Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
38. Anda Siapa Ya..?


__ADS_3

Di pagi buta, si kembar masih asyik dengan mimpi mereka. Mark tidak tega untuk membangun keduanya. Mark menggendong Azira sementara Barack menggendong Abrar. Satu tangannya Mark menggenggam tangan Alea menuruni tangga pesawat. Bibi Sari turun paling belakang.


Mark yang sudah menyewa apartemen mewah di pusat kota Jakarta, langsung meluncur ke apartemen yang sudah siapkan oleh orang suruhannya Barack.


"Apakah tempatnya jauh dari sini Barack?" tanya Mark setengah mengantuk.


"Tidak jauh tuan karena mobil kita langsung masuk tol dan ketika turun dari tol, kita sudah tiba di apartemen itu," jawab Barack sesuai dengan map yang dia baca.


"Perketat keamanan penjagaan di apartemen itu dan jangan biarkan tamu manapun menemui keluargaku!" titah Mark pada Barack yang mengangguk patuh.


"Siap tuan!"


Alea masih bersandar dilengan Mark yang sedang memangku Azira. Tiba di apartemen tepat azan subuh berkumandang dan Mark merasa tidak aneh lagi dengan suara azan karena setiap kunjungan ke negara berpenduduk Islam pasti mendengarkan lantunan azan yang bersahutan sana sini di setiap mesjid.


Apartemen yang cukup luas untuk menampung mereka berenam selama berada di Indonesia. Alea yang sudah terbiasa terbangun di setiap pukul 4 pagi bersiap menunaikan sholat subuh berjamaah dengan suaminya yang sekarang sudah percaya diri menjadi imamnya. Uda sholat subuh keduanya kembali ngobrol.


"Sayang. Apakah kota Jakarta manusianya tidak pernah tidur?" tanya Mark yang sepanjang jalan saat turun dari tol sudah melihat banyak kendaraan berlalu lalang dengan beberapa pejalan kaki.


"Kadang di sini orang-orang menghabiskan hidup mereka bekerja dan bekerja, tidak peduli dengan waktu. Sementara Amerika hanya menghambur uang mereka di tempat-tempat hiburan malam untuk mereguk kenikmatan sesaat. Hidup yang penuh dengan kepalsuan," timpal Alea.


"Itu adalah pilihan hidup mereka. Jadi, tidak ada orang yang berani mengusik mereka selama mereka tidak menganggu orang lain," timpal Mark.


"Apakah menjalani hidup seperti itu akan membuat hidup mereka tenang?" tanya Alea.


"Ketenangan itu relatif dengan persepsi mereka masing-masing. Jadi, tidak ada tolak ukur pasti untuk membuat seseorang mendapatkan ketenangan," ucap Mark.


"Baiklah. Aku mau menyiapkan beberapa berkas yang akan kita bawa ke pengadilan entar pagi," ucap Alea.


"Aku akan mendampingimu di pengadilan karena aku adalah saksi kuncinya. Aku yang melakukan operasi pada si kembar. Aku akan membungkam mulut mantan suamimu itu dengan serentetan bukti, baik itu bukti fisik, medis, laporan medis dan rekaman video saat operasi berlangsung.


Dengan begitu dia akan melihat bagaimana perjuangan kamu untuk si kembar agar terbebas dari penyakit dan cacat fisik yang bisa disembuhkan," timpal Mark berapi-api seakan tidak sabar lagi ingin berhadapan langsung dengan Rama dan keluarganya yang angkuh itu.


Alea menghampiri suaminya. Merasa paling beruntung mendapatkan Mark yang menjadi saksi hidup dalam perjuangannya merawat si kembar ditengah kesibukannya sebagai Duta besar Indonesia di Amerika.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan jika tidak ada kamu di sampingku, Mark? rasanya aku hampir putus asa dan menyerah setiap kali melihat anak-anakku harus dipaksa menjalani beberapa kali operasi hingga mereka benar-benar dinyatakan sembuh," ucap Alea sendu.


"Dengar sayang! ada yang harus aku akui padamu yang selama ini aku pendam," ucap Mark sengaja menjeda kalimatnya.


"Tentang apa sayang?" tanya Alea penasaran.


"Sejak pertama kali aku bertemu denganmu di restoran bandara Dubai, aku sudah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Aku yang saat itu sengaja mencari alasan untuk membuatmu marah hanya untuk diperhatikan olehmu," jujur Mark membuat Alea melongo.


"Hah...? Kau benar-benar keterlaluan..!" kesal Alea lalu memukul lengan Mark bertubi-tubi.


