
Pukul 3 pagi, Mark bersiap untuk kembali ke New York dicegah oleh Barack karena akan ada badai yang membawa angin tornado. Jelas saja Mark terhenyak mendengar kabar itu. Ia memastikan sendiri ke layar ponselnya yang ternyata benar akan ada badai.
"Tidak mungkin. Alea harus melakukan operasi sesar besok pagi. Saya harus mempersiapkan istri saya sendiri saat menjelang persalinannya," ucap Mark.
"Maaf tuan. Kondisi kota saat ini juga diblokade agar tidak ada yang berani bepergian untuk menghindari terjadinya korban," timpal Barack.
"Kondisi kehamilan Alea bermasalah. Jika tidak ditangani dengan baik, maka aku akan kehilangan mereka bertiga. Apakah kamu ingin melihatku menderita seumur hidupku dalam penyesalan, hah?!" pekik Mark menarik kerah baju Barack yang langsung terdiam.
Mark nekat ke tempat helikopternya. Ia memang bisa membawa helikopternya sendiri jadi tidak butuh orang lain untuk membantunya. Mau tidak mau Barack akhirnya mengalah juga. Ia mengikuti Mark yang nekat pulang ke New York dalam keadaan badai seperti ini.
"Jika kamu takut mati, tidak usah ikut...! Aku juga bisa pulang sendiri tanpa kamu," Sarkas Mark membuat Barack menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak tuan. Aku berani. Aku tadi hanya kuatir akan keselamatanmu. Jika aku mati, tidak ada yang menangisi kematianku karena tidak ada orang yang menyayangiku," jujur Barack membuat Mark terenyuh.
"Jangan mati dulu karena pekerjaan di perusahaanku terlalu banyak untuk ku tangani sendiri karena Itu adalah tanggung jawabmu," balas Mark yang tidak tahu cara menyampaikan rasa sayangnya pada Barack yang sudah dianggapnya sebagai keluarganya sendiri.
"Baik Tuan. Terimakasih sudah menyayangi aku," ucap Barack mengulum senyumnya.
"Sudahlah. Kau seperti gadis perawan yang tidak ingin ditinggal kekasihnya. Carilah wanita yang akan menangisi kematianmu..!" sinis Mark.
"Tuan memang kejam sekali, padaku" ucap Barack dengan mimik sedih.
Helikopter itu tetap mengudara dari perusahaan milik Mark yang ada di Canada. Mark memperhitungkan kedatangan kecepatan angin tornado yang akan melanda Amerika Serikat dengan helikopternya untuk bisa tiba di kota New York.
Barack masih terlihat tenang walaupun saat ini ia berharap mereka akan berhenti di suatu tempat sebelum angin mematikan itu menyapu sebagian kota besar di wilayah Amerika Serikat.
"Aku rasa BMKG hanya menakuti kita saja. Setiap prediksi belum tentu akan terjadi. Bumi ini punya Tuhan, pasti Tuhan tidak mau manusia mengetahui rahasiaNya," ucap Mark penuh keyakinan.
"Tapi, manusia juga dihimbau dengan diberikan tanda-tanda kekuasaan Tuhan agar bisa melindungi diri mereka dari terjangan badai. Itulah gunanya keberadaan BMKG," timpal Barack bijak.
__ADS_1
"Sok tahu," semprot Mark tidak ingin dikalahkan oleh pemikiran Barack yang ada benarnya.
Helikopter makin menjauh hingga memasuki perbatasan wilayah New York. Tiba-tiba saja angin mulai datang berhembus dengan kecepatan sedang mampu mendorong tubuh helikopter itu terhempas dari jalur penerbangan.
"Tuan. Sebaiknya kita mendarat darurat karena kekuatan angin tidak lagi bersahabat...!" teriak Barack saat pandangan mereka tertutup dengan hembusan angin kencang.
"Sedikit lagi kita akan tiba. Jangan cemas..!" ucap Mark yang masih nekat membawa helikopter miliknya dengan penuh percaya diri.
"Ya Allah. Aku tidak menantang kebesaranMu tapi, tolong beri kami kesempatan agar tiba lebih cepat di tujuan sebelum Engkau mengirim kekuatan angin Mu yang maha dahsyat itu," pinta Mark penuh permohonan tulus pada Tuhan.
