
Saking kesalnya Alea sampai berlari ke kamarnya meninggalkan anak-anaknya dan suaminya Mark yang terlihat bingung. Mark menatap wajah si kembar yang nampak ketakutan.
Mereka tidak menyangka reaksi bunda mereka tidak semudah yang mereka kira. Mereka berpikir akan mendapatkan dukungan dari bunda mereka sepenuhnya saat mereka bisa membalaskan dendam bunda mereka dengan membuat perusahaan ayah mereka bangkrut.
"Ya Allah. Bagaimana ini kak? Ternyata di luar dari ekspektasi kita," ucap Azira.
"Kalian tenang saja...! biar daddy yang tangani bunda kalian...! Doakan daddy, sayang!" ucap Daddy.
"Terimakasih ya daddy...! Maaf sudah menyusahkan daddy...!" ucap Abrar.
"Jangan berkata seperti itu, sayang. Kita ini satu keluarga. Apapun masalahnya kita hadapi bersama. Jangan merasa sungkan pada daddy karena kalian adalah segalanya untuk daddy. Apapun kalian rasakan, daddy juga ikut merasakannya," ucap Mark.
"Terimakasih daddy..! Semoga daddy bisa membujuk bunda..!" Si kembar memeluk tubuh Mark secara bersamaan.
"Ok. Tolong awasi adik kembar kalian, yah!" pinta Mark menepuk pipi Abrar lembut.
"Siap daddy..!" Abrar dan Azira menghampiri adik kembar mereka yang tampak serius bermain game.
"Asyik banget main gamenya?" goda Abrar sambil melirik permainan game si kembar yang ternyata memainkan game puzzle yang cukup sulit untuk usia empat tahun.
"Abang jangan godain! Lagi seru tahu!" omel Mikail terlihat manyun dengan dahi mengkerut.
"Mau nggak Abang bantu?" tawar Abrar yang melihat adiknya sulit untuk menyelesaikan gamenya.
"Jika terlalu mudah untuk mendapatkan sesuatu maka akan membuatmu cepat bosan, bang. Hidup itu perlu tantangan agar kita berpikir keras bagaimana cara meraih dan mempertahankannya," celetuk Mikail.
"Hmm! sok tahu," ledek Abrar.
"Tapi tidak sok pamer. Tidak perlu orang banyak tahu tentang kita bang. Dengan begitu kita masih bisa menjadi orang bebas tanpa diganggu," timpal pria kecil yang berusia 4 tahun itu.
"Iya Abang. Jangan terlalu mengumbar kehebatan kita di depan media. Media itu bisa mengangkat derajat kita tapi juga tidak segan untuk menjatuhkan kita. Aku saja capek lihat kakak berdua tidak nyaman ke manapun berada. Ada saja yang minta foto sama kalian," timpal Mikaila.
"Hmm! Jadi selama ini ada yang sudah memperhatikan kemalangan kita, Azira," sindir Abrar pada adik kembar mereka yang sangat kritis menyampaikan pendapatnya.
__ADS_1
"Sepertinya sudah ada calon diplomat gantiin bunda suatu hari nanti," balas Abrar.
"Sepertinya begitu," timpal Azira cekikikan.
Adik kembarnya hanya bisa memutar bola mata malas. Sementara di dalam kamar, Mark duduk di sebelah istrinya yang sedang tidur tengkurap. Mark mengusap punggung istrinya yang sedang bergetar menahan tangis.
"Apakah kamu begitu terluka hingga merasa sesedih ini atas perbuatannya si kembar pada Rama?" tegur Mark lembut.
Alea membalikkan tubuhnya. Ia menatap wajah suaminya begitu dalam.
"Aku tidak ingin putra putriku menjadi seorang pendendam. Di agama Islam tidak boleh durhaka kepada orangtua. Terlepas sejahat apa orangtuanya itu pada kita, kita wajib berbakti kepadanya.
Jika dia berbuat jahat, cukup semesta saja yang menghukumnya. Dan seorang anak tetap harus berbakti kepada orangtuanya," jelas Alea agar Mark tidak salah paham padanya.
"Ya Allah sayang. Aku kira kamu masih mencintai mantan suamimu itu. Aku tadi sempat cemburu lho sama si kunyuk itu," imbuh Mark menghapus jejak airmata Alea di pipi mulus wanita itu.
"Cinta yang aku punya saat ini, semuanya hanya untuk kamu. Dia hanya bagian masa lalu yang ku anggap sebagai ayah dari si kembar, tidak lebih. Walau bagaimanapun, suatu saat nanti Azira tetap menggunakan nama Rama sebagai wali nikahnya dan ayahnya yang akan menikahkan dirinya," ucap Alea.
