
Nyonya Stevani baru pertama kali bertemu dengan cucu kandungnya yang juga kembar. Baby Mikaila dan baby Mikail saat ini sudah berusia 6 bulan.
Itu berarti, nyonya Stevani melewatkan masa-masa indah saat tangis bayi kembar itu masih berusia satu atau dua bulan yang menangis khas suara bayi yang baru lahir.
Wajah bayi kembar itu memang tidak identik. Sama halnya dengan kakak kembarnya Abrar dan Azira yang juga tidak identik. Tapi, wajah si kembar lebih mirip dengan Mark dan juga nyonya Stevani. Wajah nyonya Stevani terlihat berbinar karena cucu perempuannya lebih mirip dengannya.
"Oma. Mereka sangat kece bukan?" ledek Abrar.
"Iya sayang. Bahkan mereka terlihat seperti boneka. Sangat menggemaskan," ujar nyonya Stevani.
"Apakah Oma hanya menyayangi cucu kandung Oma?" tanya Azira sendu.
"Aisss...kalian ini. Kalian berdua juga cucu kandungku yang lahir dari perjuangan air mata dan keringatnya Mark. Ketulusan hati putraku yang menjadikan kalian lebih dari sekedar anak sambung," imbuh nyonya Stevani.
"Terimakasih Oma. Kami juga sangat sayang sama Oma. Menetaplah di sini Oma bersama kami karena kami berempat akan membuat Oma sakit kepala mendengar kami berteriak-teriak saat bercanda," canda Abrar membujuk nenek tirinya ini.
"Pasti sayang. Oma tidak sabar mendengar kalian mengoceh. Tapi, apakah sang profesor masih bisa tampil seperti anak kecil?" ledek nyonya Stevani.
"Profesor itu hanya berlaku di kampus Oma. Di rumah, aku tetap menjadi anak manisnya daddy dan Bunda dan sekarang menjadi cucu kesayangannya Oma Stevani," timpal Abrar yang saat ini sudah menjadi seorang dosen di kampus almamaternya.
Nyonya Stevani melihat sikap Abrar dan Azira yang bisa mengatur cara mereka berinteraksi. Dengan siapa mereka bicara dan seperti apa lawan bicara mereka bersikap terhadap mereka.
"Apa yang sudah aku lakukan sebelumnya pada menantu dan cucuku benar-benar sangat memalukan. Andai saja aku berusaha menerima mereka sejak awal, mungkin aku tidak akan melewatkan momen bahagia ini.
Semua ini gara-gara keluarga sialan kakak iparku itu yang terus memaksaku untuk menikahkan Claire dan Mark," batin nyonya Stevani sedih.
"Ayo mommy....! Kita makan malam dulu...!" pinta Alea mengajak kelurganya menuju ke ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga.
"Iya sayang."
Nyonya Stevani menggendong baby Mikaila dan Mark menggendong baby Mikail. Anak dan ibu ini tidak mau menyerahkan si kembar ke baby sitter mereka.
__ADS_1
"Mommy. Mengapa ayah tidak ikut mommy ke sini? Apakah ayah marah karena keponakannya Claire ditangkap polisi?" tanya Mark di sela makan malam mereka.
"Ayahmu lagi banyak pekerjaan di luar kota. Lagi pula dia sudah tahu persekongkolan kakaknya dan Claire yang ingin memilikimu dengan cara yang salah. Mereka sangat malu saat melihat tayangan langsung dari jebakan yang dibuat Azira," ujar nyonya Stevani.
"Apakah ada yang orangtuanya Claire sampaikan kepada mommy tentang penangkapan Claire?" tanya Alea.
"Tentu saja sayang. Mereka memohon kepada mommy agar membujuk kalian untuk membuka pintu damai sebagai keluarga," ucap nyonya Stevani.
"Terus apa tanggapan mommy?" tanya Mark dengan wajah serius.
"Mommy bilang, justru mommy ingin Claire membusuk di penjara karena wanita itu tidak lebih dari seorang iblis," sahut nyonya Stevani murka dengan anak dari kakak iparnya itu.
"Wehhh...! Oma aku hebat. Membela kebenaran lebih mulia daripada mengampuni penjahat itu karena kelurga," puji Abrar.
"Iya sayang. Itu harus. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita membebaskan penjahat seperti wanita keparat Claire itu," ujar nyonya Stevani yang sudah tidak peduli dengan nasib Claire.
