
Abrar segera bangkit menghampiri tubuh ayahnya dengan kening bersimbah darah. Azira memangku setengah tubuh ayahnya sambil menangis histeris.
Walaupun ia seorang dokter bedah, namun pikirannya tetap menjadi seorang anak remaja yang begitu takut kehilangan ayahnya. Teriakannya memanggil sosok ayah terdengar memilukan di depan gedung ruang kedatangan penumpang di bandara tersebut. Abrar mendekati ayahnya dan ikut menangis bersama saudara kembarnya itu.
"Ayahhhhh....! bangun ayahhh....!" pekik Azira. Ia mengguncang tubuh kekar itu yang sudah lemah tak berdaya tak sadarkan diri.
"Ayahhhh....! Buka mata ayahhh... maafkan Abrar ayahhh...!" desis Abrar dengan air mata yang tercekat di kerongkongan.
Tidak lama kemudian datang mobil ambulans untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit. Azira ikut menemani ayahnya di dalam mobil ambulans bersama Abrar. Barang-barang mereka di amankan oleh sopir pribadi mereka.
Petugas ambulance melakukan pemeriksaan terhadap Rama di dalam mobil dengan memasang cup oksigen, memeriksa tekanan darah dan juga memberikan cairan infus sebagai bentuk pertolongan pertama.
Tiba di rumah sakit yang terdekat dengan bandara, Rama segera ditangani oleh dokter ahli. Petugas ambulance melaporkan keadaan korban pada dokter terkait.
"Korban mengalami patah tulang belikat, pendarahan dalam dan beberapa luka fisik di beberapa bagian tubuh. Akurasinya menurun dan tekanan darahnya tinggi. Korban butuh dua sampai tiga kantong darah. Status korban kritis," ucap petugas medis pada dokter yang bertugas di ruang IGD yang sedang menerima pasien Rama.
"Baik. Terimakasih atas laporannya tuan Van," dokter William menerima catatan laporan medis dari petugas ambulance itu.
Azira hanya bisa menangis tersedu-sedu melihat keadaan ayahnya yang tidak sadarkan diri.
"Kami harus segera melakukan operasi pada kepalanya karena mengalami pendarahan otak," ucap dokter Brian yang merupakan tim dokter di ruang IGD tersebut membuat Azira hanya bisa mengangguk pasrah.
"Lakukan yang terbaik untuk ayah saya dokter..!" pinta Azira memelas.
"Tolong tandatangani berkas persetujuan operasinya. Apakah kalian berdua wali dari pasien?" tanya dokter Brian di angguki si kembar.
"Biar saya saja yang tandatangani berkasnya..!" ucap Abrar.
"Tidak. Aku lebih berhak atas ayah. Bukankah kamu tidak menginginkannya?" sinis Azira.
Deggg...
Azira segera keluar dari ruang IGD menuju meja resepsionis untuk menyelesaikan admistrasi.
Abrar terlihat serba salah namun dadanya terasa sangat sesak melihat ayah kandungnya yang terlihat sangat mengenaskan. Ia mendekati Rama yang sedang kritis saat tidak ada Azira.
__ADS_1
"Ayah....! Maafkan aku ayah. Aku mohon, bukan mata Ayah. Aku mohon ayah...hiks ...hiks....!" Pinta Abrar dengan suara parau.
Ia memeluk tubuh ayahnya membisikkan kata-kata cinta penuh kerinduan pada tubuh lemah ayahnya itu. Abrar mengguncang tubuh itu agar ayahnya menatapnya sebentar saja.
"Ayah ....! Buka mata ayah..! aku mencintaimu ayah...!" tangis Abrar yang tidak bisa lagi terkendali saat dokter dan suster menarik tubuhnya untuk menjauhi tubuh Rama.
"Permisi tuan...! Kami harus membawa pasien ke ruang operasi," ucap dokter Brian. Abrar mundur beberapa langkah memberikan tempat pada petugas medis mendorong brangkar ayahnya ke kamar operasi.
Azira ikut mendorong brangkar itu bersama tim medis. Saat pintu kamar operasi itu ditutup, Azira kembali menangis tersedu-sedu. Abrar tidak bisa berbuat apa-apa karena ayahnya mengalami kecelakaan karena menolong dirinya. Rasa bersalah dan takut kehilangan menyergap dirinya kini.
"Puas sekarang? Kenapa menangis? Bukankah kamu ingin ayah meninggal? Sekarang kamu dapat apa dari kematiannya? Apa...?!" sarkas Azira dengan amarah meluap hingga wajahnya memerah.
