Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
72. Terkesiap


__ADS_3

Pagi itu, keluarga Mark sudah siap berangkat ke perusahaan Abrar yang tidak lain adalah bekas perusahaan ayahnya yang sudah bangkrut. Hanya adiknya yang kembar tidak ikut serta karena masih mengantuk. Keduanya di jaga oleh bibi Sari.


Alea merapikan dasi putra dan suaminya saat hendak berangkat ke perusahaan. Abrar memeriksa kembali beberapa dokumen penting yang ada di dalam tasnya untuk memastikan kelengkapannya.


Jika saat ini Alea merapikan dasi Mark, tidak dengan Mark yang sibuk memperhatikan bibir istrinya yang mulai membuat bibirnya sangat gatal untuk memagut bibir kenyal itu.


"Apakah aku terlalu cantik?" tanya Alea dengan perkataan menggoda.


"Apakah kamu mau kita bercinta dulu sebentar sayang?" tawar Mark.


"Tidak untuk saat ini. Setelah urusan selesai, aku akan melayanimu," tolak halus Alea menerbitkan senyum manis Mark yang selalu membuat Alea terlena.


"Jangan coba-coba senyum di hadapan wartawan nanti seperti itu!" ancam Alea.


"Kenapa baby?"


"Beberapa wanita dewasa yang jarang dibelai akan berfantasi liar sambil menatap wajahmu dengan senyum menawan yang memabukkan mereka," ucap Alea.


"Apakah kamu dulu sering berfantasi tentang aku saat kita belum menikah?" goda Mark langsung mendapat cubitan kecil dipinggangnya dari Alea.


"Augghtt....! Duh... sakitnya nikmat sayang," goda Mark lagi membuat wajah Alea memerah.


"Mengapa wanita ini selalu merasa malu setiap kali aku goda. Padahal pernikahan kami sudah hampir 7 tahun," batin Mark sangat senang melihat Alea selalu saja merasa malu padanya.


"Daddy, Bunda. Kami sudah siap!" ucap Azira yang sudah tampak cantik dengan dress polos warna pink dipadu kardigan putih yang melekat ditubuh mungilnya.


Rambutnya dibiarkan terurai ditambah bando hitam dengan pita di sisi kiri untuk mempermanis tampilannya. Siapa yang menyangka gadis kecil nan cantik ini yang lebih dikenal sebagai seorang komposer kini menjadi seorang dokter bedah yang masih muda dan pengusaha kosmetik terkenal di Amerika Serikat itu.


"Baik sayang. Ayo kita berangkat...!"


Mark menggandeng tangan Azira dan Alea bersama Abrar menuju pintu lift.

__ADS_1


Setibanya di lobi apartemen, asisten pribadinya Abrar yaitu tuan Anwar yang merupakan mantan staf Rama sudah menjemput mereka. Alea yang sudah mengenal tuan Anwar tetap bersikap biasa saja walaupun dia sendiri ingin mengetahui keadaan Rama saat ini. Mobil itu mulai bergerak menuju perusahaannya Abrar.


"Apakah semua sesuai dengan rencana kita pak?" tanya Abrar pada tuan Anwar yang sedang menyetir.


"Tentu saja Abrar," ucap pak Anwar yang putranya juga pernah kuliah satu kampus dengan Abrar di New York.


Pintu mobil itu dibuka oleh dua orang satpam. Nampaknya tidak ada wartawan yang ditakutkan Alea dan Mark ada di perusahaan itu. Rupanya kedatangan Abrar saat ini tidak ingin diganggu oleh wartawan sebelum ia bertemu dengan ayah kandungnya.


Tidak ada yang mengetahui siapa pemilik baru perusahaan yang sekarang berganti nama Future Star, kecuali tuan Anwar dan putranya Noah.


"Kenapa terlihat masih sepi?" batin Alea yang disambut oleh beberapa staff yang sudah berbaris di pintu masuk lobi perusahaan.


"Bukankah itu mantan istrinya tuan Rama?" tanya beberapa diantara staffnya yang masih dipekerjakan lagi oleh Abrar.


"Iya benar. Itu nyonya Alea. Wah...! Dia makin cantik dan tampak awet muda."


"Apakah itu suami barunya? Tapi, siapa dua anak kecil itu?" tanya mereka yang sekarang beralih menatap Abrar dan Azira.


"Iya gue juga tahu itu anaknya. Tapi, anak dari suami yang mana?"


"Sepertinya itu anak tuan Rama. Lihatlah wajah gadis kecil itu...! Dia sangat mirip dengan tuan Rama."


