
Seperti yang sudah diprediksi oleh Mark bahwa ada oknum dokter yang sepertinya sedang bekerjasama dengan Claire belakang ini. Mark memanggil Barack agar menyelidiki dokter yang mengkhianatinya.
"Cari orang kita yang bisa dipercaya. Selidiki para dokter yang berkaitan dengan kasus kehamilan istriku karena tidak semua dokter kandungan tahu tentang kasus itu," ucap Mark.
"Jadi, kita memperkecil penyelidikan atas beberapa dokter dan suster yang mungkin terlibat dengan Claire?" tanya Barack untuk memperjelas perintah bosnya.
"Iya. Tidak mungkin ular betina itu datang ke sini di saat aku sedang ada urusan penting ke Canada. Pasti ada orang-orang di sini yang telah memberitahu tentang aku pada ular betina itu," ucap Mark saking bencinya pada Claire hingga memanggil wanita itu dengan sebutan binatang menjijikan itu.
"Apa yang harus saya lakukan jika sudah menemukan orangnya, tuan?" tanya Barack.
"Lenyapkan dia...!" titah Mark tanpa basa-basi.
"Bagaimana dengan Claire sendiri, tuan?" tanya Barack lagi.
"Dia urusanku. Biar aku sendiri yang menyingkirkannya," ujar Mark dengan mengatupkan rahangnya hingga mengeras.
"Dengar...! Lakukan secara diam-diam hingga terlihat seperti kecelakaan. Kamu tahu maksud aku, bukan?" ucap Mark penuh penekanan pada kalimatnya.
"Paham tuan...! Aku segera mengurusnya. Aku pamit..!" ucap Barack.
"Hmm..!"
Mark sibuk membaca pesan email dari tuan Marcel tentang kerugian materi yang mereka alami agar Mark bisa mengklaim kerugian itu ke pihak asuransi perusahaan.
Mark kembali ke kamar inap menemui istrinya dan si kembar yang sedang melihat adik mereka sedang tidur di dalam kotak kaca dekat brangkar ibu mereka.
"Siapa nama Dede kembar, bunda?" tanya Azira.
"Nanti saja, Daddy yang menamakan mereka," jawab Alea.
"Wajah mereka lebih dominan mirip daddy. Dan mata mereka sangat biru saat terbuka tadi bunda," ucap Azira sangat bangga memiliki adik kembarnya seperti boneka.
"Benarkah mata Dede kembar berwarna biru?" tanya Alea yang belum melihat mata bayinya.
"Kami punya fotonya bunda saat mereka tadi baru pindah ke kamar ini sebelum bunda dipindahkan ke kamar inap," ucap Abrar seraya menyerahkan ponselnya pada Alea yang segera melihatnya.
"Masya Allah, mata Dede kembar seperti boneka," puji Alea penuh rasa syukur.
__ADS_1
Cek.. lek..!
Mark masuk ke kamar inap istrinya. Si kembar menyambut ayah sambung mereka dan menceritakan apa yang terjadi saat bunda mereka mengalami kontraksi hebat.
"Daddy. Jika daddy tidak cepat datang, mungkin kita sudah kehilangan bunda," ucap Abrar sendu.
"Oh iya, bagaimana bunda bisa sakit perut?" tanya Mark pada si kembar.
"Entahlah. Kami tidak begitu memperhatikan keadaan bunda karena sibuk main game," sesal Abrar.
"Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan kepadamu, sayang," ucap Alea.
Alea yang baru ingat ponselnya menanyakan ponselnya pada anak kembarnya." Sayang. Apakah kalian melihat ponsel bunda?" tanya Alea.
"Apakah tidak ada di sini?" tanya Mark ikut mencari ponsel istrinya.
"Tadi saat aku sakit perut, ponselku ku letakkan dibawah bantal. Apakah ke bawa ruang bersalin?" tanya Alea sekedar menebak.
"Coba kamu tenang dulu..! Nanti aku hubungi bagian kebidanan yang ada di ruang bersalin," pinta Mark menenangkan istrinya.
Alea melirik si kembar karena ingin bicara serius dengan suaminya.
"Bunda mau apa?" Tanya Azira yang ingin membantu.
"Tolong beli bunda cup cake di cafe rumah sakit!" pinta Alea dan si kembar menyanggupinya.
Mark sudah paham dengan kebiasaan istrinya yang memang tahu Azira bisa mendengar pembicaraan mereka yang sangat rahasia. Begitu pintu kamar itu tertutup, Alea mulai mengintrogasi suaminya yang tega merahasiakan masalah kehamilannya.