Mark dan Alea yang baru datang langsung menenangkan Azira yang berteriak histeris pada saudara kembarnya itu.
"Sayang....! Ingat kalian adalah saudara. Harusnya kalian berdoa untuk kesembuhan ayah kalian bukan berdebat seperti ini..!" nasehat Alea dengan jantung berdegup kencang.
"Bunda. Ayahku bunda...! Ia berusaha menolong Abrar dan membiarkan tubuhnya ditabrak oleh mobil, bunda," tutur Azira dengan suara parau.
"Iya sayang. Bunda sudah tahu dari sopir kamu," ucap Alea menenangkan putrinya dengan memeluk tubuh jenjang itu.
"Mintalah kepada Allah untuk kesembuhan ayah kalian. Menangis tidak akan menjawab kesedihanmu," pinta Alea.
"Aku akan ke hotel terdekat dari rumah sakit ini, bunda. Aku hanya bisa sholat di hotel. Bunda tahu sendiri di rumah sakit sini tidak ada ruang untuk bisa menunaikan sholat," ucap Azira.
"Iya sayang. Pergilah...! biar bunda dan Daddymu menunggu ayahmu operasi. Operasi memakan waktu yang cukup lama dan itu akan membuatmu kelelahan karena kelamaan menunggu. Jantungmu tidak kuat untuk itu" ucap Alea.
"Baik bunda."
Azira meninggalkan Alea, Mark dan Abrar yang masih membisu di tempat duduknya.
"Om Barack antar kamu ya, Azira!" tawar Barack.
"Baik om. Terimakasih...!" ucap Azira terlihat lesu berjalan menuju pintu lift.
Setibanya di hotel, Azira meminta Barack untuk mengambil baju ganti untuknya di mansion.
__ADS_1
"Om. Tolong bilang bibi Sari untuk menyiapkan baju ganti untuk aku dan antarkan ke sini. Aku ingin menunggu ayah sendiri saat beliau di pindahkan di ruang inap," pinta Azira.
"Baik nona."
Azira berjalan menuju resepsionis hotel untuk mengambil key card kamarnya. Ia berjalan menuju lift dan masuk ke dalam lift itu tanpa melihat seorang pria tampan yang menatapnya intens.
Azira berdiri menghadap sudut lift sambil menangis membuat pemuda tampan yang sangat mengenalnya itu, ingin menegurnya. Tapi tangan kekar itu hanya melayang di udara tepat di atas punggung Azira.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia terlihat sangat sedih?" tanya pria tampan itu yang tidak lain adalah Fahri.
"Ternyata dia sangat cantik bersamaan dengan bertambah usianya. Tapi aku tidak mungkin mendekatinya karena harus menunggu dua tahun lagi untuk melamarnya," batin Fahri tersenyum sendiri karena ia sudah mengidolakan seorang Azira dan bertekad untuk mendapatkan gadis belia itu.
Pintu lift terbuka. Azira berjalan pelan merasa sedikit agak pusing hingga langkahnya sedikit oleng membuat ia harus berpegangan dengan sisi dinding kamar hotel di lantai yang ia akan tempati.
"Boleh saya bantu, nona?" tawar Fahri dan Azira melihat wajah Fahri yang terlihat kabur oleh matanya.
"Kamar 721," ucap Azira memberi kunci kamarnya pada Fahri yang ingin menolongnya mencari kamar miliknya.
"Ini kamarnya." Fahri membuka pintu kamar itu untuk Azira yang melangkah masuk ke kamarnya.
"Terimakasih. Maaf merepotkan Anda!" ucap Azira seraya ingin menutup pintu kamarnya namun ditahan oleh Fahri dengan satu tangannya.
"Apa yang terjadi padamu?" boleh aku tahu nona?" tanya Fahri yang rada kepo.
"Ayahku...! Ayahku mengalami kecelakaan. Tubuhnya ditabrak oleh mobil yang melintas cukup kencang di bandara depan ruang kedatangan," ucap Azira.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun! Saya turut prihatin, nona. Semoga ayahmu cepat sembuh," gumam pemuda berusia 23 tahun itu.
"Terimakasih. Maaf. Aku mau istirahat," ucap Azira.
"Baik. Kamarku di sebelah kamarmu. Jika butuh bantuanku telepon saja aku dan tidak usah sungkan," ucap Fahri.
"Hmm!"
Azira menutup pintu kamarnya dan langsung menghempaskan badannya ke atas tempat tidur king size itu.
__ADS_1