
Usai menikmati permainan pianonya Azira, Mark menghampiri ibunya untuk memberitahukan kehamilan Alea.
"Mommy. Ada kabar baik dari kami untuk mommy. Saat ini Alea sedang mengandung bayi kembar kami," ucap Mark namun tidak ada reaksi binar dari nyonya Stevani tentang kabar itu.
"Mark. Mommy ingin bicara berdua saja dengan kamu di kamar mommy!" pinta nyonya Stevani tanpa menanggapi berita gembira dari putranya tentang keberadaan cucunya di kandungan Alea.
"Bicara di sini saja mommy! Tidak ada rahasia antara aku dan Alea," jelas Mark.
"Jadi, kau mau wanita ini dan anak sambung mu itu mengetahuinya juga?" tanya nyonya Stevani sinis.
"Apakah ini menyangkut dengan wanita itu?" tebak Mark yang sudah tahu arah pembicaraannya mommynya.
"Iya. Bagaimana mungkin kamu nekat menikah dengan wanita ini sementara kamu sendiri masih terikat pertunangan dengan dokter Claire?" omel nyonya Stevani membuat Mark cukup gugup jika Alea salah menanggapi ucapan mommynya.
"Kami tidak pernah bertunangan mommy dan mommy jelas tahu aku menolak pertunangan itu karena aku tidak menyukai dokter Claire sama sekali," imbuh Mark.
"Mark. Kalau bukan karena ibunya, kamu belum tentu sembuh, sayang," ucap nyonya Stevani yang berhutang banyak kepada ibunya Claire.
"Mommy. Menikah atas balas budi, hubungan itu tidak akan berhasil. Hatiku sama sekali tidak mencintai Claire. Itu akan memberi beban kepadanya," ucap Mark.
"Setidaknya dia sangat mencintaimu. Dia rela melakukan apapun untukmu. Dia menunggumu. Dia tulus padamu dan dia masih suci tanpa tersentuh karena bukan milik siapapun," ucap nyonya Stevani.
"Jadi, mommy mau bilang padaku kalau keputusanku menikahi janda anak dua salah besar?" tanya Mark masih dengan santun karena tidak ingin bersikap kurangajar pada ibunya.
"Iya. Setidaknya kamu tidak bodoh seperti ayahmu yang mendapatkan mommy," ucap nyonya Stevani yang menikah dengan pamannya Claire.
"Bodoh....? Jadi, mommy menyesal menikah dengan Daddy Charles? Mommy tidak mencintainya atau mommy masih berharap pada bajingan yang telah menelantarkan kita?" geram Mark pada ayah kandungnya.
"Ayah tirimu itu terlalu baik untuk mommy. Saking baiknya mommy merasa tidak berharga sama sekali dihadapannya. Dan mungkin perasaanku sama dengan istrimu saat ini, bukan begitu Alea?" tanya nyonya Stevani pada Alea agar membenarkan pernyataannya.
__ADS_1
Mark menatap istrinya untuk menggali kebenaran dari Alea atas pernyataan ibunya." Benar begitu, baby?" tanya Mark.
"Tidak. Aku mencintaimu dan aku merasa wanita paling bahagia di muka bumi ini tanpa ada rasa bersalah mendapatkanmu yang masih berstatus singel," timpal Alea apa adanya.
Nyonya Stevani begitu geram mendengar ucapan Alea di luar dugaannya." Ternyata kau sangat memalukan karena memanfaatkan situasi putraku karena menyukai anak kembarmu," remeh nyonya Stevani.
"Maaf mommy. Aku tidak akan melawan nalarku jika hatiku menginginkan putramu. Aku sangat mencintainya. Dan aku lebih tersiksa lagi jika dia memilih wanita lain yang berstatus gadis hanya karena Mark seorang pria lajang," balas Alea.
Mark tersenyum mendengar jawaban cerdas dari Alea yang begitu jujur pada dirinya dan juga ibu kandungnya." Good job baby," batin Mark memuji istrinya.
Nyonya Stevani yang awalnya empati pada si kembar kini beralih mengikuti amarahnya yang merasa memiliki utang budi pada kakak iparnya.
"Kau sangat keterlaluan. Menikah diam-diam dengan janda ini tanpa persetujuan mommy," omel nyonya Stevani.
Suasana menjadi hening dan Mark sangat tidak enak dengan keluarga kecilnya itu.
