
Wajah pucat Rama terlihat jelas oleh Alea yang menatapnya sendu. Ada terbesit rasa iba di hati mantan istrinya itu. Jujur, kalau bisa memilih, ia tidak ingin berurusan dengan masa lalu yang membuatnya ingin membunuh Rama saat itu.
Tapi, apa daya, dirinya hanya bisa pasrah walaupun ia ingin berteriak pada dunia, ini semua tidak adil untuknya saat itu. Seakan belum puas menjatuhkan ayah kandungnya, Abrar masih meneruskan perkataannya.
"Apa kalian tahu guys..? Apa yang dilakukan ayah kandung kami saat mengetahui kami hebat melalui media informasi, ia mulai menuntut hak asuh pada ibuku dengan banyak dalih.
Padahal saat itu, ia punya kesempatan untuk meminta maaf kepada bunda dan kami atas perlakuannya dan mengakui
pada dunia kalau dia sudah salah telah menyakiti bunda kami. Sayangnya, dia hanya menginginkan kami karena kehebatan kami.
Bukan karena penyesalannya telah menelantarkan kami. Dan lebih miris lagi, uangnya sangat banyak tapi dia tidak ingin berkorban sedikitpun untuk mencari tahu keberadaan kami. Apakah ayah seperti itu, pantas kami memaafkannya?" tanya Abrar yang ingin mengatakan kepada karyawannya jika dia tidak salah merebut semua yang dimiliki ayahnya dengan trik liciknya.
"Tuan Abrar. Siapa ayahnya anda itu?" tanya staffnya yang masih penasaran dengan sosok ayah kandungnya si kembar.
"Iya. Kami ingin mengetahuinya. Ayolah...!" paksa para staffnya yang begitu geram dengan ayahnya si kembar.
"Bukankah aku tadi sudah katakan kepada kalian kalau ayah kandung kami berdua tidak mau mengakui kami sebagai anak kandungnya? Bagaimana mungkin aku harus mengatakan kepada kalian siapa ayah kandung kami itu?
Sebaiknya kalian kembali lagi ke tugas kalian masing-masing karena aku harus melihat ruang kerjaku. Satu hal lagi, jangan berusaha mengkhianatiku karena aku bisa menjebloskan kalian ke penjara," ancam Abrar membuat para staffnya terkesima.
Abrar turun dari podiumnya hendak melangkah pergi namun Rama langsung bersuara.
"Tunggu sebentar nak!" pinta Rama membuat Abrar menatap angkuh wajah ayah kandungnya itu dengan mengangkat satu alis.
Karyawan yang sempat ingin bubar terpaksa kembali berdiri di tempat mereka saat melihat Rama menghampiri Abrar dan Azira.
__ADS_1
"Apa yang tuan Rama lakukan? Apakah benar dia adalah ayah kandungnya si kembar?" bisik-bisik diantara mereka menggema di ruang lobi itu.
"Boleh ayah bicara pada kalian berdua?" tanya Rama memberanikan diri.
"Silakan ke ruang kerjaku kalau tuan ingin bicara...!" ucap Abrar datar.
"Ayah ingin bicara di depan karyawanmu tentang status hubungan kita. Apakah boleh?" tanya Rama menahan sesak di dadanya.
"Apakah itu penting bagimu saat ini tuan Rama?" sarkas Abrar.
"Sangat penting nak. Maaf ...! Mungkin ini terdengar terlambat untuk kalian berdua, tapi ayah harus mengatakan kepada kalian apa yang ayah rasakan selama ini," ucap Rama namun Abrar sudah merasa terlalu kecewa kepada ayah kandungnya itu.
"Asal tuan tahu, jika saja saat itu tuan sedikit punya hati nurani sedikit saja untuk kami, mungkin ayah akan mendapatkan lagi cinta bunda yang menanti kedatanganmu selama empat tahun, namun sayangnya tuan sempat bertemu dengannya hanya untuk menghinanya.
Tuan terlalu angkuh untuk mengembalikan semuanya pada tempatnya namun luka itu sudah sangat dalam hingga sulit bagi kami untuk memberi kesempatan kepadamu meminta maaf," ucap Azira yang saat itu mendengar percakapan Alea dan Rama di depan reston pizza beberapa tahun yang lalu.