"Mengapa kamu tidak menjelaskan tentang kondisi kehamilanku yang bermasalah?" cecar Alea.
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Apakah salah satu dokter di sini menceritakan kepadamu?" tanya Mark tanpa ingin menjawab pertanyaan istrinya.
"Jelaskan dulu padaku! Apa maksudmu merahasiakan hal sebesar itu dariku?" tekan Alea sengit.
"Jika dibahas denganmu, itu malah akan menjadi beban untukmu dan calon bayi kita akan mengalami keguguran karena kondisi fisikmu tidak bisa menerima tekanan masalah yang rumit," jelas Mark langsung pada intinya.
Alea terdiam. Ia jadi paham mengapa suaminya merahasiakan hal sebesar itu darinya hanya untuk melindungi mereka bertiga." Maafkan aku..! Sangat sulit bagiku untuk memilih diantara kalian," ujar Mark.
__ADS_1
"Aku seharusnya yang minta maaf karena sempat kecewa padamu dan merasa sangat marah padamu setelah membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal," ucap Alea.
"Pesan..? Jadi ada yang mengirim kamu pesan dengan menjelaskan kondisi kehamilan kamu itu? Jadi itu sebabnya yang membuat kamu mengalami kontraksi hebat?" tanya Mark makin mengamuk.
"Iya sayang," jawab Alea dengan anggukan.
"Sebentar. Aku harus menemukan ponselmu yang akan menjadi petunjuk," ucap Mark ingin mengetahui permainan siapa yang sudah mengacaukan semuanya.
"Baiklah. Jangan lama-lama meninggalkan aku..! Aku masih merindukanmu," pinta Alea manja.
"Iya sayang."
Mark menghubungi dokter Agatha untuk mengumpulkan siapa saja yang hari ini yang mengurus persalinan istrinya sebelum ia datang. Di ruang kerjanya, sudah terkumpul beberapa orang staff rumah sakit yang di pinta dokter Agatha untuk menghadap Mark yang saat ini sedang dipecundangi oleh seseorang.
"Aku langsung saja pada intinya. Di mana ponsel istriku saat ia mengalami kontraksi tadi pagi?" tanya Mark sambil menatap wajah staffnya satu persatu.
Semuanya nampak terdiam. Tidak ada satu orangpun yang menjawabnya. Mark menunggu mereka menjawab pertanyaannya sambil mendengus nafas kasar.
"Baiklah. Kalau begitu, kalian semua dipecat...!" tegas Mark membuat semuanya berteriak mengeluhkan sikap Mark yang terlalu gegabah menuduh mereka tanpa bukti dan menyingkirkan mereka dengan tidak adil.
"Tuan Mark. Tolong beri kami waktu untuk menemukan ponsel nyonya Alea. Jangan memecat kami dengan tidak adil. Kami mohon tuan!" pinta mereka sambil bercucuran air mata bagi yang merasa tidak melakukannya.
Ada yang diam, ada yang heboh dan ada pula yang tidak memberikan ekspresi apapun menyikapi pemecatan Mark pada 10 orang staff rumah sakit itu. Sang mata-mata pura-pura menangis hanya untuk menutupi kelakuan bejadnya. Dia merasa tenang karena sudah kerja sama dengan bagian CCTV di kamar Alea dan di ruang bersalin.
"Keluar dari ruang kerjaku...!" titah Mark tanpa ampun.
Mereka keluar dengan perasaan hancur menerima pemecatan secara tiba-tiba. Mark memanggil seorang suster yang sangat ia curigai.
"Suster Anna...!"
Suster itu menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya untuk menghadap lagi ke pemilik rumah sakit tersebut.
"Apakah kamu sangat membutuhkan uang sehingga bekerjasama dengan penjahat sebenarnya?" tanya Mark dengan intimidasi menatap wajah suster Anna yang terlihat sangat gugup.
"Tuan.... saya...tidak tahu apapun soal ponsel nyonya Alea," kilah suster Anna sambil meremas celana panjangnya.
"Benarkah? Apa karena CCTV rumah sakit ini sudah dikendalikan oleh suamimu sehingga kamu merasa aman dari pengawasanku?" tekan Mark lagi makin membuat suster Anna ingin pingsan saat ini.
__ADS_1
"Katakan...! Siapa yang menyuruhmu melakukannya atau aku sendiri yang akan mengirim kamu ke penjara?" tanya Mark menunggu reaksi suster Anna yang berusaha mengelak tuduhannya.
"Dia....?"