
Cerita lima menit sebelum Azira Tiba-tiba turun lagi dari pesawat.
Co-pilot pesawat jet pribadi milik Mark yang bernama Clark, mengumumkan pada keluarga Mark untuk melakukan take-off usai bicara dengan ATC bandara setempat.
Azira yang tidak tega melihat wajah ayahnya yang menatap sedih dirinya di luar sana ke jendela pesawat dekat kursi yang ia tempati saat ini
"Ayahhh....hiks.... hiks...!" lirih Azira sambil terisak sesak.
"Sayang ..! Apakah kamu belum puas bersama dengan ayahmu?" tanya Alea yang juga ikut sedih melihat kedekatan putrinya dengan mantan suaminya itu.
"Bunda. Ijinkan Azira sekali lagi memeluk ayah...!" rengek Azira yang sudah menangis sesenggukan membuat hati Mark tidak tega.
Saat pramugari hendak menutup pintu pesawat, tiba-tiba Mark menghentikan pramugari itu.
"Jangan di tutup...!" pekik Mark segera menekan tombol yang ada di atas kepalanya untuk memberitahu co-pilot agar menunda take-off.
"Pergilah nak...! peluklah ayahmu, tapi ingat! kamu harus tetap pulang malam ini bersama Daddy dan bunda, kamu mengerti?!" ucap Mark mengijinkan putri sambungnya itu namun tidak rela Rama memiliki Azira.
"Makasih Daddy..!" ucap Azira seraya melepaskan seat belt di pinggangnya lalu turun lagi dari pesawat menemui ayahnya.
Tapi, Mobil Rama sudah keburu pergi meninggalkan tempat itu. Azira yang panik segera mengejar mobil ayahnya. Beruntunglah Rama sempat melihat kaca spion dalam membuat dirinya tersentak.
"Ayahhhhhhhh.....!" pekik Azira sambil melambaikan tangannya memohon ayahnya untuk berhenti.
"Aziraaaa,...!" Rama menginjak rem mendadak lalu memundurkan lagi mobilnya dengan cepat. Sekitar 50 meter dari jarak putrinya dengan mobilnya, Rama berhenti lalu turun dari mobilnya untuk menyambut sang putri yang berlari sambil memanggilnya dan menangis.
"Ayahhhh..!"
"Azira....!" Rama mengangkat kedua tangannya menyambut Azira yang langsung melompat ke tubuh kekarnya.
"Sayang. Kenapa turun lagi, hmm?" tanya Rama sambil menggendong putrinya yang berkoala di pinggangnya.
__ADS_1
"Azira belum sanggup berpisah dengan ayah," ucap Azira sambil terisak.
"Apa yang harus ayah lakukan padamu, hmm?" tanya Rama sambil menyeka air mata putrinya.
"Biarkan Azira memeluk ayah sebentar saja, ayah. Azira belum sanggup berpisah dengan ayah," tutur Azira di sela Isak tangisnya.
"Ayah juga belum sanggup berpisah denganmu, nak. Rasanya dunia ayah sesaat menghilang hanyut dalam laut kesedihan," batin Rama merasa sangat sakit kehilangan putrinya.
"Jangan tinggalkan Azira sebelum pesawat Azira terbang. Biarkan Azira menatap wajah ayah. Jangan tinggalkan begitu saja. Hati Azira sangat sakit ayah," ujar Azira.
"Maafkan ayah sayang..! Ayah salah. Kita kembali ke pesawat ya! kasihan pesawat yang lain sudah antri menunggu pesawat kalian take-off," nasehat Rama pada putrinya.
"Baik ayah. Azira cinta ayah. Azira sangat sayang ayah. Nanti telepon Azira ya ayah. Tidak. Video call aja supaya kita bisa saling menatap wajah," pinta Azira tanpa jedah.
"Hmm!"
Rama mengangguk tanpa bisa bicara karena tangisnya yang tak bisa diajak reda. Tiba di pintu pesawat, Rama menurunkan putrinya dari gendongannya. Azira masuk ke dalam pesawat sendirian. Alea tidak tahan melihat perpisahan anak dan ayah itu. Rama mencium kening Azira agak lama. Lalu membiarkan Azira masuk ke dalam pesawat itu.
"Jika saja kamu tidak pelihara egois-mu mungkin tidak ada cerita menyakitkan seperti ini, Rama. Kau memilih jalanmu yang salah dan sekarang kamu yang merasakan sendiri ulah dari perbuatanmu itu," batin Alea.
