Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
44. Dipecat


__ADS_3

Setelah sepekan menikmati liburan di ibukota Jakarta Indonesia, kini Mark membawa pulang lagi keluarganya ke Amerika. Rona bahagia nampak jelas di wajah kelurga ini karena akan mendapatkan calon anggota keluarga baru yang akan meramaikan istana megah Mark dan Alea.


Tidak tanggung-tanggung, Alea membawa banyak oleh-oleh dari Jakarta untuk anak buahnya yang memang merupakan orang Indonesia yang jarang pulang ke Indonesia kalau bukan dengan biaya dinas.


Pelayan juga ikut kebagian mencoba oleh-oleh dari Jakarta itu. Karena saat ini Alea sedang ngidam dengan mengalami rasa pusing berat hingga menghambat aktivitasnya.


Beruntunglah punya suaminya seorang dokter, apa lagi pemilik rumah sakit sendiri yang membuat Alea tidak kesulitan dalam pengobatan.


"Apa kamu ingin aku menemanimu di rumah saja?" tanya Mark melihat Alea yang enggan beranjak dari tempat tidur.


"Apa tidak masalah jika kamu menemaniku di rumah?" tanya Alea tidak ingin menyusahkan suaminya walaupun ia sendiri lebih menginginkan Mark menemaninya saja dan tidak perlu bekerja.


"Apa kamu lupa suamimu ini pemilik perusahaan dan rumah sakit, hmm?!" Mark membelai rambut panjang istrinya yang masih lengket di bantal.


"A...yah. Ngomong-ngomong rumah sakit, mengapa kamu tidak pernah jujur padaku kalau rumah sakit itu ternyata milikmu?" tanya Alea.


"Apakah itu penting?" tanya Mark.


"Berarti, biaya untuk operasi si kembar semuanya direkayasa oleh kamu agar si kembar mendapatkan donatur dari para konglomerat?" tanya Alea.


"Memang itu benar dari orang kaya karena akulah orang kaya itu. Aku melakukannya karena si kembar bukan karena ibunya," ucap Mark serius.


"Kenapa kamu lakukan itu padaku, Mark?" tanya Alea.


"Karena aku tidak mau kamu menerima cintaku karena atas balas budi, bukan karena murni mencintaiku," ujar Mark.


"Apakah aku boleh berkata jujur padamu?" tanya Alea.


"Kenapa harus minta ijin dulu mau ngomong jujur padaku?" tanya Mark.


"Aku takut kamu marah jika aku berkata jujur padamu," ujar Alea.

__ADS_1


"Apakah kamu ingin bilang kamu sama sekali tidak mencintaiku?" gugup Mark yang tidak ingin mendengarkan kejujuran yang menyakitkan dirinya.


"Aku tidak ingin mendengarkannya. Tidak usah katakan sejujurnya. Lebih baik bersikap bohong saja dengan pura-pura mencintaiku," gelisah Mark membuat Alea pingin ngakak saat ini.


"Jujur aku sebenarnya tidak ...-"


"Cukup...Alea! Itu adalah kalimat membunuh. Aku tidak mau kamu ucapkan itu," pinta Mark ketakutan sendiri.


"Bisakah kamu mendengarkan aku dulu? Tanpa memotong perkataanku?" gerutu Alea kesal.


Alea berusaha bangkit lalu duduk di atas pangkuan suaminya sambil berkoala.


"Aku tidak mencintaimu sejak awal kita bertemu karena kamu adalah pria menyebalkan dengan tampangmu yang jutek itu. Bahkan saat itu aku ingin melenyapkan mu di muka bumi ini jika aku punya kekuatan super magic seperti nenek sihir," ucap Alea.


Mark menatap tajam wajah istrinya sambil menunggu ucapan berikutnya dari Alea dan berharap kalimat selanjutnya terasa madu.


"Dan pendapatku berubah saat kamu rela mengantarkan makananku yang tertinggal di restoran dan hatiku terasa menghangat," lanjut Alea.


"Aku tidak berani berharap karena aku takut kamu pasti sudah memiliki kekasih ataupun istri. Jadi, aku memendam perasaanku sendiri," jujur Alea yang tidak ingin mengungkapkan semua rahasia hatinya bagaimana perasaannya pada Mark walaupun mereka sendiri sudah berstatus suami istri.


"Jadi kesimpulannya aku sangat mencintaimu tuan Mark Antonio Luise," jelas Alea membuat Mark merasa sangat gemas pada Alea.


Dreettt....


Ponselnya Alea berbunyi, Mark meraih ponsel istrinya dan ternyata dari pengacara Dewa. Mark menyerahkan ponsel itu pada istrinya.


