Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
77. Kesan Terindah


__ADS_3

Usai mempersembahkan lagu untuk ayahnya, Azira meneruskan dengan memainkan piano dengan instrumen sedih menyayat hati mewakili perasaannya pada sang ayah yang akan ia tinggalkan esok hari.


Bukan hanya Rama saja yang merasakan kesedihan mendengar instrumen indah itu, tapi para pengunjung restoran nampak hanyut dalam permainan piano gadis kecil yang sebentar lagi merayakan ulang tahunnya yang ke 10 tahun.


Tidak jauh dari mejanya Rama, seorang pemuda yang sedang patah hati, nampak menikmati permainan tangan ajaib Azira. Hatinya yang awalnya merasa sangat sesak berubah terhibur melihat kecantikan Azira.


"Apakah dia komposer muda Azira yang terkenal itu?" batin pemuda itu bertanya-tanya sendiri.


"Cepatlah tumbuh besar, gadis manis!" gumam sang pemuda diam-diam mengambil foto Azira. Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda yang berusia 18 tahun itu pada Azira.


Tidak lama terdengar tepuk tangan pengunjung restoran saat Azira mengakhiri permainannya. Karena pengunjung restoran itu berasal dari kalangan konglomerat yang juga mengenal Rama, membuatnya ingin mendekati Rama dan Azira.


"Tuan Rama..!" sapa tuan Wirya pada Rama yang sesaat tampak mengingat siapa pria yang ada di depannya ini.


"Apakah anda adalah tuan Wirya pemilik perusahaan tekstil itu?" tanya Rama memastikan lagi ingatannya.


"Benar sekali tuan Rama." Keduanya berjabat tangan lalu tatapan tuan Wirya beralih pada Azira sambil tersenyum.


"Apakah ini putrimu..?" tanya tuan Wirya yang di dampingi oleh putranya Yoga yang berusia 15 tahun.


"Benar tuan Wirya. Ini putriku Azira. Sayang. Salim sama om Wirya...!" pinta Rama dan Azira menyalami Tuan Wirya dan putranya." Ini putraku Yoga," ucap tuan Wirya memperkenalkan putra tunggalnya itu.


"Apakah putri paman ini yang komposer muda itu?" tanya Yoga tersenyum pada Azira yang nampak datar pada putra dari teman ayahnya itu.


"A..iya...!" Rama nampak canggung membenarkan pertanyaan Yoga karena putrinya terlihat tidak suka pada Yoga yang matanya jelalatan menatapnya.


Sang pemuda tadi, begitu gusar melihat dialog tidak bermutu di depannya itu. Ia pun segera bangun untuk menganggu keakraban keluarga itu.


"Selamat malam nona Azira! Apakah saya boleh minta foto dengan anda, nona?" santun sang pemuda tampan itu.


Azira menyambut permintaan fansnya itu dengan antusias." Boleh kak.. silahkan..!" ucap Azira tersenyum manis saat kamera ponsel milik Fahri mengarah padanya. Mereka juga foto berdua seraya menempelkan kepalanya.


"Terimakasih. Kamu cantik sekali Azira!" puji Fahri membuat Azira tersipu.

__ADS_1


"Terimakasih kak. Ayo ayah...! Kita pulang...!" ajak Azira menghindari Yoga yang ingin foto selfi bersamanya.


Mulut Yoga kembali terkatup melihat Azira yang nampak dingin padanya dan terlihat akrab dengan Fahri yang baru menyapanya.


"Maaf tuan Wirya...! Putriku harus istirahat karena dia akan kembali ke New York besok pagi," ucap Rama memberi alasan.


Tidak lama kemudian keduanya sudah berada di pusat oleh-oleh berupa cemilan yang akan dibeli oleh Azira untuk karyawannya dan pelayan yang ada di mansion mereka. Usai belanja Azira teringat akan kakek dan neneknya.


"Ayah. Boleh aku pamit pada nenek dan kakek? Sejak aku berada di Indonesia, aku belum pernah ketemu dengan kakek dan nenek," pinta Azira.


"Apakah kamu tidak masalah mampir ke kontrakan ayah yang kumuh?" tanya Rama begitu ragu.


"Kakek dan nenek sudah berada di apartemen ayah sekarang. Azira menyuruh orang untuk menjemput mereka saat kita makan malam di restoran," balas Azira sambil tersenyum.


"Baby...! Kau...?" sentak Rama menatap wajah putrinya sambil mengemudi.


"Ayah. Lihatlah ke depan..! Nanti kita bisa tabrakan lho...!" celetuk Azira.


Rama kembali menyetir mobilnya dengan benar. Namun hatinya terasa sangat berbunga-bunga mendapatkan kejutan dari putrinya yang tak di sangka-sangka.


