
Mark mendekati Alea yang sangat sensitif atas segala sesuatu walaupun wanita ini tidak melihatnya secara langsung tapi nalurinya nampak peka 7 kali lipat dari yang seharusnya.
"Sayang. Tidak ada yang aku sembunyikan darimu. apa lagi selingkuh darimu, tidak ada dalam kamusku. Bagiku kau satu untuk seumur hidupku. Tak akan tergantikan walaupun maut memisahkan kita," jujur Mark.
"Katakan yang lebih jujur lagi. Apakah kamu semobil dengan wanita lain? Walaupun kamu tidak melakukan apapun dengan wanita itu, aku bisa bedakan antara parfum kamu dan parfum wanita lain," ucap Alea membuat Mark hanya bisa menarik nafas berat.
"Baiklah. Tapi kita makan siang dulu setelah itu aku akan menceritakan tentang Claire," jujur Mark langsung membuat darah Alea berdesir.
"Dia sengaja menemuimu?" tanya Alea.
"Hari ini ada meeting dengan para pemegang saham dan Claire memiliki saham di perusahaanku," sahut Mark membuat Alea lega.
"Apakah dia merayumu?" tanya Alea sambil menuangkan nasi di piring Mark.
"Begitulah. Tapi, aku tidak akan termakan dengan bujuk rayunya karena aku sudah memiliki wanita yang sempurna dihatiku. Aku harap kamu tidak berpikiran buruk padaku karena saat ini kamu sedang hamil," ucap Mark.
"Baiklah. Tapi, aku harap kalian tidak bertemu lagi agar tidak tergoda oleh setan," ucap Alea.
"Dia sudah menarik sahamnya di perusahaanku berarti dia tidak tidak punya kesempatan untuk menggodaku," imbuh Mark.
"Baguslah kalau begitu. Setidaknya dia bukan calon pelakor dalam rumah tangga kita," ucap Alea lega sambil menikmati makan siangnya tapi, ia tidak bisa mempercayai Claire begitu saja karena Alea yakin Claire pasti punya niat jahat pada keluarganya.
"Assalamualaikum Daddy, bunda...!" sapa si kembar yang baru pulang kuliah di jemput sopir pribadi mereka.
"Waalaikumuslam. Tumben pulang cepat?" tanya Alea mengecup kening si kembar yang sekarang sudah berusia 6 tahun.
__ADS_1
"Kami sedang daftar sidang skripsi. Jadi pulangnya lebih cepat. Insya Allah Minggu depan mau ikut sidang. Doakan kami ya bunda, Daddy..!" pinta Abrar.
"Wah hebat. Sebentar lagi kalian sudah mau lulus aja. Apakah kalian ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi, sayang?" tanya Alea.
"Sepertinya begitu bunda. Kami ingin menikmati pendidikan dulu. Setelah itu baru memikirkan untuk bekerja," ucap Abrar.
"Apakah kalian mau bekerja di perusahaan dan rumah sakit milik daddy?" tanya Mark.
Alea melayani si kembar makan siang mereka dan si kembar meneguk air putih terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Mark.
"Kak Abrar sudah punya perusahaan sendiri jadi tidak butuh bekerja di perusahaan daddy," ucap Azira keceplosan. Abrar menendang kaki Azira yang langsung menyadari kesalahannya
"Sorry. Maaf aku tidak sengaja," bisik Azira.
"Itu baru sekedar rencana daddy. Lagi pula proyek aku saja sedang dirancang saat ini. Jadi, aku masih butuh waktu untuk memikirkan memiliki perusahaan sendiri," ucap Abrar tenang.
"Sayang. Katakan saja kepada Daddy jika kalian butuh sesuatu dan jangan sungkan. Apa lagi kalian itu sudah punya sesuatu yang ingin kalian perlihatkan kepada dunia agar dunia tahu bagaimana hasil ciptaan kalian ini bermanfaat untuk mereka yang membutuhkannya," puji Mark.
Mark tidak heran dengan ucapan Azira karena gadis ini memiliki banyak uang dan juga jenius. Bisa saja ia menggabungkan uangnya dengan Abangnya Abrar yang memiliki kejeniusan tingkat tinggi.