"Kecuali ayah kandungnya sudah meninggal, Abrar baru bisa menjadi wali untuk Azira," ujar Alea.
"Sayang. Itu cerita nanti. Masalahnya sekarang ini, Abrar sedang membuktikan kepada ayahnya kalau apa yang ditakutkan ayahnya dulu tidaklah benar.
Janin yang ingin ia minta dibuang, kini sudah menjadi sesuatu. Bahkan melampaui batas pemikirannya yang menginginkan kesempurnaan fisik dan mental dari anak yang ia dambakan," ucap Mark sebagai mantan anak yang juga pernah dibuang oleh ayahnya.
"Tapi, aku tidak mau Abrar melebihi batasannya sebagai anak," ucap Alea.
"Tanpa kamu pintapun Abrar tahu apa yang ia lakukan. Nuraninya masih normal untuk membedakan mana hubungan darah dan mana musuh.
Berilah dia kesempatan untuk membalaskan sakit hatinya pada mantan suami kurang ajarmu itu. Aku rasa kamu lebih faham sebagai ibunya karena dampak penolakan ayah mereka yang membuat kamu sangat menderita," tutur Mark.
"Aku bicara padamu bukan tanpa sebab karena aku juga pernah berada di posisi si kembar. Dan parahnya, sampai aku dewasa, tidak pernah sekalipun ayahku datang mencariku. Dan aku akan mendukung si kembar untuk menempati bekas perusahaan ayah kandung mereka," balas Mark.
"Baiklah. Aku tidak masalah. Yang penting anak-anakku tidak tumbuh menjadi seperti Malin Kundang," lirih Alea.
__ADS_1
"Siapa itu Malin Kundang?" tanya Mark tidak mengerti.
"Seorang anak durhaka yang tidak mengakui ibu kandungnya hingga Allah mengutuknya menjadi batu dan konon katanya, jantungnya masih berdetak sampai saat ini walaupun dia sudah menjadi batu," tutur Alea.
"Harusnya mantan suamimu itu yang dikutuk jadi batu karena dia tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri," timpal Mark membalikkan fakta pada Rama sebagai ayah durhaka.
Alea merasa tergelitik mendengar sumpah serapah Mark pada Rama.
"Sudah syukur perusahaan Rama tidak jatuh ditangan orang lain tapi di tangan anak kandungnya sendiri. Harusnya kamu bangga dengan kejeniusannya si kembar mampu mendapatkan perusahaan ayah mereka yang terkenal pelit itu. Apa dia pikir jika dia sudah menjadi jenasah, maka dia masih bisa makan hingga menimbun hartanya itu," sarkas Mark.
"Baiklah. Tolong panggilkan si kembar ke sini sayang...! Aku ingin bicara dengan mereka," pinta Alea.
"Tapi, aku harap jangan lagi bersikap keras pada mereka. Tanyakan apa yang mereka ingin lakukan saat sudah berada di Indonesia nanti. Kita hanya bisa mengawasi apa terjadi jika si kembar muncul di hadapan ayah kandungnya sendiri sebagai pemilik baru perusahaan itu," nasehat Mark bijak.
"Insya Allah. Beri kami waktu untuk bicara bertiga..!" pinta Alea.
"Ok."
Mark memanggil si kembar yang sedang main bersama adik kembar mereka untuk menemui Alea.
"Apakah Daddy Mark sudah bisa menjinakkan bunda?" tanya Azira penuh harap.
"Menurut kalian bagaimana?" tanya Mark menahan tawa.
"Daddy itukan pawangnya bunda. Pasti mantranya lebih manjur," ledek Abrar.
"Hmm bisa aja rayuannya. Ok. Sekarang kalian temui bunda kalian dan minta maaf. Sampaikan visi dan misi kalian mengambil perusahaan milik ayah kalian itu. Dengarkan saja dulu nasehat bunda dan jangan membantah. Kadang orangtua lebih tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya," ucap Mark.
"Baik daddy. Terimakasih sudah membantu kami meluluhkan hati bunda. Alhamdulillah ada daddy Mark. Apa jadinya kami kalau daddy tidak hadir dalam hidup kami," ucap Abrar.
"Hanya Allah yang menjawab pertanyaanmu itu. Kita dipertemukan karena bundamu lebih cocok jadi istri daddy ketimbang ayahmu Rama itu," ucap Mark frontal.
"Ok deh. Daddy adalah yang terbaik untuk kami. I love you so much daddy!" ucap Azira lalu menarik tangan Abangnya menemui Alea yang sedang menunggu mereka di kamar.
__ADS_1