
Mark yang tidak paham dengan bahasa Indonesia, namun mengerti kegundahan Alea. Sementara si kembar yang sangat paham bahasa Indonesia namun pura-pura bloon di depan sang bunda dengan tetap bersikap tenang dan sibuk mengutak-atik ponsel mereka.
"Tenang saja bunda! Nenek sihir itu memang masih berkibar karena uang dan kekuasaan masih ada ditangannya. Tapi, aku tidak akan membiarkan dia menganggu kita lagi bunda. Aku akan menghancurkan hidup mereka secara perlahan agar mereka panik," batin Abrar penuh rencana licik.
"Syakira. Kita main di kamar saja, yuk!" ajak Abrar lalu menggandeng tangan adiknya itu.
"Ok kakak. Let's go...!" Keduanya berjalan dengan langkah cepat menuju lantai dua.
Mark mendekati istrinya yang masih menyimak ucapan nyonya Tini yang habis-habisan menjatuhkan nama baiknya. Bagi Alea hal itu tidak aneh lagi jika dirinya dijadikan tempat sampah untuk menampung ujaran kebencian mantan mertuanya itu. Tapi, yang membuat dia geram adalah mereka berniat ingin merebut anak kembarnya.
"Ada apa sayang? Apakah berita itu menganggu-mu?" tanya Mark.
"Sangat menganggu karena tidak masuk akal," sahut Alea menjelaskan lagi ancaman ibu mertuanya yang akan merebut hak asuh anak kembarnya.
"Apakah aku perlu mengurus nenek bandel itu?" tawar Mark.
"Terimakasih atas tawaranmu, sayang. Biarkan kita mengikuti langkah hukum yang akan mereka ambil. Dengan begitu aku bisa membuktikan kebenaran kepada dunia atas tindakan keji yang selama 5 tahun lebih dia menyiksa batinku secara verbal," jelas Alea.
"Jadi, kamu tidak ingin membalas dendam secara instan?" tanya Mark yang saat ini memeluk istrinya yang bersandar pada dadanya.
"Kematian terlalu mudah bagi dirinya. Hukuman sosial itu jauh lebih tersiksa. Bagaimana rasanya jika kita kehilangan kepercayaan publik," ucap Alea.
"Hebat. Aku tidak pernah bisa bersaing dengan seorang mantan diplomat. Sekarang aku baru tahu kehebatan si kembar menurun dari istriku yang sangat cantik ini. Berarti jangan dipikirkan lagi ucapan nenek bandel itu, kalau kamu sudah punya strategi untuk melawannya. Aku akan mendukungmu dengan caraku sendiri," ucap Mark.
"Jika mereka jual, maka aku akan beli," sahut Alea.
"Harga mereka terlalu murah, hingga kehormatan mereka terkesan murahan," timpal Mark.
"Mau bercinta, sayang?!" tawar Alea dengan suara mendayu-dayu.
"Tumben nawar? Apakah sudah doyan?" goda Mark.
__ADS_1
"Lebih tepatnya sudah kecanduan dengan barang enak," imbuh Alea tidak kalah frontalnya.
"Mau sampai pagi?" ledek Mark.
"Berarti kau harus menggendongku ke kantor besok," ujar Alea.
"Dengan senang hati nyonya Mark." Mark menggendong istrinya yang sudah berkoala di pinggangnya dengan saling memagut bibir mereka. Keduanya sudah berada di kamar dengan saling menyerang.
Sementara di kamar sebelah, Abrar dan Azira sedang berselancar di layar laptop untuk menjatuhkan lagi beberapa anak perusahaan milik ayah kandungnya mereka. Dengan begitu, mereka akan mudah membeli harga saham yang sangat murah.
"Kita akan memiskinkan tuan Rama secara perlahan-lahan. Dengan begitu, ia tidak akan berani untuk merebut kita dari bunda dan Daddy. Jika masih nekat juga, kita akan pastikan mereka tidur di jalanan," sumpah Abrar penuh dendam pada sang ayah.
"Yang aku sesalkan, kenapa kita memiliki ayah kandung seperti dia. Kenapa bukan daddy Mark yang baik hati dan tidak sombong," cicit Azira.
"Karena jodoh bunda baru munculnya sekarang," balas Abrar membuat Azira terkekeh.
...----------------...
