Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
85. Selamat Jalan Ayah...!


__ADS_3

Setelah dokter Mark memindahkan jantungnya Rama untuk sang putri tercinta, jenasah Rama segera di pulangkan ke negaranya untuk melakukan prosesi pemakaman secara Islam.


Para kolega dan relasi perusahaan Rama dan juga Abrar ikut mengikuti proses pemakaman Rama. Yang paling sedih dan kehilangan adalah putranya Abrar karena ia tidak bisa menyalurkan cinta dan kasihnya terhadap sang ayah secara nyata.


Sementara itu Alea tidak bisa ikut ke Jakarta karena harus menunggu putrinya Azira yang baru saja melakukan operasi pencangkokan jantung dari ayahnya.


Walaupun begitu ia juga sangat terpukul atas meninggalnya mantan suaminya itu. Pria yang pernah ia sangat cintai dalam hidupnya. Hanya karena satu kesalahan suami membuat mereka harus bercerai. Ia juga tidak tahu apa yang akan ia katakan kepada putrinya setelah Azira siuman nanti. Masalahnya, Azira sangat mencintai ayahnya.


"Ya Allah. Ampunilah dosaku karena aku telah meracuni kepala anak kembarku untuk membenci ayah mereka," gumam Alea yang menyalahkan dirinya sendiri.


Di Jakarta, di atas pusara ayahanda tercinta, Abrar masih merasakan penyesalannya karena melewatkan waktu yang hilang begitu saja karena memelihara amarah dan dendam pada sang ayah. Justru saat ini waktu yang akan menghukum dirinya.


"Ya Allah ayah. Rasanya lebih sakit daripada sebelumnya. Apakah seperti ini ayahku merasa bersalah kepada kami karena telah menyia-nyiakan kami. Ampunilah aku ya Allah karena telah menyakiti hati ayahku.


Dendam yang tak berkesudahan akhirnya berujung pada kematian. Tidak ada yang merasa puas. Waktu pun tidak akan mengembalikan ayahku untuk bisa bersamaku lagi. Selamat jalan ayah. Semoga di surga kita akan bertemu lagi. Aku akan selalu mendoakan ayah agar ayah tenang di alam kubur," doa tulus Abrar untuk sang ayah.


Tuan Mark mendekati Abrar yang sudah lebih tenang. Walaupun sebagai ayah tirinya Abrar, cinta dan perhatian Mark tidak bedanya dengan ayah kandung. Di sinilah peran Mark yang tampil hebat layaknya ayah kandung.


"Nak. Ayahmu sudah tenang di alamnya. Tugas kamu sebagai anak Sholeh dengan mendoakan beliau. Doamu yang meringankan siksaan kuburnya dan mungkin di jauhkan dari siksaan kubur. Istighfar kamu untuknya membantunya melewati fitnah kubur.


Jadi, jangan pernah meratapi apa yang terjadi pada ayahmu. Karena kecelakaan itu hanya bagian dari cara Allah menentukan ajal ayahmu dengan kematiannya seperti itu," tutur Mark agar Abrar tidak dihantui rasa bersalah atas kematian ayahnya.


Abrar kembali merasa terenyuh karena ayah sambungnya mampu menghibur hatinya. Ia juga tidak ingin membuat ayah sambungnya kuatir pada dirinya. Ia berusaha tegar walaupun hati kecilnya belum mengikhlaskan kepergian ayah kandungnya begitu cepat.


"Ayo nak kita pulang. Jangan kelamaan berada di kuburan..!" ajak tuan Mark.


"Ayah. Aku tidak bisa kembali ke Amerika. Aku ingin di sini, di Indonesia. Aku tidak tega melihat wajah Azira. Ia pasti akan sangat terpukul jika tahu ayah kami sudah meninggal," serak Abrar.


"Itu bagian dari resiko. Awalnya pasti dia akan kecewa dan syok. Tapi sejalannya waktu dia akan menerima kehilangan menjadi bagian dari takdir," tutur Mark bijak.


"Baiklah daddy. Kita pulang ke apartemenku. Daddy besok aja balik ke Amerika!" pinta Abrar diangguki oleh Mark yang mengerti Abrar butuh dirinya saat ini.


Di Amerika, dua hari kemudian Azira baru bisa pulih dari pasca operasinya. Ia memikirkan kembali apa yang terjadi sebelumnya. Azira menatap ibunya yang saat ini sedang ketiduran.


"Apa yang terjadi padaku? Apakah jantungku kembali di operasi?" tanya Azira masih mengingat kapan terakhir kali dia mengingat aktivitasnya.

__ADS_1


"Ayah. Iya ayah. Aku harus menemui ayahku. Semoga beliau sudah sehat sekarang," ucap Azira segera turun dari tempat tidurnya.


Mendengar krasak krusuk yang ditimbulkan oleh Azira membuat Alea tersadar.


