
Hari ini adalah hari terakhir kebersamaan Rama menemani putrinya karena Azira dan ibunya akan kembali lagi ke New York besok malam. Hanya Abrar yang akan bertahan di Jakarta untuk mengelola perusahaannya ditemani bibi Sari.
Malam ini, Rama dan Azira sedang makan malam di salah satu restoran mewah yang ada di Jakarta. Bagi Rama, restoran mewah itu tidak asing lagi baginya. Sehingga ia mahir untuk bermain pisau dan garpu untuk mengiris daging stik untuk putrinya agar mudah memakannya.
"Ayah...!"
"Hmm!"
"Kenapa ayah tidak mau menikah lagi?" tanya Azira sambil menyuapi potongan stik ke mulutnya yang mungil.
"Tidak ada wanita yang seperti bunda kalian. Dan ayah tidak menemukan di manapun. Bunda kalian terlalu istimewa di hati ayah dan tidak ada yang bisa menyaingi bunda kalian," ucap Rama hati-hati.
"Apakah ayah masih mencintai bunda?" tanya Azira.
"Lebih dari hidup ayah," sahut Rama sambil memejamkan matanya menahan rasa sesak bergayut kerinduan pada Alea.
"Tapi, bunda sangat mencintai Daddy Mark. Daddy Mark menerima bunda apa adanya dan terlebih lagi, daddy mau menerima kami sebagai anak sambungnya. Jadi, Azira mohon ayah tidak merusak rumah tangga bunda sama daddy Mark...!" pinta Azira penuh penekanan pada kalimatnya.
"Ayah tahu itu sayang. Mencintai belum tentu harus memiliki," ucap Rama.
"Kalau ungkapan itu berlaku bagi yang sudah memiliki kehidupan masing-masing. Tapi, bagi yang pasangan selingkuh, kalimat itu terdengar menyakitkan untuk seorang wanita," ucap Azira.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Rama tidak mengerti.
"Jika seorang pria beristri yang berani berselingkuh dengan wanita lain, namun setelah ia bosan dengan wanita itu, ia akan mengatakan, cinta itu tidak harus memiliki, bukankah itu terdengar egois?" tanya Azira.
"Kok, putri ayah sudah tahu hal yang begituan?" tanya Rama tersenyum canggung karena ia merasa disindir oleh putrinya.
"Banyak karyawanku mengalami hal seperti itu, makanya Azira tahu, ayah. Pria hanya mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan cinta wanita yang sangat mencintainya," lanjut Azira.
__ADS_1
Perkataan putrinya membuat Rama mengingat lagi kisah cintanya dengan Ria. Entah di mana wanita itu saat ini, Rama enggan untuk mencarinya. Hidupnya saja sudah sulit, ia lebih memilih untuk hidup sendiri dan tidak mau berhubungan lagi dengan wanita manapun. Kebahagiaannya saat ini hanya untuk Azira dan Abrar, walaupun ia belum mampu mendapatkan cinta dari putranya. Rama harus bersabar untuk itu.
"Kenapa ayah melamun, hmm?! Apakah ada seorang yang ayah sakiti?" selidik Azira.
"Tidak sayang. Kesalahan terbesar ayah yaitu membiarkan cinta ayah pergi dari hidup ayah dan itu adalah bunda kalian," ucap Rama sendu.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Pikirkan bagaimana menata hari esok yang terpampang nyata di depan ayah.
Baiklah ayah. Ada yang ingin Azira sampaikan kepada ayah, kalau Azira sudah membeli lagi apartemen milik ayah yang dulu yang sempat ayah jual.
Tinggallah di apartemen itu bersama kakek dan nenek. Nanti, kalau Azira pulang ke Indonesia, Azira akan menginap di apartemen ayah," pinta Azira agar ayahnya bersedia pindah ke tempat itu.
"Tapi, ayah baru mau membuka bengkel sepeda sayang setelah Azira kembali ke New York," ucap Rama.
"Tidak. Aku tidak ingin melihat ayah bekerja di tempat seperti itu. Ayahku terlalu tampan untuk menjadi seorang montir sepeda. Aku sudah membeli showroom mobil. Jadi, ayah jualan mobil saja, itu baru cocok dengan ayah," ucap Azira sambil terkekeh.
"Itu jauh lebih baik karena Azira suka ayah yang angkuh daripada ayah yang sekarang yang terlihat sangat menyedihkan dan itu sangat menggangguku. Rasanya aku tidak akan tenang meninggalkan ayah seperti itu," ucap Azira sendu.
