
Memasuki usia kehamilan 8 bulan membuat ibu mil ini harus mengambil cuti lebih awal untuk mempersiapkan kelahirannya anak kembarnya yang ke dua.
Walaupun hamil kembar, tidak berpengaruh pada tubuh Alea yang tetap stabil dengan pinggang yang masih mengecil walaupun perutnya yang membesar yang makin membuat dirinya terlihat lebih seksi.
"Nanti persalinannya di sesar saja ya, sayang! Sekarang ada alat canggih dengan obat paten yang bisa membuatmu cepat pulih tanpa meninggalkan jahitan bekas operasi seperti dadanya Azira," ucap Mark saat mengajak istrinya berjalan pagi di sekitar taman mansion.
"Apakah perkataanmu menjamin itu semua?" tanya Alea sedikit ragu pernyataan suaminya karena pengalaman teman-temannya yang selalu mengeluh sakit pasca operasi sesar.
"Aku tidak membual padamu kalau belum terbukti pada pasien kami yang selama ini sudah merasakan pelayanan terbaik di rumah sakit milik kita," ucap Mark merangkul pundak istrinya.
"Baiklah. Kalau sakit, jatahmu hilang selama satu tahun!" ancam Alea menerbitkan senyum Mark.
"Aku akan melakukan pemaksaan. Lebih tepatnya pemerkosaan," imbuh Mark menggoda Alea yang langsung manyun membuat Mark tidak tahan meraup pipi istrinya lalu menyedot kuat bibir kenyal Alea.
"Mmmmp.. Mark!" Alea memukul-mukul dada bidang suaminya agar melepaskan pagutan bibirnya.
"Makanya, jangan menggodaku pagi-pagi begini. Aku jadi dapat sarapan bibir deh," ledek Mark.
Mark mengajak Alea beristirahat di bangku taman di mana hamparan bunga segar terbentang indah memanjakan mata mereka. Dari bunga-bunga itu menghasilkan banyak oksigen untuk ditebarkan ke lingkungan sekitar sebagai pemasok udara bersih untuk dihirup oleh Alea dan Mark pagi itu.
"Aku mau sarapan di sini!" pinta Alea ingin mencoba hal baru di taman bunga di area mansionnya.
Mark menghubungi pihak pantry agar mengantarkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Dalam sepuluh menit, mobil taman sudah siap mengantarkan pesanan si bos dengan menu lengkap yang sudah dijadwalkan Alea untuk setiap harinya kecuali mereka ke luar kota atau negeri. Pelayan menyajikan sarapan itu di atas meja dan melaporkan kepada Mark.
"Sudah tersaji lengkap tuan, apakah ada lagi yang tuan dan nyonya butuhkan?" tanya pelayan sambil membungkukkan punggungnya.
"Terimakasih. Kamu boleh pergi," ucap Mark dengan anggukan kecil setia dengan wajah datarnya.
"Baik tuan."
Mark memotong beberapa bagian daging agar memudahkan Alea memakannya. Alea merasa hidupnya berubah drastis sejak menikah dengan Mark.
Ia merasa di manjakan dan dilayani sepenuh hati oleh suaminya bukan hanya dari lahiriah saja bahkan secara batiniah ia merasakan kepuasan yang sulit dijabarkan.
__ADS_1
Untuk itulah ia selalu menuruti permintaan suaminya termasuk persalinannya yang akan dilakukan sesar nantinya karena suaminya yang ingin melakukan bedah sendiri pada perutnya.
Alea menikmati sarapannya sambil menatap wajah tampan suaminya yang makin hari membuatnya tak ingin melewati pesona kharismatik itu.
"Apakah aku terlalu tampan, baby?" tanya Mark sambil menyuapi potongan kentang goreng di mulutnya.
"Lebih dari itu. Aku jadi takut wajah tampanmu menjadi konsumsi publik dan menjadi tambahan energi untuk karyawan wanitamu," cemburu Alea.
"Mereka tidak membuatku tertarik. Hanya ibu hamil ini yang membuatku malas bekerja," ucap Mark.
"Serius...?" tekan Alea walaupun ia tahu Mark tidak membohonginya untuk hal yang satu ini.
"Kamu sudah membuktikan itu, sayang. Jadi, jangan ragu padaku. Karena hatimu juga tidak mengingkari kejujuran aku, bukan?" tanya Mark seraya meneguk susunya.
"Hmm!"
Dreeeetttt....
