Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
46. Pintar Mengambil Hati


__ADS_3

Tubuh Alea seakan habis di gilas dengan buldozer karena melayani suaminya yang tidak akan menyerah kalau Alea tidak bisa lagi bergerak.


"Sayang. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Mark dengan kalimat retorika yang tidak butuh jawaban.


Padahal dia sendiri mengerti semua karena ulahnya. Hanya saja dia ingin memastikan lagi istrinya masih bisa bernafas dengan baik saat tubuh jenjang nan molek itu setiap saat membuat dirinya tidak ingin berhenti bercinta.


Mark merasa milik Alea seakan perawan setiap saat ketika bercinta dengannya. Jika tidak ingat Alea hamil anak kembarnya, mungkin ia akan terus mengusai tubuh montok nan pulen itu.


Apa lagi saat ini Alea tengah hamil membuat aura kecantikan Alea bertambah kali lipat cantiknya dan benar-benar membuatnya merasa tersihir oleh pesona istrinya itu.


"Alea. andai saja kita dipertemukan lebih awal, aku tidak akan membuatmu menangis sekalipun kamu tidak bisa memberiku keturunan," batin Mark membelai lembut pipi istrinya yang sudah tidak lagi meresponnya karena sangat kelelahan melayaninya.


Posisi tidur Alea yang miring dengan dua lutut menekuk memperlihatkan bagian belahan kelopak itu seakan menggodanya untuk menjejali lagi liang nikmat itu lagi.


"Apakah aku boleh memasukkannya lagi, sayang?" tanya Mark dengan memposisikan senjatanya untuk memacu lagi tubuh Alea yang sudah nyenyak.


Setelah beberapa menit kemudian, Mark bisa menuntaskan hasratnya yang terasa sangat lega. Ia kemudian ikut tidur di samping istrinya dengan tidak lupa menarik selimut menutupi tubuh mereka.


*


*


Seperti janji Mark yang ingin memperkenalkan istri dan anak sambungnya pada keluarganya, kini mereka berangkat ke Houston. Si kembar terlihat asyik-asyik saja saat mengetahui mereka akan dipertemukan dengan kedua orangtuanya Daddy mereka.


Namun beda dengan Alea yang sedari tadi hanya gelisah. Mark menggenggam tangan istrinya dengan sedikit menarik sudut bibirnya.


"Bukankah kamu punya doa yang lebih didengar Tuhan kita Allah saat berhadapan dengan seseorang yang tidak menyukai kita?" tanya Mark dan Alea ingat akan hal itu.


"Astaghfirullah halaziiim. Aku sampai lupa sayang. Aku lupa meminta pada Sang pemilik hati yang akan menolongku agar hati yang keras bisa ditundukkan dengan doa kita," balas Alea merasa lega.

__ADS_1


Ibu si kembar ini membaca doa nabi Musa saat menghadap Fir'aun. Ia mulai merasa percaya diri karena menyerahkan segala urusannya kepada Allah.


Memasuki pintu gerbang yang cukup tinggi bak istana kerajaan membuat si kembar tidak mampu berkata-kata. Hanya dengan melihatnya saja mereka sudah memperkirakan bahwa kelurga daddy Mark tidak akan membuatnya miskin hingga sepuluh turunan.


"Wow...! Keren banget daddy. Apakah dulu Oma dan opaku pemburu harta Karun?" tanya Abrar yang sangat mengagumi istana megah kedua orangtuanya Mark.


"Mungkin saja begitu," acuh Mark yang enggan menjelaskan asal-usul harta keluarganya yang tidak begitu penting buatnya pada si kembar.


Mobil berhenti di depan halaman mansion. Seorang wanita yang sudah cukup tua sekitar 60 tahun berdiri di teras rumahnya menunggu putranya turun dari mobil.


Nyonya Stevani tampak termangu melihat putranya turun dengan dua orang anak kecil yang tampak ia kenal dan sekarang di tambah wanita muda yang terlihat sedang hamil. Mark menyatukan tangannya disela jemari Alea yang berusaha tersenyum ditengah jantungnya yang ikut maraton kini.


"Mark....!" sambut nyonya Stevani dengan langkah cepat hendak memeluk putranya membuat Mark melepaskan tautan tangannya dari Alea untuk memeluk ibu kandungnya.


"Mommy ..!"


"Hei...! Siapa yang kamu bawa, Mark?" tanya nyonya Stevani yang pura-pura bertanya pada putranya walau sebenarnya dia sudah tahu kabar pernikahan putranya dengan janda dua anak.


