Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
84. Surat wasiat


__ADS_3

Keadaan Rama saat ini masih dalam keadaan koma membuat si kembar makin dirundung kesedihan. Begitu juga Alea yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat kondisi mantan suaminya itu.


Walaupun Rama saat ini sudah dipindahkan ke rumah sakit milik putrinya sendiri, namun dokter ahli tidak bisa melakukan lebih banyak untuk membuat Rama segera sadar.


Tidak lama ponsel Abrar berdering. Ada telepon dari asistennya Noah menghubunginya di tengah kesedihannya.


"Bro. Bokap gue pingin bicara penting sama loe. Boleh nggak menganggu loe sebentar?" tanya Noah hati-hati.


"Silahkan..!" Abrar segera keluar dari kamar ICU ayahnya setelah melihat keadaan ayahnya sebentar.


Noah memberikan ponselnya kepada ayahnya yang langsung menerimanya dan bersiap untuk menyampaikan sesuatu yang penting pada Abrar.


"Nak Abrar. Om harap kamu harus dengarkan apa yang om katakan padamu dengan baik-baik karena ini adalah wasiat terakhir ayahmu," ucap tuan Anwar sengaja menjedah kalimatnya.


"Wasiat? Wasiat apa ya om ?" tanya Abrar penasaran.


"Om sudah mendengar kalau ayahmu mengalami kecelakaan dan sedang dalam keadaan koma saat ini. Namun untuk berjaga-jaga sesuatu yang sebenarnya om juga tidak tega menyampaikannya tapi bapak harus mengatakan kepadamu, bahwa ayahmu ingin memberikan jantungnya untuk saudaramu nona Azira, jika terjadi sesuatu padanya yang tidak bisa bertahan hidup," ucap tuan Anwar membuat Abrar terenyuh.


"Adikku Azira baik-baik saja. Dia tidak butuh jantung ayah kami," ketus Abrar yang sebenarnya tidak ingin ayahnya meninggal.


"Nak Abrar. Ada yang harus kamu ketahui rahasia yang sampai saat ini om simpan darimu karena permintaan ayahmu," ucap tuan Anwar.


"Rahasia apa ya, om?" tanya Abrar.


"Jauh sebelum ayahmu bangkrut. Dia sudah mengalihkan semua aset perusahaan dan kekayaannya berupa uang dan surat-surat berharga atas kalian berdua.


Tapi, sejalannya waktu apa yang ia miliki untuk kalian akhirnya sirna. Ia jatuh bangkrut dan tidak bisa bangkit untuk memulai lagi usahanya itu yang saat itu ia tidak tahu kalau kamu sendiri yang telah menghancurkan perusahaan miliknya yang sudah ia alihkan semuanya pada kalian untuk menebus dosa masa lalunya," tutur tuan Anwar dengan suara parau.


Abrar langsung jatuh terduduk di lantai merasa sangat bersalah pada ayahnya yang menyampaikan cintanya pada mereka secara diam-diam.

__ADS_1


"Aku tidak butuh apapun dari ayah. Aku hanya ingin ayah cepat sembuh. Aku inginkan ayah. Ayah sudah memberi banyak cinta untuk Azira lalu kapan giliranku, ayah. Tolong jangan pergi...!" lirih Abrar menangis sendirian di sudut koridor rumah sakit yang jarang dilewati oleh orang lain karena berada dekat tangga darurat.


Tuan Anwar mendengar tangisan Abrar yang terdengar sangat menyayat hati. Iapun tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya karena tahu Abrar juga sangat mencintai ayahnya, hanya saja masih ada luka hatinya yang belum sembuh sepenuhnya.


"Semuanya sudah terlambat nak..! Hatimu terlalu keras untuk menyiksa ayahmu. Dia tahu dia bersalah kepada kalian, hanya saja kita manusia tidak akan sempurna seperti apa yang orang lain inginkan dari diri kita. Dia sudah membayar perbuatannya pada kalian hingga ia harus berakhir mengenaskan seperti itu," gumam tuan Anwar mengakhiri obrolan mereka.


Pak Anwar mengirimkan surat wasiat milik Rama itu ke Alea melalui email wanita itu. Tapi, pak Anwar tidak mengirimkan wasiat itu pada Azira yang akan membuat gadis cantik itu syok bila mengetahui itu.


...----------------...