Apa lagi saat ini, Abrar sedang merancang ponsel pintar ciptaannya sendiri dan juga kursi roda yang dilengkapi ponsel untuk memudahkan penggunanya yang tidak terbatas pada orang cacat lumpuh sejak dari bayi.
Tapi, ia juga menciptakan untuk orang yang mengalami stroke yang tidak bisa bicara namun masih bisa menggunakan jemarinya untuk menyampaikan ungkapan hati mereka jika ingin berinteraksi dengan kelurganya yang langsung memberitahukan apa yang diinginkan oleh si penderita stroke itu.
"Sayang. Bisakah kamu ceritakan sedikit pada bunda tentang proyek besar kalian itu! di mulai dari Abrar dulu deh!" pinta Alea.
__ADS_1
Abrar menjelaskan rancangan ponselnya yang bermanfaat untuk penyandang disabilitas dan stroke pada kedua orangtuanya.
"Jadi bunda, Abrar sudah membuat beberapa aplikasi untuk mereka. Contohnya jika ada kebakaran, gempa bumi atau terjebak di suatu tempat yang tidak ada orang di dekat mereka maupun kebutuhan mereka ke toilet, mereka hanya memencet tombol pemberitahuan di ponselnya, dan ponselnya menjadi manajer si penderita untuk meminta tolong pada orang yang sedang menjaganya tanpa mengetik pesan. Entah itu kelurga maupun pelayannya," jelas Abrar.
Itulah hasil rancangan Abrar yang saat ini sedang dikembangkannya. Dan Mark tahu proyek yang saat ini Abrar sedang mengerjakannya. Bahkan si kembar tidak meminta uang pada Mark untuk proyeknya itu. Mereka benar-benar ingin mandiri.
Jika Abrar sedang membantu anak-anak penyandang disabilitas dan orangtua stroke, lain halnya dengan Azira yang sibuk mencari tahu obat formula untuk menyembuhkan penderita penyakit jantung dan stroke tanpa menjalani operasi yang beresiko pada kematian.
"Apakah sebagian hasil rancangan kalian itu ada di skripsi kalian?" tanya Alea.
"Tidak bunda. Penemuan kami ini tidak bisa dipublikasikan ke sembarang orang karena nilai komersialnya cukup tinggi. Kadang kehebatan seseorang tidak perlu banyak orang lain tahu karena itu akan beresiko pada penyalahgunaan wewenang.
Bukankah banyak oknum dosen nakal yang mengambil hasil penelitian maupun penemuan mahasiswanya untuk dijadikan hasil penemuan mereka dan mereka yang punya nama?" jelas Abrar meragukan ketulusan beberapa dosen di kampusnya.
"Hebat. Kamu sangat teliti sampai ke hal seperti itu, sayang!" puji Alea.
"Sebelum memulai sesuatu, kita harus belajar bagaimana dunia ini saling bersaing untuk punya nama di blantika pesona kehidupan. Terutama dunia bisnis yang jarang sekali menemukan orang jujur dan tulus mau mendukung hasil kerja kita.
Kadang lisan dan perbuatan mereka saling bertolak belakang. Itu semua berangkat dari ambisi dan dengki yang ada dalam hati mereka. Seperti hadist Rasulullah. Jika hatimu baik maka apa yang kamu lakukan pasti menghasilkan yang baik namun jika hatimu memiliki setitik keburukan maka hasil dari perbuatannya orang itu akan rusak," ucap Abrar yang sudah banyak membaca bagaimana carut marutnya dunia ini dengan kumpulan orang-orang munafik.
"Sayang. Begitulah permainan hidup. Kadang kita yang polos dan jujur di anggap keberuntungan oleh sekelompok orang yang ingin menjebak kita. Saat kita lengah, mereka siap mengkhianati kita hingga akhirnya kita belajar bagaimana membentengi diri kita dengan iman dan ilmu," ucap Alea yang sudah berpengalaman dalam dunia tipu menipu.
"Rupanya kalian sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Kalian sangat keren. Daddy bangga memiliki kalian. Bukan hanya jenius tapi juga jeli dalam menilai kepribadian orang lain dan itu modal utama dalam membangun bisnis.
Kenal dulu lawanmu dan waspadalah di mulai dari orang terdekatmu bisa jadi, pengkhianat itu datang dari orang terdekat kita," puji Mark sekaligus menasehati si kembar.
__ADS_1