Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
74. Pingin Berdua


__ADS_3

Azira mengurai pelukannya pada sang ayah. Ia mengecup kedua pipi ayahnya membuat hati Rama menghangat.


"Ya Allah. Ternyata bahagianya seperti ini dicium sama darah daging sendiri. Kenapa aku melewatkan setiap momen bahagia yang telah aku buang kesempatan untuk memiliki mereka, ya Allah?" batin Rama yang masih terisak.


"Ayah. Kita jalan-jalan yuk...! Aku pingin makan makanan Indonesia..!" ajak Azira yang tidak ingin menjadi tontonan di tempat itu walaupun karyawan sudah pada bubar.


"Apakah bundamu mengijinkan kamu pergi dengan ayah?" ragu Rama takut di omelin Alea.


"Yang aku ajak ayahku sendiri, bukan orang lain. Kenapa bunda harus marah? Nanti Azira minta ijin sama bunda. Yang penting kita bisa jalan-jalan. Kapan lagi jalan sama ayah. Mumpung Azira masih kecil. Ayah maukan menebus waktu yang hilang diantara kita?" tanya Azira masih sesenggukan.


"Hmm..!" ayah mau sayang. Tapi ayah hanya punya motor matic. Itupun bekas. Azira mau naik motor bersama ayah?" tanya Rama tulus bercampur malu. Senyumnya terlihat sangat tulus pada putrinya.


"Bukan motornya ayah, tapi kebersamaan kita, yang Azira inginkan. Azira nggak apa kok naik motor juga. Jadi, bisa merasakan angin sepoi-sepoi. Yang penting Azira mau merasakan rasanya dicintai ayah kandung....hiks ..hiks ...!" ada bongkahan batu besar seakan masih menindih dada Azira melihat ketidak berdayaan ayahnya saat ini.


"Motornya di tempat parkir di basemen. Kamu tunggu aja di sini...! Biar ayah ambil motor dulu..!" ucap Rama begitu semangat pada putrinya yang mengangguk patuh.


"Hmm!"


Rama turun melalui tangga darurat karena hanya beda satu lantai dengan lobi. Sementara Azira mengirim pesan singkat untuk Alea.


"Bunda. Azira mau jalan-jalan sama ayah. Boleh ya?" tulis Azira.


"Boleh sayang. Asal jangan diajak menginap di rumah ayah. Pakai masker dan kacamata agar orang-orang tidak mengenali kamu," balas Alea.


"Terimakasih bunda. Azira sayang sama bunda," balas Azira seraya mengucapkan salam.


Tidak lama kemudian, Rama sudah datang dengan motornya. Dia bingung juga karena tidak punya helm untuk putrinya.


"Kita beli helm dulu di depan ya ayah...! Takut ada polisi. Nanti kita bisa kena tilang polisi," ajak Azira.

__ADS_1


Rama tersenyum lalu mengangguk senang. Keduanya meninggalkan perusahaan Abrar. Azira membeli helm yang di jual di pinggir jalan. Rama begitu sedih karena tidak bisa membeli helm untuk putrinya. Azira memilih helm warna merah. Keduanya melanjutkan lagi perjalanan.


Azira membelitkan lengannya ke perut ayahnya. Rama mengusap punggung tangan lembut putrinya. Rasanya lebih bahagia membonceng putrinya daripada seorang pacar. Rasanya sangat beda dan terasa sangat manis.


"Kita mau ke mana sayang?" tanya Rama.


"Mau makan gado-gado dan sate ayam!" pinta Azira.


"Baiklah kita ke sana," ucap Rama menambah kecepatan motornya.


Dalam beberapa menit kemudian mereka sudah berada di kedai makanan yang menyediakan beberapa kuliner khas Indonesia. Keduanya mencari tempat duduk yang cukup nyaman dengan sedikit menjauh dari para pengunjung kedai kuliner itu. Azira mengeluarkan ATM miliknya lalu diberikan kepada sang ayah.


"Ayah...! Tolong terima kartu ini. Dan jangan menolaknya. Gunakan sesuai dengan kebutuhan ayah. Itu uang Azira sendiri. Hasil keringat Azira sendiri," ucap Azira seraya menyodorkan kartu miliknya pada sang ayah.


"Tidak sayang. Jangan lakukan itu....!" tolak Rama begitu malu melihat kebaikan putrinya.


Tidak lama pesanan mereka di sajikan oleh pelayan. Rama menyodorkan gado-gado milik putrinya yang tidak terlalu pedas. Pelayan pamit setelah memastikan pesanan keduanya sudah lengkap. Keduanya kembali bicara karena sempat terhenti oleh kedatangan pelayan. Keduanya mulai menikmati makanan mereka.


Rama hampir tersedak mendengar ucapan putrinya. Ia mengangkat wajahnya seakan tidak percaya apa yang dikatakan oleh putrinya.