"Selamat sore mommy!" sapa Alea berjabat tangan dengan sang ibu mertuanya.


"Sore Oma..! Kenalkan aku Abrar," ucap Abrar menyalami nyonya Stevani yang merasa tidak asing dengan wajah Abrar.


"Dan aku Azira, Oma," ucap Azira menyalami nyonya Stevani agak lama menatap wajah Azira.


"Bukankah kamu adalah komponis muda itu?" tanya nyonya Stevani.


"Iya Oma. Apakah Oma mengikuti acaraku saat aku tampil di televisi?" tanya Azira dengan celoteh jenakanya.


Walaupun sebenarnya nyonya Stevani sudah mendengar pernikahan putranya dengan gadis asing, tapi ia sana sekali tidak ingin melihat foto pernikahan putranya karena putranya mengikuti agama yang dianut Alea. Sementara mereka sendiri tidak memiliki agama karena keluarganya anti dengan Tuhan.

__ADS_1


Tapi, pikirannya mulai berubah saat melihat sendiri betapa cantiknya Alea dengan dua orang anak yang menjadi buah bibir dunia. Keduanya sangat jenius dan memiliki daya tarik dengan skill yang mereka miliki. Apalagi saat ini Azira pintar mengambil hati Omanya.


Mark menunda niatnya untuk memberitahu ibunya kalau Alea sedang hamil anaknya.


"Oma. Apakah Oma mau mendengarkan permainan pianoku?" tanya Azira ketika melihat piano besar yang ada di ruang kelurga itu.


"Apakah kamu ingin menyogok aku anak nakal?" sindir nyonya Stevani.


"Apakah kelihatan sekali? Wah ...! Ternyata aku tidak terlalu pandai berbohong. Baiklah. Anggap saja seperti itu Oma. Yang penting, Oma mau tidak mendengar lagu baruku?" tanya Azira yang ingin membuat nenek sambungnya itu terkesan.


"Cih ..! Kau ini kecil-kecil sudah pintar merayu orang dewasa," ucap nyonya Stevani yang masih memasang wajah tak sukanya pada Azira walaupun sebenarnya ia merasa bangga bisa bertemu langsung dengan Azira karena tidak semua orang bisa dekat dengan gadis kecil ini.


"Ok. Baiklah. Kalau begitu aku ingin tahu seberapa kehebatanmu memainkan piano," angkuh nyonya Stevani yang mulai duduk dengan kaki bertumpuk menunjukkan keanggunannya.


Azira mulai menyentuh lembut tuts piano itu dengan untaian kata-kata indah terdengar merdu di telinga nyonya Stevani yang mulai tersentuh dengan jemari ajaibnya Azira.


Lagu.


"Sungguh ku tak menyangka akan bertemu denganmu, wahai ibu berhati mulia karena melahirkan seorang putra hebat yang kini ku panggilnya Daddy...!


Engkau sungguh beruntung memilikinya hingga kami juga merasakan hal yang sama darinya seperti engkau ibu yang berhati lembut..


Ia memberikan kami banyak cinta yang tak pernah kami dapatkan itu dari pria yang telah menghadirkan kami di bumi ini karena kelahiran kami yang akan membawakan nasib sial untuknya.


Terimakasih omaku sayang. ...! Karena engkau, kami tahu arti kasih sayang seorang ayah dari daddy...!"


Azira menyanyikan lagu ciptaannya sendiri yang sengaja ia persembahkan untuk Daddy nya di hadapan seorang ibu yang telah melahirkan ayah sambungnya itu.


Mark tidak bisa berkata apa-apa karena Azira berhasil membuatnya terpukau. Begitu pula Nyonya Stevani yang merasakan sendiri bagaimana ia pernah berada di posisi Alea yang melahirkan Mark tanpa diinginkan oleh sang suami karena anaknya yang cacat.

__ADS_1


"Astaga. Mengapa kisah ini kembali berulang? Aku seperti melihat masa laluku sendiri. Mendapatkan ayah lain untuk Mark hingga dirinya merasa menjadi wanita yang paling bahagia. Dan kini, putranya mendapatkan seorang Janda yang memiliki anak kembar yang bermasalah. Tapi, tumbuh dengan baik berkat kegigihan putranya yang berhasil mengobati si kembar dengan tangan dinginnya," batin Nyonya Stevani.


Lagu itu berakhir dengan indah membuat lekukan bibir tipis nyonya Stevani mengembang sempurna diikuti suara tepuk tangan sebagai apreasiasi untuk Azira atas lagunya yang indah dengan permainan pianonya yang menakjubkan.


__ADS_2