"Hallo...!" sapa Alea diikuti salam pada pengacara Dewa.


"Nyonya Alea. Saat ini nyonya Tini sedang dirawat di rumah sakit polri karena mengalami diare akut. Metabolisme tubuhnya terganggu dengan keadaan di sel tahanan dari segi makanan dan kesehatan. Apakah nyonya ingin mencabut perkara ini?" tanya Dewa.


"Sakitnya dia bukan urusanku. Lagi pula aku membayarmu sangat mahal untuk mengurus perkara ini sampai tuntas karena aku mungkin tidak bisa balik ke Jakarta karena kondisiku yang sedang hamil muda. Aku sudah membuat surat kuasa agar kamu tidak menganggu-ku dengan pengaduan tentang musuhku," sarkas Alea penuh intimidasi.

__ADS_1


"Maaf nyonya. Aku hanya minta pendapat anda saja sebagai sesama manusia mungkin nyonya masih punya nurani untuk memaafkan nyonya Tini yang sudah tua," ucap pengacara Dewa.


"Aku sudah memaafkannya sedari dulu. Tapi tidak berarti dia bisa bebas dari hukuman dunia. Jika semua orang berbaik hati dengan memikirkan dari sudut pandang dari sisi kemanusiaan, maka kejahatan akan terus merajalela di muka bumi ini dan mungkin ada banyak menantu di luar sana ditindas sedemikian rupa oleh ibu mertua yang sok kuasa itu," ucap Alea hingga suaranya ikut bergetar menahan letupan emosinya yang tak terkendali.


"Hei..! Ada apa sayang? Kenapa kamu sampai senewen seperti ini?" tanya Mark yang bisa mendengar obrolan isterinya dengan pengacara Dewa tapi tidak paham karena perbedaan bahasa.


Mark mengambil alih ponselnya Alea dan bicara dengan Dewa. Menanyakan lagi permasalahan apa yang telah membuat istrinya tidak bisa mengendalikan dirinya. Dewa menjelaskan semuanya dan Mark sangat murka pada Dewa yang tidak bisa diandalkan oleh mereka.


"Kau..! Saya pecat...! Sikapmu tidak mencerminkan seorang pengacara yang memiliki dedikasi tinggi. Yang membela yang benar dan menghukum orang yang salah.


Penjara memang tidak mengenal usia tua atau muda kecuali balita. Kejahatan tidak kenal pelakunya dan hukum tidak tebang pilih pada status seseorang. Jangan mempermalukan gelar pengacaramu hanya karena rasa kemanusiaan yang tak beralasan," tegas Mark.


"Tapi tuan...! aku hanya berdiskusi saja dengan nyonya Alea. Mungkin saja dia masih punya hati untuk memaafkan nyonya Tini," ucap Dewa meyakinkan Mark.


"Hati orang yang berulangkali disakiti akan menjadi kebas dengan kata maaf dari orang yang pernah menyakitinya lahir batin dan itu berlangsung hampir setiap saat. Jadi, perasaan kasihan tidak ada lagi ada dalam hati istriku.


Mulai besok jangan lagi menangani kasus Istriku. Aku akan menyewa pengacara lain untuk menangani kasus Istriku," ucap Mark membuat Alea terharu.


Mark mengakhiri pembicaraannya dengan Dewa lalu memeluk istrinya penuh kasih. Sementara Dewa merasa terjebak sendiri karena salah bicara tentang nyonya Tini hingga kehilangan sumber pemasukannya.


"Sial...ku pikir hati nyonya Alea masih punya secercah kasih sayang untuk mantan ibu mertuanya itu, ternyata dia tidak lebih dari seorang wanita pendendam," umpat pengacara Dewa.


Mark harus menenangkan Alea yang merasa terganggu dengan kabar tentang mertuanya dari Dewa.


"Mengapa aku masih merasa sedih padahal permasalahanku sudah selesai? Apakah aku salah jika memberikan hukuman setimpal pada orang yang telah menghancurkan hidupku menjadi wanita tidak berguna?" tanya Alea yang jadi kepikiran pada nasib ibu mertuanya.


"Bagaimana Dewa? Apakah Alea mau mencabut tuntutan hukum pada ibuku?" tanya Rama dari seberang telepon.


"Maafkan saya Tuan Rama. Sepertinya mantan istri anda saat ini tidak bisa di ganggu apalagi di bujuk karena saat ini dia sedang hamil muda," sahut Dewa membuat Rama terkesima.


"Apaaa...? Alea hamil? Secepat itu dia bisa hamil dengan suami barunya?" tanya Rama tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2