"Azira. Kamu mau ke mana sayang?" tanya Alea segera menghampiri putrinya.


"Aku mau menemui ayah, bunda," tutur Azira semangat.


"Azira... sayang. Tunggu..!" cegah Alea melihat putrinya keluar terburu-buru.


"Ada apa bunda?" Azira menghampiri Alea terlihat masih tenang.


"Ayahmu sudah tidak ada di sini sayang," ucap Alea sedikit cemas.


"Apakah ayah sudah sembuh? Apakah ayah sudah kembali ke Indonesia?" tanya Azira masih berpikir positif.


"Sayang. Bunda mohon kamu harus tenang dulu. Ada yang ingin bunda sampaikan kepadamu," ucap Alea seraya memegang kedua pundak Azira untuk kembali duduk di brangkar miliknya dan Alea duduk di sebelahnya.


"Ada apa bunda? Apakah ada masalah dengan ayah? Kenapa aku di minta untuk tenang?" tanya Azira dengan firasat yang sudah tidak enak.


"Bunda. Jangan katakan kalau ayah ..-"


"Ayahmu sudah meninggal nak. Jantungnya ada di dalam tubuhmu sekarang. Dia hanya menemanimu dengan jantungnya."


Duarr...


Azira menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bola mata indah itu tidak bisa lagi menahan gejolak perasaannya hingga bulir bening segera muncul dan mengalir begitu saja di pipi mulusnya.


"Ayahhhh.....!" pekik Azira sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Alea memeluk tubuh putrinya karena Azira benar-benar syok berat.


"Sayang. Dia ingin menebus dosanya dengan memberikan kamu jantungnya melalui surat wasiat," ucap Alea seraya menunjukkan email yang berisi isi surat wasiat Rama.


Azira membaca surat wasiat ayahnya yang seakan sudah mempersiapkan semuanya jika usianya tidak akan panjang untuk menemani dirinya di dunia ini.

__ADS_1


"Ayah, bunda..! Aku sangat mencintai ayah. Ayahhhhhhhh....hiks...hiks...!"


Keduanya kembali berpelukan dan menangis bersama.


"Ayahmu di makamkan di Indonesia. Apakah kamu ingin ziarah ke makam ayahmu?" tanya Alea sambil membelai rambut panjang putrinya.


"Tidak mau bunda. Azira belum sanggup menemui ayah di makamnya. Azira harus merenungi arti kepergian ayah secepat ini sepertinya ayah sengaja merencanakan kematiannya untuk menitipkan jantungnya padaku," ucap Azira sendu.


"Begitulah cara orangtua memberikan cintanya pada anaknya penuh dengan pengorbanan. Terimalah ini sebagai bagian dari takdir kehidupan," nasehat Alea bijak.


Tiga tahun kemudian, Azira baru siap untuk kembali ke Indonesia berziarah ke makam ayahnya. Saat ini Azira mengunjungi restoran di mana ia pernah makan malam terakhir dengan ayahnya. Ia juga memainkan piano di restoran itu dan mengenyangkan kembali kebersamaan dengan ayahnya.


Tidak jauh dari piano itu, seorang pria tampan sedari tadi merekam permainan piano Azira. Dia adalah Fahri yang selama ini selalu mengikuti aktivitas Azira secara diam-diam. Usai mengakhiri permainannya, Azira kembali ke meja makan untuk menikmati makan malamnya.


"Selamat malam nona Azira!" sapa Fahri sambil tersenyum hangat pada Azira yang menatap wajah tampan itu sambil mengingat wajah tampan yang ada di tempatnya.


"Sepertinya aku mengenalmu tapi di mana?" tanya Azira sambil mengetuk-ngetuk bibir sensualnya.


"Aku Fahri. Kita pernah ketemu di hotel bandara di Amerika tiga tahun lalu," ucap Fahri.


"Astaghfirullah halaziiim. Sekarang aku baru ingat. Apa kabar! maaf saat itu sangat sedih sehingga tidak begitu peduli padamu," ucap Azira penuh sesal.


"Tidak apa Azira. Aku sangat maklum keadaanmu saat itu. Aku turut berdukacita atas kepergian ayahmu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan terima amal ibadahnya," ucap Fahri membuat Azira sangat terkesan dengan perhatian Fahri kepada ayah kandungnya.


"Aamiin. Terimakasih kak...!" ucap Azira. Keduanya sudah terlibat obrolan hangat dan menyenangkan malam itu di tambah Fahri yang pintar membuat lelucon untuk menghibur Azira.


TAMAT


......................


"Terimakasih say atas doa kalian semua untuk author. Nantikan kisah cinta dalam karya baru author selanjutnya ya...!"


*Pesona adik tiri culun*


Sinopsisnya besok ya say

__ADS_1


__ADS_2