Si Kembar Yang Tak Diakui

Si Kembar Yang Tak Diakui
45. Hukuman Untuk Rama


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Setelah kesehatan nyonya Tini mulai membaik, ia dikembalikan lagi ke sel tahanan polisi. Setelah BAP dilengkapi oleh kepolisian, maka kasusnya nyonya Tini akan di gulirkan di pengadilan.


Fungsi dari BAP sendiri adalah Sebagai uraian dari penyidik terhadap suatu tindak pidana. BAP inilah yang akan menjadi referensi dan pertimbangan pengadilan dalam menentukan hukum pidana yang tepat bagi tersangka.


Rama mendatangi ibunya di sel tahanan yang terlihat masih kurang sehat namun ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena segala upaya sudah ia tempuh untuk membebaskan ibunya agar tidak terjerat hukuman penjara.


Melihat kedatangan putranya yang sedang mengunjunginya membuat nyonya Tini merasa terharu.


"Rama. Tolong mama nak..! Mama tidak ingin mendekam di sini lebih lama. Kamu bisa menyogok polisi atau hakim agar mama bisa bebas dari hukum," pinta nyonya Tini lirih.


"Mama. Seharusnya mama memikirkan segala resikonya untuk berbuat jahat pada Alea. Apa lagi Alea bukan wanita sembarangan mama. Dulu dia menjabat sebagai seorang diplomat Indonesia yang merupakan aset berharga bangsa ini karena kemahirannya dalam berdiplomasi dengan negara lain.


Dan sekarang dia sudah menjabat sebagai duta besar RI di Amerika dan kedudukannya makin tinggi ditambah suaminya memiliki kekuatan dari segi finansial dan juga orang berpengaruh di Amerika, tidak mungkin mama akan bebas begitu saja," ucap Rama membuat hati nyonya Tini mengkerut.


"Ya Allah Rama. Jadi, mama akan menghabiskan hari tua mama di penjara dan meninggal di lapas wanita dalam keadaan menyedihkan?" tanya nyonya Tini sambil mengusap air matanya.


"Mungkin ini sudah bagian dari hukuman mama yang selama ini mama merasa akan bebas menyakiti Alea tanpa diketahui Alea. Ternyata Alea lebih cerdik dari mama. Rama tidak tahu lagi cara menolong mama. Rama pamit dulu karena Rama harus mengurus papa," ucap Rama yang tidak tega melihat kerapuhan ibunya.


"Rama. Apakah kamu tidak bisa menemui Alea di KBRI Amerika untuk memohon padanya demi mama? Jika perlu kamu bersujud kepadanya, Rama demi mama yang telah mengandung dan melahirkan mu penuh keringat dan air mata!" pinta nyonya Tini pilu.


Rama terdiam. Untuk beberapa saat hatinya sendiri merasakan sakit melihat bulir air mata ibunya itu yang benar-benar sangat takut akan hukuman yang menderanya.


Tapi, ia juga tidak bisa melakukan apapun kecuali mempermalukan dirinya di depan Alea yang saat ini pasti sangat bahagia menunggu ini terjadi. Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, akhirnya Rama berlalu pergi begitu saja.


"Ramaaa....! Tolong mama, nak! hanya kamu yang bisa mama andalkan, nak!" lirih nyonya Tini makin frustasi.

__ADS_1


Polisi wanita membawa masuk kembali nyonya Tini ke sel tahanannya. Rama menangis seorang diri di dalam mobilnya yang masih terparkir di depan kantor polisi.


"Andai saja aku tidak begitu egois pada Alea, semua ini tidak akan terjadi. Andai saja aku mau menuruti permintaannya untuk tinggal terpisah dengan kedua orangtuaku, mungkin aku akan bahagia dengan anak kembar kami dan mama tidak akan melakukan kejahatannya," sesal Rama. Setelah tangisnya reda, ia kembali lagi ke perusahaannya.


Baru saja kakinya melangkah ke ruang kerjanya, sekertaris Nindita mencegahnya." Maaf tuan Rama! Apakah saya bisa bicara sebentar dengan tuan? Ini masalahnya makin genting," ijin sekertaris Nindita.


"Ada apa Nindita?" tanya Rama menghampiri meja kerjanya Nindita yang terlihat gelisah.


"Cabang perusahaan tuan yang ada di Surabaya dan Bandung kolaps. Saham kita jatuh di pasar saham. Banyak investor asing menarik diri untuk tidak bekerjasama lagi dengan perusahaan tuan.


