Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
78. Selamat Jalan Putriku...!


__ADS_3

Wajah nyonya Tini terlihat sangat linglung dengan kehadiran cucunya Azira yang membawa banyak berkah untuk mereka.


Bukan hanya unit apartemen bekas Rama yang Azira tebus, tapi Azira menyiapkan pelayan dan dua mobil mewah untuk mobilitas ayah dan juga kakek neneknya jika hendak ke rumah sakit untuk berobat.


"Kakek. Besok ambulans akan menjemput kakek untuk melakukan operasi agar kakek bisa segera sembuh dan bisa beraktivitas lagi," ucap Azira sambil duduk berlutut di bawah kaki kakeknya.


Karena tidak bisa menjawab, si kakek hanya bisa bergumam tidak jelas pada Azira.


"Kakek. Kursi roda canggih ini adalah hasil rancangan kakak Abrar untuk penyandang disabilitas dan orangtua stroke. Jika kakek tidak bisa berkomunikasi, kakek bisa mengetik di ponsel ini, nanti manajer ponsel akan menyampaikan pada lawan bicara mewakili pikiran kakek yang ingin kakek sampaikan pada lawan bicara," ucap Azira seraya mengajari kakeknya cara penggunaan ponsel pintar khusus untuk penyandang cacat kaki atau lumpuh.


Beberapa menit kemudian, sang kakek mengerti apa yang di ajarkan oleh cucunya Azira. Ia akhirnya melakukan sendiri.


"Terimakasih cucuku....! Aku sangat bersyukur memilikimu dan saudara kembarmu Abrar. Sampaikan terimakasih kakek pada abangmu," ucap si kakek dengan wajah sendu.


"Terimakasih kembali kakek. Mulai sekarang, pikirkan bagaimana caranya kakek harus sembuh supaya ayahku tenang bekerja tanpa memikirkan keadaan kakek dan nenek selama di tinggal ayah bekerja," nasehat Azira penuh kelembutan.


"Iya cucuku," sahut sang kakek melalui ponsel pintarnya.


"Sayang. Ini sudah terlalu malam. Kita pulang yuk..!" pinta Rama pada putrinya.


"Tidak ayah. Azira mau menginap di sini. Azira sudah minta ijin pada bunda, kalau malam terakhir Azira berada di Jakarta, Azira akan menginap di apartemen ayah. Azira mau tidur dengan ayah," ucap Azira membuat Rama begitu girang.


"Benarkah kamu ingin menginap di sini, sayang?" tanya Rama di angguki oleh Azira yang tampak berbinar ceria.


"Aku akan tidur dengan ayah," ulang Azira.


"Tapi, tidak ada baju tidur dan....-"


Ting... tong...


Bunyi bel pintu utama membuat semuanya terdiam. Azira segera membuka pintu itu untuk menerima paket baju tidur dan perlengkapan mandinya.


"Terimakasih bang!"


Azira memberikan tip pada sang kurir setelah mengambil pesanannya.


"Ya Allah, sayang. Kamu banyak persiapan. Mau dibuatkan susu coklat?" tawar nyonya Tini tulus.

__ADS_1


"Boleh nenek. Susu coklat adalah kesukaanku. Asyik, Azira di manjakan nenek dan ayah. Terimakasih ayah nenek. Azira sayang sama kalian," ucap Azira seraya memeluk keduanya bersamaan.


Walaupun Nyonya Stevani sangat baik pada si kembar, tapi Azira merasakan perbedaan dengan kasih sayang nenek kandungnya sendiri. Ada yang lain yang tidak bisa ia gambarkan karena terlalu nyaman.


Setelah menghabiskan susu coklat hangat, mereka kemudian ngobrol sebentar setelah itu Azira pamit ke kamar mandi untuk menggantikan baju tidurnya berupa stelan atas bawah berwarna pink bergambar Barbie.


Tidak lama kemudian, Rama juga sudah mengganti kimono tidurnya. Keduanya memutuskan kerokean karena belum berapa mengantuk.


"Ayah kita nyanyi-nyanyi ya malam ini...!" pinta Azira.


"Iya sayang. Tapi, ayah mau rekam kamu saat kamu menyanyi," ucap Rama.


"Ok. Tunggu, Azira cari lagu bahasa Indonesia yang sering Azira nyanyikan," ucap Azira mengutak-atik remote untuk mencari lagu pilihannya. Setelah menemukannya, Azira mengeraskan volume mikrofon nya. Lagu mulai di putar. Azira siap-siap untuk menyanyikan lagu kesukaannya itu.


"Terlalu indah di lupakan. Terlalu sedih di kenangkan. Setelah aku jauh berjalan, engkau ku tinggalkan.


Betapa hatiku bersedih, mengenang kasih dan sayangmu, setulus pesanmu kepadaku, engkau kan menunggu.


Andai kau datang kemari, jawaban apa yang kan ku beri, adakah jalan yang temui untuk kita kembali lagi."


