Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
69. Rama Yang Malang


__ADS_3

Jika Claire telah menerima hasil perbuatannya dengan bisnisnya yang hancur di tambah sekarang ia mendekam dalam penjara yang dingin, kini tiba giliran Rama yang mulai kewalahan menangani perusahaannya yang makin hari makin kian merosot income perusahaannya.


Padahal dia sudah mengerahkan timnya untuk mencaritahu sumber dari penyebab perusahaannya induknya ikut goyang. Semua laporan yang masuk dari timnya tetap saja sama. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.


"Kalau seperti ini hasil yang kalian temukan di lapangan, maka tidak ada lagi yang bisa diselamatkan karena dana kita makin menipis dalam melakukan operasional pasar produk yang tidak laku di pasar industri.


Daya saing dengan perusahaan yang sama menawarkan produk mereka yang lebih menonjol dari pada produk kemasan minyak kelapa sawit yang kita kembangkan ini menjadi pemasok terbesar ke negara tetangga," ucap Rama terlihat sedih.


"Produk kita akan bertahan kualitasnya jika saja para investor asing tidak menarik sahamnya dan berpindah ke perusahaan lain," ucap tuan Anwar.


"Kalau begitu, kalian siap menerima PHK dengan pesangon yang sedikit. Perusahaanku tidak bisa membayar pesangon kalian kecuali ada yang mau membeli saham kita yang juga sudah jatuh di pasar saham," pasrah Rama menekan amarahnya.


"Baik tuan. Semoga ada yang menempati perusahaan tuan agar masa depan kami kembali ada dan kami tidak akan menjadi pengangguran abadi di rumah," ucap tuan Farid sedikit becanda.


"Apakah ada yang mau menempati perusahaan yang sudah bobrok ini, Farid?" lirih Rama tampak putus asa.


"Jangan pesimis begitu tuan. Ada masanya kita jaya dan saatnya kita jatuh. Hidup hanya ajang permainan nasib. Ada yang bertahan sampai akhir dengan kesuksesan yang ia miliki dan mungkin itu adalah bagian dari amal ibadahnya yang selalu berkah dalam mencari rezeki.


Ada yang naik terus kemudian jatuh, mungkin dia sering kufur nikmat hingga Allah mengambil kembali nikmat yang pernah ia reguk," jelas tuan Farid memberi pengertian pada Rama yang tampak merenung.


Ia sangat tahu arah pembicaraannya Faried yang sengaja menyindir masa lalunya yang tidak lain adalah awal pemicu perceraiannya dengan Alea.


"Semuanya sudah terlanjur. Aku tidak bisa lagi meraih yang telah pergi dariku. Semuanya hancur berawal dari keegoisanku," tutur Rama sedih.


"Kalau begitu, bertobatlah, tuan. Tidak ada satu manusia di dunia ini yang bebas dari salah dan dosa. Karena kakek buyut kita Adam yang memulai dosa itu. Namun, beliau akhirnya menyesali perbuatannya. Kenapa kita tidak mencontohkan keteladanan beliau?


Bayangkan sudah di kasih surga malah kejebak juga rayuan setan. Nabi Adam yang dikasih surga saja bisa khilaf apa lagi tuan hanya di kasih perusahaan," papar Tuan Farid menasehati Rama yang masih keras hatinya.


"Apakah dengan aku bertobat, apa yang telah hilang dariku akan kembali lagi padaku?" sarkas Rama.


"Memang solusi belum bisa tuan temukan. Namun setidaknya dengan banyak bertobat, hati tuan akan tenang. Tidak dibuat mumet oleh setan yang terus menerus menyesatkan pikiran tuan," imbuh tuan Farid tak jemu menasehati bosnya yang keras kepala ini.

__ADS_1


Keduanya terlihat diam. Tuan Farid yang tidak ingin lagi terlibat obrolan dengan pria keras kepala ini, memilih untuk kembali ke ruang kerjanya.


Rama tidak begitu peduli dengan koleganya itu. Yang di otaknya hanya uang dan uang. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bangkit kembali meraih kesuksesannya seperti tahun-tahun sebelumnya.


...----------------...


Dua tahun berlalu, Si kembar sudah mempersiapkan diri mereka untuk kembali ke Indonesia mengambil alih semua perusahaan milik ayah kandung mereka yang saat ini mereka titipkan kepada orang lain yang menjalani perusahaan itu.


Rupanya Abrar meminta beberapa teman kuliahnya yang berasal dari Jakarta Indonesia untuk mengelola perusahaan miliknya.


