Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
81. Tidak Semudah Itu Memaafkanmu!


__ADS_3

Tiba di perusahaan Abrar, Rama disambut oleh mantan satpamnya dengan tetap menunduk hormat pada mantan bos mereka itu.


"Pagi Tuan ...!" membungkukkan tubuh mereka dengan memberi ruang untuk Rama melewati pintu kaca otomatis itu.


Begitu juga karyawan lain yang berpapasan dengan Rama yang tetap setia dengan tampang cool-nya namun tidak terkesan angkuh saat mereka memberi hormat.


Pintu lift terbuka dan membawanya ke lantai 21 di mana ruang kerja Abrar berada. Asisten pribadinya Abrar saat ini adalah Noah, mantan teman kuliahnya Abrar selagi masih kuliah di New York dengannya.


"Selamat pagi om Rama!" santun Noah..


"Pagi Noah! Apakah saya bisa bertemu dengan Abrar?" tanya Rama pada Noah yang sedikit bingung memberi jawaban.


"Silahkan tunggu sebentar om! Saya tanya dulu Abrar nya. Saya takut salah," gumam Noah tersenyum canggung pada Rama yang hanya mengangguk pelan.


Rama duduk di sofa ruang tunggu untuk tamu. Noah menemui Abrar yang sedang serius menatap laptop miliknya.


"Abrar. Ada ayah kamu, om Rama," ucap Noah hati-hati.


"Bilang aku tidak mau bertemu dengannya," ucap Abrar namun, Rama sudah lebih dulu membuka pintu ruang kerja itu membuat Abrar hanya melirik dingin ayahnya.


Noah hanya bisa mengusap tengkuknya yang tiba-tiba tegang dengan perasaan yang tidak enak melihat perang dingin antara ayah dan anak ini.


"Permisi bro...!" ucap Noah yang berusia 20 tahun beda 10 tahun dengan Abrar. Pemuda tampan ini meninggalkan keduanya.


Abrar mengambil ponselnya seraya bersandar ke kursinya tanpa pedulikan kehadiran ayahnya yang terlihat sangat sabar menghadapi putranya itu.

__ADS_1


"Mau apa ke sini?" sinis Abrar pada ayahnya yang hanya bisa menelan salivanya gugup.


"Ayah hanya ingin mengucapkan terimakasih atas bantuanmu pada bisnis baru ayah yang...-"


Abrar tersenyum miring sambil mengalihkan wajahnya ke arah lain.


"Jangan terlalu merasa besar kepala dengan apa yang aku lakukan padamu. Sesungguhnya semua itu bukan keinginanku.


Aku melakukannya karena cinta Azira yang terlihat buta padamu. Pada ayah yang sudah membuang kami sebelum kami hadir di dunia ini," ungkit Abrar yang tidak bisa melupakan begitu saja perbuatan bejat ayahnya pada ibu kandungnya.


"Ayah tahu nak. Bahkan semesta pun sulit memaafkan ayah walaupun ayah bertobat atas dosa-dosa ayah pada kalian. Tapi, bagaimanapun juga ayah tetap ingin meminta maaf kepadamu dengan segenap jiwa raga ayah. Apa yang harus ayah lakukan agar kamu mau memaafkan ayah, nak?" tanya Rama terdengar lirih lagi sendu.


"Maaf...? Apa dengan kata maaf semua kesalahan kamu bisa terhapus begitu saja, hah?!" pekik Abrar dengan wajah kelam menatap wajah Rama yang tertunduk malu pada tatapan sakit putranya.


"Apakah saat kami lahir kamu datang mencari kami? Apakah saat kami menjalani operasi, apakah kamu berpikir untuk mencari tahu keberadaan kami di mana kami saat itu?


Suaranya terdengar lirih dengan banjir air mata yang setiap malam aku saksikan sendiri dan aku ikut menangis merasakan betapa sakitnya bunda karena takut operasi kami gagal dan memang gagal karena aku tidak bisa berjalan hingga usiaku 4 tahun," tutur Abrar dengan suara bergetar sambil menahan air matanya agar tidak mudah meleleh dipipinya.


Mendengar pengakuan putranya membuat hati Rama kembali tertampar begitu sakitnya. Ia kembali merasa tak pantas berada di tengah kebahagiaan anak-anaknya.