Mark melihat nama Barack dari layar ponselnya. Ia memperbesar volume suaranya tanpa ingin menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Ada meeting pagi ini dengan para pemegang saham, tuan. Apakah tuan akan memimpin meeting pagi ini?" tanya Barack.
"Iya. Setengah jam lagi aku berangkat. Aku harus memastikan istriku nyaman hingga mengijinkan aku boleh berangkat ke perusahaan atau tidak," ucap Mark apa adanya.
"Baik tuan."
Barack menarik nafas panjang. Semenjak menikahi Alea, bosnya berubah menjadi suami-suami takut istri. Mark selalu menuruti semua keinginan Alea. Hampir ia tidak mengenal lagi tuannya saat sudah bersama dengan Alea. Tapi beda halnya kalau sudah berjauhan dengan Alea pasti Mark kembali ke mode pabrik.
Datar, jutek dan menakutkan. Jangankan untuk bicara dengannya, hanya melihat wujudnya saja orang enggan untuk menyapa dan memilih jalur lain untuk mencari aman.
"Sayang. Apa aku boleh ikut meeting pagi ini?" tanya Mark yang sudah memandikan dan merapikan boneka Barbie-nya ini.
"Boleh. Tapi, makan siangnya di rumah, ya! Aku sangat kesepian karena si kembar selalu pulang kuliahnya sampai sore," ucap Alea.
__ADS_1
"Mereka sedang menyusun skripsi, jadi wajar mereka pulang sore. Nanti aku akan usahakan pulang lebih cepat," ucap Mark memberikan kecupan manis pada bibir istrinya.
"Janji." Alea menunjukkan jari kelingkingnya sebagai bentuk janjinya.
"Iya sayang. Tapi, kau tahu akibatnya kalau aku menemanimu tidak gratis," ucap Mark.
"Hmm!" senyum Alea mengangguk setuju dan itu yang sangat disukai Mark karena Alea tidak lagi banyak mengeluh jika ia menginginkan wanitanya untuk melayaninya.
Mark mengecup bibir Alea dan meninggalkan istrinya untuk sementara waktu." Tidak usah di antar ke bawah. Aku tidak mau kamu jatuh di tangga. Minta saja apapun yang kamu inginkan ke pelayan, ok?!" pesan Mark sebelum menutup rapat lagi pintu kamarnya.
"Hmm!"
Senyum cantik Alea mengantarkan Mark pagi itu untuk berangkat ke perusahaannya.
...----------------...
Di ruang meeting, semua pemegang saham sudah duduk menunggu Mark yang baru datang. Dengan langkah tegap di sambut oleh pemegang saham yang berdiri sebentar hingga menunggu Mark duduk dan mereka juga kembali duduk serentak.
"Pagi tuan!"
"Pagi. Baiklah. Ada yang ingin kalian sampaikan?" tanya Mark memperhatikan satu persatu wajah pemegang saham hingga tatapannya berhenti pada sosok yang sudah lama ia tidak melihatnya.
"Selamat pagi tuan Mark...!" sapa Claire yang ingin lebih dulu menyampaikan pendapatnya tentang sahamnya yang ada di perusahaan Mark sebesar 20%.
"Silahkan nona Claire!" acuh Mark menyimak apa yang akan disampaikan oleh mantan jodohnya itu. Mark menyimaknya dengan baik.
"Kehadiran saya di rapat ini hanya menyampaikan kalau saya akan menarik saham saya di perusahaan ini karena saya tidak lagi berminat untuk bergabung dengan perusahaan tuan Mark.
Karena banyak sekali perusahaan lain yang menawarkan pembagian hasil yang cukup besar untuk saya," ucap Claire yang sebenarnya sedang marah pada Mark.
"Tidak masalah nona Claire. Perusahaanku bisa berdiri sendiri tanpa saham anda maupun yang lainnya," angkuh Mark membuat Claire tersentak.
"Alih-alih berharap Mark akan meminta maaf padanya karena ditinggal nikah dengan wanita lain, justru pria ini sengaja ingin mendepaknya dari perusahaan yang awalnya dibangun oleh Mark dari nol.
__ADS_1
"Sialan...!" umpat Claire namun tetap bersikap manis seperti biasanya pada yang lainnya walaupun Mark tahu Claire begitu munafik untuk urusan penampakan emosi. Gadis ini tersenyum tenang namun penuh dengan rencana.
"Kita lihat saja Mark..! Seberapa kuat kamu akan bertahan dengan wanita itu," ancam Claire.