"Cintaku hanya untuk ayah. Aku tidak mau pindah ke lain hati, ayah," ucap Azira tidak ingin mendengarkan ucapan ayahnya itu walaupun hanya bercanda.


"Lho ..! Emangnya kenapa, sayang ..? Nanti kalau ayah meninggal bagaimana dengan Azira? Bukankah harus ada yang menjaga Azira nanti kalau ayah sudah tidak ada?" ucap Rama.


"Sepengetahuan Azira yang sudah menyandang gelar dokter bedah termuda saat ini, kalau wanita penderita penyakit jantung tidak bisa mengandung dan melahirkan," ucap Azira tampak tenang karena jiwanya belum memahami tentang konsep berumah tangga.


Degggg....


Mendengar pengakuan putrinya membuat hati Rama teriris sembilu. Ia menepikan mobilnya lalu membuka seat belt miliknya. Ia memeluk tubuh putrinya sambil menangis.


"Sayang. Ayah bersumpah akan memberikan kamu kehidupan baru tanpa memikirkan jantung itu lagi," batin Rama dengan tekad yang kuat.


"Ayah. Azira ingin membahagiakan semuanya termasuk kakek dan nenek," ucap Azira.

__ADS_1


"Terimakasih bidadariku!" lirih Rama mengurai pelukannya. Perpisahan malam ini sungguh membuat hatinya tidak bisa move on.


Jika bisa, dia ingin menjadi orang kaya lagi dan meminta ijin pada Alea untuk mengijinkan putrinya tinggal bersama dengannya sebentar saja.


Rama menangis sepanjang jalan sambil menggenggam tangan mungil putrinya.


"Ya Allah....! Kenapa rasanya sakit banget..? Kenapa harus terjadi perpisahan ini di saat aku sedang sayang-sayangnya pada putriku...?"


Bahu Rama terus terguncang dengan pikiran yang tak berujung. Keangkuhan masa lalunya harus di bayar mahal untuk sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


"Ya Allah. Cinta putriku terlalu besar untukku, tapi apa yang aku lakukan dulu pada mereka? Aku bahkan tega menyuruh istriku membunuh mereka. Melenyapkan mereka.


Saat aku merasakan cinta putriku, Kenapa Engkau malah mau mengambilnya lagi dariku? Ya Allah, jangan lakukan itu padaku...ku mohon...!" batin Rama terasa sesak.


Tiba di apartemen, Rama dengan wajah sembabnya memencet bel unit apartemennya sambil menggandeng tangan putrinya Azira. Pintu itu dibuka dan tampaklah seorang wanita tua dengan kacamatanya menatap wajah Azira.


"Rama..? Bukankah ini Azira?" tanya nyonya Tini yang terlihat sudah berubah.


"Iya mama. Ayo masuk sayang...!" ajak Rama dan Azira mencium punggung tangan neneknya takzim. Azira juga menghampiri kakeknya yang masih duduk di kursi roda karena keadaannya yang sedang stroke.


Rama menatap kursi roda itu yang terasa asing baginya. Kursi roda dengan layar ponsel di depannya yang terlihat sangat canggih.


"Dari mana papa mendapatkan kursi roda itu, mama?" selidik Rama dengan dahi mengkerut.


"Entahlah nak. Mama sampai saat ini masih bingung karena tiba-tiba saja ada temanmu pak Irwan menyuruh kami pindah ke sini tanpa membawa apapun dari kontrakan kita. Dan memberi kursi roda itu untuk papamu nak," ucap nyonya Tini. Rama melihat wajah putrinya.


"Semua itu pemberian Azira mama, cucu mama. Dia tidak ingin kita hidup menderita. Jadi, bukan uangnya Rama," ucap Rama membuat Nyonya Tini malu dan terharu.


"Nenek, kakek, aku lakukan ini sebagai bentuk rasa syukurku kepada Allah dan rasa terimakasih aku pada kalian karena nenek sudah melahirkan seorang ayah hebat untukku. Ramadani Ahmad. Seorang ayah yang ku rindukan kasih sayangnya selama ini. Seorang ayah yang sangat berarti untuk hidupku. Terimakasih nenek, karena kalian, dia menghadirkan aku di bumi ini," ucap Azira membuat perasaan nyonya Tini benar-benar sakit.


"Astaghfirullah halaziiim, apa yang telah aku lakukan pada cucuku? Kebaikannya yang tulus seperti hukuman terberat untukku," ucap Nyonya Tini seraya bersimpuh pada cucu kandungnya.


"Jangan lakukan itu nenek...! peluk saja Azira! Apakah nenek tidak merindukan aku? Tutur Azira sambil menahan tangisnya.

__ADS_1


Rama mendongakkan wajahnya ke atas. Air matanya tumpah ruah malam ini. Begitu juga dengan ayahnya yang menangisi kebodohan mereka di masa lalu.


__ADS_2