat baik," ucap Barack.


"Kami janji tidak akan mengecewakan Daddy Mark uncle Barack," ucap Abrar.

__ADS_1


"Bagus. Kalian adalah anak-anak hebatnya Daddy Mark."


Tiba di rumah sakit,si kembar menemui kedua orangtuanya mereka dulu sebelum di antar ke kamar sebelah milik mereka yang sudah disulap bak kamar hotel namun di pisah tempat tidurnya yang juga brangkar. Si kembar memang senang tidur di brangkar karena tempat tidur itu bisa disetel sesuai dengan keinginan mereka.


"Bunda. Bulan depan kami sudah wisuda. Berarti Dede bayi ikut wisuda juga?" tanya Azira.


"Kasihan dede bayi kembarnya menunggu seharian di ruang wisuda," balas Alea.


"Tapi, bunda hadirkan saat kami wisuda?" tanya Abrar karena dirinya akan memberikan pidato saat wisuda nanti namun dia tidak ingin memberitahukan kepada kedua orangtuanya dulu karena ini kejutan.


"Insya Allah sayang," ucap Alea.


Saat Alea bercengkrama dengan si kembar, Mark dan Barack sibuk dengan bisnis mereka. Keduanya sedang membahas di ruang kerjanya Mark yang ada di rumah sakit tersebut.


Tidak lama ada telepon masuk dari ponselnya Barack. Barack menerima panggilan itu yang berasal dari perusahaan milik Mark yang ada di Canada. CEO perusahaan itu terlihat panik hingga bicara dengan Barack terputus-putus.


"Bos. Ini gawat..!" ucap tuan Marcell.


"Ada apa?"


"Gudang penyimpanan mobil yang baru siap di kirim ke negara Eropa terbakar," ucap Marcel.


"Apa....? Bagaimana bisa?" tanya Barack menatap wajah Mark yang sedang bertanya padanya dengan isyarat tanpa suara.


"Sepertinya ada sabotase listrik di gudang itu yang menjadi pemicu kebakaran," ucap Tuan Marcel membuat Barack seperti mendapat serangan jantung.


"Apakah sudah ditangani oleh pemadam kebakaran?" tanya Barack.


"Tim damkar sedang jalan ke lokasi kejadian," jawab Marcell.


"Aku akan segera ke sana," ucap Barack menutupi teleponnya.


"Ada apa Barack?" tanya Mark ikut tegang melihat wajah Barack yang sangat pucat.


"Mobil baru hasil rancangan tuan yang siap di kirim ke negara Eropa saat ini sedang terbakar di gudang," ucap Barack gagap.


"Apaaaa....? Bagaimana bisa itu terjadi?" ngamuk Mark begitu syok mendengar kabar buruk itu.


"Maaf tuan. Saya harus ke sana sekarang sebelum wartawan melakukan peliputan dengan memberikan pernyataan meresahkan para investor," ucap Barack.

__ADS_1


"Aku ikut!" tegas Mark langsung masuk ke lift pribadi yang ada di ruang kerjanya yang tersambung ke lantai atas di mana helikopternya berada di atap gedung itu.


__ADS_2