Saat ini, Azira sedikit lebih lembut dengan kakaknya karena melihat Abrar selalu memantau keadaan ayah mereka. Keduanya saling bergantian menunggu ayah mereka, walaupun mereka terlihat menjaga jarak satu sama lain.


Karena rumah sakit itu milik Azira, tentu saja Abrar memiliki akses yang sangat mudah untuk menemui ayahnya. Seperti hari ini Azira sedang mengadakan meeting penting di perusahaannya yang membuat ia harus meninggalkan rumah sakit miliknya itu untuk sementara waktu.


Abrar jadi punya kesempatan untuk bisa bicara berdua dengan ayahnya dengan suara lirih.


"Ayah. Kenapa tidak bangun? Apakah ayah tidak ingin menerima maaf dariku? Apakah ayah ingin menghukum aku juga? Terus siapa yang akan menjadi pemenangnya? Padahal aku ingin sekali kita bicara dengan ayah sebagai sesama lelaki. Aku sudah merasa kehilangan kasih sayang ayah dari masa kecilku untuk bisa bersama ayah.


Air mata Abrar jatuh juga di tangan ayahnya. Rama memberikan respon pada anaknya dengan menggerakkan jemarinya sebagai isyarat ia mendengar perkataan putranya namun tidak bisa menjawabnya.


"Aku bisa mendengar permintaan maafmu, nak. Namun waktuku tidak bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginanmu. Kita tidak bisa bersama. Kamu punya ayah sambung yang hebat. Hanya ia yang bisa membahagiakan kalian," batin Rama hingga mengeluarkan air matanya yang jatuh di sudut matanya.


Abrar bisa merasakan gerakan jemari ayahnya. Ia menatap wajah itu seolah tidak percaya apakah ayahnya sadar atau hanya respon spontan saja.


"Ayah. Apakah ayah bisa mendengarkan aku?" tanya Abrar sambil mengguncang tubuh ayahnya lembut.


Namun sayang sekali, saat Rama berusaha membuka matanya, seakan ia sedang berpamitan dengan putranya, Rama tiba-tiba mengalami drop dengan nafasnya mulai terengah-engah. Abrar begitu panik sambil berteriak histeris.


"Ayah. Jangan pergi ayah...! Ayahhhhhhhh...aku ingin tinggal bersama ayah," pekik Abrar dengan tubuhnya yang sudah terasa sangat lemas.

__ADS_1


"Maaf tuan..! Kami harus memeriksa keadaan pasien," ucap Dokter Robin.


Abrar segera meninggalkan ruang ICU itu. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada ayahnya.


"Ayah. Bertahanlah demi kami ayah...aku dan Azira sangat membutuhkan ayah walaupun ayah Mark sangat baik pada kami," desis Abrar sambil menangis.


Azira yang baru datang langsung masuk ke kamar ICU itu karena ia adalah pemilik rumah sakitnya.


"Apa yang terjadi kepada ayahku?" tanya Azira sambil memeriksa keadaan ayahnya.


"Sepertinya ayah nona sangat membutuhkan nona saat ini," ucap dokter Robin yang sudah tahu perpisahan akan terjadi sebentar lagi antara ayah dan anak itu.


Azira mendekati ayahnya. Abrar segera masuk saat mengingat jika wasiat terakhir ayahnya adalah memberikan jantungnya pada Azira.


Melihat keadaan ayahnya yang sudah sangat payah membuat jantung Azira tidak bisa menahan rasa sakit dan ia akhirnya ikut pingsan.


"Ayah.... ayah....!" menghela nafas berkali-kali hingga akhirnya tubuh jenjang itu terhempas juga.


Mark dan Alea masuk ke ruang ICU itu. Abrar segera memberitahukan wasiat ayahnya pada dokter Mark.


"Apakah seperti itu wasiatnya ayahmu, Abrar?" tanya Mark yang diangguki oleh Alea.


"Surat wasiatnya sudah di kirim ke email saya," ucap Alea.


"Kalau begitu, siapkan meja operasi. Kita harus melakukan bedah jantung tuan Rama untuk Azira. Persiapkan juga Azira-nya agar proses pencangkokan jantung siap diproses!" titah Mark.


Brangkar Rama segera di dorong ke kamar operasi bersama dengan brangkar Azira.


......................

__ADS_1


Say kita mau tamat ya . Author baru update karena author sedang di rawat inap saat ini. Mohon doanya...! Terimakasih..


__ADS_2