Dan sekarang hanya sisa tiga perusahaan yang masih bertahan termasuk yang ada di Jakarta, tuan," ucap Nindita membuat wajah Rama seketika pias.


"Ada apa ini? kenapa semuanya jatuh dalam waktu bersamaan?!" pekik Rama histeris membuat karyawan lain tersentak.


Ia merasa Tuhan sedang menghukum dirinya yang telah mengingkari anak kandungnya sendiri dan membiarkan Alea menghadapi kesulitan saat melahirkan dan membesarkan bayi kembar mereka sendirian.


"Mengapa saat tirai kejahatan mamaku tersibak hatiku baru diliputi rasa bersalah bahkan lebih dari itu yaitu rasa kehilangan. Aku merasa kehilangannya. Aku mengira semua akan baik-baik saja setelah kita bercerai. Tapi tidak, setiap waktu hanya ada hukuman yang aku dapatkan.


Bahkan aku tak tahu cara menanggulanginya. Maafkan aku Alea. Aku bahkan begitu malu menghubungimu karena aku begitu takut," gumam Rama yang terlihat pasrah pada keadaan seandainya apa yang dia miliki saat ini akan sirna dalam hidupnya.


...----------------...


Sidang terakhir yang akan menetapkan hukuman untuk nyonya Tini pagi itu dengan agenda sidang pembacaan dakwaan terhadap terdakwa yang melakukan tindakan kejahatan yang dengan sengaja untuk membuat rahim Alea kering melalui obat herbal.


Wajah nyonya Alea tertekuk mendengar bacaan keputusan hakim yang sesaat lagi akan melemparkannya ke dalam jeruji besi. Rama tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa yang tebaik untuk ibunya agar ibunya bertobat pada Allah atas dosa-dosanya. Apa lagi yang bisa mereka perbuat jika Allah memang menghendaki penjara terbaik untuk ibunya untuk menyesali diri.

__ADS_1


"Atas kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa, dengan ini saya menjatuhkan hukuman selama 5 tahun penjara dengan denda 200 juta dikurangi masa tahanan...tok...tok ..tok!" bunyi palu hakim sekaligus mengakhiri keputusan hukuman pada sidang pidana pada nyonya Tini.


Wajah nyonya Tini tampak murung bahkan air matanya sudah tidak tampak lagi. Keangkuhannya tak terlihat sedikitpun. Entah terbenam ke dasar hatinya atau memang tidak ingin lagi berbuat ulah.


Sidang pagi itu yang ditayangkan langsung oleh salah satu televisi swasta, ditonton juga oleh Alea yang sedang bersandar di dada suaminya saat ini karena di Amerika saat ini sudah malam.


"Apakah kamu puas, sayang?" tanya Mark pada Alea yang sedang menahan tangisnya.


"Ya."


"Tapi, kenapa wajahmu tidak memperlihatkan kamu bahagia?" tanya Mark.


"Karena hatiku cukup lemah melihat seorang wanita tua yang sebelumnya pernah aku hormati dan menganggapnya seperti ibuku sendiri terlihat sangat menyedihkan. Aku tidak pernah merasakan sentuhan lembut tangan seorang ibu di kepalaku ketika aku menjadi menantunya dulu," ucap Alea dengan air mata yang sudah tercekat di tenggorokannya.


"Baiklah. Kalau itu yang kamu rindukan, aku akan membawamu dan si kembar ke Houston untuk menemui kedua orangtuaku di sana," ucap Mark.


"Apakah mereka akan menerima aku dan si kembar?" tanya Alea kuatir di tolak.


"Mereka tidak akan menolakmu karena ada Mark kembar di dalam sini," ucap Mark seraya menyusupkan tangannya ke pangkal pahanya Alea yang menggelinjang diikuti de$ahan saat jemari kekar itu membelai kelopak mawarnya dibawah sana.


"Mark....!" serak Alea manja membuat Mark tidak bisa menahan dirinya untuk mengunjungi benihnya.


"Aku ingin melihat mereka melalui jendela mungil itu," pinta Mark mengigit kecil leher jenjang Alea dengan tangannya yang satu lagi bermain di area sempit itu.


Cumbuan Mark terus berlanjut sambil melepaskan piyama tidur istrinya. Mark sengaja ingin bercinta dengan istrinya malam ini agar Alena tidak memikirkan keputusan hukuman untuk mantan mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2