"Apa maksudmu sayang?" tanya Rama memastikan lagi apa yang barusan ia dengar.


"Sebenarnya, kak Abrar ingin ayah menjadi CEO di perusahaan bekas perusahaan ayah. Atau ayah bisa memilih perusahaan lain yang ada di beberapa kota yang ayah sukai. Semua perusahaan milik ayah sudah diambil alih oleh Abrar dengan menggunakan nama samaran," lanjut Azira.


Rama terpana mendengar pengakuan putrinya. Antara bangga dan malu serta bingung beradu jadi satu. Bagaimana kejeniusan putranya mampu menendangnya dari perusahaannya sendiri yang selama ini ia rintis dengan susah payah.


"Maafkan ayah. Ayah tidak mau menerima kebaikan kalian. Selama ini ayah sudah jahat pada kalian semua," ucap Rama terdengar lirih.


"Jika ayah menolaknya, kak Abrar makin membenci ayah. Ayolah ayah...! Kita mulai semuanya dari awal..!" pinta Azira setengah memaksa.

__ADS_1


"Ayah memang pantas di benci sama Abrar dan ini, ayah tidak bisa menerima kartu ini. Ayah ingin menghasilkan uang dengan cara ayah sendiri. Ayah mau merasakan bagaimana hidup dengan mengais rejeki dari bawah. Dengan begitu ayah bisa menjadi manusia yang pandai bersyukur. Ayah ingin menebus dosa-dosa ayah, nak," pinta Rama tegas.


"Tapi ayah. Pikirkan kesehatan kakek dan nenek. Mereka juga butuh uang untuk pengobatan dan makanan untuk bertahan hidup. Setidaknya simpanlah kartu ATM ini agar suatu saat nanti ayah bisa gunakan untuk suatu yang sangat urgen..!" pinta Azira yang tidak ingin menyerah.


"Singkirkan rasa gengsi ayah...! Azira masih butuh ayah. Apa ayah mau memimpin perusahaan Azira yang ada di New York? Azira juga punya perusahaan dan rumah sakit sendiri," tawar Azira lagi-lagi membuat Rama terhenyak.


"Masya Allah. Bagaimana mungkin sayang kalian semuanya memiliki perusahaan di usia dini seperti sekarang?" tanya Rama takjub.


"Kami adalah anak-anak jeniusnya ayah. Apapun kami bisa lakukan supaya bisa mandiri dan bermanfaat untuk orang lain," ucap Azira antusias.


Hati Rama lagi-lagi tertampar mengetahui betapa hebat buah hatinya. Andai saja dulu ia tidak mengikuti hawa nafsunya, mungkin dia adalah ayah yang paling bahagia memiliki anak-anak yang berpotensi penghasil harta Karun dan membuatnya bangga.


Mungkin semuanya sudah terlanjur terbuang percuma. Saatnya dia harus membenahi diri sebelum ajal menjemputnya suatu hari nanti.


"Terimakasih untuk tawarannya sayang. Terimakasih atas kepedulian putri cantik ayah. Maafkan ayah..! Tapi, ayah ingin menghasilkan uang sendiri dengan kemampuan ayah. Ayah akan mengambil kartu milikmu ini," ucap Rama menghargai pemberian putrinya walaupun ia tidak mungkin menggunakannya.


"Terimakasih ayah. Nomor PIN nya gabungan tanggal lahir kami dan ayah. Dengan begitu ayah ingat ulang tahun kami berdua. Ngomong-ngomong, ayah mau usaha apa, ayah?" tanya Azira.


"Mau membuka bengkel sepeda dekat kontrakan ayah. Dengan begitu ayah bisa mengawasi kakek dan nenekmu karena mereka sekarang sedang sakit," ucap Rama.


"Kenapa tidak dibawah saja ke rumah sakit, ayah? Ayah bisa gunakan kartu ATM itu," tanya Azira.


"Jangan memanjakan lagi nenekmu dengan uang....! Beliau tidak akan belajar menghargai hidup dan ingat akhirat jika uang masih melekat di otaknya. Biar beli obat saja dan periksa ke puskesmas," ucap Rama.


"Baiklah ayah. Terserah ayah saja," ucap Azira akhirnya mengalah.


Keduanya akhirnya menghabiskan makanan mereka dan ingin melanjutkan lagi petualangan mereka.


"Sekarang kita mau ke mana lagi?" tanya Rama pada putrinya.

__ADS_1


"Pacaran sama ayah di Dufan. Kita main di wahana yah, ayah..! Pokoknya hari ini, Azira mau menikmati waktu bersama ayah selama sepekan ini berada di Indonesia karena Azira harus kembali ke New York karena harus mengurus perusahaan Azira," ucap Azira.


"Ok sayang. Siapa takut..!" binar Rama.. Untuk sejenak, Rama melupakan kemelut hidupnya. Ia ingin membahagiakan putrinya.


__ADS_2