
Liputan berita tentang kebangkitan kembali perusahaan milik Claire yang sekarang ini sudah beralih ke tangan Azira, belum di ketahui oleh Claire yang sekarang ini sibuk melayani para pasiennya.
Wanita ini bahkan tidak mau bersentuhan dengan dunia berita karena tidak ingin merasa sakit hati membaca cemoohan orang lain padanya baik yang dia kenal maupun tidak.
Satu-satunya saat ini yang dia lakukan adalah fokus pada profesinya sebagai dokter spesialis kandungan dan mengurus sendiri manajemen rumah sakitnya sebagai CEO rumah sakit itu.
Sekertarisnya Carine mengantarkan berkas yang harus ditandatangani oleh Claire ke ruang kerjanya wanita itu.
"Selamat pagi dokter Claire!" sapa Carine meletakkan segelas kopi untuk Claire.
"Pagi ..! Apa ada laporan untukku hari ini?" tanya Claire.
"Ada dokter. Aku sudah mengirimkannya ke email anda seperti biasa," ucap Carine.
"Terimakasih. Kalau begitu kamu boleh kembali ke tempatmu, Carine."
"Dokter Claire. Ada yang ingin saya sampaikan," ucap Carine tampak gelisah sambil mengigit bibir bawahnya.
"Ok. Katakan..! Apa yang ingin kamu bicarakan, hmm?" tanya Claire sambil menyimak setiap lembar berkas yang ia harus tandatangani.
"Ini mengenai nona Azira, sang komponis kecil itu. Dia saat ini sudah menduduki bekas perusahaan milik anda, dokter," ucap Carine perlahan hampir terdengar lirih membuat Claire langsung menghentikan gerakan jarinya untuk menandatangani berkas itu.
Ia berpikir sesaat kemudian mengangkat wajahnya menatap wajah Carine yang takut akan reaksi Claire. Wajah datar itu kini berubah kelam dengan hawa amarah yang mulai meningkat.
Tak ingin memperlihatkan taringnya di depan Carine, ia segera mengusir sekertarisnya itu.
"Kembali ke tempatmu...!" titah Claire menahan gemuruh amarah didadanya.
"Baik dokter."
Carine buru-buru kabur dari tempat itu karena takut menjadi sasaran empuk amarah Claire yang sudah memerah wajahnya. Claire buru-buru membuka berita melalui ponselnya dan benar saja tampilan Azira yang didampingi keluarganya di mana Mark terlihat sangat menikmati kemenangannya.
__ADS_1
"Dasar sampah...! Rupanya anak kecil itu yang telah bermain-main denganku. Dasar kau pengecut Mark..! Kamu memanfaatkan putri sambungmu itu sebagai ajang balas dendammu padaku," geram Claire mencoba mengendalikan dirinya.
Ia berdiri sambil berkacak pinggang. Lalu mengambil Vodka dan langsung meneguk dari botolnya. Itu yang dilakukan Claire setiap kali amarahnya membeludak dihatinya. Itupun dilakukan saat tidak ada jadwal operasi sesar pada pasiennya.
Rupanya, Claire masih belum puas juga meredakan sakit hatinya. Ia ingin mendatangi bekas perusahaannya itu untuk melihat putri kecilnya Mark.
"Aku tidak bisa begini terus. Aku tidak puas hanya berdiam diri di sini mengamuk seperti orang gila. Aku harus bertemu dengan bocah ingusan itu," ucap Claire meraih tasnya beranjak keluar tanpa mempedulikan sekertaris Carine yang segera berdiri dengan darah yang sudah turun ke kaki.
Claire menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa menemui Azira. Wanita ini tidak tahu kalau Azira itu mengusai ilmu bela diri. Claire berpikir bisa menyentuh gadis kecil itu dengan mudah.
"Kita akan lihat, bagaimana kamu bisa menghadapi ku saat ayah tirimu itu tidak bisa melindungimu, gadis nakal...!" geram Claire dengan amarah membuncah di ubun-ubunnya.
...----------------...
Satpam perusahaan masih dengan orang yang sama yang sengaja direkrut lagi oleh Azira. Gadis cantik ini memanggil kembali para karyawan Claire yang memiliki potensi dalam membesarkan perusahaan Claire dulu.
Itupun harus melalui seleksi ketat karena gaji yang didapatkan mereka sangat besar yaitu dua kali lipat dari gaji mereka saat bekerja di bawah kepemimpinan CEO Leonardo atas perintah Claire.