"Baiklah mommy. Kalau mommy keberatan dengan kehadiran kelurgaku di sini, kami akan kembali lagi New York. Terimakasih. Ayo Alea, kita pergi...!" pinta Mark mengandeng tangan Alea yang tidak bisa berbuat apa-apa karena ia juga harus menjaga emosinya karena dalam keadaan hamil.
"Mark. Jika kita pergi itu akan membuat mommy makin membenciku," ucap Alea.
"Apakah kamu mau mengulang sejarah untuk menerima penghinaan lagi dari ibu mertua dan itu adalah ibu kandungku sendiri? Aku cukup melihat bagaimana perlakuan mantan ibu mertuamu padamu yang sekarang sudah mendekam di penjara sana dan aku tidak mau kamu menjadi korban untuk kedua kalinya dari ibuku," ucap Mark ingin menyelamatkan keluarganya.
"Tapi Mark, kasihan mommy," ucap Alea yang sangat yakin jika saat ini ibu mertuanya itu sedang mengujinya saja.
"Dia sendiri sebagai wanita tidak kasihan padamu yang sedang mengandung cucunya. Aku kira nasib ibuku yang seorang janda dulu seperti dirimu akan membuat dirinya menerima kamu dengan senang hati, namun prediksi aku salah.
Jangan buang waktu untuk memikirkan orang yang tidak punya perasaan padamu walaupun itu adalah ibu kandungku sendiri," ucap Mark membuka pintu mobil untuk istrinya.
Abrar dan Azira tidak merasa terganggu dengan permasalahan kedua orangtua mereka. Mereka bisa saja bersikap kurangajar pada nyonya Stevani namun karena Mark mereka bisa menahan diri.
__ADS_1
Karena sudah menjelang malam, Mark memilih untuk menginap di hotel di kota Houston itu. Apalagi mereka sama sekali belum makan malam.
...----------------...
Di kamar hotel, setelah memastikan si kembar sudah tidur, Alea menemui suaminya yang masih berkutat dengan pekerjaannya di laptop miliknya. Ia masih butuh penjelasan Mark yang tidak pernah menjelaskan siapa Claire.
"Mark."
"Hmm!"
"Siapa Claire dan mengapa kamu tidak mau menerima gadis itu? Bukankah dia masih lajang?" tanya Alea penasaran.
"Aku tidak peduli. Dan aku rasa tidak perlu menjelaskan apapun tentang gadis itu karena dari awal aku tidak pernah mencintainya. Aku rasa kamu sudah mengetahui alasannya saat aku berdebat dengan mommy tadi sore. Jadi, tidak usah dibahas lagi," ucap Mark masih melihat layar laptopnya.
"Bagaimana kalau suatu hari nanti dia datang dan mengacaukan segalanya?" tanya Alea.
"Dia bukan istriku dan dia tidak punya hak untuk menghardik kamu. Jadi, pertahankan statusmu sebagai istriku karena kamu yang aku pilih bukan dia," tegas Mark.
Alea tersenyum. Sikap Mark yang sangat tegas dengan wajah juteknya karena memiliki prinsip hidup yang kuat. Tidak takut apapun selama berpegang teguh pada kebenaran. Itu yang sangat membuat Alea lega dan bahagia.
"Apakah kamu tidak menyesal menikahi aku hanya seorang janda, Mark?" tanya Alea.
"Bagiku kamu adalah wanita terhormat. Terlepas dari statusmu sebagai apa, aku tidak peduli. Bagiku, cinta yang aku punya untukmu menjawab semua keraguan di hatiku.
Kecuali kamu milik orang lain dan aku merebutnya, itu baru bermasalah. Selama kita sama-sama orang bebas kenapa memikirkan penilaian orang lain? Capek tahu, nggak?" cecar Mark cukup masuk akal bagi Alea.
"Benar juga apa katamu sayang. Jika hidup kita hanya berdasarkan penilaian orang lain, tidak pernah akan habisnya karena yang mereka lihat bukan dari sisi kita sebagai pasangan suami istri yang sah, tapi mereka menilai berdasarkan sudut pandang mereka sendiri yang sangat dangkal berdasarkan apa yang mereka inginkan.
Sampai kapan kita bisa bahagia kalau hanya memikirkan perasaan orang lain?" batin Alea yang mulai mengerti perasaan suaminya yang sangat mencintai dirinya dan anak kembarnya.
__ADS_1
"Ayo kita bercinta sayang..! Agar kita bisa melupakan perasaan terluka hari ini," ajak Mark.
"Astaga. Apakah setiap permasalahan yang dihadapi kita, harus menyelesaikannya dengan berakhir di tempat tidur?" tanya Alea lirih.