Azira tidak bisa meneruskan untuk menyanyikan lagu itu karena lagu itu menyiratkan perasaannya pada sang ayah.


Rupanya suara Rama tidak kalah merdunya dengan putrinya. Azira tersenyum bahagia mendengar suara seksi ayahnya dengan mengangkat jempolnya. Rama tersenyum namun air matanya menuntunnya untuk kembali menangis.


Kakek dan nenek yang ada di kamar mereka menangis berdua mendengar ayah dan anak itu sedang mengukir kenangan kebersamaan mereka hingga malam ini saja karena esok malam putrinya Azira sudah berada di dalam pesawat. Lagu berakhir dan keduanya saling berpelukan.


"Ternyata suara ayah sangat merdu. Berarti bakat Azira menurun dari ayah," puji Azira.


"Tapi, tidak sebagus kamu. Sekarang kamu tidur ya sayang, sudah malam..!" bujuk Rama.


"Iya ayah. Azira mau menatap wajah ayah hingga Azira tertidur," ucap Azira.


"Emangnya kenapa mau menatap wajah ayah? Apakah ayah terlalu tampan?" canda Rama.


"Itu salah satunya. Tapi, Azira ingin mengingat wajah ayah dalam benak Azira setiap kali Azira berangkat tidur saat sudah tiba di New York," ucap Azira.


"Ok deh. Ayah juga ah, mau seperti Azira. Biar bisa kenang wajah cantik bidadari ayah," ucap Rama yang tidur saling berhadapan dengan putrinya.

__ADS_1


Tidak lama, mata indah itu akhirnya redup juga bersama dengan helaan nafas lembut dengan bibir sedikit terbuka. Rama tidak kuat menatap wajah malaikat kecilnya. Ia hanya ingin menatap wajah putrinya sambil berlinangan air mata.


"Waktu ku telah terbuang percuma. Dia adalah milikmu, tapi kamu mengabaikannya. Dia datang dalam kehidupanmu, menyemaikan benih cintanya ke dalam sanubarimu hingga mengakar kuat dan sulit terlepas. Kau telah kalah Rama, kalah..! Kau adalah seorang ayah yang payah..!" Rama bermonolog.


Ia akhirnya tertidur juga sambil memeluk tubuh putrinya yang sudah membelakangi tubuhnya.


Keesokan malamnya, waktu yang di nantikan Rama harus berpisah dengan putrinya akhirnya terjadi juga. Mark yang datang menjemput sendiri Istri dan anak-anaknya itu dengan pesawat jet pribadi miliknya.


Kebetulan malam itu, Abrar tidak ikut mengantar adik dan ibunya ke bandara karena ia sudah kelelahan karena seharian bekerja.


Alea dan anak kembarnya Mikaila dan Mikail sudah ada di bandara. Mereka hanya menunggu kedatangan Azira yang di antar langsung oleh Rama dari kediamannya.


"Ayah. Ayah harus jaga kesehatan....! Terus kalau ada apa-apa tolong kabarin Azira. Jangan sungkan ya!" pinta Azira..


"Kamu juga sayang. Walaupun kamu punya perusahaan sendiri, jangan ikuti jadwal kerja seperti orang dewasa. Kamu tidak boleh sampai kelelahan karena jantungmu itu...!" pinta Rama.


"Siap ayah. Insya Allah..!" sahut Azira.


Mobil mereka tiba tepat di samping pesawat jet pribadinya Mark. Azira dan ayahnya berpelukan erat.


"Selamat tinggal ayah. Terima kasih sudah temanin Azira selama ada di Jakarta. Azira akan telepon ayah setiap hari. Ayah tidak bosan terima telepon dari Azira kan?" tanya Azira sambil terisak.


"Tidak sayang. Tidak akan bosan bicara dengan bidadari cantik ayah," ucap Rama.


Azira turun dari mobil ayahnya yang ia beli sendiri. Rama menggendong putrinya dan mengantarkannya ke dalam pesawat. Mark dan Alea menyambut keduanya.


"Terimakasih atas kebaikan kalian sudah mengijinkan putriku menginap di tempatku," ucap Rama santun.


"Sama-sama Rama," jawab Alea tersenyum pelit pada Rama.


Mark bersalaman dengan Rama layaknya saudara. Rama turun dari pesawat Mark dengan jantung yang berdegup kencang karena harus berpisah dengan putri kesayangannya.


"Selamat Jalan Putriku....!" ucap Rama langsung masuk ke mobilnya Karena tidak sanggup lagi menunggu pesawat itu berangkat.


Rama meninggalkan tempat itu namun alangkah kagetnya ketika menyadari putrinya kembali mengejar dirinya saat ia melirik spion.


"Ayahhhhhhhh.....!" pekik Azira sambil melambaikan tangannya memohon ayahnya untuk berhenti.

__ADS_1


"Aziraaaa,...!"


__ADS_2