"Bukankah itu nona Claire?" tanya satpam sambil mendekati pintu mobil Claire dan membuka pintu itu.
"Selamat siang nona Claire..!" sapa satpam namun Claire hanya menarik sudut bibirnya sambil membenarkan kaca mata hitamnya terlihat angkuh.
Satpam nampak bingung untuk mencegah Claire agar tidak masuk ke perusahaan yang sekarang bukan miliknya lagi.
"Nona Claire..! Anda mau ketemu siapa?" tanya pak John.
Claire seakan tidak menggubris perkataan pak Jhon. Tujuannya hanya satu yaitu bertemu dengan Azira. Dengan percaya diri ia masuk ke dalam lift utama khusus untuk para eksekutif.
Saat menempelkan kartu aksesnya di pintu lift rupanya sudah di ganti kode aksesnya dengan menggunakan sidik jari yang sesuai dengan orang yang berkepentingan.
"Mengapa ini tidak bisa digunakan?" gerutu Claire terlihat frustasi. Ia kembali ke resepsionis untuk meminta akses masuk ke dalam lift.
__ADS_1
"Katakan kepada bos kecilmu itu kalau aku ingin bertemu..!" titah Claire masih dengan keangkuhan yang sama.
"Baik nona. Tunggu sebentar..!" petugas resepsionis menghubungi sekertaris Yolan dan menyampaikan kepentingannya Claire.
"Suruh saja dia naik ke atas. Aksesnya di non aktifkan oleh nona Azira," ucap sekertaris Yolan.
"Silahkan nona...! Anda sedang ditunggu oleh nona Azira," ucap petugas resepsionis itu.
Claire menarik nafas dalam-dalam lalu masuk ke lift yang sudah di non aktifkan oleh Azira. Lift bergerak naik ke lantai 20. Setibanya di atas , ia tidak lagi menemukan nuansa interior saat jamannya bekerja di situ, semuanya sudah di rombak total mengikuti seleranya pemilik baru.
"Sialan...! Aku seperti memasuki tempat asing. Jejak semua interior milikku tidak tampak lagi. Tapi, tidak buruk juga. Lumayan juga selera anak ingusan itu," remeh Claire.
Sekertaris Yolan menyambut Claire dan wanita ini langsung menekan knop pintu ruang kerjanya Azira. Ternyata Azira lagi fokus di layar laptopnya dan membiarkan Claire menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Hei kau ..gadis ingusan..! Apakah ibumu mengajarimu cara untuk mencuri dari orang lain?" bentak Claire.
"Aku hanya menggunakan kepintaranku untuk membuatmu jatuh terpuruk. Bagaimana permainanku Tante? Apakah kamu menyukainya?" santai Azira.
"Ibumu itu tidak lebih dari wanita penggoda yang memanfaatkan kekayaan kekasihku untuk mengobati kalian. Dengan menggunakan sedikit trik liciknya dia berhasil merebut kekasih Mark dengan pura-pura menjadi janda menyedihkan setelah di campakkan oleh ayah kandungnya kalian," hinaan yang dilancarkan Claire untuk memprovokasi Azira yang nampak tenang menghadapi ular betina ini.
"Apakah hanya itu yang Tante tahu tentang bundaku?" tanya Azira dengan santainya.
"Tidak heran lagi, bukti dari kelicikan ibumu kini terlihat di dirimu juga. Benar-benar keluarga maling...!" umpat Claire sambil bersedekap angkuh.
"Begitukah..? Apakah selama ini Daddy Mark pernah menyatakan cintanya pada Tante? Bukankah hubungan Tante dan Daddy Mark hanya karena perjodohan orangtua atas dasar balas Budi, bukan? setahuku, Daddy Mark tidak pernah mengakui hubungan kalian sebagai sepasang kekasih.
Apa lagi mencintaimu, Tante Claire. Justru daddy Mark yang tergila-gila pada bunda kami hingga rela melakukan apa saja untuk mendapatkan tempat di hati bunda kami. Lantas di mana malingnya? Kenapa Tante suka sekali membual.
Jika daddy Mark lebih memilih hidup bersama dengan bundaku, berarti Daddy Mark menemukan kenyamanan di bundaku daripada anda, Tante Claire," sarkas Azira membuat Claire meraih plakat nama Azira yang tergeletak di meja dan langsung melempar ke arah Azira.
"Dasar bocah sialan ...! Kau harus mati untuk menebus dosa ibumu," umpat Claire.
__ADS_1
Brakkkk....