"Ayahhhhhhhh...hiks....hiks ..hiks...!" Azira menangis histeris dalam dekapan ibunya.
"Aziraaaa....! Putrikuuuu i love you, baby!" pekik Rama langsung jatuh dengan kedua lutut menghampiri bumi.
"Sstttt.. akkkkk....!" pekik Rama menahan dadanya yang sangat sakit membuat petugas bandara langsung menghampirinya.
"Tuan...! Apakah anda baik-baik saja?" tanya salah satu petugas bandara itu.
"Dadaku, rasanya sangat sakit," jawab Rama yang seketika merasa keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulitnya di seluruh tubuhnya.
Wajahnya terlihat sangat pucat membuat petugas bandara itu menawarkan dirinya untuk mengantarnya ke rumah sakit terdekat dengan bandara.
__ADS_1
"Tuan. Biar kami yang mengantar anda ke rumah sakit dengan mobil tuan," tawar petugas bandara itu yang mengetahui siapa Rama karena mereka sering merawat pesawat jet pribadi pria tampan itu dulu.
Rama adalah seorang pengusaha yang sangat ramah dan loyal pada orang-orang yang bekerja dengannya. Walaupun tampangnya datar, tapi ia selalu menyapa para pekerja bandara terutama teknisi pesawat di bandara tersebut jika sedang berpergian ke kota maupun luar negeri.
Mobil mewah milik Rama yang dibelikan oleh putrinya, kini sudah berada di rumah sakit. Di ruang IGD, dokter segera memeriksa keadaan jantung Rama.
Melihat hasil EKG jantung milik Rama, tidak ada yang salah dengan jantungnya Rama. Hanya saja tensi darah ayah si kembar itu sangat tinggi.
"Mungkin anda hanya kelelahan dan setress saja,⁰ tuan. Tidak ada masalah dengan jantung anda," ucap dokter Panji.
"Tapi, rasanya sangat sakit, dokter," keluh Rama yang sebenarnya sakit jantung yang seharusnya dirasakan oleh putrinya kini beralih padanya.
Jadi, Rama yang merasakan bagaimana sakit jantung yang dialami putrinya jika sedang kambuh. Kontak batin yang dirasakan antara Rama dan Azira kini sedang terjadi.
Jika Azira yang mengalaminya langsung, mungkin malam ini, Azira akan gagal berangkat ke Amerika. Jadi, ayahnya yang merasakan sakit putrinya.
"Kami akan memberikan obat untuk anda. Anda tidak perlu dirawat inap," ucap dokter Panji menuliskan resep obat untuk ditebus oleh Rama setelah mendapatkan cairan infus untuk menetralkan tensi darahnya.
Rama keluar dari ruang IGD. Salah satu staff bandara yang masih setia menunggunya membantunya untuk menebus obat. Rama minta di antarkan pulang ke apartemennya dan memberikan tip untuk staff itu.
Di apartemen, Rama yang saat ini sedang sendirian karena ibunya sedang menunggu ayahnya di rawat di rumah sakit pagi tadi. Rama merebahkan tubuhnya sambil menatap wajah cantik putrinya yang ada di layar ponselnya.
Ia juga membuka lagi rekaman video saat bersama dengan putrinya. Hatinya kembali bergetar merasakan kebersamaan mereka satu pekan rasanya hanya satu jam.
"Apa yang harus ayah lakukan untuk bisa bersama denganmu nak, apa.... apa?!" sesak Rama yang menangis pilu seorang diri.
Ia membenamkan wajahnya di dalam bantal. Namun saat memasukkan tangannya dibawah bantal, ia merasakan ada sesuatu dan langsung menariknya keluar. Ternyata adalah selembar surat dari putrinya Azira.
"Dear ayah. Semoga ayah sudah membaca surat ini saat kita sudah berpisah. Ayah. Terimakasih sudah menjadi ayah yang terhebat untuk Azira.
Tapi, Azira mohon kepada ayah agar Ayah mau memberikan cinta ayah itu kepada Abrar juga. Dia sangat merindukan ayah. Hanya saja hatinya terlalu keras karena sakit hatinya kepada ayah.
__ADS_1
Tolong jangan menyerah ayah...! Dia lebih membutuhkan ayah daripada yang ayah tahu," tulis Azira.
"Titip kak Abrar, ayah! Kejar cintanya hingga ia jenuh dan akan mencintai ayah. Jika ayah diam, yang ada, ia makin membenci ayah," lanjut Rama membaca surat dari putrinya itu.