"Maaf....maaf nak...ayah salah dan sangat salah. Ayah tidak pantas mendapatkan maaf kalian," ucap Rama karena hanya itu yang bisa ia ucapkan.


"Kau tahu? Saat itu aku mengira daddy Mark adalah ayah kandung kami karena dia selalu ada untuk kami. Dia bukan hanya berkorban dari segi materi dan tenaganya untuk melakukan operasi pada kami berdua, tapi setelah melakukan operasi dia menjaga kami semalaman untuk memastikan kalau kami tidak mengeluh sakit pasca operasi.


Betapa mulianya daddy Mark. Semoga Allah merahmatinya atas jasa-jasanya pada kami dan bunda. Dan asal kamu tahu, bunda tidak mengetahui sama sekali kalau rumah' sakit itu milik daddy Mark hingga pernikahan mereka berlangsung selama 2 tahun.

__ADS_1


Daddy melakukan itu agar bunda menikah dengannya atas dasar cinta bukan balas budi," papar Abrar penuh emosional.


"Sejalannya waktu, Allah memperlihatkan kuasanya saat itu tanpa sengaja Azira berbuat ceroboh menyalahkan mesin penghangat ruangan malah terjadi korslet hingga mengeluarkan bunga api.


Dalam sekejap kamar terbakar dan aku yang saat itu tidak bisa berjalan tiba-tiba bisa berdiri kuat agar bisa menyelamatkan tubuh Azira yang hampir terbakar karena gaun tidurnya yang sudah di sambar api.


Itulah sebabnya aku bisa berjalan sampai detik ini," lirih Abrar dengan bibir bergetar menahan luapan emosinya jika mengenang saat-saat sulit yang mereka lewati bersama tanpa ada ayah biologisnya yang seharusnya ada untuk mereka.


Sesak di dada Rama makin menjadi mana kala banyak hal yang telah ia lewatkan bahkan ia tidak tahu detailnya seperti apa karena Azira tidak pernah menyinggung masa lalu.


Yang ada, putrinya hanya ingin bersenang-senang dengannya saja. Jika putranya sulit memaafkannya, itu sangat wajar karena tidak seimbang dengan perjuangan Alea dan Mark saat menyelamatkan kehidupan anak kembarnya yang tidak ia akui sebelumnya.


"Apakah setelah bundaku melewati kepedihan hidupnya selama 4 tahun harus terhapus begitu saja dengan kata maaf darimu wahai kau yang bergelar ayah? Tidak semudah itu aku memaafkanmu!


Jika Azira mencintaimu, itu haknya karena hatinya yang sangat lembut dan mudah tersentuh. Tapi tidak dengan aku. Maaf ...! Aku banyak pekerjaan," sarkas Abrar mampu menghempaskan harapan Rama yang terlalu semangat mendapatkan cinta putranya.


Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan cinta putranya. Semuanya nampak karam asa yang terbuang di laut lepas. Tenggelam bersama mentari senja. Keberaniannya ciut. Lidahnya terasa kelu.


"Terimakasih nak, ayah mohon maaf. Ayah telah salah menemui kamu dengan kebodohan ayah yang terlalu percaya diri karena kamu sudah membantu ayah.


Terimakasih telah membuka mata batin ayah. Ayah permisi nak. Semoga sehat selalu. Assalamualaikum...!" pamit Rama tertunduk sedih beranjak pergi dari perusahaan putranya.


Abrar mengendurkan dasinya karena setiap kali dia melukai hati ayahnya, justru dia sendiri yang merasakan sakitnya. Ada rasa bersalah menghantuinya setelah itu.


"Kenapa harus menemuiku jika akhirnya aku sendiri yang tersiksa seperti ini," geram Abrar yang merasakan penderitaan batin ayahnya.

__ADS_1


Rama mengendarai mobilnya dalam keadaan hatinya yang perih. Rasanya semangatnya ikut terbawa dengan kisah kelam Alea dan si kembar. Menyesali semuanya rasanya percuma. Memulai kembali untuk memperbaiki diri terhambat karena cicitan putranya yang belum rela melihatnya mendapatkan kebahagiaan.


"Mungkin aku tidak pantas menjadi ayah mereka. Mungkin dosaku akan terampuni jika aku hanya bisa menebus dosa itu dengan jiwaku. Yah, mati itu terdengar lebih menenangkan dan memuaskan putraku Abrar," batin Rama pesimis.


__ADS_2