
Claire menyeringai puas setelah mengirimkan pesan kepada Alea dengan berita buruk tentang kandungannya Alea dengan nomor kontak sekali pakai agar tidak mudah ditelusuri. Rupanya, Claire sudah berada di rumah sakit milik Mark sebelum terjadi badai tornado.
"Aku harap kamu mati hari ini, Alea. Dengan begitu Mark akan kembali kepadaku," ucap Claire menghampiri kamar Alea di mana dokter dan suster sedang menolong Alea saat ini.
"Abrar, Azira. Kalian ke kamar kalian dulu ya sayang..! Bunda kalian mau melahirkan," pinta suster Anna mengantar si kembar ke kamar mereka.
"Tolong selamatkan bunda kami, dokter!" pinta Abrar dan Azira sambil menangis.
"Tentu sayang. Kalian berdoa saja yang terbaik untuk bunda kalian!" titah Dokter Caroline.
"Baik dokter." Abrar mengajak adiknya kembali ke kamar mereka.
"Azira. Ayo kita sholat Dhuha terus baca Alquran agar proses persalinan bunda lancar," pinta Abrar.
Azira mengangguk dan mengambil wudhu untuk menunaikan sholat Dhuha. Sementara di ruang bersalin, terjadi keributan antara dokter Caroline dan dokter Agatha.
"Kita harus melakukan operasi sesar pada nyonya Alea sesuai rencana tuan Mark," ucap dokter Agatha.
"Untuk apa? Kalau nyonya Alea bisa melakukan persalinan normal," ucap dokter Caroline.
"Kamu tahu sendiri kasus kehamilan nyonya Alea bermasalah. Jika melahirkan secara normal itu sangat membahayakan nyawanya," protes dokter Agatha.
"Kalau belum dicoba bagaimana bisa tahu bahaya atau tidak," santai dokter Caroline yang sedang mempersiapkan kamar bersalin untuk Alea.
"Sakitttt....! Tolong aku ..! Aku sudah tidak kuat lagi," pekik Alea membuat kedua dokter itu saling bertatapan dengan wajah panik.
"Nyonya. Apakah nyonya mau melakukan persalinan normal?" tanya dokter Caroline.
"Lakukan apa saja! aku mohon selamatkan bayi kembarku!" pinta Alea memelas dengan suara lirih.
Claire masuk ke ruangan bersalin itu. Kedua dokter itu memang tidak mempermasalahkan keberadaan dokter Claire karena gadis itu sering wara-wiri ke rumah sakit itu. Hanya saja semenjak 5 tahun terakhir ini ia tidak pernah lagi muncul setelah memiliki rumah sakit sendiri di Austin Texas.
__ADS_1
"Apa ada masalah? Ada yang bisa aku bantu?" tawar Claire pada dua dokter itu. Gadis ini berpura-pura tidak tahu kasus kandungnya Alea.
Keduanya menceritakan kasus kehamilan Alea yang bermasalah. Mereka meminta pendapat dokter Claire yang juga dokter spesialis kandungan itu.
"Biar saya yang menangani persalinannya!" ucap dokter Claire.
"Apakah anda mau melakukan bedah sesar pada nyonya Alea, dokter Claire?" tanya dokter Agatha cemas.
"Tidak. Kita lakukan secara normal saja," tolak Claire dengan tegas membuat dokter Caroline tersenyum puas penuh kemenangan.
Alea yang tidak terlalu memperhatikan wajah Claire kerena sakit pada perutnya hanya merintih kesakitan. Dia berusaha kuat saat dokter Claire memintanya untuk mengejan.
"Silahkan ikuti instruksi dari saya, nyonya!" pinta Claire sebagai dokter profesional walaupun hatinya saat ini ingin menyaksikan sendiri kematian Alea.
Baru saja Claire menghitung angka ke-tiga agar Alea mengejan, tiba-tiba pintu kamar bersalin itu didobrak keras dari luar. Sontak saja Claire dan dua dokter lainnya yang sedang menangani Alea terperanjat.
"Keluarrr....! Keluar semuanya....!" bentak Mark dengan wajah mengeras lagi kelam menatap wajah Claire yang langsung pucat.
"Mark...! Aku ingin membantu istrimu melahirkan bayi kembarmu," ucap Claire mengendalikan kegugupannya.
"Mark..!" lirih Alea yang makin melemah karena kehilangan tenaga di karenakan pendarahan hebat.
