
Rama dan ibunya yang semula merasa mencium aroma kemenangan di depan mata mereka, kini harus menelan serpihan bara yang siap membakar tubuh mereka dari dalam. Betapa tidak, menatap aura kuat seorang Mark saja yang seakan memiliki mata iblis yang siap menghunus jantung mereka seakan meminta untuk berdetak.
Keduanya nampak seperti patung tanpa ekspresi saat dokter Mark memberikan kesaksiannya dengan menayangkan tubuh dua bayi malang saat menjalani operasi yaitu Abrar pada kedua kakinya dan Azira pada jantungnya.
Sorot wajah malaikat itu tanpa daya dengan inkubasi di mulut mereka dan detak jantung yang berdegup naik turun seakan sedang menantang maut saat itu, mati atau hidup.
Belum lagi laporan biaya keuangan yang menguras dana mencapai 3 triliun rupiah bahkan lebih. Dan lebih mencengangkan lagi, rumah sakit itu adalah milik Mark sendiri yang belum di ketahui oleh Alea di enam bulan pernikahan mereka karena Mark menyembunyikannya.
Alea membekap mulutnya, merasa tidak percaya apa yang diungkapkan oleh Mark di persidangan itu.
"Saya adalah saksi hidup yang telah menyaksikan bagaimana penderitaan Alea sebagai ibu tunggal dari anak kembarnya yang berjuang sendirian hingga mencapai usia si kembar hampir 5 tahun," jelas tuan Mark.
Abrar maju ke depan dengan gagahnya menambahkan kesaksiannya sebagai korban dari keegoisan sang ayah kandung.
"Di mana kau wahai yang bergelar ayah? Saat kebakaran terjadi di apartemen kami, semetara ibu kami sedang dirawat di rumah sakit karena kelelahan fisik dan mentalnya yang terus menerus dirundung kesedihan karena tidak sanggup melihatku lumpuh.
Di mana kau ayah? Saat adikku Azira hampir hangus terbakar dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya karena kakiku yang lumpuh dan hanya bisa menangis ditengah kepulan asap.
Namun satu hal yang ku ingat dari pesan bundaku saat itu, jika tidak ada manusia yang bisa kau andalkan untuk menolongmu dalam kesempitan, panggillah nama Allah karena Dialah sebaik-baiknya penolong yang tidak kamu capai dengan nalarmu.
Tapi, dengan imanmu. Di saat itulah Allah menurunkan keajaibannya hingga kakiku bisa bergerak sendiri untuk menarik tubuh saudara kembarku agar tidak dilahap oleh api....hiks...hiks..! Abrar menangis sesenggukan saat mengingat lagi kebakaran itu.
__ADS_1
Semuanya meneteskan air mata mereka tanpa terkecuali mendengar kisah Abrar yang terlunta-lunta menyelamatkan dirinya dan saudara kembarnya dari kobaran api.
"Di mana kau nenekku yang angkuh? Saat kau terlelap di atas kasur empukmu, tapi ada wanita lain yang tidak punya hubungan darah dengan kami, rela terjaga menemani kami di dalam kamar mandi semalaman saat api telah mengepung unit kamar apartemen dan kami tidak bisa keluar. Dan saat itu aku tidak tahu apakah saudaraku mati atau masih hidup," lanjut Abrar sambil terisak.
Bibi Sari yang ikut maju memberikan kesaksiannya." Di saat kami bertiga sudah pasrah pada kematian, datanglah tuan Mark yang nekat menerobos masuk ke apartemen tanpa pengaman demi menyelamatkan si kembar dan aku.
Di saat itu tangannya sudah melepuh karena membuka kode pintu tapi tuan Mark rela melakukan operasi pada nona Azira karena mengalami serangan jantung," timpal bibi Sari yang ikut menangis sambil memeluk Abrar.
Tidak ketinggalan, Alea juga ikut bangun meluapkan rahasia yang selama ini ia simpan sendiri.
"Kepada ibu mertuaku yang terhormat, nyonya Suhartini Gondo kusuma. Dari awal pernikahanku dengan putramu Rama, tidak henti-hentinya kamu terus menekanku agar aku bisa cepat memiliki momongan untuk meneruskan pewaris tahta kerajaan bisnis keluargamu.
