Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
50. Aku Tidak Peduli


__ADS_3

Usai rapat dengan para pemegang saham, Mark segera pamit kepada anggotanya untuk pulang lebih awal karena saat ini ia sedang menantikan kelahiran bayi kembarnya. Itu yang menjadi alasan Mark untuk menghindari Claire.


Mereka pun memaklumi sikap Mark karena alasan pria itu cukup logis.


"Silahkan menikmati kudapannya, tuan-tuan dan nyonya-nyonya! Jika ada yang kalian ingin tanyakan bisa langsung dengan asisten saya Barack.


Tolong maklumi karena istri saya sedang hamil tua saat ini dan saya butuh waktu untuk menemaninya sebagai suami siaga," pamit Mark seraya menepuk bahu Barack yang sudah paham niat bosnya.


"Silahkan tuan Mark! Semoga kalian dianugerahi bayi kembar yang kece!" puji tuan Austin.


"Terimakasih tuan Austin. Silahkan dilanjutkan acaranya!" ucap Mark seraya menjabat tangan tuan Austin seraya mengusap lengan tuan Austin disertai senyum pelitnya.


Mark berjalan dengan langkah lebar meninggalkan ruang meeting menuju pintu lift seraya menatap jam tangannya. Baru saja pintu lift itu tertutup, tiba-tiba harus terbuka lagi karena ada Claire yang ingin masuk ke dalam kotak baja itu.


"Kamu terlihat buru-buru sekali, Mark!" basa-basi Claire dengan wajah munafiknya.


"Sorry Claire...! Aku sudah buat janji dengan istriku. Kalau ingin bahas hal yang tidak penting denganku, sebaiknya kau lupakan saja! lagi pula kau sudah tidak penting di perusahaan ini lagi," Sarkas Mark tanpa basa-basi.


"Kenapa kamu tidak menanyakan alasanku kenapa aku bisa keluar dari kerja sama kita yang....-"


"Aku tidak peduli dengan alasanmu itu. Sedikitpun tidak ada yang penting. Buang waktu dan tenagaku," tegas Mark datar.


"Kenapa sikap kamu jadi berubah padaku? Apa salahku padamu? Kau bahkan tidak punya hati untuk bicarakan pernikahanmu itu padaku," teriak Claire penuh emosi.


"Kamu siapa hingga aku harus meminta ijin padamu untuk menikahi wanita yang aku cintai? Bukankah hubungan kita di buat oleh kelurga kita? Dan aku tidak pernah menyatakan perasaanku padamu, bukan?


Lebih tepatnya hubungan kita tidak punya komitmen sejak awal, jadi apa peduliku dengan perasaanmu," balas Mark makin menyulut emosi Claire yang ingin menampar Mark.


Mark menangkap pergelangan tangan Claire lalu mendorong tubuh gadis itu hingga terpental ke dinding lift. Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka dan Mark melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan Claire yang kesakitan. Lebih tepat sakit hati.


Claire menghentakkan kakinya penuh amarah. Namun beberapa saat kemudian, Wajah Claire cepat berubah mana kala karyawan Mark menyapanya ramah.

__ADS_1


Setelah keluar dari lift, Claire masih saja belum menyerah. Ia tetap melangkah dengan elegan dan berusaha menghadang mobilnya Mark di pintu gerbang perusahaan tersebut. Begitu mobil Mark muncul, Claire menghadangnya membuat Mark naik pitam.


Ingin rasanya ia menjambak rambut wanita itu namun akalnya masih normal. Ia segera turun membuat Claire tersenyum sesaat. Wanita ini merasa menang karena pada akhirnya dirinya yang menang.


"Masuk ..!" titah Mark yang tidak ingin menjadi pusat perhatian para


karyawannya. Claire dengan senang hati masuk ke mobil Mark. Namun Mark tersenyum smirk. Ia ingin memberi pelajaran pada Claire yang tak pernah gadis itu lupakan.


"Apakah kamu ingin mengajakku makan siang, Mark?" tanya Claire penuh percaya diri.


"Jangan terlalu percaya diri Claire! Aku sama sekali tidak bermaksud untuk berbaik hati denganmu. Aku hanya ingin menghindari pertengkaran denganmu di hadapan para karyawanku," ucap Mark.


"Berarti kamu masih menghargai ku sebagai kekasihmu, bukan?" tanya Claire.


