
Waktu setengah jam itu digunakan oleh Alea untuk makan sebentar karena dirinya tiba-tiba terasa sangat lapar. Beruntunglah tadi ia membuat gimbab agar bisa makan dengan mudah di mana saja.
Dari dulu Alea senang dengan makanan khas korea itu yang bisa dikemas dengan praktis. Apa lagi si kembar juga menyukainya.
Baru saja kelurga itu hendak menuju mobil, tiba-tiba langkah mereka dihadang oleh nyonya Tini yang belum puas menghina Alea.
"Kau pikir, kau sudah menang? Sampai kapanpun kau tidak lebih dari wanita pembawa sial. Mungkin kau bisa berhasil mengobati cucu kembarku hingga sembuh. Apakah kamu yakin bakal bisa hamil lagi dengan memiliki anak sempurna?!" ledek nyonya Tini sambil tersenyum smirk.
"Maaf nyonya. Mungkin dulu saat aku masih menjadi menatumu, aku tidak berani melawan mu karena rasa hormatku padamu melebihi ibu kandungku selain ku anggap kau adalah mertuaku.
Dan sekarang, situasi itu sudah berbeda dengan status baruku menjadi istri pria lain. Itu berarti aku sudah bebas memaki-mu. Pergi dari hadapanku atau segala binatang akan terucap dari mulutku untukmu...!" sarkas Alea menatap tajam wajah nyonya Tini yang menyeringai sinis.
"Cukup nyonya...! Alea sudah punya saya. Saya bisa saja menuntut kamu karena memfitnah Istriku. Lagi pula jika kesaksian tadi yang kami paparkan di depan hakim itu adalah faktanya. Dan tidak berusaha untuk mempermalukan anda apa lagi untuk menjebak anda dan putra anda itu, seperti yang anda lakukan kepada keluargaku.
Lagi pula, bukankah persidangan ini atas kemauan kalian? Itu berarti kalian ingin dipermalukan didepan wartawan, bukan? Sok dramatis, malah makan bangkainya sendiri," timpal tuan Mark yang sedari tadi sudah gemas dengan nyonya Tini.
Teguran keras dari Mark tidak juga membuat nyonya Tini mundur. Mungkin karena di depan wartawan, ia ingin sekali mendapatkan perlakuan kasar dari Mark agar pria ini bisa ditahan oleh kepolisian jika berani menyentuhnya. Itulah niat licik nyonya Tini yang ingin membuat Alea kembali menderita.
"Nenek. Apa masih kurang puas untuk dipermalukan oleh kami?" tanya Azira.
"Hmm!" nyonya Tini menarik sudut bibirnya sinis menatap cucunya Azira." Begini nih, kalau di asuh oleh perempuan yang tidak jelas asal-usulnya. Dasar tidak punya adab..!" Maki nyonya Tini pada cucunya Azira.
"Hah...?!" Emangnya nenek sudah beradab? Nenek bahkan seperti orang tidak waras karena terlalu panjang angan untuk memiliki kami agar bisa ikut terkenal seperti kami, kan? Itukan yang membuat nenek termotivasi mengundang wartawan melakukan konferensi pers agar terlihat seperti nenek yang paling menderita. Tapi, wartawan tidak lagi terkecoh dengan air mata buayanya nenek," sarkas Azira.
__ADS_1
"Nenek yang terhormat. Seharusnya nenek itu lebih memikirkan bekal untuk akhirat dengan meningkatkan ibadah dan memperbanyak amal. Nenek sudah kenyang dengan kehidupan duniawi. Apa lagi yang nenek kejar?
Apa tidak takut saat menghina ibuku tiba-tiba kena serangan jantung atau stroke? Nggak keren banget kan, matinya dalam keadaan suul khatimah," ledek Adam sambil menarik tangan ibunya menjauhi nenek lampir.
"Kauuu ...!" geram nyonya Tini untuk kesekian kalinya dijatuhkan oleh cucu kandungnya sendiri." Dasar cucu kurangajar...!" maki nyonya Tini mencak-mencak tidak karuan.
Di mobil, Mark dan Barack sudah menyiapkan makanan untuk kelurganya selain makanan yang dibawa oleh Alea. Alea yang baru saja kesal dengan sikap mertuanya langsung melahap makanan itu seakan sedang mengunyah wajah nyonya Tini.
Sementara putranya Abrar memantau saham yang makin meningkat setiap hari di perusahaan miliknya.