"Harusnya ayah yang membahagiakan kamu bukan malah sebaliknya. Maafkan ayah sudah membuatmu sedih. Tapi, ayah ingin kamu bersabar hingga ayah kembali bangkit dengan usaha kecil-kecilan," ucap Rama.
"Sampai kapan ayah bisa bangkit lagi? Usaha seperti itu hanya untuk bertahan hidup bukan untuk dikatakan layak. Azira merasa sangat berdosa, ketika Azira menikmati kehidupan yang nyaman dengan makan minum lezat dan teratur.
Tinggal di tempat yang nyaman sementara ayahku sendiri tinggal kontrakan petakan dan menjadi bahan hinaan orang lain. Azira tidak sanggup mendengar orang lain menjatuhkan harga diri ayah," cicit Azira membuat Rama bingung untuk mengambil sikap.
Jika dia menerima kebaikan putrinya, kesannya dia memanfaatkan putrinya. Namun, jika dia menolak, itu sama saja menyakiti hati putrinya dan akan berdampak lebih buruk pada kesehatannya.
"Ayah. Aku tidak tahu, berapa lama aku bertahan hidup dengan jantungku yang lemah ini. Setidaknya, aku ingin membahagiakan ayah sebelum Aku pulang ke haribaan Illahi," tutur Azira membuat dada Rama terasa sesak.
"Sayang. Jangan bicara seperti itu...! Kamu akan hidup lebih lama agar bisa mengurus jenasah ayah yang tidak punya siapapun jika kedua orangtuanya ayah sudah pergi duluan meninggalkan ayah.
__ADS_1
Tolong jangan berkata seperti itu..! Ayah akan makin merasa bersalah. Untuk apa kita bertemu jika akhirnya kita harus berpisah," serak Rama membuat Azira segera memeluk ayahnya yang malang. Keduanya kembali menangis bersama.
"Kalau tidak ingin melihat Azira sakit, tolong terima tawaran Azira, ayah. Jangan menolaknya, ya ayah!" bujuk Azira dalam pelukan ayahnya.
"Baiklah, sayang. Kalau itu maumu. Tapi, kamu harus berjanji agar selalu sehat dan kita akan bertemu lagi," ucap Rama sambil mencekam lengan Azira.
"Itulah sebabnya, Azira ingin ayah menjadi orang yang sukses dengan begitu ayah bisa mengunjungi Azira ke New York tanpa harus Azira ke Jakarta," pinta Azira dan Rama mulai paham niat baik putrinya yang menginginkan dia mandiri dan bisa ke Amerika dengan uangnya sendiri.
"Ya Allah. Kenapa aku tidak memikirkan sejauh itu? Jika terjadi sesuatu pada putriku, tanpa uang, aku bisa apa?" batin Rama.
Pelukan itu terurai, Rama menghapus jejak airmata putrinya. Sementara air matanya sendiri terus mengalir berulang kali menyesali diri namun, tidak ada gunanya lagi. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah membahagiakan putrinya.
"Sayang. Apakah ayah boleh minta sesuatu padamu untuk mengakhiri pertemuan kita?" tanya Rama.
"Minta apa ayah?" tanya Azira.
"Ada piano di sana. Tolong mainkan satu lagu kamu untuk ayah!" pinta Rama.
"Baiklah. Aku akan menyanyikan lagu spesial untuk ayah," ucap Azira lalu berjalan menuju tempat piano.
Petugas restoran membantu Azira agar gadis ini duduk dengan nyaman untuk memainkan pianonya. Sesaat kemudian, alunan musik dari piano itu mulai menggema. Rama menikmati setiap sentuhan nada yang menyentuh sanubarinya.
LAGU
"Dulu aku merasa tak sempurna sejak aku tak tahu engkau di mana ayah. Namun hatiku sakit saat kau menolakku...
Setelah mengenalmu lebih dalam, aku ingin membencimu...Namun lubuk hatiku terdalam melarangku untuk mengabaikanmu.... Bahkan cintaku makin kuat untukmu.
Ayah, cinta yang aku punya untukmu adalah cinta sejati karena cinta itu tidak ada kata benci dan usai... Cinta yang akan kubawa mati bersama doamu... cinta pertama yang terlambat aku kenali darimu namun kini menjadi cinta sempurna yang ingin ku miliki untuk selamanya...
__ADS_1