"Awalnya ku kira kamu masih gadis. Tapi, mengetahui kamu harus makan karena sedang menyusui anak, aku langsung patah hati," ucap Mark membuat Alea membeku.


"Cih... rupanya kamu sukanya sama barang rongsokan sepertiku," Alea berdecih.


"Biar rongsokan tapi goyangan tetap mantap," goda Mark lalu mundur untuk menghindari pukulan dari Alea yang langsung mengejarnya.


"Dasar pria mesum...! Awas kamu ya..!" ancam Alea sambil mengejar Mark dengan bantal guling.


Tiba di gedung pengadilan, si kembar berjalan dengan kedua orangtuanya. Keduanya diapit oleh Mark dan Alea dan saling bergandengan tangan.


Saat menaiki tangga menuju ruang sidang, terjadilah pertemuan yang sangat menegangkan di tempat itu.


Rupanya, Nyonya Tini tidak datang ketempat itu dengan putranya saja, tapi ia juga mengundang awak media untuk mengikuti sidang gugatan hak asuh anak yang dilayangkan oleh putranya Rama pada Alea.


Dengan niat yang sudah mantap dari rumah, nyonya Tini menyusun rencana jahatnya untuk mempermalukan Alea di depan wartawan. Namun kini nyalinya cukup ciut saat melihat wajah cucu kandungnya secara langsung.


Niat jahat itu seketika hilang manakala hatinya bergetar melihat keturunannya yang selama ini hanya bisa ia menyaksikan keduanya di layar kaca maupun ponsel kini ada di hadapannya begitu nyata.


"Abrar...!"


"Azira...!"


Lirih nyonya Tini serak dengan pandangan yang berkabut penuh sesak terkumpul di dada.

__ADS_1


Tangannya terkepal menahan kerinduannya dengan naluri seorang nenek pada cucunya. Tidak ada drama di sana. Yang terlihat kini adalah kejujuran yang tulus ia tampakkan karena kuatnya darah yang mengalir pada si kembar.


"Apakah kalian cucu eyang?" lirihnya menahan tangis.


Abrar dan Azira saling bertatapan lalu menatap lagi wajah nenek mereka dengan tatapan datar.


"Anda siapa ya..?" pertanyaan Abrar terdengar ketus dengan wajah datar.


"Saya...saya...saya ...nenek kalian, sayang. Apakah bunda kalian tidak cerita kalau kalian punya kelurga dari pihak ayah kandung kalian, hmm?" tanya nyonya Tini seakan ingin diakui oleh cucu kembarnya.


"Sepertinya nenek salah alamat, deh. Kami ini bukan cucumu, kami juga tidak merasa selama ini memiliki keluarga lain selain bunda dan Daddy Mark," ucap Azira dengan tatapan remeh lagi angkuh.


"Sayang. Nenek tahu, pasti otak kalian sudah diracuni oleh ibu kalian hingga kalian diminta untuk tidak mengakui kelurga ayah kandung kalian, begitukan?" tanya nyonya Tini dengan tuduhan kejinya.


"Apakah bunda kami yang baik ini punya niat keji seperti nenek? Apakah kami yang jenius ini bisa didoktrin oleh orangtua yang ambisius seperti nenek yang selama ini membuat putra nenek membenci bunda kami? nenek tidak perlu tahu bagaimana kami bisa tahu tanpa harus menggali informasi masa lalu kehidupan rumah tangga bunda kami dengan putra nenek itu. Yang jelas kami sudah tahu semuanya.


Dan tunggulah di dalam ruang pengadilan sana, nenek karena sebentar lagi kuping nenek akan meledak dan mata nenek akan melebar saat kami memaparkan kekejaman nenek pada bunda kami dengan fakta-fakta yang menakutkan yang akan nenek saksikan. Aku tidak sabar lagi menunggu itu. Ayo, kita mulai berperang, nenek...!" tantang Abrar yang terlihat sangat vokal dalam menyampaikan pikirannya yang begitu diplomatis.


"Astaghfirullah...! Apakah ini hasil didikan ibumu itu yang memperlakukan orang yang lebih tua dari kalian agar bertindak kurangajar?" cecar nyonya Tini yang tidak lagi respek dengan cucunya Abrar yang terlihat membangkang padanya.


"Aku seperti ini karena ulah nyonya juga karena sudah memperlakukan bunda kami lebih dari yang aku lakukan pada nenek," sarkas Abrar dengan kalimat menohok.



Visual Mark



visual Abrar



visual Azira

__ADS_1


__ADS_2