Mereka akhirnya menghabiskan makan malam penuh keceriaan. Di tambah lagi celotehan si kembar yang ikut nimbrung dalam percakapan itu membuat mereka terkekeh.
Claire yang saat ini sedang menunggu proses hukumnya di sel tahanan, dikejutkan dengan kehadiran sekretarisnya Carine yang terlihat sangat kacau.
"Ada apa? Apakah ada masalah di rumah sakit?" tanya Claire dengan jantung berdegup kencang.
"Maaf dokter. Sepertinya rumah sakit milik anda akan bernasib sama seperti perusahaan anda."
"Apaaa...?! Apakah si kembar melakukan penipuan lagi seperti perusahaanku?" cecar Claire.
"Bukan dokter. Itu di karenakan kepercayaan pasien kita yang sudah terhasut oleh konten YouTube tentang anda."
"Tentang saya yang menyerang Azira?" tanya Claire memastikannya lagi ucapan sekertarisnya yang belum begitu jelas.
"Itu adalah salah satunya dokter. Ini mengenai skandal video po*no anda dengan beberapa pria yang sudah beristri, sekarang terkuak di media."
__ADS_1
"Apaaa...?! Ini tidak mungkin," elak Claire dengan wajah panik sambil menggelengkan kepalanya dan mundur beberapa langkah hingga tubuhnya membentur dinding.
Tubuh jenjang itu terperosok jatuh bersamaan dengan tangisnya yang terasa sangat sesak di dada.
"Kenapa aku bisa dihancurkan dalam waktu yang begitu cepat? Kenapaaaa....?!" Claire meraung sambil meremas rambutnya.
Sekertarisnya hanya bisa menarik nafas panjang. Iapun juga ikut pamit kepada Claire.
"Dokter. Saya ingin mengundurkan diri dari rumah sakit anda. Saya harus menghidupi keluarga saya," ucap sang sekertaris sambil menautkan tali tasnya di atas bahunya.
"Kalian berengsek...! Kalian tega meninggalkan aku di saat aku jatuh dan hancur. Kalian pengkhianat...! pergi saja kalian ke neraka..! Aku benci kalian semua. Aku berjanji, jika aku bebas dari sini aku akan membuat rumah sakitku kembali berjaya dan aku tidak akan pernah menerima kalian lagi bekerja di rumah sakitku. Kedua orangtuaku sangat kaya. Mereka pasti akan membantuku. Yah, mereka pasti akan menolongku untuk bangkit lagi," gumam Claire percaya diri.
"Siapa yang akan membantumu anak bodoh?" pekik nyonya Cindy Bernadette membuat Claire tersentak. Wanita ini buru-buru menyeka air matanya dan menghampiri sang ibu.
"Mom..! Kenapa mommy baru datang sekarang? Tolong Claire mom..! Claire benar-benar hancur," ucap Claire.
Nyonya Cindy begitu murka pada putrinya itu. Sekuat mungkin, ia menampar pipi Claire hingga wajah cantik itu terdorong ke samping.
Plakkk....
"Mommmm! Sakittt....!" pekik Claire yang tidak menyangka ibunya ikut menjatuhkannya.
"Mommy mengira kamu ada gadis yang sangat cerdas. Tidak tahunya kau adalah wanita yang sangat murahan, idiot dan menjijikan. Kau hancurkan reputasi kelurga kita dalam sekejap.
Bahkan kau tidak bisa menenangkan gadis kecil berusia 7 tahun itu. Kau sudah kalah... kalah...!" pekik nyonya Cindy dengan amarah yang sudah mengubun.
"Gadis kecil itu pantas mati. Bahkan aku tidak pernah menyesali perbuatanku padanya. Walaupun aku harus mati di dalam penjara sekalipun...!" teriak Claire seperti kesetanan.
"Baik. Tidak ada lagi yang tersisa di dirimu, Claire. Aku bahkan tidak lagi mengakui mu adalah putriku," tegas nyonya Cindy makin membuat Claire frustrasi.
Nyonya Cindy meninggalkan sel tahanan itu. Claire tidak lagi menangis karena semua orang sudah membuangnya, termasuk kedua orangtuanya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah. Aku sudah hancur. Aku akan mengumpulkan kekuatanku agar bisa bebas dari sini. Aku bersumpah aku akan hancurkan Mark dan keluarganya," sumpah Claire dengan wajah mengeras..