"Ayolah Claire! Jangan membuatku tertawa. Kau terlihat sangat menyedihkan. Sejak kapan kita menjalin hubungan?" balas Mark masih bersikap tenang.


"Hubungan kita tidak perlu adanya pengakuan, Mark. Cukup kita punya rasa saling memiliki, itu saja yang aku harapkan darimu, Mark. Apakah tidak ada yang tersisa perasaanmu padaku sekali padaku?" bujuk Claire menahan air matanya yang sudah terasa sangat panas.


Claire mengepal kedua tangannya kuat dan tertangkap oleh lirikan Mark yang mengetahui Claire tidak bisa lagi terlihat sok bijak.


"Apa kelebihan wanita itu denganku, Mark? Kami sama-sama cantik dan cerdas. Hanya saja yang membedakan kami adalah status di mana dia janda dan aku...-"


"Dan kamu tukang tidur dengan beberapa rekan doktermu, bukan?" ledek Mark yang sudah mengetahui siapa Claire.


"Siapa yang telah menyebarkan kebohongan itu padamu, Mark? Karena Itukah kamu memilih menikah dengan wanita itu dibandingkan dengan aku?" tanya Claire.


"Dia memang seorang janda, tapi dia tidak murahan sepertimu. Siapa saja pria yang sudah berbagi keringat denganmu," Sarkas Mark.


Wajah Claire langsung pucat. Betapa dia merasa tidak bisa membela diri lagi karena tuduhan Mark benar adanya.


"Maafkan aku Mark. Aku melakukannya itu karena aku butuh akan itu," ucap Claire mengakui juga perbuatannya.

__ADS_1


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak meminta menikah saja dengan partner ranjangmu itu? Kenapa aku harus menerima sisanya dari mereka?" remeh Mark.


"Aku sama sekali tidak mencintai mereka Mark. Aku hanya butuh sek*s saja dengan mereka, tidak lebih. Bukankah kamu juga seorang pemain wanita? Aku tidak masalah akan hal itu," ucap Claire.


"Maaf Claire. Aku tidak akan membiarkan benihku tercecer pada rahim wanita manapun. Aku melakukannya itu atas nama cinta dan berakhir dengan saling memiliki.


Bukan mengedepankan hasrat biologis ku semata seperti yang kamu lakukan dengan beberapa pria," ucap Mark penuh penekanan pada kalimatnya.


Claire merasa tidak bisa lagi menyelamatkan hubungannya dengan Mark. Tapi, ia tidak merasa putus asa karena masih ada ibunya dan pamannya yang akan menekan nyonya Stevani.


"Baiklah, Mark. Mungkin saat ini aku tidak bisa merayu mu. Tapi, cepat atau lambat, kau akan bercerai dengan wanita itu," batin Claire.


Mark menepikan mobilnya untuk mengusir Claire." Turun...!" usir Mark membuat Claire tercengang.


"Mark. Apa yang kamu lakukan, hah?! Mengapa kamu menurunkan aku di sini?" pekik Claire mengamuk pada Mark yang sudah turun lebih dulu dan membuka pintu mobilnya agar Claire segera turun.


"Turunnn....!" bentak Mark seraya menarik lengan Claire secara paksa. Claire akhirnya turun dengan wajah cemberut.


"Kau akan membayar semua ini padaku Mark. Aku bersumpah untuk perbuatan yang memalukan ini," pekik Claire.


"Lakukan dengan cepat! Aku menanti itu," ucap Mark langsung naik lagi ke mobilnya.


"Dasar bajingan kamu, Mark!" maki Claire yang sedang berdiri di pinggir trotoar itu.


Sementara Mark mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di mansionnya untuk makan siang bersama bidadarinya. Tiba di mansion, Alea sudah menunggunya dari atas balkon kamar mereka.


Mark turun dari mobilnya sambil melambaikan tangannya pada sang istri. Beberapa menit kemudian, keduanya sudah saling berpelukan.


"Kok kamu bau parfum wanita?" ledek Alea membuat Mark syok. Ia mencium kedua lengannya secara bergantian padahal istrinya hanya mengerjainya saja.


"Berarti benar ya kamu selingkuh?" tuduh Alea.

__ADS_1


"Aisss ..! Kau hampir membuat jantungku mau copot," kesal Mark.


__ADS_2