"Apakah kakak akan menetap di Jakarta dalam waktu yang lama?" tanya Azira.


"Iya. Tapi, saya harus mencari apartemen sendiri yang sesuai dengan kebutuhan saya," ucap Abrar.


"Bagaimana cara meminta ijin pada bunda dan Daddy? Mereka belum tentu mengijinkan kakak untuk kembali ke Indonesia karena usia kakak masih terlalu kecil," ucap Azira.


"Aku yakin bunda akan mengijinkan aku tinggal di Jakarta bersama bibi Sari yang akan mengurus keperluanku," ucap Abrar.


"Itulah tujuan utamaku. Untuk mempermalukannya. Bukankah dulu dia pernah mengatakan kalau kita hanya anak cacat pembawa sial dan akan membuatnya kelelahan karena mengurus kita yang hanya bisa menghabiskan uangnya saja?" tanya Abrar mengingatkan lagi pada saudara kembarnya.


"Maksudnya, kakak ingin membuktikan kepada ayah kalau kemampuan kita lebih dari pada anak normal yang sangat ayah harapkan?" tanya Azira.


"Iya. Aku akan terus menekannya bahwa tidak ada produk Allah yang gagal namun pikiran manusia seperti ayah kita yang terlalu dangkal," imbuh Abrar penuh dengan dendam.


"Sepertinya aku tidak bisa ikut tinggal dengan kakak di Jakarta karena aku harus mengurus perusahaan dan rumah sakit milikku sendiri, kak. Tapi untuk acara peresmian perusahaan baru kakak di Jakarta, aku pasti akan ikut kalau kedua orangtua kita mengijinkannya," balas Azira.


"Sekarang, aku minta kamu bantu ngomong pada kedua orangtua kita agar aku bisa tinggal di Indonesia!" pinta Abrar.


"Bagaimana kalau permohonan kita gagal kak?" cemas Azira.


"Katakan yang sejujurnya! Ijin atau tidak, pasti Daddy Mark yang akan bantu kita untuk meyakinkan bunda karena kita pulang ke sana untuk mengambil alih perusahaan tuan Rama," ucap Abrar.

__ADS_1


"Ayo kita coba temui bunda di ruang keluarga...!" ajak Azira.


Keduanya mencoba basa-basi dulu dengan adik mereka si kembar Mikaila dan Mikail. Abrar memberi isyarat dengan matanya agar Azira yang mulai bicara duluan. Azira menarik nafas panjang lalu berdoa agar lisannya tidak salah bicara.


"Bunda, Daddy, ada yang ingin kami sampaikan kepada Bunda dan Daddy dan ini sangat penting," ucap Azira ketar-ketir.


"Ada apa sayang?" tanya Alea seraya meletakkan ponselnya dan membuka kaca mata bacanya.


"Kak Abrar ingin pindah ke Indonesia," celetuk Azira.


"Untuk apa ke Indonesia? Daddy dan bunda tinggal di sini. Kenapa Abrar mau pulang ke Indonesia? Apakah ada yang sedang merundung kamu Abrar?" tanya Mark.


"Tidak begitu daddy," sahut Abrar


"Lantas apa?" cecar Alea.


"Saat ini Abrar ingin meresmikan perusahaan Abrar di Indonesia. Abrar membeli beberapa perusahaan bangkrut dengan kepemilikan orang yang sama," ujar Abrar.


"Bagaimana bisa kamu membeli saham perusahaan sebanyak itu? Dan siapa pemilik perusahaan itu?" tanya Mark penasaran.


"Perusahaan itu milik tuan Ramadani Ahmad, ayah kandung kami," jawab Abrar menjelaskan bagaimana dia mendapatkan uang untuk membeli perusahaan milik ayah kandungnya itu kepada kedua orangtuanya membuat Alea sangat syok.


Duarr ..


"Tidak mungkin. Kamu tidak sedang becandakan, Abrar?" desak Alea menahan geram pada putranya yang dianggap sangat lancang.


"Itu memang benar bunda," tegas Abrar membuat Alea sulit menerima perbuatan putranya kali ini.


"Siapa yang menyuruh kalian untuk menghancurkan perusahaannya? Apakah kalian terlihat hebat dengan menikam ayah kandung kalian sendiri? Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungnya kalian. Apakah tidak cukup bunda yang menghukumnya? Kenapa kalian malah ikut campur, hah?" bentak Alea sengit.


Duarr ...

__ADS_1


__ADS_2