Tuan Anwar mengajak Abrar untuk berdiri di atas podium yang lebih tinggi untuk memperkenalkan dirinya sebagai pemilik baru perusahaan itu. Tepat di saat itu, Rama juga datang ke perusahaan itu atas permintaan tuan Anwar. Itu juga disuruh oleh Abrar.


"Perhatian semuanya. Saya akan memperkenalkan pemilik baru perusahaan kita ini kepada kalian semua. Tentu saja kalian menebak siapa pemilik baru perusahaan kita ini.


Saya persilahkan kepada pemilik baru perusahaan ini untuk memperkenalkan dirinya..!" Pinta tuan Anwar pada Abrar yang langsung naik di atas podium.


Rama sangat syok melihat putranya sendiri yang mengambil alih perusahaannya. Wajahnya nampak terkesiap hingga tidak bisa berkata apa-apa kecuali melangkah maju lebih dekat ke podium tanpa tahu malu.


"Apakah aku sedang bermimpi saat ini?" tanya Rama membatin.

__ADS_1


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh! Selamat pagi semuanya para karyawanku...!" sapa Abrar dengan senyum samar dan santun.


"Waalaikumuslam..!" balas karyawan itu yang masih bingung namun penasaran dengan pria kecil itu.


"Mungkin dari sebagian kalian sudah mengenal siapa saya melalui media itupun yang suka kepo. Tapi, saya ingin memperkenalkan secara resmi pada kalian semua.


Nama saya Abrar. Saya asli Indonesia dan usia saya hampir sepuluh tahun. Dan saya memiliki saudara kembar yaitu Azira. Silahkan Azira temanin saya di atas panggung..!" pinta Abrar pada adiknya yang langsung tersenyum.


Azira naik ke atas podium dan memberi hormat pada staff dari Abangnya.


"Di samping kanan saya ada ibu kandung saya yaitu ibu Alea dan beliau juga adalah Duta besar RI untuk Amerika.


Dan sebelah beliau adalah Daddy Mark Antonio Luise merupakan ayah sambung kami," ucap Abrar untuk memberikan kesempatan Alea dan Mark memberi hormat kepada staffnya.


Wajah Rama nampak mengeras dengan tangan terkepal erat menahan geram dan juga rasa sedih yang mendalam karena Abrar tidak memperkenalkan namanya. Namun sedetik kemudian, Wajah itu kembali tenang di kala mendengar penuturan Abrar selanjutnya.


"Tentu saat ini kalian sedang berpikir siapa ayah kandung kami. Dan mengapa saya ada di sini dan berani mengambil perusahaan besar ini yang namanya sempat menghiasi beberapa media karena keterpurukannya.


Apakah masih mau tahu siapa ayah kandung kami?" tanya Abrar memancing rasa penasaran karyawannya.


"Iya. Kami ingin tahu tuan. Siapa ayah kandung anda, tian?" pinta seorang staff baru di perusahaan itu.


"Kalian tentu mengenalnya. Jika saya mengakui dia sebagai ayah kandung kami, belum tentu beliau mau mengakui kami sebagai anak kandungnya karena di saat ibu kami mengandung kami, beliau sempat meminta ibu kami untuk melakukan aborsi karena kami diagnosa oleh dokter sebagai calon bayi yang menderita cacat fisik dan penyakit bawaan.


Dan ibu kami memilih mempertahankan kami dan ayah kami menjatuhkan talak kepada ibu kami karena tidak ingin menanggung aib.


Sekarang, apakah aku harus mengakui dia ayah kami atau tidak ya?" pancing Abrar yang ingin mempermalukan kelakuan bejat ayahnya yang menyia-nyiakan ibu mereka dalam keadaan hamil.


"Wah...! Kejam sekali kelakuan ayahnya yang tidak bertanggungjawab itu," umpat beberapa karyawan dengan pikiran mereka masing-masing.


"Tapi, untuk membuktikan kepada ayah kandung kami, ibuku berusaha keras mengobati kami dari tahun ke tahun agar kami tumbuh menjadi anak yang sehat dan normal.

__ADS_1


Dan itu semua atas kebaikan ayah sambung kami yaitu daddy Mark Antonio Louise yang rela membiayai semua proses pengobatan kami di rumah sakit miliknya sendiri dan beliau juga yang melakukan operasi pada saya dan adik saya Abrar," ucap Abrar membanggakan Mark di depan karyawannya untuk mempermalukan ayah kandung mereka yaitu Rama.


__ADS_2