"Bersenang-senanglah tuan Rama. Aku ingin membuat hidupmu segan mati tak mau. Sebagaimana perlakuanmu pada bunda dan kami yang terlunta-lunta di negeri asing.
Jika bundaku bisa menemukan kebahagiaannya dengan Daddy Mark, lalu kamu dengan siapa? Kalau bukan wanita yang hanya memanfaatkan kekayaanmu itu," batin Abrar yang menghancurkan lagi perusahaan cabang milik ayah kandungnya itu.
"Iya sayang. aku masih banyak pekerjaan yang harus aku urus," ucap Alea yang sebenarnya tidak ingin lagi berurusan dengan mantan suaminya.
Di tempat yang berbeda, Rama langsung menarik tangan ibunya menjauhi kerumunan orang-orang yang ada di pengadilan tersebut. Hati Rama merasa tercabik-cabik mendengar fakta yang tidak ia duga selama ini atas rahim Alea yang dibuat tandus oleh ibunya sendiri.
"Mama...! Aku pikir mama membenci Alea karena tidak bisa mengandung anakku. Tapi ternyata, mama adalah sumber dari malapetaka atas perceraian kami.
Dan lebih ironisnya lagi, aku sama sekali tidak pernah mempercayai Alea atas pengaduannya tentang perilaku mama padanya. Sekarang lihat hasil dari kebencian mama. Anakku sebelumnya cacat itu semua karena ulah mama.
Aku benci dengan mama dan mulai hari ini aku akan tinggal sendirian dan tidak mau lagi berurusan dengan mama!" ancam Rama sambil menahan sesak didadanya.
__ADS_1
"Rama. Mama melakukan ini, justru karena mama ingin kamu mendapatkan perempuan baik-baik. Bukan Alea. Mana ingin punya menantu yang tidak perlu bekerja dan cukup mengurus kamu dan anak-anakmu saja," kilah nyonya Alea.
"Mama. Apapun yang dilakukan Alea, tidak ada benarnya dihadapan mama. Oleh karena itu, makanya mama melakukan segala cara agar aku dan Alea segera bercerai. Itukan yang ada dipikiran mama?!" pekik Rama yang tidak tahan lagi atas sikap ibunya yang sudah keterlaluan.
Ia benar-benar merasa sangat bersalah kepada Alea dan juga anak kembarnya. Kata maaf seakan tidak mempan untuk Alea jika ia memohon maaf pada mantan istrinya itu.
Dan parahnya lagi, seberapa dalam ia memadu kasih dengan wanita lain, yang ia temukan hanya kehampaan. Tidak ada artinya sama sekali.
Setengah jam kemudian, sidang kembali dibuka untuk mengumumkan hasil keputusan sidang. Semua peserta sidang kembali ke ruang sidang dengan wajah kembali segar.
Namun tidak dengan wajah Rama dan ibunya seperti kucing kecebur got yang tidak lagi tampil energik ketika baru tiba di gedung pengadilan.
Untuk sementara wartawan tidak ingin menganggu dulu keluarga Alea sampai urusan sidangnya selesai. Keputusan sidang siap dibacakan oleh hakim agung Hadi Purnomo.
"Kepada saudara Ramadhani Ahmad yang telah mengingkari kehamilan mantan istrinya Alea yang saat itu di klaim oleh dokter menderita cacat, hingga proses pengobatan yang cukup berkepanjangan yang dilalui anak kembar mereka oleh ibu kandung mereka sendiri, maka saya memutuskan bahwa yang berhak atas hak asuh ananda Abrar dan ananda Azira tetap jatuh pada saudari Alea karena dia yang berkorban mempertahankan kandungannya dengan keyakinannya pada Allah bahwa anaknya bisa di sembuhkan.
Untuk kasus berikutnya yaitu nyonya Tini sebagai mantan ibu mertua dari saudari Alea kini menjadi tersangka dan akan di kenakan sangsi denda atau hukuman kurungan penjara selama 20 tahun karena tindakannya yang sengaja menabur obat pengering rahim yang menyebabkan saudari Alea kesulitan hamil.
Untuk selanjutnya, saudari Alea bisa melaporkan kasus ini lebih lanjut ke pihak kepolisian untuk dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka. Untuk sidang hari ini saya tutup," ucap hakim agung Hadi Purnomo diikuti ketukan palu tiga kali.
Semua peserta sidang bertepuk tangan dan keluarga Mark mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas kemenangan mereka.
"Apa-apaan ini..? Kenapa malah saya yang ditangkap?" gugup nyonya Tini ingin kabur dari ruang sidang.
__ADS_1