Rama jatuh tersungkur dengan dua lutut menapaki lantai membuat Alea memalingkan wajahnya tak tega. Mark memeluk wanitanya untuk tegar menyaksikan drama memilukan hari ini.
"Ayah minta maaf atas perbuatan ayah yang sangat kejam pada ibu kalian yang saat itu sedang hamil kalian dan butuh dukungan ayah tapi, ayah dengan tega menjatuhkan talak padanya.
Walaupun dia tampil tegar di hadapan ayah, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk memelas di hadapan ayah untuk tidak menceraikannya...hiks ...hiks ..hiks!" tutur Rama dengan suara tersendat terdengar emosional yang sudah menyatu dengan jiwanya.
Abrar dan Azira menjadi serba salah melihat ayah mereka yang bersimpuh di hadapan mereka di depan banyak orang.
"Apa karena kemiskinanmu yang membuatmu sadar saat ini? apa tujuanmu?" cecar Abrar yang tidak percaya begitu saja pada ayahnya yang sudah berulang kali membuat mereka kecewa.
__ADS_1
"Ayah hanya ingin memeluk kalian. Ayah mau minta maaf. Ayah mengakui kalau kalian adalah anak kandung ayah yang jahat ini. Hanya itu yang ayah ingin katakan kepada kalian di depan semua orang. Selebihnya tidak ada lagi.
Sumpah demi Allah, ayah benar-benar menyesal nak...hiks... hiks...!" lirih Rama mencabik-cabik hati Alea dan Azira yang tidak sanggup lagi melihat kehancuran martabat Rama di depan semua orang.
"Kak...! Kasihan ayah ..!" bisik Azira lirih.
"Apakah air mata bunda yang menangis siang malam memikirkan tentang keadaan kita mampu menyentuh hatinya? Kamu mau memaafkannya..? Sana... peluk dia! Aku tidak sudi," ketus Abrar melangkah pergi menuju pintu lift.
Alea menarik tangan Mark untuk meninggalkan perusahaan itu karena hatinya tidak sanggup melihat keadaan Rama yang hancur hatinya dan juga jiwa raganya kini. Hanya Azira yang mendekati ayahnya.
"Bangunlah ayah ..! Aku lebih senang melihat ayahku yang angkuh. Jangan tampil seperti ini...! Itu sangat menyakitkanku...! Aku tahu ayah salah. Tapi, jangan merendahkan harga dirimu hanya karena kami.
Orang lain akan menghinakanmu dan itu akan berimbas padaku. Bangun ayah ...!" pekik Azira sambil mengusap air matanya.
"Ayah memang pantas menerima hukuman ini nak. Ayah tidak layak untuk menunjukkan wajah ayah pada kalian. Ayah harus membayar semua apa yang pernah ayah tebarkan kebencian di hati kalian," ucap Rama dengan masih terisak.
"Tapi, tidak dengan mempermalukan diri ayah di hadapan karyawan kak Abrar yang merupakan mantan karyawan ayah sendiri. Bangun ayahhh...!" desak Azira sambil menarik tangan ayahnya untuk berdiri.
Melihat kepedulian putrinya yang berhati lembut ini, Rama langsung memeluk tubuh putrinya dan kedua menangis histeris.
"Maafkan ayah, Azira....! Maafkan ayah, nak....! Hiks...hiks....!"
"Aku sudah memaafkan ayah. Aku kangen ayah. Aku kangen dipeluk ayah...!" ucap Azira ditengah tangisnya.
Para karyawan di usir oleh tuan Anwar dan satpam agar meninggalkan lobi dan kembali bekerja lagi. Sementara itu Abrar yang didampingi temannya Noah masuk ke ruang kerjanya. Sebagai lelaki, pantang bagi Abrar untuk menangis.
__ADS_1
Pria kecil ini hanya terdiam dengan dada naik turun menahan gejolak kesedihan hatinya yang memaksanya untuk menangis.
"Menangis saja bro! Jangan ditahan...! Kamu itu masih kecil dan masih pantas untuk menangis," ucap Noah sambil memeluk pundak Abrar yang mulai bergetar. Ia akhirnya memeluk Noah untuk menumpahkan perasaannya yang terluka. Noah hanya bisa menepuk lembut punggung Abrar untuk menenangkan sahabatnya kecilnya itu.