"Kamu akan baik-baik saja, sayang. Aku yakin kamu wanita yang kuat dan hebat. Sakit melahirkan itu akan bernilai pahala disisi Allah. Pikirkan aku dan anak-anak kita. Aku sangat mencintaimu dan tolong berjuang untuk kami..!" bujuk Mark lembut sambil menyuntikkan obat anestesi ke tubuh istrinya.
"Baca doa tidur!" titah Mark dan Alea hanya melafazkan basmalah lalu tidak sadarkan diri karena obat bius sudah melumpuhkan kesadarannya.
Ia meminta tim dokter lainnya untuk membantunya melakukan bedah sesar pada perut Alea. Mark nampak fokus pada tarikan pisau bedah itu mengiris kulit lembut sang istri. Ia melakukannya begitu hati-hati. Tidak lupa mulutnya tidak berhenti untuk terus berzikir untuk keselamatan ketiganya.
Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya telat sedikit saja, maka Alea tidak akan bisa bertahan hidup. Di tambah lagi kehadiran Claire yang menarik jiwa membunuhnya untuk segera menghabisi nyawa wanita sialan itu.
Mark harus menyimpan umpatannya pada Claire karena harus fokus pada persalinan istrinya. Dalam beberapa menit kemudian ia sudah bisa melihat kepala salah satu bayinya.
__ADS_1
Mark begitu takjub bercampur haru karena ia sendiri mengeluarkan bayinya dari rahim istrinya. Suara tangis bayi pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki menggema di ruang bersalin itu. Mark menyerahkan bayinya ke suster untuk dibersihkan usai memotong tali pusar bayinya. Suster memasukkan bayi itu ke dalam inkubator. Tidak lama kemudian, bayi keduanya juga lahir dengan selamat.
"Suntikkan obat untuk menghentikan pendarahan!" titah Mark pada suster.
"Baik dokter."
Mark merapikan lagi perut istrinya setelah mengeluarkan plasenta bayi dari rahim istrinya. Ia melakukan operasi plastik untuk menutupi luka sayatan itu agar tidak meninggalkan bekas. Setelah semuanya berjalan lancar, ia memasang perban pada perut istrinya. Kini saatnya ia menunggu istrinya siuman sebelum dipindahkan ke kamar inap Alea.
Sementara diluar sana, amarah Claire memuncak hebat karena tidak bisa membunuh Alea secara alami melalui persalinan normal yang berujung kematian karena kasus pada kandungannya yang bermasalah.
"Sialaaannn....! Sedikit lagi langkahku untuk membuat wanita itu mati. Kenapa Mark bisa muncul begitu saja di rumah sakitnya? Bukankah semalam ada badai tornado? Kenapa dia bisa pulang.....! Pekik Claire frustrasi saat membawa mobilnya menuju apartemennya yang ada kota New York itu.
Bukan hanya Claire yang merasa kacau saat ini, mata-matanya juga sangat menderita karena ia gagal membuat Alea meninggal di tangannya Claire.
"Jebakanku hampir sempurna. Aku hanya mempengaruhi Mark menyalahkan Claire atas kematian Alea. Tapi, semuanya gagal....!" emosinya meledak-ledak saat berada di dalam kamarnya.
"Alhamdulillah. Ya Allah. Akhirnya kamu siuman sayang....!" ucap Mark saat melihat istrinya mengerjapkan matanya secara perlahan.
"Apakah bayi kembar kita selamat, Mark?" lirih Alea yang masih terlihat lemah.
"Mereka sudah dibersihkan dan dipakai baju bayinya. Mereka sekarang sudah ada di kamar inap setelah di masukkan ke dalam inkubator. Alhamdulillah suhu tubuh mereka sudah normal. Terimakasih sudah melahirkan mereka dengan selamat. Sekarang apa yang kamu rasakan, sayang?" tanya Mark lalu mengecup kening istrinya.
"Hanya pusing sedikit. Tapi, aku tadi membaca pesan di ponselku katanya ...-" ucapan Alea terpotong saat dokter Agatha masuk.
"Dokter Mark. Apakah nyonya Alea sudah boleh dipindahkan ke kamar inapnya?" tanya dokter Agatha berusaha membantu.
"Boleh. Tolong siapkan makan siang untuk istriku!" titah dokter Mark yang langsung di angguki suster Anna.
"Baik dokter."
Dua orang suster lainnya mendorong brangkar Alea yang di temani oleh dokter Mark menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
"Terimakasih suamiku. Terimakasih daddy hebat untuk anak-anakku," ucap Alea haru.
"Hmm!"