"Hai jal**g ..! Apa yang kau katakan? Apakah kamu punya bukti untuk itu?!" tanya nyonya Tini dengan wajah menyalang.
"Aku saksinya. Aku yang telah merekam semua aktifitas nyonya setiap kali kepala pelayan Sesa membuat jus buah untuk nyonya Alea, anda diam-diam menaburkan racikan ramuan herbal pengering rahim. Ini bukti rekaman di ponselku," sahut Rani, pembantu kepo yang sering menguping pembicaraan majikannya.
Rani maju ke depan ruang sidang untuk menyerahkan bukti perlakuan nyonya Tini pada Alea melalui ponselnya.
"Tidak...! Justru aku menaburkan obat herbal ke dalam jus buah untuk Alea agar bisa cepat hamil," bantah nyonya Tini mulai gugup tidak segarang tadi.
"Aku sudah membawa jus buah itu untuk diteliti di laboratorium rumah sakit untuk mengetahui kadar apa saja yang terkandung di jus buah itu dan ini hasilnya," ucap Alea seraya mengantarkan hasil laporan lab. Itu pada hakim.
__ADS_1
"Sejak saat itu aku tidak lagi meminum jus buah hingga aku bisa hamil. Namun sayang kandunganku yang belum terkuras dari racun di rahimku hingga menyebabkan kehamilanku bermasalah.
Dan lebih ironisnya lagi, mantan suamiku tidak menginginkan calon bayi kami tumbuh hingga lahir karena dia tidak ingin memiliki anak cacat yang akan membuatnya malu dan lelah," papar Alea membuat nyonya Tini gelagapan sendiri dengan wajah yang sudah tidak lagi bisa berekspresi.
Kini peserta sidang yang tadi membenci Alea beralih menatap wajah nyonya Tini yang sudah tidak bisa lagi tegak yang biasa ia tunjukkan keangkuhannya. Ratu drama ini tidak bisa lagi memainkan perannya agar terkesan mertua teraniaya oleh menantu zholim.
"Dasar wanita sialan. Aku benar-benar terjebak dalam jebakan yang ku buat sendiri," maki nyonya Tini sambil memainkan tali tas branded-nya yang setara dengan harga satu unit mobil mewah Honda jazz.
Wajah Rama tampak mengeras nan kelam mengetahui ibunya yang selama ini telah menyebabkan Alea tidak bisa hamil. Ia mengusap wajahnya kasar karena tidak pernah percaya pada perkataan Alea yang dikiranya mengadu domba dirinya dan ibu kandungnya.
Alih-alih mendapatkan hak asuh anak kembarnya, justru ia hanya dipermalukan terang-terangan oleh Alea dan Mark bahkan darah dagingnya sendiri. Setelah mendengar setiap kesaksian dari pihak Alea, kini hakim memberikan waktu untuk istirahat.
"Sidang akan di lanjutkan setengah jam lagi untuk memberikan keputusan," ucap hakim agung yaitu bapak Hadi Purnomo.
Mark menghampiri istri dan si kembar. Mark merangkul ketiga orang yang paling dia cintai. Ketiganya menangis haru karena merasa lega telah mengungkapkan kebenaran sesungguhnya.
Rama merasa sesak melihat pemandangan yang terlihat harmonis itu. Istrinya yang dulu ia banggakan dan kecantikannya yang membuatnya mabuk setiap saat kala mereka bercinta.
Kini sudah digantikan oleh lelaki lain yang bukan hanya memberikan kehangatan untuk Alea saja tapi memperlihatkan sifat seorang ayah yang penuh kasih sayang dan perhatian pada anak kembarnya. Anak yang dia mati-matian ditolak olehnya karena akan membawa aib untuk keluarganya.
"Andai saja waktu bisa kembali, aku bersumpah tidak akan menyia-nyiakan wanita hebat seperti Alea dan anak-anak luar biasa yang telah aku ingkari sendiri. Aku menyesalinya ya Allah," batin Rama menangis pedih.
__ADS_1