Barack menahan nafasnya karena kekuatan angin memperingatkan mesin pendeteksi kekuatan angin memberikan warning pada pengemudinya untuk melakukan pendaratan darurat. Begitu pula jalur lalu lintas udara meminta Mark untuk melakukan hal yang sama yaitu melakukan pendaratan darurat.
"Cari pangkalan untuk melakukan pendaratan darurat atau helikopter anda akan meledak di udara!" titah ATC bandara setempat.
Peringatan itu tidak membuat Mark gentar. Ia tetap nekat menjalankan helikopternya ditengah angin dan hujan datang bersamaan dengan lebih kencang lagi menerpa helikopter mereka.
Baru saja Mark mencari tempat untuk bisa mendaratkan helikopternya, tiba-tiba hantaman angin yang membentuk spiral mendekati helikopter mereka dan teriakan keduanya tenggelam ditengah derunya angin dengan membawa helikopter mereka.
...----------------...
Jam 7 pagi, Alea sudah terlihat rapi dengan dress hamil yang nampak cantik di tubuhnya. Si kembar sibuk bermain game diponsel mereka masing-masing di kamar ibu mereka.
Alea yang ingin mengetahui berita pagi itu ingin menonton televisi karena kabar angin tornado melanda kota besar di Amerika sudah santer terdengar oleh seluruh penghuni kamar inap agar selalu berdoa dengan keyakinan mereka masing-masing.
Alea tidak bisa melihat di luar jendela karena kaca jendela yang tebal dan tidak transparan membuat dirinya tidak mengetahui seperti apa angin itu.
Apalagi ia juga tidak bisa menghubungi ponsel Mark sama sekali. Satu-satunya saat ini yang ia lakukan adalah menonton berita di televisi.
"Ya Allah. Semoga dampak dari angin tornado tidak berimbas pada korban jiwa," doa Alea.
__ADS_1
Wanita ini mengambil ponselnya untuk melihat grup WhatsApp teman kerjanya yang mungkin butuh sesuatu darinya sebagai duta besar RI.
Ia mengirim pesan pada wakilnya agar mencari tahu tentang warga negara Indonesia yang menjadi korban angin tornado itu.
"Apakah ada berita tentang warga Indonesia yang ada di Amerika yang membutuhkan bantuan kita?" tanya Alea turut memikirkan nasib warga negaranya yang tersebar di Amerika Serikat.
"Sejauh ini yang terpantau oleh kami belum ada laporan dari WNI yang ada di sekitar kota New York. Tapi ada di kota lainnya yang sudah masuk di email kita tentang korban yang mengalami luka ringan maupun luka berat karena keadaan rumah mereka yang porak poranda akibat badai tornado dini hari ini," balas pak Bahtiar.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun! Tolong kirim bantuan dan apapun yang bisa lakukan untuk membantu korban WNI. Kerahkan anak buah kita agar mengubungi semua WNI yang ada di Amerika..!" titah Alea turut sedih.
"Ibu Alea tenang saja. Pikirkan proses persalinan ibu saja. Biar urusan WNI menjadi tanggung jawab saya," ucap pak Bahtiar bijak.
"Baik pak. Terimakasih konfirmasinya. Semoga Allah melindungi kita semua dari bencana alam ini," doa Alea diaminkan oleh wakil KBRI di Amerika itu.
Keduanya memutuskan sambungan telepon. Kini Alea fokus pada sebuah pesan tanpa nama yang baru masuk ke ponselnya. Ia membuka pesan itu dan membacanya perlahan. Tiba-tiba jantungnya mulai berpacu lebih kencang membuat dirinya tidak bisa menganggap remeh pesan yang masuk itu.
"Tidak...ini tidak mungkin..!" Alea bergumam sambil menggelengkan kepalanya dengan bulir bening berkabut di mata indahnya.
Azira yang mendengar gumaman lirih ibunya menengok wajah ibunya yang terlihat sangat syok. Ia menyikut Abrar untuk melihat keadaan ibu mereka.
"Bunda ..! Bunda kenapa...?" tanya Abrar sambil berjalan mendekati ibunya.
Alea merasakan pinggangnya terasa sangat berat dan kontraksi hebat mulai menyerang perutnya.
"Aduh...! Sayang ..! Tolong tekan bel..! Perut bunda sangat sakit.... akkkkk....!" pekik Alea kesakitan membuat Abrar dan Azira ikutan panik.
Abrar menekan nurse call untuk memanggil suster maupun dokter.
"Bundaaaaaa.....!" pekik keduanya kompak.
__ADS_1