Alea membaca gugutan Rama atas hak asuh si kembar. Alea hanya tersenyum smirk dengan menaikkan satu alisnya. Tidak ada raut ketakutan sama sekali karena ia berada diposisi yang benar.
"Rupanya kau tidak sabar lagi ingin bermain-main denganku, Rama? Apakah kamu sudah berkomplot dengan ibumu untuk menyerangku secara hukum? Ok, mantan...! mari kita bermain.
Aku sambut bola yang sudah kau tendang ke gawangku, tuan Rama," gumam Alea sambil menggoyang-goyangkan kursi kebesarannya antara kanan dan kiri sambil memainkan ujung penanya.
Alea mengirimkan pesan kepada suaminya. Ia juga tidak lupa memfoto surat gugatan tersebut.
"Baiklah sayang. Ajukan cuti. Kita pulang ke Indonesia bersama si kembar. Kita akan mempertemukan si kembar dengan nenek mereka. Kita akan lihat bagaimana reaksi si kembar saat bertemu dengan nenek mereka," balas Mark di pesannya untuk Alea.
"Terimakasih sayangku. Aku tidak sabar ingin menjatuhkan lawanku secepatnya," tulis Alea.
Tiga hari kemudian, setelah mengajukan cuti di kantornya, Alea mengajak si kembar pulang ke Indonesia. Alea juga mengajak bibi Sari yang akan menjadi saksi di persidangan nanti.
__ADS_1
Dengan pesawat jet pribadi milik Mark, kelurga kecil ini berangkat kembali ke tanah air mereka. Mark sudah mengerahkan anak buahnya untuk menjaga keamanan selama kelurga kecilnya berada di Indonesia.
"Bunda. Apakah Indonesia aman?" tanya Azira yang belum merasakan kehidupan di tanah kelahirannya. Walaupun gadis ini sudah banyak belajar geografis Indonesia.
"Bukan hanya aman, tapi kaya akan aneka ragam budaya. Masyarakatnya ramah dan hubungan kekeluargaannya sangat harmonis," ucap Alea menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya.
"Kok beda banget dengan kenyataannya bunda," protes Azira.
"Beda bagaimana sayang?" tanya Alea tidak mengerti.
"Jika masyarakat Indonesia yang digambarkan bunda itu orangnya ramah-tamah, mengapa nenek kami sangat jahat kepada Bunda?" tanya Azira.
"Bagaimana kamu tahu kalau nenek kalian..? Apakah kalian menyimak ucapan nenek pada konferensi pers beberapa bulan yang lalu?" cecar Alea.
"Maaf bunda. Kami berdua sangat paham dengan bahasa Indonesia. Hanya saja kami tidak ingin membuat bunda sedih," timpal Abrar.
"Hanya orang-orang yang berhati dengki seperti nenek kalian yang menghancurkan citra Indonesia yang terkenal di mancanegara sebagai masyarakat yang ramah," ucap Alea.
"Apakah dulu, kakek buyutnya nenek itu pengkhianat bangsa? Biasanya orang yang tidak bisa mengendalikan lisannya selalu dekat dengan pintu kekufuran," ucap Azira.
"Mungkin saja begitu," ucap Mark membuat Alea hanya bisa menarik nafas panjang.
"Istirahatlah sayang. Perjalanan kita ke Indonesia sangat lama. Dan ingat sampaikan apa yang kalian ingat di kondisi kalian yang saat itu masih sakit karena kesaksian kalian yang dibutuhkan dipersidangan nanti!" pinta Alea.
"Itu sudah pasti bunda. Siapa yang tidak percaya dengan kami. Dunia sudah mengenal kami lebih dulu daripada nenek sihir itu, bunda," ucap Abrar yang sudah tidak sabar ingin mempermalukan ayah kandungnya sendiri.
"Terimakasih anak-anakku. Lebih baik bunda mati daripada harus dipisahkan dengan kalian," ujar Alea lalu memeluk si kembar dan menangis bersama.
Tidak lama kemudian, Mark sudah mengantarkan si kembar untuk tidur di kamar mereka sambil menunggu pesawatnya tiba di bandara Indonesia.
Sementara Alea sibuk dengan beberapa berkas laporan medis yang menyatakan jika kandungnya dulu bermasalah. Ia juga sudah menghubungi dokter yang pernah menangani kasusnya dulu selama dia hamil hingga lahiran.
__ADS_1